Tag: made of stars

Dulu, Aku Pernah Menjadi Seorang Chuunibyou Alias Pengkhayal | Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati

Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati
Juni – Juli 2014

MINGGU KETIGA

Tanggal 17 Juli 2014, Kamis

Sepertinya saat itu aku sedang membaca buku yang waktu itu aku beli bersama adikku di toko peralatan alat tulis dappas. Buku yang sedang aku baca saat itu adalah made of stars, yang ditulis oleh hana krisviana.

First Impression tentang buku itu adalah datar. Sejujurnya, aku kurang begitu tertarik membaca buku itu. Awal ceritanya tidak membuatku tertarik lebih jauh untuk membaca buku itu. Aku membaca buku itu pun karena aku sedang butuh suasana baru. Saat itu, pikiranku sedang kelabu, dan aku pikir aku butuh sesuatu yang fresh dan ringan. Pilihanku jatuh pada membaca sebuah buku, dan buku yang aku pilih adalah buku itu.

Saat membacanya agak terasa bosan, namun lama kelamaan, aku menikmati ceritanya juga. Satu yang sangat aku suka dari buku yang sedang aku baca ini adalah gaya penulisannya yang mengalir dan mudah dibaca. Maka dari itu, aku benar-benar membacanya dengan ringan dan santai.

Menurutku, buku itu tidak terlalu tebal, malah aku akan menyebutnya tipis. Dan, biasanya tidak lebih dari tiga hari untuk menamatkan buku itu, namun sepertinya dugaanku akan salah, karena ini sudah lebih dari tiga hari. Hehehe. Yah wajar saja, karena perhatianku terpecah antara ingin membaca buku, dan menonton anime, juga berkhayal untuk tulisanku.

Kalau aku boleh memberikan penilaian untuk buku made of stars ini, aku akan memberikan nilai 3 dari 5. Aku suka buku ini, karena aku suka gaya bercerita penulisnya yang menarik untuk dibaca.

Ohya, aku pikir ceritanya akan berpusat pada kehidupan nyata. Iya, kehidupan nyata, kehidupan sehari-hari yang biasa kujalani. Setelah membacanya cukup jauh, ternyata ada unsur ‘fantasi’ didalamnya, seperti malaikat, tentu saja. Malaikat yang turun ke bumi, malaikat yang jatuh cinta kepada manusia. Aku pikir, penulis indonesia sepertinya sangat jarang mengangkat tulisan bertema seperti itu, tapi saat itu aku tengah membaca salah satu buku yang bertema fantasi yang kusebut tadi. Makanya aku merasa heran, dan penasaran untuk mengetahui ceritanya.

Berbicara soal malaikat, dulu saat aku masih kecil (mungkin saat aku masih duduk di bangku SD, atau mungkin TK? entahlah), aku sangat suka berkhayal. Ya, berkhayal tentang apa saja. Bukan hanya sekedar berkhayal di dalam kepala saja, tapi aku benar-benar berusaha mewujudkannya, seakan-akan apa yang aku khayalkan benar-benar terjadi dan bersangkutan dengan diriku sendiri. Seperti punya teman khayalan, dan aku mengajaknya berbicara. Hahaha. (Dan aku teringat kepada sebuah anime yang tokoh utamanya suka berkhayal, katanya yang seperti ini disebut chuunibyou. PFFFTTT dan tokoh itu adalah rikka takanashi)

Apa yang ku khayalkan bermacam-macam. Hahaha. Ketika mengingatnya (seperti saat ini) itu membuatku tersenyum. (Ternyata saat aku masih kecil, aku mengalami masa yang menyenangkan, ya) Dulu aku pernah berkhayal menjadi polisi (dan aku punya senjata pistol mainan untuk mendukung keinginananku itu), menjadi seorang pemburu zombie seperti di game resident evil, menjadi seorang artis, atau menjadi seseorang yang diculik oleh orang jahat dan di tawan oleh raja setan lalu diselamatkan oleh malaikat, menjadi orang yang kesepian, menjadi seseorang yang sedang jatuh cinta, menjadi seseorang yang punya teman boneka beruang yang bisa berubah menjadi sesosok laki-laki tampan, menjadi seorang kakak yang baik bagi kedua adiknya, dan masih banyak lagi. Aku menghayati keseluruhan peranku seakan akan aku memang orang itu, bukan orang yang sedang memainkan suatu peran. Aku rela kembali masa itu, aku sangat ingin menjadi diriku yang dulu. Diriku yang sekarang sangat penakut.

Ternyata dulu aku sempat menjadi seorang anak yang bebas. Aku yang dulu tidak terlalu mementingkan pendapat orang lain, aku bertindak karena memang aku ingin melakukannya. Aku yang sekarang, dalam setiap tindak-tanduk yang aku lakukan, selalu terbayang pendapat orang lain. Aku tidak pernah bisa lagi menjadi diriku sendiri. Aku bukan lagi anak yang bebas.

Mungkin aku yang sekarang sangat egois.

Apa yang aku tuliskan saat ini, membuatku berkaca kepada diriku sendiri melalui setiap kata-kata yang sekarang ini tertuang disini. Mengingatkan ku tentang bagaimana aku yang dulu, aku yang sekarang, dan bagaimana dengan aku di masa depan.

Kuharap aku tidak berubah menjadi lebih buruk lagi. []

Advertisements

Kelingking Yang Berwarna Ungu | Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati

Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati
Juni – Juli 2014

MINGGU KEDUA

Tanggal 09 Juli 2014, Rabu

Hari itu, aku sudah mulai membaca buku ke tiga buku Percy Jackson. Sepertinya aku sudah menamatkan buku Middle School yang aku baca itu. Dan teringat, aku memposting beberapa foto yang aku ambil dari buku middle school itu ke akun instagram milikku. Well, keseluruhan buku itu menyenangkan dan menghibur untuk di baca.

Ada sebuah event besar hari itu yang dirayakan oleh bangsa ku. Hmm… Terkesan sangat ‘alay’? Hahaha tidak apa. Hari itu adalah hari dimana bangsaku memilih pemimpin yang akan memimpin bangsaku untuk lima tahun kedepan. Semua orang menyebutnya “pemilihan umum presiden”

Ada dua calon untuk tahun ini. Calon pertama adalah Pak Prabowo dengan Pak Hatta. Calon kedua adalah Pak Jokowi dengan Pak Jusuf Kalla.

Dan kemudian, medsos penuh dengan orang-orang yang memamerkan salah satu jarinya yang sudah dicelupkan kedalam tinta berwarna ungu, tanda bahwa mereka menunaikan hak pilihnya. Walaupun terkesan alay, tapi kalau dilihat lihat lagi, sepertinya menyenangkan. Ibuku dan Ayahku juga pamer jari mereka, eh sebenarnya hanya Ibuku saja sih. Hehe. Tak segan-segan, mereka mencelupkan dua jari mereka. Bukan hanya satu jari. Katanya mereka mencelupkan dua jari, karena mereka memilih nomor dua. Lucu sekali melihat kedua orang  tuaku berpose dan memamerkan dua jari yang sudah di celupkan itu.

Akhirnya kampanye berakhir juga. Sejak masa kampanye, medsos dan semua media yang mengandung informasi berlangsung kampanye yang tidak sehat. Mereka saling menjelek-jelekkan satu sama lain, memfitnah berdasarkan alasan yang tidak rasional. Dan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan, semuanya terjadi begitu saja. Dan aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku. Ada banyak orang yang berpendapat, menurut mereka pendapat mereka adalah pendapat yang paling benar. Dan mereka tidak menerima pendapat orang lain yang menurut mereka tidak benar. Sekali lagi, aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku.

Aku sebenarnya gatal ingin berkomentar juga. Tapi aku menahan diri. Tidak seharusnya berkomentar di medsos yang bisa dibaca oleh semua orang. Aku hanya berharap semua orang bisa lebih menghargai satu sama lain, dan mengetahui mana yang benar untuk dilakukan.

Aku teringat akan sebuah kalimat yang bagus, yang aku lihat dari sebuah anime yang berjudul “persona 4 the animation”. Kalimat itu berbunyi, “Kalian hanya melihat apa yang ingin dilihat, dan mempercayai apa yang ingin dipercayai.” Sepertinya kata-kata itu sangat benar menurutku.

Sudah cukup komentarku mengenai pemilihan umum presiden ini. Bukan berarti aku tidak menunjukkan komentarku di medsos mengenai hal ini, lantas itu menjadikan aku tidak peduli terhadap nasib bangsaku saat ini. Aku hanya seseorang yang mengamati saja. Diam adalah emas masih menjadi salah satu prinsip hidupku. Aku berdoa, semoga Allah memberikan seorang pemimpin yang baik untuk bangsaku. Yang bisa membawa bangsaku ke jalan yang benar, dan menjadikan bangsaku bangsa yang kuat, dan beriman. Seperti itu.

Lupakan sejenak soal pemilihan presiden itu. Hari itu juga, aku bersama adikku pergi keluar rumah pada sore hari. Aku hanya mengantar adikku pergi ke toko perlengkapan alat tulis yang bernama “dappas”, kata adikku dia ingin membeli refill skecth book miliknya yang hampir habis. Biasanya aku malas sekali pergi keluar rumah, namun saat itu berbeda. Moodku sedang baik untuk pergi keluar. Aku berpikir, seperti apa keadaan di luar sana menjelang sore hari pada saat bulan Ramadhan seperti ini? Aku ingin tahu. Dan aku mengetahuinya juga.

Ohya, tanpa direncanakan sebelumnya, di toko perlengkapan alat tulis itu, ternyata menjual novel-novel juga. Otomatis aku melirik-lirik novel itu, yang ternyata sebagian besarnya sudah aku miliki di perpustakaan dirumah. Tapi, aku menemukan sebuah novel yang menarik hatiku. Judulnya “made of stars” yang ditulis oleh hana krisviana, dan diterbitkan oleh gagasmedia. Aku membeli buku itu. Dan lama aku berpikir, rasanya sudah lama sekali aku tidak membaca novel lokal. Akhir-akhir ini aku banyak membaca novel terjemahan. Sepertinya aku mengalami pergeseran minat baca. Pffftt. Yasudahlah, aku membeli buku itu. []