Sup Krim dan Hujan | Teh Sore Uruuchan

Teh Sore Uruuchan : Cangkir Ke-11

 

 

 

Selamat sore!

Di paruh awal bulan November ini, secara resmi kukatakan “selamat datang musim hujan”! Iya, selamat datang musim hujan. Aku menulis ini ditemani suara hujan yang kudengar dari kamarku yang jendelanya ku biarkan terbuka. Sudah seminggu ini hujan kerap kali turun di sore dan malam hari. Penantian akan hujan yang sudah kutunggu sejak berbulan-bulan yang lalu akhirnya berakhir juga. Akhirnya hujan turun dan turun lagi. Malam yang terasa dingin namun anehnya terasa menyegarkan, mungkin karena aku merasa sedikit lebih baik dibandingkan malam-malam sebelumnya.

Dua hari yang lalu, aku berbelanja ke mini market.

Aku senang pergi ke mini market dan berlama-lama di sana (tidak sampai dua jam kok). Continue reading “Sup Krim dan Hujan | Teh Sore Uruuchan”

Hal Sepele yang Ternyata Tidak Sesepele Itu | Teh Sore Uruuchan

Teh Sore Uruuchan : Cangkir Ke-9

 

 

 

Selamat sore! Kali ini yang menemaniku adalah secangkir teh poci panas.

Mungkin tahun lalu (sepertinya sih memang tahun lalu) aku membaca ulang komik Naruto. Entah kenapa, setiap kali aku membaca komik Naruto, ada hal-hal baru yang aku temukan. Mungkin sebelumnya terlewat atau sama sekali tidak aku pahami.

Waktu itu, yang aku sadari dengan benar adalah bahwa pecahnya perang dunia Shinobi dalam komik Naruto disebabkan oleh amarah seorang laki-laki. Amarahnya dipicu karena ia melihat oleh mata kepala sendiri bagaimana perempuan yang dia cintai meninggal. Karena peristiwa itu, dia mengutuk dunia tempat ia tinggal. Ia marah sekali, sampai-sampai ingin menghancurkan dan menciptakan ulang dunia untuk semua orang. Dalam prosesnya untuk mewujudkan keinginan itu, ia melukai dan mengorbankan banyak orang.

Yang kupikir waktu itu adalah, “Hanya gara-gara itu?”

Serius hanya gara-gara itu?Continue reading “Hal Sepele yang Ternyata Tidak Sesepele Itu | Teh Sore Uruuchan”

[Cerita Pendek] Kapas Merah

Harus berapa lama lagi aku melakukan hal ini? Bertumpuk-tumpuk kapas di depan mataku, keseluruhan warna putihnya hampir tertutup warna merah segar, tidak lagi membuatku panik. Demi Tuhan, sudah bertahun-tahun lamanya aku melakukan hal ini. Sementara itu, darah masih mengalir.

Aku ambil kapas kesekian (aku sudah tidak ingat lagi, mungkin keempat? Keenam?) dan melihat pantulan wajahku di cermin. Siapa orang yang saat ini tengah aku lihat? Kenapa mata itu terlihat kosong? Hei, apa kamu tidak takut melihat darah itu masih mengalir? Apa kamu tidak takut melihat kapas-kapas yang telah berubah warnanya? Apa yang saat ini kamu rasakan?

Aku merasa Continue reading “[Cerita Pendek] Kapas Merah”

[Cerita Pendek] Ekspektasi

Sorot matanya pada saat itu penuh dengan perasaan kecewa yang sama sekali tidak ia berusaha sembunyikan dariku, seakan-akan dengan sorot itu juga ia berusaha membuatku paham tentang apa yang tengah ia rasakan, “Lihat apa yang sudah kamu perbuat terhadap diriku.”

Tentu saja aku paham. Itulah ketakutan terbesarku selama beberapa tahun terakhir, jadi bagaimana bisa aku tidak tahu? Aku sudah menduga-duga akan Continue reading “[Cerita Pendek] Ekspektasi”

Apa Aku Bukan Orang Terpenting Bagimu? | Teh Sore Uruuchan

Teh Sore Uruuchan : Cangkir Ke-8

 

 

 

Hai, selamat sore! Ini cangkir kedelapan. Aku menyeduh teh hitam orthodox punya Ibu, hehehe. Wanginya enak ternyata.

Belakangan ini, handphone jadi jarak terbesar yang hadir saat dua orang atau lebih bertemu. Padahal sudah lama tidak bertemu, tapi ujung-ujungnya malah sibuk main handphone. Dalam kamusku, jarak yang ada di dalam pikiranku hanyalah betapa jauhnya literally jarak di antara kita. Misalnya seperti aku di Bandung dan dia di Sukabumi. Atau, seberapa lama kami tidak bercakap-cakap. Misalnya seperti terakhir kali aku bercakap-cakap lewat WhatsApp dengan salah satu temanku adalah satu tahun yang lalu. Kira-kira begitulah pikiranku tentang jarak. Belakangan, aku mempelajari bahwa jarak bisa tercipta dari Continue reading “Apa Aku Bukan Orang Terpenting Bagimu? | Teh Sore Uruuchan”

Imaji Langit Biru, Semilir Angin, dan Kepingan Masa Lalu dalam Blue Side (Outro) | Teh Sore Uruuchan

Teh Sore Uruuchan : Cangkir ke-7

 

 

 

Adakah sebuah lagu yang mengingatkan kamu pada perasaan nostalgia? Sesuatu yang berada jauh di masa lalu? Sesuatu yang membuatmu melihat kebelakang?

Berbicara mengenai lagu tidak akan ada bosannya, ya? Kadang topik mengenai lagu adalah sesuatu yang netral untuk dibicarakan atau bisa jadi topik yang paling relevan bagi semua orang. Siapa sih yang tidak punya lagu favorit? Siapa sih yang tidak mendengarkan musik? Musik melengkapi hidup kita.

Aku ingin kamu mendengarkan lagu ini.

(Aku sangat menyarankan kalian menutup mata dulu saat mendengarkan lagu ini untuk lebih meresapi instrumennya, barulah mendengarkan yang kedua kalinya sambil membaca terjemahan liriknya. Perbedaannya akan sangat terasa, menurutku)

Judulnya Blue Side (Outro) 

Apa yang kamu rasakan setelah mendengar lagu ini dan membaca artinya? Aku benar-benar ingin tahu :”))) Beri tahu padaku pendapatmu di kolom komentar atau di sini ya.

*

*

*

*

*

Bagiku…. bagiku lagu ini terasa Continue reading “Imaji Langit Biru, Semilir Angin, dan Kepingan Masa Lalu dalam Blue Side (Outro) | Teh Sore Uruuchan”

Back to School!! | Teh Sore Uruuchan

Teh Sore Uruuchan : Cangkir Ke-6

 

 

 

Selamat sore!! Mari menyiapkan teh sore sambil mengobrol. :)

Kudengar bahwa satu hari lagi liburan akan usai. Temen-temen yang masih sekolah memulai kembali aktivitas pergi ke sekolah setiap hari Senin sampai Jumat (beberapa sampai hari Sabtu). Belajar sesuatu bersama guru, membeli sesuatu di kantin saat waktu istirahat tiba, mendengarkan pelajaran dari guru, piket harian mulai berjalan lagi, dan pulang dari sekolah bisa nongkrong dulu sama teman-teman, dan masih banyak lagi. Yah, intinya kembali ke sekolah lagi. Hehehe.

Apa sih yang paling kalian ingat saat kembali lagi ke sekolah? Ingatan pertama yang muncul saat mendengar hari pertama ke sekolah?

Kalau aku… yang paling aku ingat -selalu- saat menghadapi hari pertama ke sekolah adalah Continue reading “Back to School!! | Teh Sore Uruuchan”

Review Film “Dareka no Manazashi” (Someone’s Gaze)

PROLOGUE

Jangan coba-coba menonton short film ini saat kamu sedang hidup jauh dari Ayah dan Ibu kamu, dan saat sedang rindu-rindunya kamu pada mereka. Jangan! Aku sudah mewanti-wanti kan kepada kamu ya… Jangan salah kan aku, kalau kamu akan terbawa perasaan saat menonton short movie yang durasinya hanya enam menit ini.

Alasan Nonton Film Ini

Karena Makoto Shinkai?Continue reading “Review Film “Dareka no Manazashi” (Someone’s Gaze)”