Aku Lelah

Aku lelah.

Ya.

Hanya itu saja…

Advertisements

Hal-Hal yang Ingin Dilakukan di Bulan Oktober Ini

Di bulan Oktober ini, aku akan mencoba lebih produktif lagi dalam mengisi blog dan juga dalam menulis diary yang sudah lama ini tidak aku lakukan. Dulu, aku pernah berpikir bahwa menulis diary ternyata benar-benar sangat membantu diriku untuk melepaskan emosi yang biasanya selalu aku pendam sendirian; rasanya seperti sebuah terapi. Tetapi, setelah aku kuliah (padahal di masa-masa ini aku benar-benar banyak masalah T^T) aku jadi jarang menulis lagi; menulis cerita, menulis diary, menulis untuk kesenangan aku sendiri.

Sejujurnya, saat ini kepercayaan diriku sangat rendah sekali. Continue reading “Hal-Hal yang Ingin Dilakukan di Bulan Oktober Ini”

Waktu Milik Mereka

Tentang waktu. Aku berpikir bahwa ternyata di dunia ini, waktu tidaklah sama. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa waktu berjalan berbeda-beda bagi setiap orang. Pemikiran waktu bagi diriku sebelum ini sungguh dangkal; walaupun bentuk dan rupa jam kami beragam, tapi kami memandang waktu yang sama. Pukul satu siang. Pukul enam sore. Pukul sembilan malam. Tidak lebih dan tidak kurang. Tidak ada yang berbeda dan aneh dari hal itu. Tidak ada makna yang begitu mendalam untuk diriku pada saat itu.

Ada dua buah grup yang tengah aku ikuti saat ini. Satu bernama NU’EST dan satu bernama BTS. Keduanya membuatku sadar mengenai hal ini, dan entah kenapa aku merasa perjalanan kedua grup itu membuatku menyadari tentang waktu. Continue reading “Waktu Milik Mereka”

Aku Ingin Menulis

Aku merasa kehilangan sesuatu akhir-akhir ini dalam hidupku; sesuatu yang aku tidak tahu bentuknya atau rupanya seperti apa.
Mungkin salah satunya adalah menulis.

Pada apa yang dulu membuatku sangat bersemangat, sampai lupa waktu… kini aku kehilangan pesonanya.

Aku seperti dikuasai oleh sesuatu.
Mungkin aku merasa tidak sebebas sebelumnya.

Setiap kali menulis, aku merasa harus menulis sesuatu yang bagus; yang sangat bagus. Sesuatu yang membuat orang lain kagum dan terkesima. Sesuatu yang bagus, sehingga bisa menghasilkan uang bagi diriku yang khawatir tidak bisa mendapatkan pekerjaan di masa depanku. Sesuatu yang cukup menakjubkan, sehingga bisa menghasilkan uang bagi diriku yang merasa tidak cocok bekerja di perusahaan. Pikiran yang kubuat sendiri itu, secara tidak langsung menjadi beban tak kasat mata yang membayangi jemariku untuk menuliskan atau mengetik sebuah cerita. Sebuah pikiran yang sangat tidak tulus bagi diriku yang dulunya murni ingin menulis untuk kesenangan diri sendiri. Aku juga terus menerus memikirkan apa yang aku tulis ini sudah benar? Apa tidak ada salah? Apa penggunaan tanda bacanya sudah benar? Sudah benarkah? Sudah benarkah?

Aku masih ingat waktu aku duduk di bangku SD. Sehabis pulang sekolah, aku menghabiskan waktuku sampai sore hari di rumah nenek. Aku ingat hari itu, di mana aku terlungkup di karpet yang ada di kamar nenekku dan menuliskan cerita tentang bunga yang bisa berbicara dan melakukan karate di kertas binder. Rasanya hari itu, aku merasa begitu bebas dan tidak terkekang oleh sesuatu. Aku punya segalanya untuk aku tuliskan, dan aku sama sekali tidak mengkhawatirkan hal-hal macam apakah ceritaku sudah cukup bagus untuk dibaca oleh orang lain atau tidak, atau mengenai penggunaan tanda baca, dan hal-hal lain. Aku hanya ingin menulis waktu itu; mengeluarkan apapun yang terpikirkan dalam benakku. Terus dan terus menulis sampai lupa waktu dan begitu terhanyut dengan bunga yang aku tulis. Dengan sebuah pensil di tanganku dan kertas di hadapanku, aku merasa tidak perlu hal yang lain lagi. Aku punya segalanya di dunia ini yang aku butuhkan. Waktu itu, aku merasa sangat bahagia.

Dulu, sebegitu besarnya kesukaanku terhadap menulis.

Kini, menulis tidak sama lagi seperti dulu. Aku merasa separuh dari diriku hilang. Aku kehilangan kemampuan diriku untuk merasakan dunia dan menuliskankannya lewat kata. Setiap kali menuliskan kata demi kata, aku menghapusnya kembali, menghapusnya lagi, menghapusnya, menghapusnya, menghapusnya, menghapusnya sampai layar kembali menjadi kosong, karena yang aku tuliskan belum cukup baik. Tidak bermakna apa-apa. Tidak akan menjual. Aku putus asa. Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang penting dalam hidupku, dan aku benar-benar merasa kosong sesudahnya. Menulis tidak lagi membawa kebahagiaan yang murni dalam hidupku.

Aku ingin menulis lagi.
Aku ingin menulis sesuatu yang aku suka.
Aku ingin membuat diriku bahagia dengan menulis.
Aku rindu menulis.
Aku rindu terhanyut dalam duniaku sendiri.
Aku ingin menulis lagi seperti dulu, Ya Tuhan…

Pada waktu yang dulu berjalan tanpa kusadari, kebahagiaan kurasakan dalam hidupku melalui sebuah bunga yang dapat berbicara dan bisa karate, yang aku tuliskan di atas selembar kertas binder kosong dengan pensil. Sesederhana itu.

 

– Minggu, 24 September 2017.

Sucker for Pain

That’s why my heart cold, full of sorrow, the lost soul
And only Lord knows when I’m coming to the crossroads
So I don’t fear shit but tomorrow
And I’m a sucker for pain, it ain’t nothing but pain

– Lil’ Wayne – Sucker for Pain

Full lyrics : http://www.azlyrics.com/lyrics/lilwayne/suckerforpain.html

Video : https://youtu.be/-59jGD4WrmE

Tantangan #10DaysKF Akhirnya Selesai Juga :)

Walaupun sangat-sangat-sangat terlambat, tapi (akhirnya!) aku berhasil menyelesaikan apa yang sudah aku mulai; aku berhasil menyelesaikan tantangan menulis #10DaysKF dari Kampus Fiksi dan rasanya saaaaaaaaaangat menyenangkan sekali! Ada kepuasan tersendiri saat kamu berhasil menyelesaikan sesuatu. Terima kasih untuk kalian (di mana pun kalian berada) yang sudah membaca tulisan #10DaysKF milikku sejak hari pertama sampai hari kesepuluh :> Semoga kita semua senantiasa diberikan kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup dan dalam hati kita ^^

Jika kalian ingin membaca semua tulisanku yang dimasukkan ke dalam tantangan menulis #10DaysKF, kalian bisa klik tautan ini : #10DaysKF dari uruuchan :)

Cheers!
uruuchan

p.s : aku akan berencana untuk mencari tantangan menulis lainnya yang bisa aku ikuti di sela-sela tugas akhir yang harus aku selesaikan :”D Tantangan menulis di bulan Februari sepertinya akan sangat menyenangkan untuk dicoba hehehehe.

5 Fakta Tentang Nui [#10DaysKF – Day 8]

Sebagai seseorang yang dianugerahi kemampuan berpikir, kata “persepsi” sepertinya sudah melekat di dalam diri setiap orang. Persepsi memungkinkan kita untuk menilai sesuatu menggunakan setiap pengetahuan dan kebijaksanaan yang ada di dalam kita terlebih dahulu, sebelum mengetahui “kenyataan” sebenarnya dari sesuatu hal tersebut. Perlu dicatat dan diingat bahwa setiap orang menyimpan pengetahuan yang berbeda di dalam dirinya sendiri. Hasilnya? Persepsi setiap orang terhadap “suatu hal” akan berbeda. Tidak bisa disangkal dan dipungkiri setiap orang dianugerahi hal itu; apakah sebuah anugrah atau suatu bencana?

Pada tantangan menulis di hari kedelapan ini, aku diminta untuk menuliskan lima fakta mengenai diriku sendiri yang ternyata bertentangan tentang opini orang lain mengenai diriku. Tantangan ini tentu saja mengingatkan aku pada kata “persepsi” yang tadi sudah aku sebutkan sebelumnya ^^ Aku tidak tahu, apakah aku ingin menuliskan tentang hal ini atau tidak. Aku masih kurang yakin (dan agak takut) Tapi lama sesudahnya, aku berpikir kenapa tidak? Ini akan menjadi salah satu pengalaman yang menyenangkan untuk “menyelami” diri sendiri; mengenali diri sendiri lebih baik, sepertinya. Continue reading “5 Fakta Tentang Nui [#10DaysKF – Day 8]”