#UruuchanBaca The Face Thief by Eli Gottlieb [Oktober 2015 #4]

Akhirnya aku kembali lagi kepada jalan yang benar. Hahahaha. Bukan. Lebih tepatnya, akhirnya aku kembali lagi pada niatan awalku untuk membaca “buku-buku gelap” (setelah sebelumnya ter-distract oleh buku Forgiven secara sukarela) Tanpa pikir panjang, aku memilih buku “The Face Thief” dari Eli Gottlieb. Kalau diterjemahkan, bukankah akan menjadi “Pencuri Wajah”? Menarik sekali :)

Aku jadi tidak sabar untuk mengetahui maksud dari kata “Pencuri Wajah” itu seperti apa. Dan ini adalah buku bergenre thriller-psikologis kedua yang kubaca setelah The Girl On The Train di bulan Oktober 2015 ini.

***

nuii4u-novel the face thiefJudul : The Face Thief
Penulis : Eli Gottlieb
Penerjemah : Sri Noor Verawati
Penerbit : Alvabet
Tahun 2012
300 hlm.
— beli di pameran buku JABAR di Landmark Braga
— koleksi novel pribadi ke-468

Dari sinopsis yang aku baca dari bagian belakang buku ini, sepertinya The Face Thief menjanjikan “sebuah thriller-psikologis yang menguncang-guncang” dan aku terbujuk kata-kata itu :”) Lagipula, aku memang sedang mencari buku-buku dengan genre seperti itu, makanya ketika menemukan buku ini secara tidak sengaja di pameran buku, aku langsung ingin membacanya.

#1 Kenapa uruuchan beli buku ini?

Waktu aku berada di pameran buku di Landmark Braga Bandung, aku mampir ke stand penerbit Alvabet. Penerbit Alvabet itu mengingatkan aku pada beberapa buku yang ku punya, yang berjudul “The Man Who Loved Books Too Much” dan “Mengembangkan Ruang Baca”. Kedua buku tersebut diterbitkan oleh penerbit Alvabet. Karena teringat kedua buku itu, aku jadi mampir ke stand ini.

Aku cuma mampir untuk lihat-lihat. Seriusan. Tapi saat itu, secara tidak sengaja, aku menemukan buku ini, The Face Thief. Hal pertama yang kuperhatikan adalah : “Whoa, covernya simple tapi menarik”. Jadi, hal pertama yang kulihat dari buku ini adalah kesan yang menurutku kelam karena nuansa abu-abunya, dan misterius karena covernya hanya berisi seorang gadis dibalik tembok yang sedang mengulurkan tangannya.

Yang kedua, adalah sinopsisnya sendiri. Sinopsisnya begitu menjanjikan, dan membuatku cukup penasaran. Gara-gara penasaran itulah, aku membeli buku ini -yang ngomong-ngomong dengan harga 33000 saja. Kebetulan juga, karena akhir-akhir ini aku sedang menyukai buku-buku bergenre thriller-psikologis atau mental illness, saat aku menemukan buku ini di stand penerbit alvabet, langsung aku beli. ^^

Dan ngomong-ngomong, ini adalah pertama kalinya aku membaca buku karya Eli Gottlieb, jadi aku penasaran akan seperti apa gaya penulisannya. :)

#2 Kesan uruuchan terhadap buku ini?

[Perhatian : mungkin tulisan dibawah ini mengandung spoiler]

Sekilas buku ini terlihat tipis ya, jadi kupikir aku bisa menyelesaikan buku ini lebih cepat. Tapi ternyata… Kelihatan tipis karena kertas yang digunakan juga tipis, dan… Layoutnya. Phew, lumayan rapat. :”)) Jadi rasanya ketika aku membaca buku ini terasa lumayan “lelah”. Kupikir akan lebih baik jika jarak antar barisnya diberikan sedikit ruang lebih banyak lagi (tapi bukankah itu hanya akan membuat halamannya bertambah banyak? Yang artinya menambah biaya produksi?) Hmmm…

Sejujurnya, aku tidak terlalu berkonsentrasi saat membaca buku ini. Seingatku, aku membaca buku ini pada pagi hari dan kuselesaikan buku ini di malam hari pada hari yang sama -begitu cepatnya. Aku takut menunda buku ini dipertengahan, yang malah pada akhirnya tidak akan kubaca sama sekali. Jadi, aku berusaha menuntaskan buku ini, walaupun aku membacanya dengan tempo agak cepat.

Aku agak bosan pada awal-awal cerita, karena Eli menuliskan dengan begitu detail; pikiran para karakternya, perasaan para karakternya. Mungkin karena “si detail” ini sudah ditunjukkan di awal-awal, akhirnya aku merasa bosan juga. Dan mungkin juga, karena pada saat awal-awal aku merasa kebingungan dengan perubahan sudut pandang yang tidak kumengerti (dan kusadari pada saat itu).

Tapi segera saja, kebosanan itu tidak lagi kurasakan saat aku mulai memahami alur ceritanya, dan terbiasa dengan perubahan sudut pandang itu. Aku bahkan mulai menduga-duga kemana cerita ini akan dibawa pergi? Akan seperti apa cerita ini berakhir? Aku jadi penasaran. :)

Aku yakin deh, bagi sebagian orang yang tidak menyukai buku dengan “terlalu banyak detail cerita”, mereka akan dengan cepat mudah bosan. Padahal dibalik detail cerita itu… Setelah kamu mencoba bertahan dengan detail itu, dan perlahan-lahan memahaminya, kau akan menemukan sebuah cerita yang hebat dibaliknya! Seperti itulah yang kupikirkan, dan seperti itulah The Face Thief ini.

“Novel ini bertutur ihwal misteri Margot yang karismatik. Dengan pengalaman studi seni China kuno tentang membaca wajah, dia ahli membaca karakter orang serta dengan keterampilan luar biasa mampu mengubah wajahnya sesuai dengan situasi sosial apa pun. Dengan kemampuannya itu, dia menjelma menjadi bidadari penuntut dendam. penghancur pernikahan, dan bahkan penguras rekening bank.

Apa yang mendorong Margot untuk menipu dan memperdaya? Dengan plot maju-mundur, The Face Thief melukiskan potret masa kecil Margot yang keras dan korban-korban masa dewasanya; seorang ramah yang baru menikah, yang terpikat oleh penipuan; guru terhormat yang dikalahkan oleh muridnya yang paling berbahaya; dan polisi berhati baik yang tersandung keyakinannya akan penyelamatan.”

Ada tiga cerita yang terdapat dalam buku ini, dan semua itu sudah tertuang di bagian sinopsis. ^^ Cerita-cerita tersebut dituturkan oleh orang-orang yang berbeda, nah itulah yang kusebut tadi “perbedaan sudut pandang” yang awalnya sempat membingungkanku. Misalnya pada saat awal-awal, ceritanya dituturkan dari sudut pandang Margot, lalu pada bab selanjutnya, cerita berpindah dan dijelaskan melalui karakter baru, yaitu Lawrence (yang ngomong-ngomong, aku sempat menduga bahwa dia adalah perempuan, ternyata dia itu laki-laki. Namanya membingungkan ya :’D hahahaha) dan itu dilakukan tanpa ada penjelasan atau pemberitahuan sebelumnya. Wkwkwkwk. Membaca buku ini memang dibutuhkan konsentrasi yang ekstra, tetapi aku mengabaikannya :”D

Dan begitulah… Ada tiga karakter yang akan menjelaskan cerita mereka masing-masing secara bergiliran, dan kesemuanya menyangkut tokoh utama kita, Margot. Ada Lawrence, Potash, dan Margot sendiri.

Si Lawrence ini adalah “guru terhormat yang dikalahkan oleh muridnya yang paling berbahaya”. Nah kalian sudah bisa menebak siapa “muridnya yang paling berbahaya” ini, kan? ;) Ngomong-ngomong, dari semua cerita, aku memfavoritkan cerita si Lawrence ini. Karena pada saat giliran si Lawrence bercerita, aku mendapatkan banyak sekali pelajaran -well, yang memang pelajaran. Lawrence ini bisa membaca karakter seseorang berdasarkan karakteristik wajahnya, dan itulah yang dia ajarkan kepada Margot. Dan aku sebagai pembaca juga menyimak betul pelajaran yang dia berikan. Rasanya menarik sekali apa yang dia ajarkan itu, aku jadi ingin betul-betul mengetahui lebih jauh tentang seni membaca wajah ^^ Yah, setengah bagian pada saat Lawrence bertutur itu adalah bagian favoritku, sementara itu setengahnya lagi jadi agak membosankan karena dia tidak lagi memberikan “pelajaran-pelajaran” yang kubutuhkan itu, wkwkwkwk *alasan macam apa itu*

“Gerbang Emas.” Ia berdiri dan menulis kata-kata tersebut di papan tulis, kemudian berbalik kepadanya. “Ini adalah kunci interval sepuluh detik saat kau bertemu seseorang untuk pertama kalinya dan mereka membentuk kesan pertama yang abadi tentangmu. Gerbang ini diseberangi dengan kepercayaan, dihalangi oleh ketakutan, dan bisa diatasi -seperti kasus kebanyakan,” Lawrence menatap Margot dari bagian atas kacamatanya–“oleh keinginan.” -hlm. 39

“Untuk membuka kunci gerbang itu,” lanjutnya, “kita dibimbing oleh karakteristik kita masing-masing. Beberapa orang visual, beberapa lagi emosional dan intelektual, dan beberapa -jika kita percaya pada saudara-saudara kita yang beraliran esoterik- ada karakteristik yang lebih halus dari itu.” -hlm. 39

“Dan tahukah anda bahwa tujuh puluh persen dari kesan yang kita buat adalah nonverbal? Dan di atas itu” -ia menegakkan badannya-“hal yang paling tidak bisa diandalkan di dunia ini adalah informasi yang keluar dari mulut seseorang?” -hlm. 7

“Tapi kalau mereka sedang mengingat sesuatu yang pernah mereka dengar, misalnya sebuah lagu lama, mereka akan melihat ke arah kiri dan memiringkan kepala seolah sedang mendengarkan sesuatu. Kalau mereka sedang mengingat sebuah perasaan, misalnya saja sensasi fisik atau emosi, mereka akan menatap ke kanan bawah. Sedangkan orang yang sedang berbicara dalam hati akan melihat ke kiri bawah. Semua ini seperti diagram arah. Dan kenapa ini penting?” -hlm. 57

“Ini penting karena kalau kita tahu apakah seseorang biasa berpikir dalam bentuk gambar, atau kata-kata, atau perasaan, maka kita akan berada lebih dekat dengan titik keputusan mereka, jadi kita bisa membuat prediksi tindakan mereka berikutnya dengan lebih baik. Bahkan manfaat terkecil pun lebih baik daripada tidak ada sama sekali.” -hlm. 57-58

Lalu kemudian ada Potash. Bisa kau tebak, Potash ini korban Margot yang mana? Potash ini “seorang ramah yang baru menikah, yang terpikat oleh penipuan.” Sejujurnya, aku merasa lucu ketika membaca nama Potash, entah kenapa mengingatkanku kepada “Potato” *beda jauh uruuchan –” maksa banget wkwkwk* Bagaimana untuk menjelaskan kisah Potash ini, ya? Sejujurnya, aku merasa sangat bersimpati sekali kepada Potash, karena dia adalah korban penipuan yang dilakukan oleh Margot. Adegan yang membuatku semakin ingin memeluk Potash adalah pada saat dia pulang ke rumah Ibunya, ya ampun… Rasanya sedih sekali… Ibu itu ya, selalu bisa diandalkan bahkan pada saat kita berada di keadaan tersulit sekalipun :”) Cerita Potash ini adalah cerita yang membuat hatiku tersentuh… Hubungannya dengan Ibunya, dengan istrinya yang baik, dengan temannya yang bisa diandalkan. Aku suka Potash!

Dan terakhir ada tokoh utama kita, Margot. Margot mengenang masa lalunya pada saat dia sedang berbaring di ranjang rumah sakit. Katanya dia terjatuh dan mengalami beberapa cedera. Katanya juga dia jadi hilang ingatan *who knows? hahahaha* *kita tidak boleh mempercayai Margot lagi* dan di rumah sakit inilah dia bertemu Dan France. Nah, kalian bisa menebak yang satu ini, kan? Siapa Dan Frank dalam The Face Thief ini? Dia adalah “polisi berhati baik yang tersandung keyakinannya akan penyelamatan.” Baca sendiri deh bagian ini, rasanya aku masih kebingungan juga :’) Aku merasa tidak mengerti apa motif sebenarnya dari si Dan France ini. *sigh*

Endingnya! Oh aku sangat tidak menyangka endingnya akan seperti itu… Terus terang, aku tidak puas dengan endingnya :( Kupikir akan terjadi sesuatu, tapi aku tidak mengharapkan ending ITU untuk terjadi, terutama untuk Margot –” Rasanya dia tidak pantas mendapatkan “kehidupan” yang seperti itu, aku tidak suka :( Tapi mau bagaimana lagi? Mungkin Eli menganggap ending ini adalah ending yang baik untuk semua karakter-karakternya; untuk Lawrence, Potash, dan Margot.

Sejujurnya, The Face Thief ini adalah buku yang ditulis dengan apik. Ditulis dengan padat juga. Alurnya ditulis maju-mundur, yang memungkinkan kita mengetahui alasan kenapa Margot senang memperdaya seseorang; mengetahui alasan Margot berbuat seperti itu. Perasaan setiap karakternya detail sekali, dan aku sangat kagum kepada Eli Gottlieb. Aku juga ingin bisa menulis seperti itu :’)

#3 Jadi, Uruuchan suka sama buku ini?

Sepertinya aku harus menarik kembali ucapanku bahwa buku ini membosankan untuk dibaca. Tidak! Itu salah! Buku ini menarik sekali untuk dibaca. Terutama untuk bagian mengetahui perasaan setiap karakter-karakternya; Lawrence dan Potash.

Kalian yang tidak terbiasa dengan penggambaran perasaan karakter yang begitu detail, mungkin akan menganggapnya sebagai sesuatu yang bertele-tele. Pada akhirnya kalian akan merasa bosan. Padahal… Seperti yang sudah aku tuliskan sebelumnya, detail-detail itu akan membangun sebuah cerita yang… Menakjubkan! Ada sebuah cerita keren yang menunggu dibalik detail-detail itu. Kalian hanya harus “bertahan” dengan itu. Seriusan. *pengalaman pribadi banget, yah. wkwkwk*

Dan… Bonus. Aku juga ingin merekomendasikan buku ini buat kalian yang ingin tahu sekilas tentang membaca karakter seseorang berdasarkan wajahnya. Keren, lho!

#4 Last! Tuliskan apapun di sini!

Ternyata penerbit Alvabet berpotensi untuk menjadi sebuah penerbit yang bagus dan besar! Karena sejauh ini, buku-buku yang aku miliki dari penerbit Alvabet itu bagus-bagus semua, mulai dari : The Face Thief, The Man Who Loved Books Too Much, juga Mengembangkan Ruang Baca (non-fiksi). Semuanya buku yang menarik di mataku! ^^ Aku jadi ingin melihat-lihat buku lainnya dari penerbit Alvabet ^^

Dan terima kasih penerbit Alvabet, karena sudah menerjemahkan dan menerbitkan buku The Face Thief ini :)

Terakhir, aku ingin berbagi bagian (ter)favoritku dari buku ini :

“Kau beruntung karena kau memiliki cinta sejati, John. Dan berapa banyak orang yang pernah memiliki itu? Kau pikir ayahmu dan aku memiliki itu? Tidak, kami tidak memilikinya.”

“Ini semua terdengar sangat manis, tapi sungguh–“

“Romantisme”–ibunya menerawang kosong ke belakang kepala Potash dan ke arah tengah, tempat memori lama tersimpan–“tidak ada dalam menu ayahmu dan aku. Oh, ada sedikit mungkin, di awal-awal dulu. Lagi pula, harus selalu ada alasan untuk terus bersama. Tapi hidup menghanyutkannya dengan sangat cepat dan mematikan seluruh api romantisme itu, ya, memang begitu. Seorang guru yang jahat, kehidupan itu. Dan dia terus mengulangi pelajaran yang sama hingga kau menyerah kalah.”

“Bu,” ucap Potash.

Dengan sangat hati-hati sang Ibu menatap Potash lekat-lekat dengan mata hijau buramnya. “Keceriaan telah hilang dari dunia,” lanjutnya, “dan menurutku bukan karena aku yang makin bertambah tua. Lihatlah ke sekitarmu. Perang, iman yang buruk, bahaya yang mewabah bagaikan penyakit -aku senang aku bukan anak muda zaman sekarang. Tapi kau memiliki pernikahan yang baik, John. Itu yang aku tekankan. Pernikahan seperti itulah yang tidak boleh kau tinggalkan begitu saja hanya karena kau kehilangan uangmu. Terutama di zaman dan masa seperti sekarang.” -hlm. 278

Yang harus kita ingat, bahwa kita juga punya keluarga yang baik di sekeliling kita :) Bukankah itu yang patut kita syukuri setiap hari? :”)

Salam hangat,
@uruuchan

p.s : aku sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca! seriusan! buku ini keren, lho!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s