Sentuhan yang Tidak Boleh Dilakukan

Saat ia bercerita padaku apa yang sudah dilakukan olehnya pada sahabatku, aku sudah tahu bahwa dia telah melakukan sebuah kesalahan yang fatal. Dia sudah mengambil langkah yang salah. Niat yang awalnya baik, malah berakhir sia-sia hanya karena dia melakukan hal itu pada sahabatku. Dia memang tidak sabaran orangnya, dan dia belum mengenal dengan baik seperti apa sahabatku. Fakta bahwa ia melakukan itu, tanpa mempertimbangkan perasaan sahabatku mungkin membuktikan bahwa ia orang yang egois. Atau mungkin saja tidak.

Benar-benar sebuah kesalahan yang fatal.

Dia tidak tahu bahwa sahabatku itu… bagaimana ya menjelaskannya? Rumit. Dia sangat tertutup, dan sangat berhati-hati dalam berteman. Keadaannya saja sudah cukup rumit, dan ternyata semakin bertambah rumit saat ia jatuh sakit. Sakit yang ia alami itu, membuatnya semakin menutup diri dan memperkecil dunianya. Ia jadi pribadi yang penakut. Butuh waktu yang sangat lama agar sahabatku dapat dikatakan “lumayan sembuh” dari sakitnya. Setelah sembuh dari sakit, ia semakin berhati-hati dalam berteman, dalam menjalin hubungan, dalam mengenal manusia.

Beberapa bulan kemudian, sahabatku itu datang kepadaku. Kedatangannya hari itu ternyata membawa kabar yang membuatnya merasa bahagia sekaligus membuatku sedikit khawatir dan resah. Ia berkata bahwa ia ingin bertemu dengan teman yang sudah lama tidak ia temui; seorang teman laki-laki. Seorang laki-laki yang ingin ditemuinya atas keinginannya sendiri.

Sahabatku adalah orang yang tertutup; adalah suatu keajaiban jika ia ingin bertemu dengan seseorang, apalagi seseorang itu adalah orang yang sudah lama tidak ia temui. Biasanya ia selalu merasa takut jika bertemu dengan orang yang sudah lama tidak ditemui. Tapi… laki-laki? Apakah ia tidak salah? Dia agak… tidak terbiasa dengan laki-laki. Belum lagi ia… ia baru sembuh dari sakitnya. Tapi, sepertinya ini perasaanku saja yang terlalu berlebihan. Aku hanya teramat menyayangi sahabatku, dan aku tidak ingin dia sakit lagi. Ketika aku menanyakan apakah ia yakin ingin bertemu, ia hanya menjawab, “Kenapa tidak? Aku hanya ingin bernostalgia dengan temanku”

Pertemuan pertama berjalan dengan lancar; sahabatku cerita begitu banyak tentang laki-laki itu. Dia menikmati pertemuannya, dan ia sangat tidak sabar untuk pertemuan selanjutnya. Pada pertemuan selanjutnya, laki-laki itu akan mengajaknya bertemu di bioskop untuk menonton sebuah film animasi. Sahabatku menceritakannya dengan penuh antusias dan ceria. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya begitu… bersemangat. Aku hanya merasa bahwa ini adalah langkah yang bagus untuk dirinya; dunianya akan terbuka sekali lagi. Aku turut senang mendengarnya.

Lalu… aku menanyakan siapa nama laki-laki itu…

… ternyata dia adalah teman kami berdua.

Aku… aku… aku hanya tidak tahu bahwa laki-laki yang di maksud adalah dia. Maksudku, hei, dunia ternyata begitu kecil, ya? Aku dan sahabatku adalah teman sekelas waktu SMA, sedangkan laki-laki itu berasal dari kelas yang berbeda dari kami. Aku sempat mengobrol beberapa kali dengannya; cukup untuk mengetahui beberapa sifat dan watak dirinya. Hanya saja… Seingatku, dia tidak begitu dekat dengan sahabatku. Atau tanpa aku ketahui, ternyata mereka berdua “berteman” di belakangku? Ah, itu tidak begitu penting. Aku merasa sedikit lega karena laki-laki yang ditemui sahabatku adalah seseorang yang cukup aku kenal.

Seharusnya… seharusnya aku tidak boleh berpikir seperti itu.

Laki-laki itu… tidak sabaran. Ia terlalu cepat melakukannya pada sahabatku di pertemuan kedua. Apa yang dilakukannya… terlalu berat untuk diterima oleh sahabatku yang… baru saja mencoba lagi untuk mempercayai seseorang; berusaha mengenal seseorang dengan membuka dirinya secara perlahan-lahan. Ia melakukannya di saat sahabatku masih terlalu rapuh untuk menerima… hal yang paling lembut sekalipun. Itu menimbulkan shock yang sangat besar di dalam diri sahabatku. Ah, shock bukan kata yang tepat. Dalam kamus sahabatku, “badai” sepertinya adalah kata yang tepat untuk digunakan.

Laki-laki itu…

Laki-laki itu…

Dia hanya menyentuh pipi sahabatku. Demi Tuhan hanya sebatas itu saja. Namun, bagi sahabatku rasanya seperti sebuah kesalahan fatal. Rasanya seperti sebuah badai berkecamuk di dalam diri sahabatku, dan ia “sangat” ketakutan. Sangat takut, sampai-sampai ia harus lari dari badai itu; lari sejauh mungkin. Lari dan kecewa; badai yang sama sekali tidak diharapkan itu, ternyata terjadi juga.

Di mata sahabatku, laki-laki itu telah menyalahgunakan kepercayaannya; ia percaya bahwa laki-laki itu adalah teman yang bisa dia percayai setelah ia… cukup sembuh dari sakitnya. Demi mengenal laki-laki itu lebih baik lagi, ia bahkan sedikit mengendurkan kewaspadaan dan kehati-hatiannya; ia ingin membuka dirinya sedikit demi sedikit pada seseorang, dan langkah pertama yang dilakukan adalah membuka dirinya pada laki-laki itu. Sahabatku sama sekali tidak menyangka bahwa… laki-laki itu menginginkan sesuatu yang lebih dari pada yang di sangkanya. Laki-laki itu melakukan sesuatu… sesuatu… sesuatu yang menyalahgunakan kepercayaan yang ia berikan pada dirinya. Dan itu adalah sebuah kesalahan fatal, karena sahabatku tidak bisa memaafkannya. Sahabatku… merasa terluka. Ia dikecewakan lagi untuk yang kesekian kalinya.

Di mata laki-laki itu, ia hanya ingin memberi tahu sahabatku melalui “sentuhan” itu bahwa ia memiliki suatu perasaan lebih kepadanya. Ia berharap sahabatku menangkap pesan itu. Ia sama sekali tidak tahu bahwa melakukan hal itu pada sahabatku… yang baru saja mencoba (lagi) untuk mempercayai seseorang, dan mempercayai dirinya sebagai seorang “teman” yang bisa diandalkan… sama saja dengan mendorong sahabatku untuk menjauh darinya.

Laki-laki itu tidak tahu bahwa sahabatku telah mempercayainya sebagai seorang “teman”, dan sentuhan yang dia lakukan kepadanya telah menghancurkan “kepercayaan” yang telah dibuat oleh sahabatku; walaupun sentuhan itu hanya sebatas usapan ringan di pipi. Sentuhan itu menghancurkan kepercayaannya.

Itu adalah sebuah ide yang buruk untuk dilakukan pada sahabatku yang… sangat rumit. []

Rancaekek, 05 Februari 2017
Sentuhan memiliki banyak arti bagi seseorang yang pernah terluka.

February 2017 Writing Prompt Day 2 : bad idea, by WritersWrite

Advertisements

2 thoughts on “Sentuhan yang Tidak Boleh Dilakukan

  1. Kadang sesuatu yang tampak biasa saja sebetulnya bisa jadi sangat penting dan berpengaruh bagi orang lain. Latar belakang yang berbeda, kepercayaan, membuat pandangan terhadap sesuatu pun berbeda. Ikut sedih dengar ceritanya. Semoga sahabatnya segera pulih kembali, Kak. Salut untuk kakak yang selalu menyediakan bahu untuknya. Semoga laki-laki itu mengerti …

    1. Trims sudah mampir dan komen ya *peluk* :’))) Sejujurnya ini kisah nyata yang ditambahin sedikit unsur fiksi (makanya ku masukin ke kategori Fiksi dari Uruuchan) dan… aku suka komen kamu ^^ Ada banyak pandangan dan persepsi di dunia ini; sesuatu yang nampaknya sangat-sangat-sangat biasa, bisa jadi di mata orang lain itu berbeda… semua karena… persepsi dan pengalaman dalam diri seseorang. Dan… yap, harapan kita sama; semoga laki-laki itu mengerti… :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s