Light & Life

When 'The Light' walking in Life

GV#5 “Aku Ingin Meluapkan Perasaan Ini” — 15/08/2015

GV#5 “Aku Ingin Meluapkan Perasaan Ini”

Ya. Aku mengaguminya. Kepada laki-laki itu, orang yang paling bekerja keras dibandingkan teman-temannya sendiri. Senyumannya yang membawa keceriaan, tidak pernah ragu untuk membaur dengan sekelilingnya. Dia bersinar. Auranya menyenangkan.

Rasa percaya diri yang dimiliki olehnya, dan tidak dimiliki olehku. Selalu tertawa untuk menyenangkan orang lain; untuk membuat orang lain bahagia. Tingkahnya terkadang kekanakan, tapi aku melihatnya sebagai salah satu sisi imut yang dimilikinya. Dia begitu menarik; cerah, lucu, menyenangkan.

Mungkin, bagi sebagian orang tingkahnya memalukan. Tingkahnya untuk mendapatkan perhatian dari orang banyak. Mungkin beberapa orang tidak tahan berada di dekatnya. Tapi menurutku itu tidak memalukan sama sekali (yah, memang dalam beberapa hal dia memang bertingkah memalukan) tapi bukan itu yang ingin aku ungkapkan. Aku… Benar-benar mengagumi dia yang seperti itu. Rasa percaya dirinya, sesuatu yang tidak dimiliki olehku. Untuk mendapatkan “pengakuan” dari orang lain, dia berusaha sekeras mungkin, dan ‘rasa percaya diri’ nya yang berlimpah itu benar-benar mengagumkan. Sekarang, dia bersinar dengan usahanya sendiri. Aku sungguh senang melihatnya, sekaligus merasa terharu Karena aku sempat melihat beberapa usahanya, yang memang tidak main-main untuk mendapatkan pengakuan dari orang disekelilingnya itu. Aku mengaguminya. Sungguh. Dia begitu hebat. Dia sangat hebat.

Aku berharap dia akan terus bersinar. Sesulit apapun kesulitan yang datang menghadapinya, aku yakin dia akan bisa melewatinya. Karena dia begitu kuat, hangat, cerah, dan percaya diri. Dia yang kukagumi.

Dulu, aku melihat punggungnya yang terlihat kecil. Aku mengkhawatirkan dirinya. Apa dia baik-baik saja? Apa dia diperlakukan dengan baik? Apa dia tidak merasa lelah? Tapi, yang kulihat… Dia selalu berusaha terlihat positif. Dan selalu tertawa. Dia menyanyi untuk dirinya sendiri; memberi penghiburan untuk dirinya sendiri. Dia bisa melewati semua itu. Dia bisa. Karena dia adalah dia. Dia yang hebat. Dan aku mengaguminya.

Sekarang punggungnya bukan punggung yang dulu aku lihat. Dia begitu tegap. Dia bukan laki-laki kurus yang aku lihat dulu. Dia tinggi, dan tegap, dan benar-benar seperti ‘laki-laki dewasa’. Punggungnya lebar, pundaknya kuat, dan otot-otot yang menonjol di balik lengannya. Dia tumbuh menjadi laki-laki yang semakin hebat hari demi hari. Auranya semakin jelas terlihat; semakin cerah. Dia hebat dan kuat. Dia yang kukagumi.

Aku mengagumi dia dengan semua usaha yang sudah dia lakukan. Dia menyilaukan di mataku. Dia memang sudah bersinar dari dulu, dan aku melihatnya. Laki-laki yang bisa segalanya, dan senantiasa membuat orang disekelilingnya tertawa. Laki-laki yang menyenangkan. Dia tidak takut dengan rasa malu. Dia menginginkan pengalaman sebanyak mungkin. Dia yang terus maju dan maju, menjadikannya laki-laki seperti yang hari ini aku lihat. Aku sangat mengaguminya.

Sampai hari ini aku melihat dirinya, dia masih senantiasa tersenyum. Dan masih terus berusaha keras. Dia tertawa. Hangat, cerah, lembut. Dia berbagi kebahagiaan dengan orang banyak. Mungkin sebagian orang tidak mau melihat dia yang dulu; dengan semua kerja kerasnya, dan hanya ingin melihat dia yang sekarang. Tapi, aku melihatnya. Aku salah satu orang yang melihat betapa dia bekerja keras untuk sampai seperti dia yang sekarang. Sampai akhirnya dia diakui. Dan aku tidak mau orang-orang yang hanya melihat ‘dia yang sekarang’ menyakitinya. Apa yang mereka tahu tentang dia?

Kudoakan dia agar bisa terus tertawa dan tersenyum seperti itu sampai kapanpun. Aku harap kebahagiaan senantiasa menyertai dirinya. Kalau dia sedang berada di titik terendahnya, kuharap dia akan menemukan seseorang untuk membantunya kembali berdiri tegap seperti dia yang sekarang. Kuharap dia dikelilingi oleh orang-orang yang memperlakukannya dengan baik, setia kepadanya, dan tidak pernah berniat untuk menyakiti hatinya. Kuharap dia selalu baik-baik saja dimanapun dia berada. Dan kuharap dia senantiasa seterang dan sehangat sinar matahari, dengan tawanya yang lucu, dan senyumnya yang menggemaskan, juga dengan tingkah kekanakannya yang membuat orang ingin menepuk-nepukkan tangan ke atas kepalanya.

Kudoakan segala yang terbaik untuk dirinya, orang yang kukagumi.

Dari : Aku
Untuk : Orang yang aku kagumi.

p.s : kuharap senyum mu tidak akan hilang dari wajahmu. tawa dan senyum itu sudah memberiku segenap kekuatan yang kubutuhkan. aku mengagumi mu. kau tahu, kau sudah menginspirasi banyak orang tanpa kamu sadari. semua itu karena usaha dan kerja keras yang sudah kamu lakukan selama ini. teruslah berjuang dan carilah kebahagiaan dan tujuan serta mimpi yang ingin kamu raih. aku akan senantiasa mendoakan kebahagiaan untuk dirimu. Sungguh…. Aku ingin kamu bahagia, maka dari itu… lakukan yang terbaik di setiap hal yang kamu lakukan! Seperti yang selalu kamu lakukan…. Sehatlah selalu, dan teruslah tersenyum (:

GV#4 “Tentang Kejujuran yang (Masih) Tersembunyi.” — 11/08/2015

GV#4 “Tentang Kejujuran yang (Masih) Tersembunyi.”

Aku adalah tipe orang yang benar-benar percaya bahwa kunci dalam suatu hubungan adalah adanya kejujuran. Aku pikir dengan kita berbuat jujur, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Kita sama-sama saling percaya bahwa masing-masing tidak akan pernah membohongi satu sama lain.

Kedengaran naif memang… Tapi mau bagaimana lagi? Toh memang itu yang aku percayai. Terutama kepada orang-orang terdekatku. Aku sama sekali tidak bisa membohongi mereka. Mereka adalah orang-orang yang sangat berharga bagiku. Aku jujur kepada mereka, dan aku sangat mempercayai mereka.

Tapi pada kenyataannya tidak semudah itu. Tidak segampang yang diucapkan barusan.

Terkadang, kejujuran itu sendiri malah ‘tertutupi’ oleh besarnya rasa ego yang kita miliki. Atau malah tersembunyi karena rasa ‘takut’. Pada akhirnya, kejujuran itu tidak memunculkan dirinya sendiri. Pada akhirnya, masalah bisa timbul hanya karena kita tidak mengatakan kejujuran yang sebenarnya bisa kita ucapkan pada saat itu juga.

Untuk bisa mengungkapkan kejujuran, tidak semudah itu. Tidak semudah ‘kan tinggal bilang sejujurnya aja sama mereka/dia, apa susahnya sih?’. Tidak seperti itu.

Dibutuhkan keberanian, rasa percaya, dan penerimaan yang tinggi terhadap diri sendiri, aku pikir, untuk mengungkapkan kejujuran. Walaupun, memang tak selamanya kejujuran itu berasa ‘manis’ dan terkadang malah ‘pahit’ yang kita dapatkan. Namun, memang sudah seharusnya kejujuran kita ungkapkan, dan kita tahu bahwa kita sudah berbuat sesuatu yang benar.

Aku berdoa untuk semua orang yang masih menyembunyikan kejujuran di dalam hatinya, di dalam relung hatinya, di sudut hatinya, untuk diberikan keberanian oleh Nya agar bisa mengungkapkan kejujuran demi hati yang lebih baik, demi kebahagiaan diri sendiri, dan untuk melakukan sesuatu yang benar. Mudah-mudahan suatu hari nanti, mereka semua bisa mengungkapkan kejujuran dari dalam hati mereka yang paling dalam untuk bisa menerima diri mereka sendiri, dan kebahagiaan orang lain. Meskipun rasanya pahit dan mungkin akan sedikit melukai diri sendiri.

Untuk semua kejujuran yang masih tersembunyi.

Terutama untuk G dan V, kudoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Kalian layak mendapatkan kebahagiaan dibandingkan siapapun. []

GV#3 “Aku hanya ingin mereka bahagia.” — 07/08/2015

GV#3 “Aku hanya ingin mereka bahagia.”

Ini adalah sesuatu yang baru untukku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ingin mendoakan seseorang yang tidak aku kenal dengan sungguh-sungguh. Aku tahu seseorang itu, tapi aku tidak begitu mengenal mereka seperti aku mengenal temanku sendiri. Seseorang itu benar-benar seperti orang asing yang aku lihat sekilas di jalan.
Dan, aku ingin mendoakan kebahagiaan mereka. Aku ingin mereka bahagia.

Untuk orang itu, yang merasa sendirian ditengah hiruk-pikuk dunia, yang tidak merasa bahagia setelah mendapatkan semua yang diinginkan oleh orang-orang, yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya selama 10 tahun ini kepada orang yang disukainya, yang tidak bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan sesuka hatinya. Hidupnya kini bukan miliknya lagi, tapi milik orang lain.

Untuk dia, yang paling berusaha keras selama 10 tahun ini. Berusaha untuk dianggap, dan membuktikan eksistensi dirinya. Orang yang paling bekerja keras untuk bisa tetap tinggal di sana. Kerja keras untuk bisa setara dengan mereka; dengan orang itu. Dia yang memiliki sinar namun tertutup oleh sinar yang lebih kuat, sehingga menjadikannya sebagai bayangan. Sinar yang tertutup. Untuk dia yang berusaha untuk orang itu, tapi tidak mendapatkan balasan yang setara dengan usahanya.

Aku benci kalian semua. Aku benci.
Kalian bilang kalian mencintaiku? Kalian bilang kalian mencintaiku dengan segala yang aku lakukan.
Tapi, nyatanya kalian semua hanyalah salah satu bentuk dari kepalsuan yang ada di dunia ini.
Kalian sama sekali tidak tahu siapa aku. Sama sekali.
Kalian tidak mengenal aku yang sesungguhnya. Aku.
Kalian tidak mencintai aku. Kalian hanya melihat aku seperti yang ingin kalian lihat.
Kalian membunuhku dari dalam.

Orang itu tenggelam dalam keputusasaaan karena semua yang sudah dia lakukan selama ini.

Apa yang sudah kamu lakukan untukku? Aku sudah berusaha sejauh ini, menyamai langkahmu, untuk setara denganmu. Tapi, kamu yang meninggalkanku! Selama ini aku sangat mempercayaimu! Aku menaruh semua harapan dan perasaan ini kepadamu, namun apa yang kamu lakukan terhadap semua itu? Kamu mengkhianati perasaanku.

Aku sudah cukup dengan semua ini.

Dia yang tidak cukup dicintai.

Tentu saja, aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang mereka. Hanya saja, aku menginginkan mereka bahagia. Aku ingin mereka menemukan kebahagiaan mereka, walaupun untuk mengambil kebahagiaan itu mereka harus melukai banyak orang, membuka kebohongan, melepaskan kepercayaan, dan menghancurkan diri mereka sendiri. Tapi setidaknya mereka sudah jujur terhadap diri sendiri atas apa yang ingin mereka inginkan dari dalam hati mereka yang paling dalam. Untuk mendapatkan kebahagiaan mereka.

Kebahagiaan yang sebenarnya ada di depan mata mereka, namun mereka terlalu takut untuk mengambilnya. Atau memang ada seseorang yang tidak ingin mereka mendapatkan kebahagiaan itu.

Kebahagiaan apapun yang sedang mereka cari, yang sedang mereka inginkan, kuharap mereka benar-benar akan bahagia setelah mendapatkannya. Bukan menyesalinya.

Aku ingin mereka bahagia. Sungguh.
Aku ingin melihat mereka bahagia.

Kalaupun kebahagiaan mereka sedikit melukai hatiku (ya, sedikit) aku akan berusaha untuk itu. Aku tidak apa-apa.

Aku hanya ingin mereka bahagia.

Kamu termasuk jenis yang mana kalo ngebales SMS? — 05/08/2015

Kamu termasuk jenis yang mana kalo ngebales SMS?

  • Starts a conversation then never replies: Sagittarius, Libra
  • Takes like 5 years to text back: Capricorn, Aries, Aquarius
  • Reads your message but forgets to reply: Taurus, Pisces, Cancer, Leo
  • Starts a conversation and tries to make it last: Virgo, Gemini, Scorpio (source :ZodiacSpot.co) via g-tracesnpandas@tumblr

LOL.

Ini menjelaskan kenapa seorang aku kalo ngebales sms atau pesan LINE laaaaaaaamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget :v (note : me? Aries. Hahahahaha)

Just for fun ^^ Hehehehehe.

Let’s not fall in love, We don’t know that well yet
Actually I’m a bit scared, I’m sorry
Let’s not make a promise, We don’t know about tomorrow
But I really mean this, I like you

Let’s Not Fall In Love – BIGBANG

Empat Tahun di Antara Aku dan Kamu — 20/01/2015

Empat Tahun di Antara Aku dan Kamu

Saat itu yang kupikirkan hanyalah bagaimana caranya agar perasaan ini tersampaikan kepadamu.

Entah bagaimana caranya. Harus.

Keinginanku untuk bertemu lagi denganmu,

setelah empat tahun kita tidak bertemu,

dan menyelesaikan apa yang belum selesai di antara kita.

Aku mengesampingkan apa yang aku rasa;

Malu. Takut. Gugup.

Kali ini semua itu tidak penting,

itu tidak akan menghalangiku kali ini untuk menyampaikan perasaan ini kepadamu,

untuk semua yang belum selesai di antara kita.

Entah kenapa, perasaan ini begitu kuat; begitu kuatnya untuk bertemu dengan dirimu.

Lagi.

Apa yang nanti menungguku setelah jeda empat tahun di antara kita?

Aku tidak tahu.

Dan aku tidak berani membayangkannya.

Satu-satunya yang menjadi sumber kekuatanku,

Untuk menyampaikan perasaan ini,

Adalah harapan atas hal baik yang terjadi nantinya,

Antara aku dan kamu.

Tentang aku yang bertemu denganmu lagi,

setelah empat tahun.

Aku ingin menyampaikan segenap perasaan ini kepadamu,

menutup jurang empat tahun di antara kita.

***

Spoiler untuk cerita pendek yang aku tulis kemarin malam.

Kalian penasaran, tidak?

Aku sangat ingin mempublikasikan cerpen itu ke blog ini~

Tapi, aku merasa tidak percaya diri.

Semoga kalian menikmati tulisanku, yaaa~

Salam hangat,

@uruuchan.

Dunia Kecil ku — 21/02/2014

Dunia Kecil ku

Peka.
Satu kata itulah yang menggambarkan aku.
Aku terlalu peka dalam melihat keadaan di sekitarku.
Bukan berarti hal itu menjadi suatu kelemahan bagiku.
Aku menerima dengan lapang dada untuk sikapku yang peka itu.
Karena itulah, kadang aku merasa terlalu berbeda dengan orang2 yang ada di sekelilingku.
Aku memang tidak memaksa mereka untuk mengerti apa yang aku pikirkan, tapi aku juga berharap bahwa suatu hari nanti akan ada seseorang yang memahami diriku dengan pikiranku.
Bahwa suatu hari nanti akan ada seseorang yang memasuki dunia kecil milikku.
. . .
Kenyataannya, aku punya dunia kecil milikku dalam dunia yang sangat besar ini; yang tak semua orang akan paham apalagi mengerti.
Dunia yang hanya aku dan orang2 dengan perasaan sama sepertiku yang bisa masuk kedalamnya.
Aku hanya berharap bahwa suatu hari nanti, seseorang akan memahami dunia kecilku, dan menerima aku apa adanya.
. . .
Aku, sikapku, dan dunia kecilku.
Siapakah yang akan menemukan diriku dalam dunia kecil milikku?
Siapakah yang bisa memasuki dunia kecil milikku?
Aku menantikan kehadirannya.

Ketakutan dan Kenyataan —

Ketakutan dan Kenyataan

Sekarang aku merasa ketakutan.
Aku takut bahwa suatu hari nanti, ketakutan yang aku rasakan menjadi sebuah kenyataan.
Entah mengapa, aku tidak mau hal itu terjadi.
Tapi aku juga bertanya tanya, jika hal yang aku takutkan menjadi kenyataan, apa yang harus aku lakukan?
Haruskah aku bersembunyi?
Haruskah aku menghindar seperti yang biasa aku lakukan?
Atau haruskah aku menghilang saja?
. . .
Sudah cukup bahwa kenyataan yang ada di depanku saat ini membuatku ketakutan.
Jangan sampai ketakutanku yang ini menjadi kenyataan pula.
Cukuplah ketakutan itu menjadi sebuah mimpi saja.
Jangan menjadi kenyataan.
Jangan menjadi kenyataan yang lain.
Aku takut.
Dan aku masih merasa ketakutan.