Ketika kamu mengatakan kata ‘itu’, aku tahu perasaanku padamu akan berubah. Semuanya tidak akan sama lagi. Kata yang kamu ucapkan itu, mengubah pendapatku tentang kamu. Dan, kamu tahu apa artinya itu? Itu artinya, aku akan membencimu.

Benci sepertinya terlalu berlebihan. Aku tidak boleh membenci seseorang hanya karena seseorang mengucapkan sebuah kata tertentu. Aku hanya merasa tidak suka. Lebih tepatnya ‘kecewa’. Kenapa kamu harus mengatakan kata ‘itu’? Kenapa harus kata ‘itu’ yang terlontar dari bibirmu dengan perasaan tidak berdosa? Apakah kamu tidak merasakan sesuatu saat mengucapkan kata ‘itu’? Karena, ketika aku mendengar kata ‘itu’ untuk pertama kalinya dari bibirmu, aku merasakan sengatan rasa sedih dan kecewa dari dalam hatiku.

Sejauh ini, aku merasa nyaman bersama kamu. Terima kasih kepadamu, karena aku bisa tertawa dan menikmati banyak hal, mulai dari menertawakan hal-hal sepele dan tidak penting, sampai membicarakan tentang masa depan masing-masing di tengah matahari terbenam. Terima kasih untukmu, karena sejujurnya setiap momen yang kulalui bersama kamu adalah momen paling membahagiakan dalam hidupku.

Namun, haruskah kata ‘itu’ terucap melalui bibirmu?

Aku kecewa. Sejujurnya, hatiku merasa sedikit pedih. Kamu sempurna di mataku, meskipun kamu sedikit menyebalkan saat sedang bad mood, tapi tidak dengan kata ‘itu’. Tidak saat kamu mengucapkannya dengan jelas di depanku. Saat itu, rasanya seperti ada yang menggores hatiku; sedikit, tidak sampai berdarah.

Mungkin, kamu akan menyalahkan aku ketika aku mengungkapkan kekecewaan ini. Mungkin kamu akan berkata, “Salah mu sendiri, kenapa kamu memandangku begitu sempurna? Padahal kamu tahu sendiri bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini!” Ya. Ya, aku tahu betul tentang hal itu. Tidak usah kamu ingatkan pun, aku sudah tahu. Aku yang seenaknya merasa terluka dan kecewa tanpa memikirkan konteks umum dari semua ini; “kebebasan”

Rasanya memang sakit ya… Sedikit sakit. Rasanya seperti dikhianati. Memang, salahku sendiri karena aku meletakkan begitu banyak kepercayaan dan perasaan juga kasih sayang kepadamu, sehingga ketika kamu melakukan sesuatu di luar kepercayaan yang aku buat, rasanya sulit untuk dipercaya dan menyakitkan. Cukup sakit sampai membuat aku tertegun dan tidak bisa berpikir apa-apa selama sesaat. Tapi, tak bisakah kamu menghargai sedikit perasaanku? Seharusnya, setelah kebersamaan yang sudah kita lalui selama ini, kamu bisa melihat betapa aku menganggapmu sebagai seseorang yang berharga.

Ternyata, kamu memang tidak tahu apa-apa tentang aku. Kamu… Tidak peduli sedikit pun tentang perasaanku. Walau hanya satu detik, kamu tidak pernah mencoba untuk memikirkan perasaanku. Pada akhirnya, kamu memang mengucapkan kata ‘itu’. Salah satu kata yang kubenci. Kamu mengatakannya tepat di depan wajahku, dengan wajah tanpa dosa.

“Hahahahahahahahaha, jijik aku ngeliatnya.”

Jijik.

J – I – J – I – K

Menjijikkan.

Apakah kamu bisa mendengarnya? Apakah kamu bisa mendengar hatiku tergores? Kamu tidak perlu khawatir, tidak ada darah di sana.

Haruskah kamu mengatakan kata menjijikkan itu di depan wajahku? Aku tahu, bukan aku yang kamu maksud, tapi sesuatu yang lain, yang keberadaannya cukup aku hargai. Dan kamu mengatakannya di depan wajahku, padahal kamu tahu aku menghargainya? Apa kamu pura-pura tidak tahu, atau memang tidak tahu?

Menjijikkan.

Aku tidak suka kata itu. Itu adalah salah satu serpihan dari kata “benci”. Bentuk ketidaksukaan yang paling dalam terhadap suatu hal. Ketika kamu mengucapkannya, tersirat kebencian di dalamnya. Sadar atau tidak sadar, ketika mengucapkan kata “menjijikkan,” kamu melahirkan serpihan kebencian dari dalam hatimu melalui kata-kata itu. Dan serpihan itu punya kekuatan melukai hati siapapun yang mendengarnya, dan memaknainya. Kamu mengatakan kata itu di depan wajahku mengenai sesuatu yang kuhargai keberadaannya.

Menjijikkan.

Kamu mengatakannya berulang kali di depanku. Kamu membenci suatu hal yang kuhargai. Apakah mungkin kamu membenciku? Apakah kamu sengaja melukai hatiku dengan kata itu?

Dalam pikiran terdalamku, tidak pernah aku membayangkan bahwa kamu memiliki perasaan benci terhadapku. Selama ini, kita selalu saling melengkapi. Aku memahami kamu, dan kamu memahami aku. Tidak mungkin kamu membenciku setelah semua momen yang kita lalui bersama. Aku peduli padamu, dan kamu peduli padaku.

Rasanya salah ketika kamu mengatakan kata itu; kata yang rasanya tidak enak di lidah.

Menjijikkan.

Aku tidak percaya kamu mengucapkan kata itu begitu sering. Mengingatnya saja sudah membuat hatiku sakit.

Mungkin, sebenarnya kamu memang tidak peduli tentang perasaanku. Sama sekali tidak peduli. Kamu tidak memahamiku. Kamu hanya memperdulikan perasaanmu sendiri. Berulang kali, kamu lebih mengutamakan perasaaan kamu sendiri; membuatku mengesampingkan rasa pedih yang aku rasakan di sini. Mungkin, kamu berusaha melindungi dirimu sendiri dari suatu hal dengan mengatakan kata “menjijikkan” itu, dan tanpa kamu ketahui, sebenarnya kata itu sendiri melukai hati orang lain.

Dan, hati “orang lain” itu adalah aku.

Mungkin sebenarnya kamu membenciku dari dalam lubuk hatimu. []

23 Agustus 2016, Rancaekek
Malam hari yang biasa-biasa saja.

3 thoughts on “[Fiksi] Sebuah Kata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s