Ada banyak pintu di belakang punggungku; ratusan jumlahnya. Pintu baru kerap muncul seiring berlalunya waktu yang aku jalani. Aku selalu bisa masuk ke pintu yang mana saja; pintu terdahulu atau pun pintu yang terbaru, keduanya tidak ada masalah sama sekali. Pintu-pintu itu selalu ada di belakangku.

Belasan tahun sudah berlalu begitu saja. Pada suatu hari, aku menemukan bahwa pintu-pintu itu tidak bisa aku buka lagi. Pintu itu seperti terkunci. Aku panik! ternyata jumlah pintu yang tertutup lebih banyak daripada bayanganku sebelumnya. Aku ketakutan! Siapa yang mengunci pintu-pintu ini?

Siapa?!

Seseorang menepuk pundakku. Aku terbelalak.

Dia adalah aku.

Dia berkata, “Apakah kamu sudah lupa? Kamu lupa? Kamu yang menutup pintu itu di belakangmu dan menguncinya. Kamu mengunci pintu itu dengan tanganmu sendiri. Tidak kah kamu ingat dengan pilihan itu; pilihan yang telah kamu buat?”

“Tidak… mungkin…”

“Apa yang membuatmu mengunci pintu-pintu itu? Apakah kamu ketakutan?”

Tidak… aku tidak takut…

Bohong,” Dia berjalan lebih dekat lagi. “Aku adalah kamu; aku tahu kamu.

Mataku perlahan memanas. Kenapa aku merasa ingin menangis?

“Ingatlah perlahan… lihat tanganmu dan apa yang sudah kamu lakukan dengan kedua tanganmu itu. Lihat hatimu, dan apa yang sudah kamu pilih dengan hati itu untuk dirimu sendiri. Apa yang sudah kamu lakukan… kamu harus mengingatnya.

Seiring dengan air mata yang jatuh perlahan, aku perlahan mengingat kenangan menyakitkan; suatu hal yang tidak ingin aku ingat sampai kapan pun. Hal itu -yang tidak ingin aku ingat- ternyata adalah jawabannya.

“Aku… karena aku takut mereka akan membenciku… atau melukai ku… aku menutup pintu-pintu itu. Sepertinya mereka tidak akan menyukaiku, dan aku memutuskan untuk menutup pintunya. Aku yang mengunci pintu itu… dengan tanganku sendiri… supaya mereka… tidak bisa membuka pintunya… karena aku takut sekali… Lalu… lalu… aku berjalan lagi… melanjutkan perjalananku… dan menjauhi pintu-pintu yang sudah tertutup itu… Melupakannya… Mencoba melupakannya… “

Aku menangis keras-keras; menyadari apa yang telah hilang dariku, apa yang sudah aku lakukan. Sangat keras sampai-sampai rasanya hatiku seperti dicabik.

Namun pada kenyataannya, pintu yang aku tutup dengan tanganku sendiri, sampai detik ini rasanya masih menakutkan untuk dibuka kembali. []

Rancaekek, 03 Februari 2017
Pintu selalu mengingatkan aku pada mereka.

February 2017 Writing Prompt Day 1 : Closed, by WritersWrite

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s