Mengambil Keputusan Itu Sulit | Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati

Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati
Juni – Juli 2016

MINGGU KETIGA
(15 – 17 Juni 2016)

Aku sudah banyak mengambil pilihan minggu ini. Dan aku juga banyak memutuskan sesuatu; yang mana aku tidakbaik dalam melakukannya. Bagi kalian yang pernah berinteraksi denganku, kalian pasti tahu. Aku sulit sekali mengambil pilihan, dan memutuskan sesuatu. Kalau aku disuruh melakukannya, aku pasti selalu mengatakan “bebas saja”, atau kalau memang aku ‘harus banget’ mengambil keputusan, aku pasti butuh waktu lama untuk memutuskannya. Aku cenderung Continue reading “Mengambil Keputusan Itu Sulit | Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati”

Advertisements

Pikiran-Pikiran Terdalam | Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati

Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati
Juni – Juli 2016

MINGGU PERTAMA
(6 – 7 Juni 2016)

Dua tahun yang lalu, aku mulai menulis jurnal bulan Ramadhan ini. Tiap-tiap hari yang kulalui di bulan Ramadhan, aku menuliskannya di sini; tentang apa yang aku lakukan, buku yang kubaca, perasaanku, dan masih banyak lagi. Sekarang, aku bisa melihat kembali ke dua tahun yang lalu, saat bulan Ramadhan. Kuputuskan aku juga akan menuliskannya kembali tahun ini, memulai kembali jurnal bulan Ramadhan ^^

Kalau dua tahun yang lalu, bulan Ramadhan kegiatan di kampus sudah benar-benar diliburkan, tahun ini kegiatan di kampus masih berlangsung. Bahkan pada dua minggu pertama, kegiatan di kampus masih berjalan. Di minggu kedua, aku akan menjalani Ujian Akhir Semester.

Rasanya agak aneh juga sih, berkegiatan di kampus saat bulan Ramadhan. Tapi justru menyenangkan juga, bisa melihat kampus ‘edisi Ramadhan’, terutama pada saat menjelang magrib. Wah, sekitaran kampus jadi tempat ngabuburit! Banyak pedagang-pedagang menjajakan segala macam makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Pokoknya, ramai!!

Kadang aku memikirkan apa yang dirasakan oleh anak rantau. Bulan Ramadhan buatku adalah saat dimana aku dan keluarga bisa berkumpul bersama di meja makan. Anak rantau… bagaimana perasaan mereka saat tidak bisa berkumpul bersama keluarga pada bulan puasa seperti ini, ya? Continue reading “Pikiran-Pikiran Terdalam | Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati”

Apa Satu Hal Yang Ingin Kamu Wujudkan Sebelum Meninggalkan Dunia Ini? | Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati

Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati
Juni – Juli 2014

MINGGU KETIGA

Tanggal 18 Juli 2014, Jumat

Apa yang harus aku tuliskan ya? Sesaat aku merasa bingung. Apa ini yang dinamanya ‘kebuntuan insprirasi’?

Dan sekarang aku berpikir mengenai cita-citaku. Aku yakin setiap orang setidaknya punya satu hal yang ingin mereka lakukan sebelum mereka meninggalkan dunia ini, satu hal yang ingin terkabulkan bagaimana pun caranya. Dan, sepertinya bisa dibilang bahwa apa yang ingin aku lakukan itu adalah cita-citaku sendiri; mimpiku di dunia ini. Setiap orang berbeda-beda, tapi aku yakin bahwa setiap orang pasti memiliki hal itu, diakui atau tidak. (Karena mungkin saja ada beberapa orang yang menyangkal mati-matian bahwa mereka tidak punya sesuatu yang seperti itu)

Satu hal yang ingin aku lakukan sebelum aku meninggalkan dunia ini adalah… menuliskan sebuah buku yang ditulis oleh diriku sendiri, kemudian menerbitkannya.

Aku bercita-cita, aku bermimpi untuk menjadi seorang penulis buku pada suatu hari nanti. Aku ingin meninggalkan buku ku di dunia ini, sebuah bukti bahwa aku pernah ‘ada’ di dunia ini. Dengan begitu mereka yang membaca bukuku akan tahu bahwa seorang ‘aku’ pernah ‘ada’ di dunia ini.

Mati, meninggalkan dunia ini tanpa seorangpun yang mengingat siapa diri kita, tanpa ada siapapun yang tahu bahwa kita pernah ada di dunia ini, rasanya menyedihkan sekali.

Maka dari itu, aku ingin menuliskan buku, sebagai bukti kehadiranku di dunia. Sebenarnya buku apapun tidak jadi masalah. Buku bisa berarti diary, atau buku tulis suatu pelajaran, atau apapun. Tapi belakangan ini, aku memikirkan sebuah buku cerita; novel, seperti itu. Aku ingin membuat sebuah novel, yang dibaca oleh semua orang, dan ketika mereka membacanya, mereka mendapatkan sesuatu yang ‘berharga’. Aku ingin menulis buku yang seperti itu.

Sejauh ini, aku lebih senang menulis diary. Itu sudah aku lakukan sejak aku duduk di bangku SD, dan sejauh ini, sampai aku menjadi mahasiswi pun, aku masih menulis diary. Kalau aku tidak menulis di diary, biasanya aku menuliskannya di notebook. Menulis diary, bagi diriku adalah sebuah terapi emosi. Lewat menulis, aku berharap aku bisa lebih memahami diriku sendiri. Selain itu, menulis juga membuatku merasa bisa mengeluarkan segala emosi yang tidak kukeluarkan; emosi yang tertahan. Seperti itulah arti menulis bagiku, lebih tepatnya menulis diary, hehehe.

Dan ketika memikirkan buku ku dipajang di rak buku di sebuah toko buku; sebuah buku dengan nama ku tertulis disana, merupakan suatu kebanggaan yang tidak bisa kubayangkan. Tidak terkira. Tidak terlukiskan.

Satu hal yang kurang untuk mewujudkan mimpi-ku itu adalah… Kurangnya rasa percaya diri dalam diriku. Itu menjadi kelemahan yang dengan mudahnya menyerang semangatku. Hal itu perlahan-lahan membuatku tidak begitu tertarik lagi untuk mewujudkannya. Dan hal itu menurutku sangat sangat sangat berbahaya. Aku berpikir, bagaimana caranya agar aku bisa menumbuhkan rasa percaya diri itu.

Lalu, ketika aku mulai hendak menulis, aku tidak tahu apa harus aku tuliskan. Aku tidak tahu harus mulai dari mana untuk memulai semua ini. Dan aku masih kebingungan sampai saat ini. Aku berpikir tentang ide yang ingin aku tuliskan, lalu aku berpikir apakah semua orang akan suka jika aku menuliskan seperti ini? Yah begitulah.

Aku berharap, sebelum aku meninggalkan dunia ini, aku bisa mewujudkan keinginannku itu; mimpi dan cita-citaku. Semoga Allah memberiku keridhoan-Nya untuk mewujudkan keinginanku… Aamiin.

Aku benar-benar ingin menjadi seorang penulis. []

Dulu, Aku Pernah Menjadi Seorang Chuunibyou Alias Pengkhayal | Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati

Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati
Juni – Juli 2014

MINGGU KETIGA

Tanggal 17 Juli 2014, Kamis

Sepertinya saat itu aku sedang membaca buku yang waktu itu aku beli bersama adikku di toko peralatan alat tulis dappas. Buku yang sedang aku baca saat itu adalah made of stars, yang ditulis oleh hana krisviana.

First Impression tentang buku itu adalah datar. Sejujurnya, aku kurang begitu tertarik membaca buku itu. Awal ceritanya tidak membuatku tertarik lebih jauh untuk membaca buku itu. Aku membaca buku itu pun karena aku sedang butuh suasana baru. Saat itu, pikiranku sedang kelabu, dan aku pikir aku butuh sesuatu yang fresh dan ringan. Pilihanku jatuh pada membaca sebuah buku, dan buku yang aku pilih adalah buku itu.

Saat membacanya agak terasa bosan, namun lama kelamaan, aku menikmati ceritanya juga. Satu yang sangat aku suka dari buku yang sedang aku baca ini adalah gaya penulisannya yang mengalir dan mudah dibaca. Maka dari itu, aku benar-benar membacanya dengan ringan dan santai.

Menurutku, buku itu tidak terlalu tebal, malah aku akan menyebutnya tipis. Dan, biasanya tidak lebih dari tiga hari untuk menamatkan buku itu, namun sepertinya dugaanku akan salah, karena ini sudah lebih dari tiga hari. Hehehe. Yah wajar saja, karena perhatianku terpecah antara ingin membaca buku, dan menonton anime, juga berkhayal untuk tulisanku.

Kalau aku boleh memberikan penilaian untuk buku made of stars ini, aku akan memberikan nilai 3 dari 5. Aku suka buku ini, karena aku suka gaya bercerita penulisnya yang menarik untuk dibaca.

Ohya, aku pikir ceritanya akan berpusat pada kehidupan nyata. Iya, kehidupan nyata, kehidupan sehari-hari yang biasa kujalani. Setelah membacanya cukup jauh, ternyata ada unsur ‘fantasi’ didalamnya, seperti malaikat, tentu saja. Malaikat yang turun ke bumi, malaikat yang jatuh cinta kepada manusia. Aku pikir, penulis indonesia sepertinya sangat jarang mengangkat tulisan bertema seperti itu, tapi saat itu aku tengah membaca salah satu buku yang bertema fantasi yang kusebut tadi. Makanya aku merasa heran, dan penasaran untuk mengetahui ceritanya.

Berbicara soal malaikat, dulu saat aku masih kecil (mungkin saat aku masih duduk di bangku SD, atau mungkin TK? entahlah), aku sangat suka berkhayal. Ya, berkhayal tentang apa saja. Bukan hanya sekedar berkhayal di dalam kepala saja, tapi aku benar-benar berusaha mewujudkannya, seakan-akan apa yang aku khayalkan benar-benar terjadi dan bersangkutan dengan diriku sendiri. Seperti punya teman khayalan, dan aku mengajaknya berbicara. Hahaha. (Dan aku teringat kepada sebuah anime yang tokoh utamanya suka berkhayal, katanya yang seperti ini disebut chuunibyou. PFFFTTT dan tokoh itu adalah rikka takanashi)

Apa yang ku khayalkan bermacam-macam. Hahaha. Ketika mengingatnya (seperti saat ini) itu membuatku tersenyum. (Ternyata saat aku masih kecil, aku mengalami masa yang menyenangkan, ya) Dulu aku pernah berkhayal menjadi polisi (dan aku punya senjata pistol mainan untuk mendukung keinginananku itu), menjadi seorang pemburu zombie seperti di game resident evil, menjadi seorang artis, atau menjadi seseorang yang diculik oleh orang jahat dan di tawan oleh raja setan lalu diselamatkan oleh malaikat, menjadi orang yang kesepian, menjadi seseorang yang sedang jatuh cinta, menjadi seseorang yang punya teman boneka beruang yang bisa berubah menjadi sesosok laki-laki tampan, menjadi seorang kakak yang baik bagi kedua adiknya, dan masih banyak lagi. Aku menghayati keseluruhan peranku seakan akan aku memang orang itu, bukan orang yang sedang memainkan suatu peran. Aku rela kembali masa itu, aku sangat ingin menjadi diriku yang dulu. Diriku yang sekarang sangat penakut.

Ternyata dulu aku sempat menjadi seorang anak yang bebas. Aku yang dulu tidak terlalu mementingkan pendapat orang lain, aku bertindak karena memang aku ingin melakukannya. Aku yang sekarang, dalam setiap tindak-tanduk yang aku lakukan, selalu terbayang pendapat orang lain. Aku tidak pernah bisa lagi menjadi diriku sendiri. Aku bukan lagi anak yang bebas.

Mungkin aku yang sekarang sangat egois.

Apa yang aku tuliskan saat ini, membuatku berkaca kepada diriku sendiri melalui setiap kata-kata yang sekarang ini tertuang disini. Mengingatkan ku tentang bagaimana aku yang dulu, aku yang sekarang, dan bagaimana dengan aku di masa depan.

Kuharap aku tidak berubah menjadi lebih buruk lagi. []

Ramadhan Tahun Ini (Terasa) Berbeda | Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati

Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati
Juni – Juli 2014

MINGGU KETIGA

Tanggal 16 Juli 2014, Rabu

ARGH! Rasanya  semakin hari, aku semakin banyak menghabiskan waktu dengan sesuatu yang tidak berguna, dan menjadikan aku sebagai orang yang merugi. Sebenarnya, kalau dibilang sesuatu yang tidak berguna pun tidak tepat ya, karena apa yang aku lakukan sebenarnya bermanfaat, tergantung darimana aku melihatnya. Tapi tetap saja, aku merasa menjadi orang yang merugi.

Sebenarnya, hari itu aku terlalu banyak tidur. Nah, kan? Apa yang tadi aku bilang. Tidur dalam bulan Ramadhan sebenarnya adalah sesuatu yang berpahala juga. Lagipula, tidur mengistirahatkan badan yang lelah. Seperti itulah. Tapi… Aku tidur terlalu berlebihan!! Apalagi jika aku tidur setelah sahur. Sungguh tidak bagus! Itu tidak bagus untuk perutku, itu akan berdampak pada membuncitnya perutku. Tidaaak!!!

Lalu, aku akan terbangun pada pukul 9 pagi, atau kalau aku masih beruntung, mungkin aku akan bangun pada pukul 8. Yang menyebalkan adalah ketika aku bangun pada pukul 10. Itu sangat sangat menyebalkan. Kemudian, aku mulai menyesali banyak hal. Bangun siang itu tidak baik untuk mood-ku sendiri.

Dulu, saat aku masih SD, SMP, dan mungkin SMA? Atau sampai SMP saja? Aku lupa lagi. Tapi memang, dulu setelah sahur, aku pergi ke mesjid, tentu saja untuk mengikuti kuliah subuh. Dulu, aku rajin pergi ke mesjid setelah sahur, yah itu, untuk mengisi tugas agenda bulan ramadhan dari sekolah, mendengarkan ceramah, dan menuliskannya di agenda tersebut. Maka dari itu, setelah sahur, aku jarang sekali tidur. Bisa dibilang, aku mengisi waktu dengan sesuatu yang kurasa baik.

Coba bandingkan dengan yang sekarang. Setelah sahur, kalau tidak langsung tidur setelah shalat subuh (karena mengantuk), pasti berdiam diri didepan notebook untuk menonton anime, atau asik bermain dengan handphone. Bagian darimananya disana yang bagus dan bermanfaat? Aku berpikir bahwa bulan Ramadhan yang kulalui saat aku masih kecil jauh lebih baik dan berkualitas dibandingkan dengan Ramadhan yang aku jalani tahun ini. Dan kalau dipikirkan, itu membuatku sedih.

Dan mengenai handphone, sepertinya zaman memang sudah bergeser. Dulu saat aku masih duduk di bangku SD dan SMP, jarang aku lihat anak-anak memegang handphone. Saat aku hendak taraweh ke mesjid, aku melihat anak-anak yang sebagiannya taraweh, dan sebagiannya lagi bermain. Bermain apa saja, seperti kejar-kejaran, petak umpet, dan lain-lain. Itu mereka lakukan di mesjid. Ya kalau tidak bermain, mereka jajan. Mesjid selalu ramai oleh pedagang jajanan kecil saat taraweh.

Tapi, zaman sudah berubah. Anak kecil zaman sekarang sudah kelewat sangat canggih. Mereka pegang handphone, bahkan beberapa diantaranya sudah berjenis android. Dan yah, di mesjid tahun ini tidak seramai tahun-tahun sebelumnya menurut pengamatanku. Itu mesjid dekat dengan rumahku ya…

Aku pribadi merasa bahwa ada banyak hal yang berubah dari bulan Ramadhan tahun ini. Tapi memang pada hakikatnya tidak ada yang sama bukan? Perubahan selalu ada, dan terjadi. Hmm… Bagaimana menjelaskannya ya? Pokoknya, bulan Ramadhan tahun ini begitu berbeda dengan bulan Ramadhan yang aku jalani dan aku amati pada tahun-tahun sebelumnya. Bukan hanya pada diriku saja yang berubah, tapi sekitarku juga berubah dan berbeda. Apakah yang menjadikannya berbeda? Aku tidak terlalu bisa menjabarkannya dengan baik. Mungkinkah bahwa  setiap orang termasuk aku mulai kehilangan ‘esensi’ dari Ramadhan itu sendiri tahun ini? Aku tidak tahu.

Tapi, secara pribadi, pada aku yang menjalani bulan Ramadhan tahun ini di usiaku yang menginjak 18 tahun, rasanya terasa ada yang kurang. Entah kenapa, dan apa, tapi aku merasa (lagi-lagi) belum bisa menggunakan waktu yang ada dengan maksimal untuk sebanyak-banyaknya mengumpulkan pahala dibulan Ramadhan ini. Aku belum bisa mempererat ikatan dengan Allah, dan itu membuatku merasa sedih. Ya, aku benar- benar merasa rugi kali ini.

Dan tiba-tiba sekarang sudah hampir menginjak minggu keempat saja. Padahal rasanya baru kemarin aku menjalani bulan Ramadhan di hari pertamaku berpuasa. Aku masih ingat dengan apa yang aku tulis di hari pertama bulan Ramadhan itu; tentang aku yang membaca buku the alexandria link dari steve berry.

Lalu tentang target membaca al quran setiap harinya, dengan sangat berat hati harus aku pending dulu. Kenapa? Karena aku berhalangan. Padahal aku sedang semangat-semangatnya saat itu. Ini seperti semacam ujian buatku.

Apakah hari-hari selanjutnya, masih bisa kumanfaatkan sebaik mungkin? []

 

Aku Sendirian, Tapi Aku Merasa Sangat Bebas!! | Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati

Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati
Juni – Juli 2014

MINGGU KETIGA

Tanggal 15 Juli 2014, Selasa

Ohya, sepertinya aku belum menuliskan hal ini, tapi mulai minggu ini, adikku mulai pergi ke sekolah lagi. Dia hanya bersekolah selama seminggu di bulan Ramadhan. Sekarang dia sudah menjadi siswa SMA kelas XI. Keren! Tidak terasa dia sudah kelas sebelas lagi. Padahal baru kemarin dia menjadi siswa SMA kelas sepuluh yang baru masuk. Setahun itu berjalan dengan cepat ya..

Pernah aku juga mengalami momen seperti ini, dimana waktu (terasa) berjalan dengan cepat. Tapi, rasanya aku sering sekali mengatakan tentang waktu yang cepat berlalu, iya tidak?

Waktu itu masih bulan Januari 2014, baru saja semua orang merayakan tahun baru. Lalu, kemudian masuk ke bulan februari, maret, april, mei, juni, dan juli. Dan sekarang bahkan hendak memasuki bulan Agustus!! Rasanya masih kemarin-kemarin, aku mengingat perayaan tahun baru di televisi, dan sekarang sudah akan bulan Agustus saja.

Waktu benar-benar misterius ya… Kalau disuruh untuk mendeskripsikan apa itu waktu kepada masing-masing orang, aku yakin jawaban mereka pasti berbeda-beda. Dan jika aku harus mendeskripsikan waktu, rasanya aku tidak sanggup. Hmmm… Sepertinya bukan ke-tidak sanggupnya sih, rasanya terlalu sulit saja untuk diungkapkan oleh kata-kata.

Ohya, rasanya sendirian dirumah itu… Rasanya sangat sepi sekali. Aku sendirian dirumah; Ayah dan Ibu pergi bekerja, sedangkan adikku sekolah. Aku sendirian dirumah. Belum lagi, aku sedikit parno terhadap beberapa hal, dan banyak hal yang aku khawatirkan saat aku sedang sendirian dirumah. Aku terlalu banyak mengkhawatirkan segala sesuatu. Rasanya menyebalkan, tapi tanpa perasaan itu, sepertinya aku seperti kehilangan sesuatu yang penting.

Namun, ada satu hal yang menyenangkan ketika dirumah sendirian. Yaitu, aku bebas melakukan apapun! Yeah! Tidak akan ada yang merasa terganggu dengan apa yang aku lakukan. Hahaha. Bahkan, jika aku tertawa keras sekalipun, adikku tidak akan mengomel lagi. Hehe. Ohya, apalagi aku sedang ‘halangan’ saat itu, sehingga aku bisa makan sepuas hatiku. Hehehehehe. Dan jadilah hari itu sebagai hari khusus untukku! Rasanya menyenangkan.

Satu hal yang bisa aku lakukan adalah, aku bisa meminjam komputernya adikku. Well, sebenarnya itu adalah komputer bersama, untuk dipakai bersama. Hanya saja, komputer itu disimpan di kamarnya adikku, sehingga penggunaannya dimonopoli oleh adikku sendiri, seakan-akan komputer itu miliknya saja. Oh, aku sudah menyebutkan monopoli kan? Ya. Sangat menyebalkan sekali bahwa adikku memonopoli komputer itu, ketika aku membutuhkan komputer itu, dia dengan judesnya berkata ‘nanti saja’. Apa-apaan itu coba? Sangat menyebalkan sekali. Intinya, aku tidak bisa menggunakan komputer itu dengan bebas, apalagi saat adikku sedang bermain dengan komputer itu. Aku harus menunggu ketika adikku sudah tidur kalau mau meminjam komputer itu. Sedih ya? Iya.

Dan, sudah kubilangkan, jika sendirian dirumah, aku bebas melakukan apapun? Salah satunya adalah meminjam komputer adikku; setidaknya sampai dia pulang kerumah dari sekolah. Tapi dia pulang pada sore hari, sekitar pukul 4 atau 5-an. Jadi aku lumayan punya waktu yang cukup banyak, kan? Hahahaha.

Saat itu, dengan komputer adikku, aku hanya ingin melihat koleksi anime yang adikku miliki. Beberapa anime itu sudah ada di dalam hdd-ex yang aku miliki, hanya saja aku ingin mengecek, siapa tahu adikku sudah mendownload anime baru. Jika anime itu bagus, aku bisa menontonnya juga. Dan koleksi animenya lumayan banyak juga. Lalu, dia juga mengikuti beberapa anime summer yang aku ikuti juga. Salah satunya adalah Gekkan Shoujo Nozaki-Kun, Sword Art Online II, Aldnoah Zero, Akame ga Kill, dan masih ada yang lainnya juga.

Kemudian, pencarian itu berakhir pada aku yang menonton ulang beberapa anime. Anime itu adalah Noragami dan Shingeki no Kyojin. Dua anime itu adalah anime favorit yang aku tonton pada masa tayangnya. Anime musim apa ya? Aku lupa lagi. Saat itu terbesit perasaan kangen ingin menonton lagi anime itu, walaupun hanya sepintas saja.

Selain itu, sepertinya didasari juga pada motif pribadiku, hahaha. Sebenarnya aku sangat penasaran dengan karakter suara yuki kaji. Dia adalah seiyuu dari karakter Yukine (Noragami) dan Eren Jaeger (Shingeki no Kyojin), maka dari itu pada akhirnya aku re-watch lagi kedua anime itu, noragami dan shingeki no kyojin.

dan aku pikir, yuki kaji punya suara yang khas. Suaranya mudah di kenali, dan… aah! membuatku (sedikit) meleleh mendengar suaranya. hehehe []

 

Ternyata Aku Bisa Tertawa Seperti Itu Juga Ya… | Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati

Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati
Juni – Juli 2014

MINGGU KETIGA

Tanggal 14 Juli 2014, Senin

Apa yang harus aku tulis untuk hari itu? Mungkin hari itu adalah hari yang paling buruk dari semua hari yang aku jalani selama bulan Ramadhan ini. Aku tidak percaya diri untuk menuliskan semua yang aku lakukan saat hari itu.

Sebenarnya, mungkin bisa dikatakan bahwa yang aku lakukan hari itu tidak sepenuhnya buruk. Aku mengalami hal yang menyenangkan, juga aku mengalami sesuatu yang saat itu aku pikir menyenangkan, tapi nyatanya itu adalah sesuatu yang buruk dan tidak menyenangkan.

Seperti biasa, sesuatu yang menyenangkan bagiku adalah menonton anime. Hari itu aku menonton Haikyuu episode 14 dan barakamon episode 2. Dan seperti biasanya lagi, aku tertawa ngakak. Bahkan adikku sampai terganggu dengan suara tawaku yag terbahak-bahak. Aku benar-benar tidak bisa menahan tawaku sendiri ketika menonton anime dua itu, haikyuu dan barakamon. Hebat sekali dua anime itu, bisa berhasil membuatku tertawa.

Dan, kupikir-pikir lagi, aku adalah orang yang tidak mudah tertawa. Kenyataannya memang begitu. Aku adalah orang yang serius, sulit diajak bercanda. Kadang kalau aku bertemu dengan orang yang sedang mengajak bercanda kepadaku, aku sulit harus menanggapi seperti apa candaannya kalau memang candaannya tidak lucu. Ah seperti itulah. Tapi, ketika memang ada sesuatu yang lucu, aku tidak segan-segan untuk tertawa, tertawa sebanyak-banyaknya. Sayangnya, itu adalah kejadian yang sebenarnya mungkin langka dalam hidupku.

Apakah hidupku sebegitu suramnya sehingga sulit sekali mencari sesuatu yang bisa membuatku tertawa? Hahahaha. Dan syukurlah, itu tidak terjadi. Menurutku hidupku tidak terlalu suram, karena aku masih menemukan hal-hal di sekitarku yang bisa membuatku tertawa. Salah satunya adalah keluargaku sendiri. Bisa dibilang, setiap anggota keluargaku selalu bisa membuatku tertawa, mulai dari Ayah, lalu Ibu, dan adikku sendiri. Aku bersyukur masih memiliki mereka semua sampai saat ini.

Dan selain keluargaku, aku juga mengenal anime. Hehehe. Beberapa anime itulah yang sanggup membuatku tertawa terbahak-bahak. Dan beberapa anime juga membuatku menangis tersedu-sedan. Menakjubkan sekali, hanya karena suatu anime, bisa membuatku tertawa, dan sedih. Dan kupikir, aku beruntung karena sudah mengenal anime, hidupku diisi lagi oleh tawa. Syukurlah, aku berterima kasih kepada siapapun (yang aku lupa lagi) yang telah mengenalkanku kepada anime.

Dan seperti itulah hari itu berjalan.

Lalu, seperti yang aku tulis tadi, bahwa aku menjalani sesuatu yang kupikir itu menyenangkan, namun ternyata itu buruk dan tidak menyenangkan. Bisa dibilang itu merugikanku, dan aku bodoh karena aku menjalaninya dengan senang hati, dan semangat.

Dan sekarang aku menyesal karena aku begitu bodoh untuk menghabiskan waktu Ramadhan yang berharga dengan melakukan hal itu. Aku benar-benar menyesal. Tapi, apa yang bisa aku lakukan? Semua itu sudah berlalu. Tidak bisa diulang. Menyesalpun tidak akan mengubah apapun.

Tapi tetap saja aku merasa menyesal. []

Beberapa Kerlap-Kerlip Yang Ada Di Dunia Fana Ini | Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati

Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati
Juni – Juli 2014

MINGGU KEDUA

Tanggal 13 Juli 2014, Minggu

Jatos adalah sebuah pusat perbelanjaan yang terletak di Jatinangor. Mungkin, karena letaknya yang strategis, banyak orang yang datang ke tempat ini untuk sekedar berlibur, bermain, dan menghabiskan waktu. Tempatnya lumayan modern, dan cukup luas. Di Jatos sendiri ada cukup banyak toko handphone, dan barang elektronik, tempat makan yang modern (seperti KFC, Pizza Hut, Richeese, Steak, dan sebagainya), bioskop, toko buku, super market, dan tentunya banyak toko pakaian, tas, dan sepatu. Sepertinya apa yang aku cari, bisa ditemukan di Jatos. Cukup lengkap.

Karena letaknya yang (bisa dibilang) cukup dekat dari rumahku, hanya menghabiskan waktu sekitar setengah jam (kalau tidak macet) dengan sekali menggunakan angkot. Jatos menjadi salah satu tempat favorit yang rutin aku kunjungi, kalau tidak sendirian, pastinya bersama dengan ibuku, dan ayahku, serta adikku.

Hampir setiap minggu aku pergi kesana. Terkadang tujuan utamaku adalah untuk pergi ke toko buku, mengecek adakah buku baru disana yang sudah dipajang. Kalau tidak ada, berarti aku pulang, dan terlebih dahulu membeli camilan untuk aku bawa pulang kerumah. Kalau tidak seminggu sekali, mungkin sekitar dua minggu sekali, tapi bisa aku pastikan bahwa setiap bulan, aku pasti akan berkunjung ke Jatos itu.

Seperti hari ini, aku, ibuku, dan ayahku (adikku tidak ikut, dia lebih memilih diam dirumah, didepan komputer untuk bermain dota, atau menggambar salah satu karakter dalam salah satu anime) pergi ke Jatos. sepertinya ini dalam rangka mencari baju lebaran.

Hanya sekedar informasi sepintas saja, padahal ini masih minggu kedua, tapi Jatos sudah lumayan sesak oleh orang-orang yang mulai membeli baju, dan sepatu. Sekali lagi, padahal ini masih minggu kedua dari bulan Ramadhan. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana sesaknya Jatos di minggu-minggu terakhir bulan Ramadhan. Fufufufu. Saat itu, aku akan lebih memilih berdiam diri dirumah daripada harus berdesak-desakan.

Dan aku mendapatkan baju lebaranku. Manis sekali modelnya. Aku sedikit kesulitan untuk mendeskripsikan model bajuku itu. Tapi aku akan berusaha! Oke, warnanya hijau tua (aku sedang suka-sukanya pada warna hijau) dengan model baju gamis yang panjang, hanya saja yang ini tidak berlengan. Rencananya, aku akan menggunakan kaos panjang berwarna senada lagi sebagai dalamannya. Terdapat kerah di bagian lehernya, dan beberapa buah kancing sampai di bagian dada. Disamping kirinya ada saku. Dan bagian bawahnya polos. Sederhana sekali kan? Tapi aku suka dengan modelnya yang justru sederhana itu. sepertinya aku sedang suka dengan model baju gamis. Entah kenapa.

Soal baju lebaran… Muncul sebuah pertanyaan saat aku hendak berangkat ke Jatos. Kenapa baju lebaran menjadi sebuah keharusan saat bulan Ramadhan? Kenapa lebaran selalu identik dengan baju baru? Disaat aku pikir, mungkin diluar sana masih banyak orang yang bahkan tidak punya baju sama sekali. Hanya punya beberapa potong baju. Sedangkan aku dan yang lain, punya banyak baju untuk dipakai, tapi masih merasa tidak ada baju yang cocok untuk dipakai saat lebaran sehingga harus membeli yang baru? Ketika aku memikirkan hal itu, rasanya sangat miris sekali. Apa aku dan yang lain kurang bersyukur, atau bahkan lupa untuk bersyukur?

Sebenarnya beberapa tahun yang lalu, aku sudah memikirkan hal ini. Bahkan aku sudah menyampaikan kepada ibuku, kalau aku tidak perlu baju baru untuk lebaran. Baju lebaran tahun lalu saja masih bagus, dan masih sangat layak dipakai untuk lebaran tahun ini. Yang penting, saat lebaran tampil bersih, dan rapih. Hanya itu. Tapi ibuku berkata, “Teh, meaw (panggilan untuk ibuku dari aku dan adikku) dan bapak lagi punya rezeki. Ngga apa atuh beli baju yang bagus, cuma setahun sekali aja kan?”

Aku pikir… Ah, keluargaku memang sangat beruntung. Kami selalu berkecukupan, tidak pernah kekurangan. Pada saat-saat tertentu, (seperti bulan Ramadhan ini) rezeki selalu ada untuk keluargaku. Bahkan ibuku bisa mentraktir nenekku beberapa potong baju dan tas. Aku mendapatkan baju baru untuk lebaran, adikku mendapatkannya juga, ayahku mendapatkan baju koko, dan ibuku bisa membeli sebuah rok panjang dari bahan jeans yang cantik. Aku sangat terharu akan semua ini. Terima kasih ya Allah… Tapi jangan biarkan kami semua lupa akan diri-Mu, dan karunia-Mu ini. Ingatkan kami untuk senantiasa bersyukur kepada-Mu ya Allah…

Aku berharap bahwa semua orang didunia ini, yang berkecukupan, yang tidak, yang lebih lebih lebih berkecukupan juga, bisa merasakan kebahagiaan yang sama. Kebahagiaan dalam bentuk lain. Karena bahagia itu bukan datang dari baju baru saja, bukan? Kuharap mereka semua mendapatkan ‘kebahagiaan’ itu. Aaamiin.

Dan untuk saudara-saudaraku di Palestina. Aku tahu, rasanya aku tidak layak mendapatkan kebahagiaan ini. Sementara aku sedang menulis jurnal ini, dan merasa bahagia karena aku masih punya rezeki untuk membeli baju baru, mereka semua sedang berjuang dalam gempuran bom-bom, dan tembakan dari tentara Israel. Aku merasa tidak layak untuk bahagia saat ini. Ada sesuatu yang sulit untuk diungkapkan dalam kata-kata; aku ingin merasa bahagia karena memang ada banyak hal yang membuatku bahagia hari ini, tapi aku juga tidak lupa untuk berdoa akan keselamatan saudara-saudaraku di palestina. Aku berdoa kepada Allah untuk melindungi mereka semua, dalam lindungan-Nya, keselamatan-Nya, Rahmat-Nya. Allah selalu bersama mereka semua yang meyakini keberadaan-Nya. Aku akan selalu berdoa untuk mereka semua… (Duh, sepertinya aku hendak menangis)

Ya Tuhan, semoga kami semua tidak terlena oleh kerlap kerlip dunia yang fana ini. Dunia tempat kami singgah untuk sementara. Ingatkan kami bahwa Dunia yang kekal sebenarnya tengah menanti kami, antara Surga dan Neraka. Ingatkan kami akan diri-Mu ya Allah… Ingatkan kami agar senantiasa bersyukur, dan berdzikir kepadaMu ya Allah… Aamiin ya Allah ya Rabbal alamin…

n.b : selalu ada rezeki untuk membeli buku baru. Terima kasih ya Allah, hari ini dua buah buku baru datang ke perpustakaan milikku. Sebenarnya, kalau bisa dibilang, uang itu dari Ayahku. Hehe. Terima kasih karena sudah mengizinkan aku mendapatkan buku baru hari ini ya Allah… []

***

END OF SECOND WEEK