Teruntuk : Laki-laki yang namanya (masih) kusimpan dalam hati

Sejak dulu, aku selalu belajar untuk tidak pernah berharap terlalu banyak terhadap segala sesuatu. Hasilnya, aku menjadi pribadi yang pasif. Aku selalu menunggu dan melihat dari kejauhan. Aku hanya berdiam diri di tempat, dan menjaga jarak yang cukup aman dari segala sesuatu… salah satunya kamu. Kamu adalah yang aku inginkan, tapi aku berusaha tidak berharap terlalu banyak untuk memiliki kamu. Melihatmu dari jarak ini, merupakan suatu kebahagiaan tersendiri untukku. Memilikimu adalah suatu harapan kecil yang masih menyala jauh di dalam hatiku, namun aku tidak pernah berharap terlalu banyak. Tidak pernah berharap terlalu banyak.

Lalu, tanpa kusangka-sangka… kamu datang padaku.

Kamu berjalan ke arahku.

Dan, aku ketakutan.

Juga kebingungan.

Bukankah ini yang aku inginkan? Bukankah seharusnya aku merasa “senang” saat kamu berjalan mendekatiku? Bukankah seharusnya aku… bahagia? Tapi, perasaan apa ini? Kenapa aku merasakan perasaan ini; perasaan ingin… kabur? Kenapa aku merasa takut?

Jangan mendekatiku! Jangan!

Jangan terlalu dekat, kumohon…

Tetaplah seperti ini. Jangan berubah.

Tapi kamu terus mendekat, dan aku lari.

Aku lari menjauhi kamu.

Sejak saat itu, aku tidak pernah melihat kamu lagi. Mungkin kamu merasa aneh dengan diriku, dan kamu pergi tanpa mendapatkan penjelasan apa-apa atas sikapku yang semena-mena terhadap dirimu. Mungkin juga kamu merasa lelah dengan diriku yang terkadang mengabaikan kamu seperti seseorang yang sama sekali “bukan apa-apa” bagi diriku. Kamu pergi dariku, dan begitu saja aku tahu bahwa aku… aku telah kehilangan dirimu.

Sudah tidak bisa terulang. Yang terjadi, sudah terjadi.

Aku berhutang penjelasan dan permintaan maaf padamu.

Aku minta maaf karena sudah menjauh darimu. Itu bukan berarti aku membenci mu atau apa… hanya saja aku merasa cemas jika jarak di antara kita semakin… dekat. Aku ketakutan, dan aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya kepadamu, karena aku sendiri tidak mengerti tentang perasaanku sendiri. Jika kamu menanyakan mengenai hal ini? Apa yang harus aku jawab? Jawaban seperti apa yang akan kuberikan kepadamu sementara aku saja tidak mengerti?

Aku selalu butuh waktu untuk segala sesuatu.

Hanya itu yang sepertinya bisa aku pastikan.

Kamu yang berjalan mendekat kepadaku adalah sesuatu hal yang jauh di luar perkiraanku, sehingga aku… mungkin saja… mungkin aku butuh waktu untuk memahami apa yang tengah terjadi. Kepribadian “jangan berharap terlalu banyak” itu mungkin juga turut berperan serta atas sikapku kepadamu, karena aku tidak pernah berharap banyak bahwa kamu akan mendekatiku. Aku tidak pernah berharap terlalu banyak.

Jikalau, kamu menanyakan padaku apa yang aku rasakan terhadapmu… kamu bukanlah seseorang yang biasa-biasa saja bagi seorang aku. Kamu adalah seseorang yang berharga untukku. Jangan memaksaku atau menduga bahwa perasaan ini berhak kau namai sebagai perasaan suka atau sesuatu yang lebih dari itu. Jangan. Kenapa? Karena aku sendiri belum tahu apakah perasaan ini adalah perasaan suka atau bukan. Aku butuh waktu untuk memastikannya.

Kamu berharga untukku. Aku dapat memastikan hal itu.

Aku tidak tahu harus berbuat seperti apa terhadapmu. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan jika kamu mendekat padaku?

Maafkan aku… karena kebingungan yang terjadi di dalam diriku, kamu harus merasakan semua ini. Aku tidak berhak melukaimu, tapi pada kenyataannya mungkin kamu sudah terluka dengan apa yang sudah aku lakukan sebelumnya; lari dan mengabaikanmu, juga membiarkanmu tenggelam dalam pertanyaan-pertanyaan yang tidak kamu temukan jawabannya. Maafkan aku. Maafkan aku…

Jika ada sesuatu yang belum terucap dariku kepadamu, tentu saja itu adalah permintaan maaf dan sebuah penjelasan. Melalui surat ini, aku berharap kamu… mengerti. Aku juga tidak terlalu berharap kamu akan memaafkan diriku, tapi aku hanya ingin kamu tahu yang sebenarnya. Aku ingin kamu mencoba untuk melihat dari sisi diriku; melalui mataku.

Biarlah yang telah hilang aku relakan. Aku juga bisa memahami jika kamu pergi menjauh dariku karena aku yang menjauh tanpa menjelaskan apapun. Aku… minta maaf.

Aku… jika aku boleh meminta dan berharap…

Jika aku boleh berharap sedikit saja… Sekali lagi…

Aku hanya berharap bahwa aku tidak kehilangan percakapan tengah malam yang biasa kita lakukan setiap harinya…

Aku tidak kehilangan… kamu.

Semoga.

Salam,

Perempuan yang masih ada di sini; tidak pergi kemana pun.

Advertisements