Dear Aruna,

Semoga saat kamu membaca surat ini, kamu dalam keadaan hangat… bahagia… dicintai… berkecukupan… tidak sakit… dikelilingi orang-orang yang menyayangi kamu… bernapas… bahagia. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, kau tahu?

Apakah… apakah saat ini kamu bahagia?

Kamu tahu? Sampai saat ini aku masih mengingat hari di mana akhirnya kamu mau mempercayai aku sepenuhnya; hari di mana kamu membuka dirimu sepenuhnya untukku. Dan kalimat pertama yang muncul dari bibirmu adalah, “Sepertinya aku tidak bahagia.”

Hari itu… kamu menceritakan segalanya. Aku tidak menyangka kamu menyimpan sebanyak itu sendirian. Bagaimana kamu bisa bertahan selama ini dengan menyimpannya sendirian seperti itu, Aruna? Apakah itu tidak menyakitkan? Apakah itu tidak melelahkan? Untuk pertama kalinya aku mendengar kejujuran darimu.

Dan waktu itu kamu menangis.

Aku hanya bisa menepuk punggungmu pelan. Rasanya pedih, ya? Karena kurasa kamu akhirnya bisa membagi beban ini bersama seseorang… Akhirnya kamu mempercayai seseorang untuk berbagi cerita yang selama ini kamu tanggung sendirian. Karena akhirnya kamu tidak sendirian Aruna. Kamu sudah melakukan yang benar. Aku bangga padamu.

Sejujurnya… aku tidak menyangka bahwa kamu menyimpan cerita seperti itu di dalam dirimu Aruna. Aku sangat tidak menyangka sisi yang satu itu dari dirimu. Selama ini, aku selalu menganggap dirimu sebagai seseorang yang berisik dan suka tertawa. Terkadang aku juga memandang kamu sebagai seorang perempuan yang banyak bicara; orang yang menyenangkan. Kamu juga pernah terlihat murung, juga sedih, dan stress. Tapi… yah… kurasa itu artinya aku belum terlalu mengenal kamu, bukan? Aku bersyukur kamu mau mempercayai aku, Aruna.

Aruna, apakah kamu bahagia?

Apakah kamu sudah menemukan apa yang kamu cari selama ini?

Apa kamu sudah menemukan jawabannya?

Aruna, jika suatu saat kamu merasa dirimu sendirian… kamu harus mengingat aku. Aku… aku selalu ada untukmu. Aku akan selalu ada untuk mendengarkan semua cerita darimu; entah itu yang bahagia, menyedihkan, menakutkan, semuanya. Aku tidak perlu khawatir akan pendapatku, yang penting kamu menceritakannya kepadaku. Aku bisa kamu percayai! Aku bisa menjadi seseorang yang mendengarkan kamu. Kamu hanya perlu datang padaku lalu ceritakanlah!

Aruna…

Satu hal yang belum aku katakan saat kamu menceritakan segalanya padaku hari itu…

Terima kasih.

Terima kasih karena sudah bertahan. Terima kasih karena sudah berusaha kuat selama ini. Menanggung semua itu sendirian terlalu berat… Menyakitkan dan menyedihkan. Selama ini berusaha menyimpannya di dalam diri sendiri; membiarkannya melukai dirimu sedemikian rupa, sementara kamu tidak tahu kepada siapa kamu harus mempercayai hal itu. Kamu ketakutan, tapi kamu tidak tahu harus berbuat apa, sehingga kamu menanggungnya sendirian.

Adalah sebuah langkah yang sangat besar Aruna, ketika kamu pada akhirnya memberanikan diri sendiri untuk membagi ceritamu kepada orang lain. Itu adalah sebuah langkah yang besar untuk kamu yang sulit untuk mempercayai orang lain. Benar, bukan? Karena itulah, aku juga berterima kasih kepadamu yang sudah mengambil keputusan seperti itu, dan kenyataan bahwa aku-lah seseorang yang kamu percayai untuk mendengar ceritamu, aku merasa bersyukur.

Aruna…

Jangan lagi kamu pendam semuanya sendirian. Jangan menahannya sendirian. Jangan memeluknya sendirian. Kamu butuh orang lain untuk menanggungnya bersama; setidaknya kamu akan melepaskan beban itu sejenak dari dalam hatimu. Jika kamu terus menanggungnya sendirian seperti itu, bukankah kamu akan terluka? Bukan “akan terluka” lagi… Kamu sudah terluka sedemikian rupa Aruna… Dan fakta bahwa kamu menyembunyikan luka itu dari orang lain, membuat orang lain tidak mengetahui bahwa kamu tengah “sakit” dan kamu membutuhkan penyembuh untuk rasa sakit itu.

Ingatlah Aruna, aku selalu menyayangi kamu. Selalu.

Aku memikirkan kebahagiaan kamu. Kamu adalah orang paling menakjubkan yang pernah aku temukan sepanjang hidupku. Kamu begitu…. manusiawi. Kamu adalah orang paling “berperasaan” yang pernah aku temui. Kamu begitu kompleks, berantakan, terluka… tapi kamu begitu “indah”. Kamu penuh dengan kehidupan Aruna. Kamu “indah”.

Namun kamu tidak melihat dirimu seperti itu.

Percayalah bahwa kamu adalah seseorang yang menakjubkan; bahwa kerumitan yang kamu ciptakan sendiri dalam duniamu adalah keindahan milikmu sendiri yang tidak dimiliki orang lain. Itu membuatmu berbeda, Aruna. Itu membuatmu begitu… rapuh sekaligus indah. Tidak banyak orang seperti itu yang aku temui dalam hidupku, tapi aku begitu menyayangimu Aruna. Kamu pantas untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidupmu. Kamu berhak untuk mengingat kembali seperti apa rasanya bahagia itu.

Kebahagiaan itu akan muncul… saat kamu telah berdamai dengan dirimu sendiri. Saat kamu sudah menerima dirimu sendiri. Saat kamu telah mencintai dirimu sendiri.

Mungkin, saat itu kamu belum menemukan kebahagiaan, karena dalam dirimu masih ditutupi kabut. Untuk semua yang sudah terjadi dalam hidupmu, dan kamu menerimanya, maka pada saat itulah kebahagiaan akan menghampiri dirimu.

Masih adakah sesuatu dalam hidupmu yang masih belum kamu maafkan?

Masih adakah bagian dari dalam dirimu yang tidak kamu cintai?

Masih adakah peristiwa dalam hidupmu yang kamu sesali sampai detik ini?

Sudahkah kamu menyadari apa yang membuatmu tidak bahagia, Aruna?

Aruna… kamu tidak perlu merasa malu atau sungkan lagi untuk mengatakan bahwa “ada yang salah dalam hidupku”, atau “aku merasa tidak bahagia”, “aku butuh bantuan…” seperti itu. Kau tahu? Walaupun aku tidak bisa memberikan jawaban pasti untuk segala permasalahan dan keraguan serta kekhawatiran yang kamu rasakan, tapi aku selalu ada di sini untuk menemani kamu dan mendengarkan kamu. Kamu begitu berharga bagiku dan aku menginginkan kamu bahagia.

Aruna…

Jawabah, “apakah saat ini kamu bahagia?”

Kamu tidak perlu memaksakan dirimu untuk mengatakan “ya, aku bahagia”. Jangan membohongi diri sendiri; kau tahu sendiri bahwa itu akan menyakiti kamu lebih dalam lagi. Jika saat ini, kamu belum bahagia, itu tidak apa. Berusahalah untuk jujur terhadap diri sendiri, itu akan lebih baik bagi dirimu sendiri.

Aku berharap… kamu akan segera bertemu dengan kebahagiaan milikmu Aruna, sehingga kamu bisa berbagi kebahagiaan itu dengan orang lain juga. Ingatlah, bahwa aku akan selalu ada di sini jika kamu membutuhkan kehadiranku. Kamu tidak sendirian; mari berjuang bersama :)

Aku menyayangimu selalu. Dan selamanya.

Terima kasih karena sudah berusaha menjadi dirimu sendiri, dan bertahan selama ini sendirian. Aku berdoa untuk kebahagiaan dalam hidup dan cinta dalam dirimu untuk dirimu sendiri dan orang yang kamu sayangi. Semoga Tuhan mengasihi kamu dan memberkati hidupmu serta keluargamu. Aamiin.

Salam,

Aruna.


Side note :

Cerita kali ini aku buat dalam bentuk surat ^^ Kalian terkejut? :) Semoga tulisan kali ini bisa memberikan kalian inspirasi dan harapan ya :) Have a nice days! Aku senantiasa berdoa untuk kebahagiaan kalian semua, yang membutuhkan kebahagiaan :”)


Tantangan menulis #10DaysKF Day 7 – Tulisan untuk menguatkan diri sendiri. Postingan-postingan sebelumnya :

Day 1 – Kekasih

Day 2 – Fangirl’s Roller Coaster

Day 3 – Exploring My Deepest Thought for 2017

Day 4 – Pada Suatu Sore

Day 5 – Tiga Film yang Paling Berkesan

Day 6 – Scratch

Advertisements

One thought on “Surat Tidak Bahagia [#10DaysKF – Day 7]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s