Pada Dirinya, Aku Kembali

Aku tidak sabar bertemu dengannya; dengan dia yang sudah lama aku sembunyikan.
Setengah mati aku menyembunyikannya dari dunia; aku tidak ingin mengakui keberadaannya.
Kerap kali aku berbohong jika itu menyangkut tentang dirinya.
Aku berpura-pura dirinya tidak ada.
Aku sama sekali tidak pernah melihat dirinya.
Aku tidak tahu apapun soal dirinya.
Puncaknya adalah saat aku mengurung dirinya; jauh dari diriku.
Setelah itu, aku melanjutkan hidup.
Aku yakin aku bisa hidup tanpa dirinya.
Aku tidak tahu bahwa…

melanjutkan hidup,
tanpa dirinya,
rasanya sangat pedih.

Yang kurasakan tanpa dirinya,
hanyalah kebahagiaan yang semu.
Kebohongan macam apa yang sudah aku lakukan?
Perlakuan seperti apa yang aku buat untuk diriku sendiri?
Apakah rasanya menyenangkan?
Apakah rasanya menyenangkan hidup seperti itu?
Menyembunyikan dirinya dari dunia,
rasanya sangat menyakitkan.
Ternyata, itu melukai diriku.
Aku terluka,
karena apa yang sudah aku lakukan.

Sudah cukup.
Tunggulah aku…
Aku akan menemuimu kembali,
dan memelukmu,
dan menerima kamu,
dan mencintai kamu.
Karena… tak ada yang bisa mencintai kamu,
sebesar aku mencintai kamu.
Yang dapat mencintai kamu,
hanyalah aku.

Aku menerima aku, apa adanya.
Terima kasih sudah bertahan.

Terima kasih. []

 

Rancaekek, 11 Februari 2017.
Jadi teringat air terjun kejujuran di manga Naruto…

February 2017 Writing Prompt Day 11 : I Can’t Wait, by WritersWrite

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s