PROLOGUE

Jangan coba-coba menonton short film ini saat kamu sedang hidup jauh dari Ayah dan Ibu kamu, dan saat sedang rindu-rindunya kamu pada mereka. Jangan! Aku sudah mewanti-wanti kan kepada kamu ya… Jangan salah kan aku, kalau kamu akan terbawa perasaan saat menonton short movie yang durasinya hanya enam menit ini.

Alasan Nonton Film Ini

Karena Makoto Shinkai?

Makoto Shinkai cukup terkenal di antara para pecinta anime. Aku mengenal Makoto Shinkai melalui salah satu film-nya yang berjudul “5 cm per Second” (Byousoku 5 Centimeter). Itu salah satu film dengan grafis yang sangat menakjubkan yang pernah aku tonton!

Warna-warna yang dipakai oleh Makoto Shinkai dalam “5 cm per Second” sungguh cantik! Dan cerita yang Makoto Shinkai buat pun tak kalah apik, juga pedih :’) 5 cm per Second memang cerita yang dikemas dengan bittersweet, tentang bagaimana jarak bisa membuat hubungan dua orang semakin renggang dan hingga akhirnya menjadi seseorang yang asing. Detail film 5 cm per Second bisa dilihat di sini.

Aku semakin menyukai karya Makoto Shinkai setelah menonton karyanya yang lain yang berjudul Kotonoha no Niwa (The Garden of Words). Itu… Itu menurutku lebih keren dibandingkan 5 cm per Second. Grafisnya lebih menawan hati. Bikin betah menontonnya.

Lalu… Kemudian aku menemukan short film ini secara tidak sengaja. Dari warna-warna yang digunakan pada official posternya, entah kenapa aku tahu bahwa short movie ini dibuat oleh Makoto Shinkai. Langsung aja aku tonton film ini! :D

/nampaknya nama Makoto Shinkai sangat berpengaruh sekali untukku hehehe/

REVIEW

[WARNING : SPOILER]

Sebelumnya sudah aku bilang kan, kalau short film ini durasinya hanya enam menit saja! Kalian mungkin bertanya-tanya, apa yang bisa diceritakan dan dirasakan kalau suatu film durasinya sependek itu? Hmm… Jangan salah sangka!

Walaupun short film ini durasinya kurang lebih hanya enam menit saja, tapi ceritanya dikemas dengan apik dan pas. Apa yang ingin disampaikan melalui short film ini tersampaikan dengan baik kepada penontonnya. Dan, jangan kaget juga lho, dalam waktu enam menit itu, kita juga akan disuguhi grafis yang memanjakan mata khas Makoto Shinkai ^^

Ceritanya sendiri sungguh sangat sederhana. Ini tentang seorang gadis yang sudah hidup jauh dari kedua orang tuanya, terutama dari Ayahnya. Hidup jauh dari Ayahnya membuat jarak antara si gadis dengan Ayahnya menjadi cukup renggang. Apa ya sebutannya? Jadi ga-enakan gitu. Pas si Ayah minta ingin bertemu dengan si gadis, si gadis itu bilang kalau dia masih banyak kerjaan. Padahal, saat Ayah menelepon gadis itu untuk minta bertemu, si gadis ada di kamarnya sendiri.

Apa yang membuat si gadis pulang menemui Ayahnya kembali adalah ketika si gadis mendapatkan kabar bahwa kucing piaraannya sejak kecil meninggal dunia. Si gadis akhirnya pulang dan bertemu dengan Ayahnya dan di sana ia mengingat kembali beberapa kenangan-kenangan masa kecilnya bersama Sang Ayah.

nuii4u-darekanomanazashi
kenangan bersama ayah :”)

Sederhana, sih. Tapi tetap bisa dinikmati dan membuat air mata ini jatuh menuruni pipi. Ini ketiga kalinya aku menonton Dareka no Manazashi, dan itu artinya ketiga kalinya aku menangis menontonnya. Perasaan yang disampaikan melalui short film ini sungguh indah dan bermakna. Perasaan itu, menurutku, berhasil disampaikan dengan baik kepada penonton. Hebat sekali! Dalam waktu enam menit, perasaanku dibawa dan terhanyut ke dalam cerita si gadis dengan ayahnya.

Daaaan~ Aku suka sekali dengan ending theme-nya Dareka no Manazashi ini! Judul lagunya adalah “Sore de Ii yo” yang dinyanyikan oleh Kazusa. Alunan piano dalam lagu ini berhasil membuatku semakin terhanyut ke dalam ceritanya. Pertama kali dengar lagu ini, aku langsung menyukainya! Aku sudah menyertakan link youtube untuk lagu itu di akhir postingan ini.

(Ya Tuhan… padahal aku sudah sudah selesai menulis review ini sejak satu tahun yang lalu, dan menontonnya lagi saat ini membuatku menangis (lagi))

Yang Aku Dapatkan

Aku belum pernah hidup jauh dalam kurun waktu yang sangat lama dari kedua orang tuaku. Waktu itu, aku berpisah dari kedua orang tua ku hanya sebulan saja, itu pun pada saat masa KKN (Kuliah Kerja Nyata) dari kampus. Aku pergi selama satu bulan ke Majalengka, dan hidup jauh dari Ayah, Ibu, dan adikku.

Aku tidak tahu perasaan Ayahku. Bagaimanapun juga, aku tidak pernah merasakan rasanya menjadi seorang Ayah –tidak mungkin sama sekali. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Ayahku melihat diriku tumbuh dari gadis kecilnya menjadi seorang mahasiswa. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Ayahku ketika aku tidak mau memberitahukan hal-hal yang membuatku sedih kepadanya. Aku juga tidak tahu bagaimana perasaan Ayahku ketika aku pergi jauh darinya selama satu bulan ke Majalengka. Aku tidak tahu. Ayahku, selalu menyembunyikan apa yang dirasakannya, jadi aku tidak pernah tahu apa yang ia rasakan. Tapi satu yang aku tahu : Ayahku selalu menyayangi aku.

Kadang seorang Ayah (mungkin) memang seperti itu ya… Kadang tidak bisa jujur dengan apa yang dirasakannya. Tapi, justru itulah yang membuat aku sayang kepada Ayahku. Hal-hal kecil yang ia lakukan agar membuat aku bahagia, agar aku tidak khawatir, agar aku tidak merasa sedih, agar membuat aku tersenyum. Sang Ayah dalam short film ini juga seperti itu…

Bagian yang membuatku sangat tersentuh (dan sangat sedih) adalah saat si gadis menolak keinginan Ayahnya yang ingin bertemu dengannya setelah sudah sekian lama tidak bertemu. Di situ aku berpikir, ada berapa banyak para Ayah di dunia ini yang mengalami hal seperti itu? Jujur saja, aku menangis saat melihat adegan itu. Ayah si gadis pasti akan pulang ke apartemennya disambut oleh si kucing yang menemaninya di sana, kemudian memakan makanan itu sendirian. Rasanya pasti sepi…

Aku harap… Aku harap kita akan lebih memperhatikan kedua orang tua kita kelak sesudah lepas dari mereka. Di mana pun kita berada nantinya, jangan lupakan keberadaan Ayah dan Ibu :”) Sesekali jenguk-lah keadaan mereka, hibur mereka, dan buat mereka bahagia :”) Bagi para Ayah dan Ibu, kebahagiaan itu selalu sederhana, misalnya bisa makan bersama di atas meja makan :”))

EPILOGUE

Sebetulnya aku masih tidak percaya, bagaimana short film berdurasi kurang lebih enam menit ini bisa membawa begitu banyak perasaan ke dalam diriku… Aku jadi semakin menghargai para pembuat film dan orang-orang yang ada dibaliknya.

Ketika aku selesai menonton Dareka no Manazashi, aku ingin adikku menontonnya juga :”)) Aku ingin dia menangkap perasaan yang ingin disampaikan oleh short film ini; tentang keluarga dan kasih sayang ☺

Cobalah sempatkan enam menit waktu kalian untuk menonton Dareka no Manazashi. Kusarankan kalian menontonnya saat sedang tidak rindu-rindunya pada Ayah dan Ibu kalian.

Semoga harimu selalu menyenangkan! <3

 

p.s : aku menemukan video ini di youtube! selamat menonton :)

dan di bawah ini adalah ending theme-nya, sore de ii yo yang dinyanyikan oleh Kazusa

Kitto koboreta namida fuite kureru hito ga iru yo
donna ni tsurai toki mo mite te kureru hito ga iru yo
kokoro ga naze aru no ka hitori ja wakaranai
sore wa kizuiteru
there is someone who surely will wipe your tears
there is someone who will be looking after you in your hard times
‘why does heart exist?’ 
i noticed that..
it can’t be understand when you are alone
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s