Waktu Milik Mereka

Tentang waktu. Aku berpikir bahwa ternyata di dunia ini, waktu tidaklah sama. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa waktu berjalan berbeda-beda bagi setiap orang. Pemikiran waktu bagi diriku sebelum ini sungguh dangkal; walaupun bentuk dan rupa jam kami beragam, tapi kami memandang waktu yang sama. Pukul satu siang. Pukul enam sore. Pukul sembilan malam. Tidak lebih dan tidak kurang. Tidak ada yang berbeda dan aneh dari hal itu. Tidak ada makna yang begitu mendalam untuk diriku pada saat itu.

Ada dua buah grup yang tengah aku ikuti saat ini. Satu bernama NU’EST dan satu bernama BTS. Keduanya membuatku sadar mengenai hal ini, dan entah kenapa aku merasa perjalanan kedua grup itu membuatku menyadari tentang waktu. Continue reading “Waktu Milik Mereka”

Advertisements

Aku Ingin Menulis

Aku merasa kehilangan sesuatu akhir-akhir ini dalam hidupku; sesuatu yang aku tidak tahu bentuknya atau rupanya seperti apa.
Mungkin salah satunya adalah menulis.

Pada apa yang dulu membuatku sangat bersemangat, sampai lupa waktu… kini aku kehilangan pesonanya.

Aku seperti dikuasai oleh sesuatu.
Mungkin aku merasa tidak sebebas sebelumnya.

Setiap kali menulis, aku merasa harus menulis sesuatu yang bagus; yang sangat bagus. Sesuatu yang membuat orang lain kagum dan terkesima. Sesuatu yang bagus, sehingga bisa menghasilkan uang bagi diriku yang khawatir tidak bisa mendapatkan pekerjaan di masa depanku. Sesuatu yang cukup menakjubkan, sehingga bisa menghasilkan uang bagi diriku yang merasa tidak cocok bekerja di perusahaan. Pikiran yang kubuat sendiri itu, secara tidak langsung menjadi beban tak kasat mata yang membayangi jemariku untuk menuliskan atau mengetik sebuah cerita. Sebuah pikiran yang sangat tidak tulus bagi diriku yang dulunya murni ingin menulis untuk kesenangan diri sendiri. Aku juga terus menerus memikirkan apa yang aku tulis ini sudah benar? Apa tidak ada salah? Apa penggunaan tanda bacanya sudah benar? Sudah benarkah? Sudah benarkah?

Aku masih ingat waktu aku duduk di bangku SD. Sehabis pulang sekolah, aku menghabiskan waktuku sampai sore hari di rumah nenek. Aku ingat hari itu, di mana aku terlungkup di karpet yang ada di kamar nenekku dan menuliskan cerita tentang bunga yang bisa berbicara dan melakukan karate di kertas binder. Rasanya hari itu, aku merasa begitu bebas dan tidak terkekang oleh sesuatu. Aku punya segalanya untuk aku tuliskan, dan aku sama sekali tidak mengkhawatirkan hal-hal macam apakah ceritaku sudah cukup bagus untuk dibaca oleh orang lain atau tidak, atau mengenai penggunaan tanda baca, dan hal-hal lain. Aku hanya ingin menulis waktu itu; mengeluarkan apapun yang terpikirkan dalam benakku. Terus dan terus menulis sampai lupa waktu dan begitu terhanyut dengan bunga yang aku tulis. Dengan sebuah pensil di tanganku dan kertas di hadapanku, aku merasa tidak perlu hal yang lain lagi. Aku punya segalanya di dunia ini yang aku butuhkan. Waktu itu, aku merasa sangat bahagia.

Dulu, sebegitu besarnya kesukaanku terhadap menulis.

Kini, menulis tidak sama lagi seperti dulu. Aku merasa separuh dari diriku hilang. Aku kehilangan kemampuan diriku untuk merasakan dunia dan menuliskankannya lewat kata. Setiap kali menuliskan kata demi kata, aku menghapusnya kembali, menghapusnya lagi, menghapusnya, menghapusnya, menghapusnya, menghapusnya sampai layar kembali menjadi kosong, karena yang aku tuliskan belum cukup baik. Tidak bermakna apa-apa. Tidak akan menjual. Aku putus asa. Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang penting dalam hidupku, dan aku benar-benar merasa kosong sesudahnya. Menulis tidak lagi membawa kebahagiaan yang murni dalam hidupku.

Aku ingin menulis lagi.
Aku ingin menulis sesuatu yang aku suka.
Aku ingin membuat diriku bahagia dengan menulis.
Aku rindu menulis.
Aku rindu terhanyut dalam duniaku sendiri.
Aku ingin menulis lagi seperti dulu, Ya Tuhan…

Pada waktu yang dulu berjalan tanpa kusadari, kebahagiaan kurasakan dalam hidupku melalui sebuah bunga yang dapat berbicara dan bisa karate, yang aku tuliskan di atas selembar kertas binder kosong dengan pensil. Sesederhana itu.

 

– Minggu, 24 September 2017.

Pada Dirinya, Aku Kembali

Aku tidak sabar bertemu dengannya; dengan dia yang sudah lama aku sembunyikan.
Setengah mati aku menyembunyikannya dari dunia; aku tidak ingin mengakui keberadaannya.
Kerap kali aku berbohong jika itu menyangkut tentang dirinya.
Aku berpura-pura dirinya tidak ada.
Aku sama sekali tidak pernah melihat dirinya.
Aku tidak tahu apapun soal dirinya.
Puncaknya adalah saat aku mengurung dirinya; jauh dari diriku.
Setelah itu, aku melanjutkan hidup.
Aku yakin aku bisa hidup tanpa dirinya.
Aku tidak tahu bahwa… Continue reading “Pada Dirinya, Aku Kembali”

Sucker for Pain

That’s why my heart cold, full of sorrow, the lost soul
And only Lord knows when I’m coming to the crossroads
So I don’t fear shit but tomorrow
And I’m a sucker for pain, it ain’t nothing but pain

– Lil’ Wayne – Sucker for Pain

Full lyrics : http://www.azlyrics.com/lyrics/lilwayne/suckerforpain.html

Video : https://youtu.be/-59jGD4WrmE

[Lirik Lagu] Senandung Jatuh Cinta – Ebiet G. Ade

Rambutmu yang hitam panjang jatuh di bahu
Kadang luruh di ujung dagu bila engkau tertunduk
Jemari tanganmu lentik lembut memainkan gitar
Nampaknya rembulan pun terkesima

Lewat satu lagu tak usai kau nyanyikan
Perlahan kau tengadahkan wajah sibakkan rambutmu
Matamu tajam berbinar tembusi kegelapan malam
Burung gagak pun jadi enggan terbang

Sedetik ‘ku tertegun dalam kesendirian
Gelap kelam membentang di depan mata
Burung-burung pipit, terbanglah menjauh
Kabarkan pada awan cerita ini:
“Aku lagi jatuh cinta
pada gadis kecil yang memainkan gitar,
pada gadis kecil yang memainkan gitar.”

Ombak di laut, perdu di belantara
Kadang mampu menyatu dalam satu lagu
Begitu pun yang kuharap, dapat mempersempit jarak
sikapku dan sifat kekanakanmu

Sedetik ‘ku tertegun dalam kesendirian
Gelap kelam membentang di depan mata
Burung-burung pipit, terbanglah menjauh
Kabarkan pada awan cerita ini:
“Aku lagi jatuh cinta
pada gadis kecil yang memainkan gitar,
pada gadis kecil yang memainkan gitar.”

Sumber : http://www.wowkeren.com/lirik/ebiet_g_ade/senandung-jatuh-cinta.html#ixzz4Y0POmVgp

[Video]


Side note :

Aku baru tahu lagu Ebiet G. Ade yang satu ini :”) (kemana saja kau!) Ini gara-gara adikku yang sering banget memainkan lagu ini di komputernya >< Aku jadi terngiang-ngiang lagu ini, khususnya bagian, “Sedetik ‘ku tertegun dalam kesendirian” :> Aku bersyukur kami punya selera lagu yang sama eheheheh.

Tapi ngomong-ngomong, tahu dari mana adikku soal lagu ini ya?

Apa dia memang sedang jatuh cinta? (OwO)”

Kalau iya… aku merasa sedih. Kenapa dia ngga cerita ke aku ya? *sigh*

Aku suka sekali lagu-lagu Ebiet :”))) Sangat suka! Sejak SD, aku sudah terbiasa mendengar lagu-lagu dari Ebiet; sampai sekarang pun masih suka, tak peduli betapa aku sering iseng diejek kalau selera musikku kuno sekali, seperti selera musik orang tua.

Tapi, musik adalah kebahagiaan, bukan?

Musik adalah bagian dari dalam diri kita; sesuatu yang sifatnya personal. Walaupun apa kata orang selera musikku aneh, mau bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur suka, dan musik itu sudah menjadi bagian dari diriku :) Dan, aku bangga karenanya.

Ohya, aku juga pernah memposting beberapa lirik lagu dari Ebiet G. Ade :

[Lirik Lagu] : Lagu untuk Sebuah Nama – Ebiet G. Ade

[Lirik Lagu] Berita Kepada Kawan – Ebiet G. Ade

Sesama fans Ebiet G. Ade, ayo kita berkenalan! ><

Cheers!
@uruuchan

Sentuhan yang Tidak Boleh Dilakukan

Saat ia bercerita padaku apa yang sudah dilakukan olehnya pada sahabatku, aku sudah tahu bahwa dia telah melakukan sebuah kesalahan yang fatal. Dia sudah mengambil langkah yang salah. Niat yang awalnya baik, malah berakhir sia-sia hanya karena dia melakukan hal itu pada sahabatku. Dia memang tidak sabaran orangnya, dan dia belum mengenal dengan baik seperti apa sahabatku. Fakta bahwa ia melakukan itu, tanpa mempertimbangkan perasaan sahabatku mungkin membuktikan bahwa ia orang yang egois. Atau mungkin saja tidak.

Benar-benar sebuah kesalahan yang fatal.

Dia tidak tahu bahwa sahabatku itu… bagaimana ya menjelaskannya? Rumit. Continue reading “Sentuhan yang Tidak Boleh Dilakukan”

Pintu Mereka

Ada banyak pintu di belakang punggungku; ratusan jumlahnya. Pintu baru kerap muncul seiring berlalunya waktu yang aku jalani. Aku selalu bisa masuk ke pintu yang mana saja; pintu terdahulu atau pun pintu yang terbaru, keduanya tidak ada masalah sama sekali. Pintu-pintu itu selalu ada di belakangku.

Belasan tahun sudah berlalu begitu saja. Pada suatu hari, aku menemukan bahwa pintu-pintu itu tidak bisa aku buka lagi. Pintu itu seperti terkunci. Aku panik! ternyata jumlah pintu yang tertutup lebih banyak daripada bayanganku sebelumnya. Aku ketakutan! Siapa yang mengunci pintu-pintu ini?

Siapa?! Continue reading “Pintu Mereka”