Dia bukan orang yang aku sukai, jadi aku tidak pernah memperhatikannya secara khusus sebelumnya. Dia cuma teman sekelasku; teman yang bisa aku ajak bercanda dan membicarakan hal-hal yang tidak dimengerti oleh teman sekelasku yang lain. Terkadang aku bisa tertawa jika berada di sampingnya, dan aku juga bisa bertingkah “aneh” dengan ia ada di hadapanku.

Lagipula, kalau diingat-ingat lagi, aku tidak pernah akrab dengannya pada saat semester-semester awal perkuliahan. Baru-baru ini, aku bisa mengobrol banyak hal bersamanya. Lewat obrolan-obrolan itu, aku mengetahui sisi-sisi tidak terduga dirinya. Nampaknya, ia berbeda jauh dari kesan pertamaku terhadapnya. Kurasa, akhir-akhir ini aku bisa mengobrol lebih dekat dengannya karena dipertemukan dalam tugas kelompok yang sama. Ini adalah sesuatu yang baru untukku, karena sebelumnya aku selalu berpikir bahwa aku tidak akan bisa merasa nyaman berada di dekat seorang laki-laki. Aku selalu meragukan diriku sendiri, bahwa aku selalu menyembunyikan “diriku yang sebenarnya” di hadapan semua laki-laki yang aku temui. Aku tidak akan pernah menjadi diriku yang sebenarnya di depan seorang laki-laki. Tapi ternyata, aku “lebih” daripada apa yang aku pikirkan. Aku menemukan bahwa ternyata diriku bisa menikmati obrolan-obrolan ringan bersamanya, lalu berlanjut menjadi saling ejek-mengejek yang menyenangkan, dan itu membuatku tidak bisa berhenti tersenyum dan tertawa.

Sudah saja. Seperti itu.

Pada kenyataannya dia cuma teman sekelasku. Teman yang menyenangkan untuk diajak mengobrol dan bercanda. Orang yang aku sukai justru adalah temannya, dengan kata lain masih teman sekelasku sendiri. Hanya saja, aku tidak bisa berhenti gemetaran jika orang itu berada dalam radius tiga meter dariku. Aku tidak mampu menatap matanya, aku juga tidak mampu menyapa dia bahkan untuk ucapan sesederhana “hei” sekalipun. Aku tidak bisa. Mungkin, dapat aku katakan bahwa aku selalu lumpuh jika berhadapan dengan orang itu. Terkadang, pada suatu titik, aku merasa frustasi pada ketidakmampuanku untuk berterus terang. Kenapa sih, aku seperti ini? Tidak bisakah aku menjadi seseorang yang normal, yang bisa sekedar berbicara dan mengobrol di depan orang yang di sukai?

Aku… benci diriku sendiri.

***

Waktu itu, tiga orang teman sekelompokku tengah pergi keluar untuk membeli jajanan untuk di santap saat mengerjakan tugas kelompok. Melalui permainan kertas-gunting-batu, aku dan dia ditinggalkan berdua di kosan milik salah satu dari tiga orang teman satu kelompokku yang sedang pergi tadi.

Sejujurnya, pada saat itu aku sedang merasa bosan. Saat aku merasa bosan, aku cenderung
untuk berpikir tentang macam-macam hal. Tentang langit-langit di kamar, tentang kerja kelompok yang selalu lebih banyak “ngobrol-nya” dibandingkan kerjanya, tentang Ai –salah satu dari tiga orang teman satu kelompok ini- yang lebih banyak berfokus pada gadgetnya dan sibuk selfie dan menguploadnya ke instastory miliknya, juga ketidakmampuanku untuk menegur Ai. Tentang Ai, yang secara kasual membicarakan dan menyebutkan nama orang yang aku sukai itu di tengah-tengah obrolan kami (Ai tidak tahu siapa yang aku sukai) yang membuatku merasa sedikit tegang tanpa ia sadari. Selalu seperti itu; namanya punya efek seperti itu terhadap diriku.

Lalu tentang laki-laki di dekatku yang tengah duduk bersila sambil memetik senar gitar miliknya; membunyikan suatu melodi dengan tempo lambat. Aku berbaring terlentang tidak jauh darinya. Dari tempatku saat ini, aku bisa melihat wajahnya yang sangat terfokus pada gitarnya dari bawah. Melihat wajahnya, mau tidak mau aku jadi membandingkan dirinya dengan orang yang aku sukai itu. Jelas-jelas dia punya wajah yang sangat berbeda dari “orang itu”; wajahnya agak bersih untuk ukuran laki-laki, kulitnya juga agak putih. Dan, jelas dia lebih kurus dibandingkan orang itu karena aku bisa melihat tulang selangkanya yang menonjol dibalik kaos gombrang putih kesukaannya, juga jemari-jemari ramping yang sedang memetik senar gitar.

Aku begitu terlarut dalam pikiranku sampai-sampai aku tidak menyadari bahwa kini dia tengah memandangku; mata ke mata. Dia bertanya, “Kenapa?” dengan suaranya yang agak serak dan berat.

Biasanya, jika aku bertemu mata dengan mata seorang laki-laki secara tiba-tiba, aku pasti refleks mengalihkan mataku. Aku akan memalingkan wajahku saat itu juga. Pada saat itu, aku berpikir kenapa aku tidak memalingkan wajahku? Kenapa aku tidak takut bertemu mata dengan matanya? Ah… Mungkin karena itu adalah dia. Justru karena “dia”, aku tidak memalingkan wajahku.

“Aku… Kalau kamu adalah orang itu, mungkin aku tidak akan bersikap seperti ini.”

Dia mengerutkan kedua alisnya, “Seperti ini bagaimana?”

Aku masih menoleh kearahnya sambil berbaring dan menatap wajahnya dari bawah, “Bersikap santai seperti ini, dan bertatap mata langsung dengan mataku sendiri.”

Setelah itu, cerita mengenai diriku mengalir dari mulutku sendiri. Aku menceritakan kepingan diriku yang tidak pernah aku ceritakan pada siapapun sebelumnya; tentang diriku yang penggugup tapi dalam waktu yang bersamaan bisa menjadi seseorang yang kesulitan untuk berhenti berbicara jika menemukan seseorang yang membuatku merasa nyaman untuk diajak mengobrol. Bagaimana aku yang jarang mengobrol sambil melihat mata seseorang langsung dengan mataku sendiri, atau bagaimana aku tidak mengizinkan seseorang untuk menatap mataku secara langsung saat mereka sedang mengobrol denganku. Itu sebabnya aku selalu memberi jarak kepada orang-orang disekitarku, karena aku tidak pernah mengizinkan mereka mendekat kepadaku. Aku tak pernah mengizinkan mereka menatap mataku dengan mata mereka, karena dengan hal itu, mereka mungkin saja bisa melihat “diriku yang sebenarnya” dan rahasia-rahasia yang kusembunyikan dari mereka. Seseorang pernah berkata, “Mata adalah jendela menuju jiwa seseorang.” Kupikir, itu adalah sebuah kebenaran.

eye-117043_960_720
Her eyes.

 

Seperti saat ini, kurasa. Pada saat ia memandangku langsung dengan matanya, pada saat itu juga aku mengizinkan ia melihat diriku. Mungkin itu alasannya kenapa aku bercerita banyak hal kepadanya saat itu; aku mengizinkan dirinya melihat diriku.

Aku juga bercerita tentang alasanku yang tidak terlalu akrab dengan anak laki-laki di kelas. Waktu itu, aku sebutkan alasannya bahwa aku tidak akan pernah bisa terbiasa dengan keberadaan laki-laki di sekitarku. Aku juga menyebutkan bahwa aku tidak bisa bersikap normal di dekat laki-laki yang aku sukai (aku tidak menyebutkan namanya siapa kepadanya, aku malu hehe) Kuceritakan juga bahwa dengannya aku tidak merasa seperti itu; bahwa aku bisa santai dan relaks, bahwa aku bisa menikmati diriku sendiri dengan berada di sampingnya seperti saat ini.

Setelah aku selesai bercerita (aku tidak tahu berapa lama aku bercerita) dia tidak langsung membalasnya. Dia melepaskan pandangan dari mataku, lalu dia memainkan beberapa melodi yang tidak aku tahu asalnya dari mana. Melodi yang dia mainkan dengan gitarnya berbeda dengan yang sebelumnya, tapi masih dengan tempo yang lambat. Saat aku pikir dia tidak akan memberikan respon apapun, dan saat aku hendak memalingkan wajahku darinya, dia menjawab :

“Tidak apa-apa,” katanya.

Untuk beberapa saat (yang rasanya terasa sungguh lama), aku tidak paham dengan apa arti ucapannya.

“Tidak apa-apa,” ulangnya lagi, “Aku mengerti.”

Dari caranya yang mengatakan hal itu, aku tahu dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ketika aku melihat matanya lagi, sama sekali tidak kutemukan keraguan di dalamnya. Kata-kata yang tadi dia ucapkan sama kuatnya dan yakinnya sampai-sampai aku tidak tahu harus berkata apa. Matanya masih memandangku dengan lekat, dan saat itu aku merasakan sesuatu menusuk hatiku. Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya, karena rasanya memang seperti ada sesuatu yang menusuk ke dalam dadaku. Rasanya sakit; sakit yang rasanya tidak sakit. Rasa sakit yang aku rasakan tadi, membangunkan sesuatu di dalam diriku.

Pada saat itu, aku merasakan mataku memanas. Bibirku bergetar juga. “Sebentar lagi, aku pasti akan menangis,” pikirku saat itu. Aku langsung menggigit bibir bawahku. Sejujurnya aku masih tidak mengerti kenapa aku menangis. Kenapa mendengarkannya berkata bahwa ia mengerti menimbulkan perasaan seperti ini terhadapku, aku tidak mengerti. Tapi, kubiarkan saja perasaan itu mengambil alih diriku, karena aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku memalingkan wajahku darinya dan menutup mulutku dengan sebelah tanganku; berusaha meredam isak tangis yang akan datang. Aku memunggungi dirinya, lalu aku menangis. Sudah lama sekali rasanya aku tidak merasakan “perasaan dimengerti” oleh seseorang; tidak apa jika ia tidak mengerti, dia paham saja sudah membuat hatiku meleleh, dan membuatku lemah seperti saat ini. Aku rindu perasaan ini; perasaan diterima oleh seseorang. Perasaan begitu terbuka kepada seseorang, karena selama beberapa menit itu, aku sudah hidup sebagai “diriku sendiri” di hadapan dirinya.

Dia terlihat panik melihatku menangis. Jadi dia menghampiriku dan mengguncang bahuku pelan, tapi aku mau tidak berkata apapun padanya. Aku sibuk menyembunyikan wajahku dan mataku dari matanya. Aku tidak mau dia melihat diriku pada saat ini, terutama melalui kedua mataku.

Aku tidak mau ketika dia melihat mataku pada saat itu, dia menemukan semacam perasaan khusus yang aku simpan untuknya. Perasaan itu masih baru dan asing untukku; aku belum tahu dan mengerti apa-apa tentang perasaan yang baru lahir dalam diriku. Perasaan itu lahir dari rasa sakit yang menghujam hatiku beberapa saat yang lalu. Sejujurnya aku merasa takut dengan perasan baru ini. Beberapa bulan kemudian, barulah aku menyadari bahwa perasaan itu mungkin saja bernama “cinta”.

Dia bukan orang yang aku sukai, jadi aku tidak pernah memperhatikannya secara khusus sebelumnya. Tapi setelah kubiarkan dia melihat mataku; kubiarkan mataku bertemu mata dengannya, ada sesuatu yang tercuri dalam diriku oleh kedua mata miliknya.

Mata yang menunjukkan “pemahaman” itu sudah mengambil hatiku. []

Rancaekek, 10/12/2016 11:10 PM

Happy Birthday Park Jimin!
Cerpen pertama di bulan Oktober! :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s