“Hei, seperti apa Malika itu?”

“Kenapa tidak kamu tanyakan sendiri? Dia kan teman sekelasmu!”

Kelas selanjutnya akan dimulai pukul satu siang, itu artinya masih ada satu setengah jam lagi. Lalu, setengah jam sebelum masuk kelas, aku punya janji makan siang dengan Pram. Dan disinilah aku; duduk berselonjor dengan nyaman dekat pohon rindang sambil mendengarkan November Rain dari Gun N’ Roses dengan volume rendah di Fakultas Sastra. Sial benar hari ini, bisa-bisanya aku salah melihat jadwal, padahal sudah jauh-jauh pergi dari rumah. Saat sedang meratapi nasibku, Dani mendadak muncul dihadapanku kemudian duduk di sampingku dan tiba-tiba saja menanyakan tentang Malika.

“Kudengar dia satu SMA dengan kamu, kan?”

“Mhmn…”

“Jadi?”

“Kenapa kamu menanyakan Malika secara tiba-tiba?”

“Berhenti menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi, Rin.”

Aku mengalihkan pandangan ku ke dedaunan rindang diatas. Rasanya begitu sejuk dan menenangkan. Aku memejamkan mataku, dan mencoba mengingat sosok Malika dalam arsip ingatanku. Secara mengejutkan tidak banyak yang bisa kuingat tentang Malika dalam hidupku.

Malika…

Malika…

Aku membuka mataku dan berkata, “Walaupun memang benar aku satu SMA dengan Malika, bukan berarti aku mengenalnya secara dekat. Dia juga bukan teman sekelasku selama tiga tahun di SMA. Jadi maaf saja ya, aku tidak bisa memberikan jawaban yang kamu harapkan.”

“…”

“Malika itu…” Sekali lagi aku mencoba menggali ingatan tentang sosok Malika dalam ingatanku, “Dia pintar. Sekolahku punya beasiswa untuk siswa yang berprestasi secara akademik, dan sepanjang dia tiga tahun bersekolah di sana, dia selalu mendapatkan beasiswa itu. Cuma itu yang aku ingat tentang Malika. Dia… Pintar. Itu saja.”

“Hanya itu?”

“Bagiku dia normal. Dia tidak aneh. Biasa saja.”

Selama sesaat, aku penasaran melihat ekspresi Dani, jadi aku melirik diam-diam kearahnya. Seperti biasa, tak ada yang bisa kudapatkan dari ekspresi wajahnya Dani. Dani sulit dibaca. Wajahnya dingin, dan tatapan matanya tidak menyiratkan apa-apa.

“Aku sudah menjawab pertanyaan kamu. Sekarang giliran kamu menjawab pertanyaanku; kenapa tiba-tiba menanyakan Malika?”

Dani tidak langsung menjawab. Alih-alih menjawab, dia tiba-tiba berbaring di sampingku; kepalanya berbantalkan tasku, dan posisi berbaringnya menjauhi tempatku duduk. Dani kemudian menutup wajahnya dengan jaket dan kemudian melipat tangannya di dada.

Terserahlah, aku tidak peduli.

Tepat ketika aku akan menaikkan volume musik yang kudengarkan melalui Android milikku, Dani menjawab, “Aku penasaran.”

Nah, ini baru menarik. Dani yang kukenal adalah seseorang yang sosoknya terkenal cool dan misterius. Yah, mau bagaimana lagi? Dari penampilan Dani saja, orang-orang akan menganggap bahwa dia adalah orang yang dingin. Dani selalu mengenakan kaus warna hitam, jeans robek-robek warna gelap, dan sepatu boots dengan sol yang tebal. Belum lagi wajahnya yang kelihatan cuek dan tidak peduli, serta ekspresinya yang sulit dibaca. Dani yang penasaran terhadap seorang perempuan adalah sesuatu yang baru bagiku. Dan itu yang menjadikan hal ini menarik. Aku jadi penasaran!

“Oke. Kamu penasaran. Lalu?”

Dani menghela napas, “Aku tidak tahu harus mengatakan apa tentang Malika. Seperti yang kamu katakan sebelumnya; ya, dia seperti gadis-gadis lainnya. Normal. Di kelas, dia cukup bisa membaur dengan yang lain. Tetapi, ada saat-saatnya dia hanya diam dan membaca buku. Kulihat dia hanya bergaul dengan perempuan. Dia tidak pernah kelihatan akrab dengan laki-laki di kelas termasuk aku. Dia hanya berbicara dengan laki-laki ketika laki-laki itu mengajaknya berbicara.

Dia tertawa ketika ada sesuatu yang lucu, dan dia menampakkan wajah berempati ketika mendengar sesuatu yang menyedihkan. Dan ya, dia pintar. Ku dengar IPK-nya di atas tiga koma lima, tapi dia tidak pernah bertanya sekali pun di dalam kelas pada dosen. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya sepulang kuliah, tapi sepertinya dia punya beberapa kegiatan dalam organisasi. Pernah pada suatu malam, dia berdiri di depan Magnus Café pada jam delapan malam, dan aku tidak tahu apa yang dilakukan olehnya di sana pada saat itu.”

Wow, aku tidak pernah mendengar Dani berbicara sepanjang ini sebelumnya.

“Oke, aku masih mendengarkan.”

“Dia juga punya beberapa teman dekat di kelas. Sepertinya kemana-mana, mereka selalu bersama. Saat istirahat makan siang, saat tugas kelompok, sepertinya mereka selalu bersama. Dia punya lingkaran kecil yang menjadi miliknya dan teman dekatnya itu. Dan menurutku, dia kelihatan lebih nyaman berbicara dengan orang-orang dalam lingkaran kecil itu, dibandingkan dengan orang-orang di luar lingkaran. Aku pikir dia hanya berbicara dengan teman sekelas saja, tapi ternyata dia juga berbicara dengan beberapa orang dari jurusan lain.

Seingatku dia tidak pernah sekali pun terlambat masuk ke kelas. Dia selalu berada di dalam kelas sebelum dosen datang. Saat hari ujian akhir semester datang, dia kelihatan rajin membaca materi seperti orang-orang kebanyakan. Aku selalu satu ruangan dengan dia pada saat ujian akhir semester, dan aku melihat bahwa kertas folio miliknya selalu penuh dengan jawaban darinya. Kertas folio miliknya itu, selalu penuh dengan tulisan sampai ke halaman-halaman belakangnya.”

Aku tersenyum saat mendengar Dani berbicara tentang kertas folio. Cara Dani mengatakan kertas folio yang penuh dengan tulisan sampai ke halaman belakang, seperti mengatakan sesuatu yang luar biasa dan aneh. Seperti mengatakan, “Hei! Ada bermilyar-milyar bintang di langit sana, bisakah kamu mempercayai hal itu?” Buatku, itu biasa saja. Karena di kelasku sendiri, aku menemukan beberapa orang yang biasa menulis jawaban yang menghabiskan satu folio penuh saat ujian tiba.

Dani melanjutkan, “Dia benar-benar tipikal mahasiswa baik lainnya di kampus ini. Tidak kelihatan bermasalah dan berkelakuan baik. Tidak berbuat sesuatu yang ganjil, dan menjalani kehidupan di kampus dengan normal. Dia mengikuti apa yang diinstruksikan dengan baik dari dosen atau dari temannya sendiri.”

“Dia juga kelihatan seperti itu saat SMA,” balasku. Dan mungkin seterusnya akan seperti itu. Aku benar-benar tidak mengenal Malika. Dia hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang aku tahu keberadaannya; dia cuma kenalanku. Hanya itu. Kemudian, Dani tiba-tiba datang padaku dan menanyakan tentang Malika. Mau tidak mau, aku jadi teringat kembali tentang perempuan itu; Malika.

Pada saat di SMA pun, rasanya tidak pernah aku mendengar rumor buruk tentang Malika. Malika bukan seseorang yang terkenal di SMA, tapi sepertinya dia punya lingkaran sosialnya sendiri. Menurutku, dia memang seorang gadis yang menjalani hidupnya dengan normal seperti orang lain. Yang mengenal Malika saat di sekolah pun, sepertinya hanya teman-teman sekelas, dan beberapa orang dari kelas lain yang jumlahnya tak banyak. Sungguh, dia hanya perempuan normal seperti kebanyakan. Dan nampaknya, pada saat kuliah pun, dia berusaha menjalaninya dengan normal sama seperti yang ia lakukan pada saat di SMA.

“Jadi dia benar-benar normal. Tidak ada yang aneh dari dirinya,” kataku lagi.

“Pada awalnya aku juga berpikir begitu; dia seperti gadis normal lainnya. Tapi…”

“Tapi?”

“Aku merasa ada yang berbeda dari Malika.”

Nah. Itu artinya kamu tertarik padanya. Respon pertama seseorang terhadap seseorang yang disukainya. Tanda pertama. Ha.

“Aku tahu apa yang kamu pikirkan, tapi aku tidak peduli.”

Tanpa sadar, aku memutar bola mataku, “Wups, sori.”

“Aku merasakan sesuatu dari Malika, dan aku menyadarinya setelah cukup lama mengamati dia di kelas. Dia… Dia terlalu berhati-hati. Dalam segala hal yang dilakukannya, dia terlalu berhati-hati. Seakan-akan, jika dia melakukan suatu kesalahan kecil dalam hidupnya, dia akan berakhir. Setiap hal yang dilakukannya sepertinya sudah melalui perhitungan dan persiapan. Semua dalam jalur yang sudah disiapkan sebelumnya.

Aku teringat sesuatu. Hari itu, kelas begitu berisik karena mereka membicarakan tentang tugas tambahan yang statusnya tidak jelas; harus dikerjakan atau tidak dikerjakan. Kebanyakan, semua memilih mengerjakannya, dan sisanya tidak mengerjakan karena alasan tidak tahu, atau memang memilih tidak mengerjakannya. Dan, aku melihat ekspresinya pada saat itu.

Dia terlihat sangat tenang, tapi aku bisa melihat dari kakinya yang tidak bisa diam, mata yang mencoba menghindari tatapan orang lain, dan senyuman ‘aku oke’ yang kelihatan palsu buatku. Seseorang bertanya padanya, dan dia menjawab bahwa dia tidak mengerjakan tugas tersebut. Dia kelihatan tenang, seolah-olah itu bukan sesuatu yang besar baginya, padahal sebenarnya dia berpura-pura. Dia berpura-pura bahwa dia baik-baik saja, dan dia tidak apa-apa dengan hal yang berada di luar dugaannya ini. Dari dalam hatinya dia benar-benar panik. Sangat panik. Dia kelihatan merasa tenang dan menang saat dosen yang bersangkutan berkata bahwa tugas itu tidak dikumpulkan. Wajahnya menunjukkan bahwa dia lega setengah mati mendengarnya.”

Well, itu sesuatu yang baru untukku. Aku tidak tahu Malika yang seperti itu, tapi sepertinya Dani berhasil mengetahuinya. Tapi, siapa yang tahu? Ini kan baru pendapatnya Dani.

“Itu cuma tugas,” aku membalas dengan singkat.

“Bagiku dan bagimu, itu cuma tugas. Tapi tidak bagi Malika. Dia tidak memperkirakan hal itu bisa terjadi; dia menduga bahwa semua teman sekelas tidak akan mengerjakan tugas itu. Dia ketakutan. Ketakutan yang berlebihan. Dia tidak terbiasa berbuat salah. Besar atau kecil, dia tidak mau melakukan kesalahan. Dia tidak mentolerir kesalahan. Sebisa mungkin, dia merencanakan segala sesuatu agar bisa menghindari kesalahan. Oleh sebab itu, dia sangat berhati-hati karena dia takut salah.”

Hening.

Dalam arsip ingatan milikku, memang benar bahwa Malika tidak pernah melakukan sekalipun kesalahan. Dia tidak pernah melanggar aturan, dia pintar, dan dia berprestasi. Dia mendapatkan beasiswa karena nilai-nilai raportnya memuaskan. Sepertinya dia juga tidak pernah izin atau pun absen, aku tidak tahu soal yang satu itu. Walaupun aku berbeda kelas dengannya, tapi aku tahu bahwa dia pintar dan menerima beasiswa karena sekolah kami selalu mengumumkan siswa-siswa berprestasi dan peraih beasiswa melalui intercom dan video yang ditayangkan di monitor kantin, dan gedung utama sekolah. Sepertinya memang benar bahwa Malika tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya.

“Perasaan takut itu sendiri mempunyai sebab. Dia merasa takut berbuat salah, karena mungkin pada suatu momen dalam hidupnya, dia pernah berbuat suatu kesalahan. Momen itu sendiri begitu berpengaruh terhadap dirinya. Semenjak itu, dia sangat berhati-hati… Memastikan dirinya agar tidak berbuat salah. Bahkan, pada saat-saat tertentu, ketika dia merasa lelah dengan sikapnya yang sangat berhati-hati itu, dia melonggarkan kewaspadaannya; dia merasa tidak peduli lagi akan apa yang terjadi kepadanya. Tetapi, tak lama kemudian dia memasang lagi ‘tameng’nya; kehati-hatiannya itu, karena dia ‘takut.’”

Setelah berpikir agak lama, aku memutuskan untuk tidak menjawab apa-apa. Karena… Aku sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Rasanya semua ini terasa… Absurd. Ada apa dengan hari ini? Apa saat ini aku tengah menganalisis perilaku seseorang? Berbicara psikologis? Atau apa? Aku berpikir bahwa, “Ah… Hari ini aneh sekali.” Bermula dari kesalahanku sendiri melihat jadwal kuliah dan tiba-tiba saja membongkar kenanganku tentang seseorang yang bernama Malika. Benar-benar satu hari yang aneh.

Tapi yang paling aneh lagi adalah sosok yang tengah berbaring di sampingku. Dengan seenaknya sendiri –menutup wajahnya dengan jaket- dia bertanya tentang Malika kepadaku, kemudian di tengah perjalanan, dia sendiri yang menjelaskan siapa itu Malika padaku. Benar-benar sukar di mengerti. Aku sendiri tahu bahwa Dani itu adalah seseorang yang berwajah dingin, dan orang-orang yang tidak mengenal dirinya akan berkata bahwa dia adalah orang yang pendiam dan menakutkan. Suatu kesadaran merayapi pikiranku saat ini, bahwa Dani adalah tipe pengamat. Dari kejauhan mengamati dan menerjemahkan gerak-gerik seseorang. Dibalik sikap diamnya, Dani mengamati dan mengobservasi sekitarnya.

Jadi, pada kenyataannya aku sendiri masih belum terlalu mengenal siapa Dani ya…

“Dan… beberapa hari terakhir, aku mengetahui sisi lain dari Malika.”

“Oh ya?”

“Aku tidak menyangka bahwa kami sudah saling memfollow satu sama lain di twitter.”

“Ternyata kamu masih pakai Twitter, Dan?”

“Kebetulan saja kemarin aku buka Twitter, dan muncullah Malika di sana.”

“Dan, apa yang kamu temukan di sana?”

“Rahasianya.”

Refleks, aku menoleh kearahnya. Ah… Aku lupa. Dia kan sedang pura-pura tidur. Aku mengalihkan kembali pandangan darinya.

“Dalam beberapa statusnya yang dia buat di twitter, dia berbicara tentang pengampunan, rasa bersalah, dan dosa.”

Wow…. Itu topik yang berat sekali.

“Aku tidak menyangka tentang hal itu.”

“Dia menuliskan tentang maaf, rasa bersalah, ketenangan jiwa, hukuman, dan dosa. Itu bukan topik yang semua orang bisa menuliskannya, menurutku. Itu juga bukan sebuah topik yang bisa ditulis dengan asal-asalan. Tapi, ya. Dia memang menuliskan tentang hal itu di sana. Dia pernah menuliskan sesuatu tentang ‘memaafkan diri sendiri.’ Menurutmu, apa yang membuat dia menuliskan hal itu?”

“Aku…. Sejujurnya aku tidak tahu jawabannya, Dan. Aku bahkan tidak mengenal Malika dengan baik. Tapi, aku benar-benar tidak menyangka bahwa Malika; Malika yang ‘itu’, menuliskan sesuatu tentang… Apa? Dosa dan rasa bersalah? Benar-benar tidak terduga.

Kehidupan yang dia jalani kelihatan normal. Aku pikir dia perempuan yang bahagia. Kelihatannya dia tidak mempunyai masalah. Bahkan, nilai-nilainya selalu bagus. Kenapa dia menuliskan hal-hal seperti itu, kalau begitu? Apa ternyata dia mempunyai masalah berat di rumahnya? Kalau begitu dia kelihatan hebat, karena bisa menyembunyikan hal itu.”

“Kupikir, semua itu berawal dari perasaan takutnya. Perasaan takut untuk berbuat salah.”

“Hmmn…….”

Malika…

Malika…

Perempuan seperti apakah ia? Apa yang dia sembunyikan dari dunia? Apa yang tengah dia lindungi? Apa yang sedang dilakukannya saat ini? Malika… Perempuan yang nyaris kelihatan perfeksionis di mataku; si penerima beasiswa berturut-turut saat SMA.

Androidku bergetar, memberitahuku bahwa satu jam sudah berlalu. Aku menghela napas pelan. Tidak ku sangka waktu akan berjalan secepat ini. Lain kali aku harus ingat untuk mentraktir Dani makan ramen karena sudah menemaniku hari ini (walaupun tidak diniatkan sebelumnya). Aku berdiri dan merapikan kemeja juga celana jeansku. Kemudian aku memegang tasku dan berkata pada Dani, “Aku ada janji makan siang bersama Pram sekarang. Angkat kepalamu dari tasku. Nah, terima kasih. Kau mau ikut?”

“Tidak, terima kasih,” balasnya.

Dia bergerak cuma seperlunya saja. Ketika aku menyuruhnya mengangkat kepala, dia benar-benar cuma mengangkat kepalanya saja, lalu melanjutkan berbaring tanpa alas apapun sambil (masih) menutup wajahnya dengan jaket miliknya sendiri. Well, aku tidak peduli.

“Pergi dulu ya.”

Tidak ada balasan apapun.

Tiba-tiba aku jadi terpikirkan sesuatu, “Kau tahu? Sebaiknya kamu mengatakan hal-hal yang tadi kamu sebutkan padaku langsung pada orangnya. Mungkin itu akan menimbulkan perubahan; sesuatu yang baik, atau semacam itulah.”

Masih tidak ada balasan.

Tepat ketika aku hendak berbalik, aku mendengar suara Dani yang berkata “Oke.” Mau tidak mau, aku menyunggingkan senyum kecil. Dani memang seperti itu orangnya. Dan ternyata, aku juga menemukan sisi lain tidak terduga dari Dani hari ini. Orang-orang memang selalu penuh kejutan ya…

Aku berjalan perlahan menjauhi Dani. Rasanya ganjil sekali hari ini… Percakapanku dengan Dani juga aneh, dan menimbulkan perasaan runyam yang baik –yang sulit untuk aku definisikan dengan kata-kata. Rasanya seperti sesuatu muncul ke permukaan; suatu pemahaman yang baru untukku.

Mungkin memang pada kenyataannya kita tidak pernah benar-benar mengenal seseorang dengan baik. Yang dapat kita lakukan adalah, berusaha memahaminya; memahami alasan kenapa dia berbuat seperti itu, alasan mengapa dia menyembunyikan sesuatu, dan lain sebagainya. Sama halnya dengan Malika… Mungkin, yang perlu aku lakukan adalah… Memahami Malika.

Malika…

Malika… Si perempuan yang menjalani hidupnya dengan sangat hati-hati. Perempuan pintar penerima beasiswa prestasi saat SMA yang menyembunyikan sesuatu dalam hidupnya (mengutip apa yang dikatakan Dani, terlepas itu benar atau tidak) entah itu ketakutannya, atau pun rasa bersalahnya. Siapa yang tahu? []

24 Agutus 2016, Rancaekek
23:56
Cerpen ini untuk “Malika-Malika” di luar sana

4 thoughts on “Malika (yang tidak) Sempurna

    1. Ini juga gara-gara iklan yang ditipi ituuuu kkkkk~
      Saya suka banget sama nama Malika, makanya saya menjadikan Malika itu sebagai nama salah satu karakter saya di sini ^^

      Btw, terima kasih sudah berkunjung ya! :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s