Kosong

temanku, dia tidak mau membicarakan masa-masa SMA. bagiku, itu justru masa-masa di mana aku paling banyak bersenang-senang dan melepaskan banyak lapisan diri; kegilaan yang hanya bisa dirasakan saat itu saja. saat kutanya apa alasannya kenapa ia tidak mau membicarakannya, dia cuma berkata, “tidak ada yang bisa dibanggakan di sana.” aku tidak mengerti. ucapannya bertentangan dengan piagam-piagam juara olimpiade geografi dan surat-surat yang dipigura tentang dirinya yang dinyatakan menerima beasiswa berturut-turut selama dua tahun penuh. ucapannya bertentangan dengan kebanggaan terbesar kedua orangtuanya akan dirinya; dia hanya melewati masa-masa SMA dua tahun saja. dan, dia mengatakan, “tidak ada yang bisa dibanggakan di sana”? temanku, mungkin ia menyadari kalau sedari tadi aku tidak berbicara apa-apa, ia tersenyum kecil padaku dan menambahkan, “itu benar. tidak ada yang bisa dibanggakan di sana bagiku. tempat itu, walaupun aku merasakan banyak hal, di saat yang sama aku juga tidak merasakan apa-apa yang berarti. itu masa-masa saat aku tidak tahu apapun. tetapi, sebagai gantinya aku mendapatkan banyak hal, dan aku juga mengorbankan banyak hal.” saat temanku mengatakan hal itu, entah kenapa aku ingin memeluknya. dia terlihat sangat sedih saat mengatakan semua itu. “apa kamu menyesal?” tanyaku. “menyesal?” dia sejenak seperti mempertimbangkan apa makna kata itu bagi dirinya. “menyesal? itu perasaan yang sia-sia.” dia menambahkan lagi dengan senyuman yang sama, senyuman sendu, “aku tidak menyesali apapun yang telah terjadi pada hidupku sampai detik ini.” dia terlihat seperti akan hancur kapan saja saat mengatakan hal itu; mengatakannya agar terlihat sangat meyakinkan, padahal matanya berkaca-kaca mengatakan sesuatu yang lain. pada suatu masa di mana aku tidak ada di dalamnya, sesuatu telah terjadi pada hidup temanku. ingatanku tiba-tiba saja memainkan ucapannya perlahan-lahan, “… aku mendapatkan banyak hal, tapi aku juga mengorbankan banyak hal.” temanku… apa yang sebenarnya telah kamu korbankan? []

 


 

Ini adalah caption dari salah satu foto yang aku pos ke akun instagram milikku (@uruuchan), begitu saja aku ingin menuliskan hal ini di Instagram. Kupikir, tidak ada salahnya aku posting ke blog karena aku suka sekali caraku menceritakan tentang kesedihan “temannya aku”. Dengan begini, jadilah cerita ini merupakan postingan pertama di tahun 2018 di blog “Light & Life” Semoga cerita ini berkenan di hati kalian. Selamat tahun baru 2018 (yang sangat terlambat) hehe. :)

Advertisements

Pada Dirinya, Aku Kembali

Aku tidak sabar bertemu dengannya; dengan dia yang sudah lama aku sembunyikan.
Setengah mati aku menyembunyikannya dari dunia; aku tidak ingin mengakui keberadaannya.
Kerap kali aku berbohong jika itu menyangkut tentang dirinya.
Aku berpura-pura dirinya tidak ada.
Aku sama sekali tidak pernah melihat dirinya.
Aku tidak tahu apapun soal dirinya.
Puncaknya adalah saat aku mengurung dirinya; jauh dari diriku.
Setelah itu, aku melanjutkan hidup.
Aku yakin aku bisa hidup tanpa dirinya.
Aku tidak tahu bahwa… Continue reading “Pada Dirinya, Aku Kembali”

Sentuhan yang Tidak Boleh Dilakukan

Saat ia bercerita padaku apa yang sudah dilakukan olehnya pada sahabatku, aku sudah tahu bahwa dia telah melakukan sebuah kesalahan yang fatal. Dia sudah mengambil langkah yang salah. Niat yang awalnya baik, malah berakhir sia-sia hanya karena dia melakukan hal itu pada sahabatku. Dia memang tidak sabaran orangnya, dan dia belum mengenal dengan baik seperti apa sahabatku. Fakta bahwa ia melakukan itu, tanpa mempertimbangkan perasaan sahabatku mungkin membuktikan bahwa ia orang yang egois. Atau mungkin saja tidak.

Benar-benar sebuah kesalahan yang fatal.

Dia tidak tahu bahwa sahabatku itu… bagaimana ya menjelaskannya? Rumit. Continue reading “Sentuhan yang Tidak Boleh Dilakukan”

Pintu Mereka

Ada banyak pintu di belakang punggungku; ratusan jumlahnya. Pintu baru kerap muncul seiring berlalunya waktu yang aku jalani. Aku selalu bisa masuk ke pintu yang mana saja; pintu terdahulu atau pun pintu yang terbaru, keduanya tidak ada masalah sama sekali. Pintu-pintu itu selalu ada di belakangku.

Belasan tahun sudah berlalu begitu saja. Pada suatu hari, aku menemukan bahwa pintu-pintu itu tidak bisa aku buka lagi. Pintu itu seperti terkunci. Aku panik! ternyata jumlah pintu yang tertutup lebih banyak daripada bayanganku sebelumnya. Aku ketakutan! Siapa yang mengunci pintu-pintu ini?

Siapa?! Continue reading “Pintu Mereka”

Surat Untuk Seseorang [#10DaysKF – Day 9]

Teruntuk : Laki-laki yang namanya (masih) kusimpan dalam hati

Sejak dulu, aku selalu belajar untuk tidak pernah berharap terlalu banyak terhadap segala sesuatu. Hasilnya, aku menjadi pribadi yang pasif. Aku selalu menunggu dan melihat dari kejauhan. Aku hanya berdiam diri di tempat, dan menjaga jarak yang cukup aman dari segala sesuatu… salah satunya kamu. Kamu adalah yang aku inginkan, tapi aku berusaha tidak berharap terlalu banyak untuk memiliki kamu. Melihatmu dari jarak ini, merupakan suatu kebahagiaan tersendiri untukku. Memilikimu adalah suatu harapan kecil yang masih menyala jauh di dalam hatiku, namun aku tidak pernah berharap terlalu banyak. Tidak pernah berharap terlalu banyak.

Lalu, tanpa kusangka-sangka… kamu datang padaku. Continue reading “Surat Untuk Seseorang [#10DaysKF – Day 9]”

Surat Tidak Bahagia [#10DaysKF – Day 7]

Dear Aruna,

Semoga saat kamu membaca surat ini, kamu dalam keadaan hangat… bahagia… dicintai… berkecukupan… tidak sakit… dikelilingi orang-orang yang menyayangi kamu… bernapas… bahagia. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, kau tahu?

Apakah… apakah saat ini kamu bahagia?

Kamu tahu? Sampai saat ini aku masih mengingat hari di mana akhirnya kamu mau mempercayai aku sepenuhnya; hari di mana kamu membuka dirimu sepenuhnya untukku. Dan kalimat pertama yang muncul dari bibirmu adalah, “Sepertinya aku tidak bahagia.” Continue reading “Surat Tidak Bahagia [#10DaysKF – Day 7]”

Pada Suatu Sore [#10DaysKF – Day 4]

Pertemuan pertamaku dengan laki-laki itu… sampai mati pun aku tidak ingin mengingatnya sama sekali. Aku ingin melupakannya, tapi gambaran wajah laki-laki itu terus membayang di dalam pikiranku. Aku membencinya. Aku ingin melupakannya. Aku ingin melupakannya. Aku harap kami tidak pernah bertemu sama sekali selamanya.

Waktu itu sore hari, dan aku tengah berjalan menuju ke rumahku. Continue reading “Pada Suatu Sore [#10DaysKF – Day 4]”

Fangirl’s Roller Coaster [#10DaysKF – Day 2]

Laptop, check. Batere laptop penuh, check. Koneksi WiFi bagus, check. Air minum, check. Lightstick, check. Link streaming, check.

Saatnya beraksi! Yuhuuu~ Continue reading “Fangirl’s Roller Coaster [#10DaysKF – Day 2]”