Pada Dirinya, Aku Kembali

Aku tidak sabar bertemu dengannya; dengan dia yang sudah lama aku sembunyikan.
Setengah mati aku menyembunyikannya dari dunia; aku tidak ingin mengakui keberadaannya.
Kerap kali aku berbohong jika itu menyangkut tentang dirinya.
Aku berpura-pura dirinya tidak ada.
Aku sama sekali tidak pernah melihat dirinya.
Aku tidak tahu apapun soal dirinya.
Puncaknya adalah saat aku mengurung dirinya; jauh dari diriku.
Setelah itu, aku melanjutkan hidup.
Aku yakin aku bisa hidup tanpa dirinya.
Aku tidak tahu bahwa… Continue reading “Pada Dirinya, Aku Kembali”

Sentuhan yang Tidak Boleh Dilakukan

Saat ia bercerita padaku apa yang sudah dilakukan olehnya pada sahabatku, aku sudah tahu bahwa dia telah melakukan sebuah kesalahan yang fatal. Dia sudah mengambil langkah yang salah. Niat yang awalnya baik, malah berakhir sia-sia hanya karena dia melakukan hal itu pada sahabatku. Dia memang tidak sabaran orangnya, dan dia belum mengenal dengan baik seperti apa sahabatku. Fakta bahwa ia melakukan itu, tanpa mempertimbangkan perasaan sahabatku mungkin membuktikan bahwa ia orang yang egois. Atau mungkin saja tidak.

Benar-benar sebuah kesalahan yang fatal.

Dia tidak tahu bahwa sahabatku itu… bagaimana ya menjelaskannya? Rumit. Continue reading “Sentuhan yang Tidak Boleh Dilakukan”

Pintu Mereka

Ada banyak pintu di belakang punggungku; ratusan jumlahnya. Pintu baru kerap muncul seiring berlalunya waktu yang aku jalani. Aku selalu bisa masuk ke pintu yang mana saja; pintu terdahulu atau pun pintu yang terbaru, keduanya tidak ada masalah sama sekali. Pintu-pintu itu selalu ada di belakangku.

Belasan tahun sudah berlalu begitu saja. Pada suatu hari, aku menemukan bahwa pintu-pintu itu tidak bisa aku buka lagi. Pintu itu seperti terkunci. Aku panik! ternyata jumlah pintu yang tertutup lebih banyak daripada bayanganku sebelumnya. Aku ketakutan! Siapa yang mengunci pintu-pintu ini?

Siapa?! Continue reading “Pintu Mereka”

Surat Untuk Seseorang [#10DaysKF – Day 9]

Teruntuk : Laki-laki yang namanya (masih) kusimpan dalam hati

Sejak dulu, aku selalu belajar untuk tidak pernah berharap terlalu banyak terhadap segala sesuatu. Hasilnya, aku menjadi pribadi yang pasif. Aku selalu menunggu dan melihat dari kejauhan. Aku hanya berdiam diri di tempat, dan menjaga jarak yang cukup aman dari segala sesuatu… salah satunya kamu. Kamu adalah yang aku inginkan, tapi aku berusaha tidak berharap terlalu banyak untuk memiliki kamu. Melihatmu dari jarak ini, merupakan suatu kebahagiaan tersendiri untukku. Memilikimu adalah suatu harapan kecil yang masih menyala jauh di dalam hatiku, namun aku tidak pernah berharap terlalu banyak. Tidak pernah berharap terlalu banyak.

Lalu, tanpa kusangka-sangka… kamu datang padaku. Continue reading “Surat Untuk Seseorang [#10DaysKF – Day 9]”

Surat Tidak Bahagia [#10DaysKF – Day 7]

Dear Aruna,

Semoga saat kamu membaca surat ini, kamu dalam keadaan hangat… bahagia… dicintai… berkecukupan… tidak sakit… dikelilingi orang-orang yang menyayangi kamu… bernapas… bahagia. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, kau tahu?

Apakah… apakah saat ini kamu bahagia?

Kamu tahu? Sampai saat ini aku masih mengingat hari di mana akhirnya kamu mau mempercayai aku sepenuhnya; hari di mana kamu membuka dirimu sepenuhnya untukku. Dan kalimat pertama yang muncul dari bibirmu adalah, “Sepertinya aku tidak bahagia.” Continue reading “Surat Tidak Bahagia [#10DaysKF – Day 7]”

Pada Suatu Sore [#10DaysKF – Day 4]

Pertemuan pertamaku dengan laki-laki itu… sampai mati pun aku tidak ingin mengingatnya sama sekali. Aku ingin melupakannya, tapi gambaran wajah laki-laki itu terus membayang di dalam pikiranku. Aku membencinya. Aku ingin melupakannya. Aku ingin melupakannya. Aku harap kami tidak pernah bertemu sama sekali selamanya.

Waktu itu sore hari, dan aku tengah berjalan menuju ke rumahku. Continue reading “Pada Suatu Sore [#10DaysKF – Day 4]”

KEKASIH [#10DaysKF – Day 1]

“Tipe kekasih yang kamu inginkan?”

Kalau ada orang yang menanyakan pertanyaan seperti itu, mau tidak mau aku jadi memikirkannya. Aku tidak pernah memikirkan hal itu secara khusus sebelumnya –ah, mungkin sebenarnya aku pernah memikirkannya, tapi belum pernah menyatakannya secara langsung dalam bentuk apapun, misalnya pembicaraan, tulisan, rekaman video, dan lain-lain.

Salahkan temanku yang menanyakan padaku hal itu beberapa hari yang lalu. Waktu itu, aku tengah makan siang di salah satu restoran fast food yang menyajikan ayam dengan saus keju. Tiba-tiba saja entah dari mana asalnya, temanku menanyakan pertanyaan itu. Ketika kupikirkan lagi, mungkin karena ayam juga nasinya sudah habis, mau tidak mau dia jadi kehilangan kegiatan untuk dilakukan dan malah berpikir kemana-mana. Salah satunya tentang kekasih.

Ya ampun. Bahasanya itu lho –kekasih.

Romantis sekali. Hahaha.

Waktu itu, aku tidak terlalu menganggap serius pertanyaan temanku. Aku malah tertawa dan mengejek temanku karena dia sudah terlalu lama sendiri sehingga memikirkan hal itu secara tiba-tiba. Dan temanku balas mengejekku, “Kayak kamu udah ‘punya’ aja.” Oke. Itu senjata makan tuan.

(Hening)

Aku juga ingat bahwa aku mengatakan pada temanku, di usia-usia seperti ini memang wajar untuk memikirkan siapa yang ingin kita harapkan untuk mendampingi kita; kriteria seperti apa yang kita inginkan, watak seperti apa, kebiasaan seperti apa, dan lain-lain. Dan, aku tahu apa yang dimaksud temanku dalam pertanyaannya –aku memahami dia dengan baik. Yang dia maksud “kekasih” di sini adalah seorang “suami”. Dia bukan tipe orang yang menjalin hubungan dengan status “pacaran”. Dia tidak melakukannya. Seseorang yang berniat serius lebih baik langsung datang ke rumahnya, semacam itulah. Jadi ketika dia melontarkan pertanyaan itu, aku langsung tahu bahwa yang dia maksudkan adalah, “Kamu ingin suami yang seperti apa?” Continue reading “KEKASIH [#10DaysKF – Day 1]”