Mengambil Keputusan Itu Sulit | Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati

Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati
Juni – Juli 2016

MINGGU KETIGA
(15 – 17 Juni 2016)

Aku sudah banyak mengambil pilihan minggu ini. Dan aku juga banyak memutuskan sesuatu; yang mana aku tidakbaik dalam melakukannya. Bagi kalian yang pernah berinteraksi denganku, kalian pasti tahu. Aku sulit sekali mengambil pilihan, dan memutuskan sesuatu. Kalau aku disuruh melakukannya, aku pasti selalu mengatakan “bebas saja”, atau kalau memang aku ‘harus banget’ mengambil keputusan, aku pasti butuh waktu lama untuk memutuskannya. Aku cenderung mempertimbangkan banyak hal. Aku tidak tahu ini baik atau buruk untukku, tapi rasanya aku sudah hidup cukup lama dengan diriku yang seperti itu.

nuii4u-confused girl
Source : here

Kalau aku hendak merencanakan dan memutuskan sesuatu, aku harus menyiapkan ‘segala’ halnya jauh-jauh. Misalkan, ada kabar buka bersama. Nah, setidaknya aku harus mengetahui kabar buka bersama itu seminggu sebelumnya, setelah itu aku dapat menyiapkan perasaanku (menata perasaanku) untuk pergi ke sana. Itu semacam kebiasaan, menurutku. Dan ketika misalnya kabar itu datang hanya beberapa hari sebelum acara, kupikir aku selesai. Pikiranku akan kusut, dan perasaanku akan berbelit-belit, dan selesailah aku. Lebih baik aku tidak datang ke acara buka bersama itu daripada aku datang ke sana dengan perasaan yang aku sendiri tidak bisa mengendalikannya dan mendefinisikannya. Seperti itulah aku.

Sepertinya, dalam Jurnal Bulan Ramadhan tahun ini, aku terlalu banyak membuka diriku sendiri ya. Hehehehe. Tidak apa. Aku baik-baik saja. Ini salah satu langkah kecil yang aku lakukan untuk ‘lebih mengenal diriku’ sendiri :”)

Nah, dalam minggu kedua ini, aku sudah banyak mengambil keputusan. Salah satunya adalah pengajuan dosen pembimbing skripsi untuk semester depan. Ya Tuhan… Aku masih belum percaya kalau semester depan aku akan melakukan skripsi. Rasanya masih belum percaya. Seriusan. Dan, entah kenapa aku merasa masih belum siap… Dan, ah begitulah. Tapi sebaiknya aku menyiapkan diri seiring dengan berjalannya waktu. ^^ Teman-teman, doakan untuk kemudahan dan kelancaran proses bimbingan skripsi aku nanti :)

Hmmm…. Aku juga mengembalikan buku yang sudah aku pinjam dari suatu perpustakaan hehehe. Tahu tidak? Saking lamanya aku meminjam buku itu (sudah lebih dari tanggal yang ditentukan) aku sampai berniat untuk tidak mengembalikannya saja :( Tapi, kemudian aku memikirkan perasaanku jika ada seseorang yang meminjam buku milikku, dan tidak mengembalikannya. Sedih banget. Selama apapun dia meminjam, itu tidak apa. Asalkan dia “merawat” buku itu, dan mengembalikannya kepadaku, itu sudah cukup. Nah, masalahnya buku yang aku pinjam itu… Ah sudah lah. Yang penting, akhirnya aku memutuskan untuk mengembalikan buku itu setelah di SMS sama pemilik buku itu >.< Aku memberanikan diri pergi ke sana, dan membayar denda yang sudah ditentukan. Aku lega. Aku mengambil keputusan yang benar dengan mengembalikan buku itu. Dan tau tidak? Aku meminjam buku lain dari perpustakaan itu hehehehe.

Uh… Sebenarnya aku juga ingin menceritakan ketertarikanku pada salah satu boygroup dari Korea >.< Aku terobsesi dengan mereka! Kupikir ini sudah berlangsung sejak minggu kedua? Atau ketiga? Ah, aku tidak tahu. Aku ketagihan mendengarkan lagu-lagu mereka, dan mencari tahu tentang mereka >,< Tapi mungkin nanti aku akan menceritakannya dalam postingan yang berbeda. []

p.s : #nowplaying Perfect Girl by Monsta X

2 thoughts on “Mengambil Keputusan Itu Sulit | Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati

  1. Mungkin kamu ga akan percaya ini (karena rada bertentangan sama aturan pemrograman if, then) tapi ada banyak kasus ketika ada dua orang yang sama-sama milih satu keputusan yang sama, yang nasib mereka (menyangkut pilihan itu) tetap berakhir jauh berbeda.

    Dari pengalamanku, yang di akhir nentuin sealanya seriusan adalah niat.

    Jadi IMO, apapun keputusan yang kamu pilih ntar bisa sama aja hasilnya. Sebab di dunia ini ada sesuatu yang namanya ‘the illusion of choice.’ Jadi jangan terlalu musingin kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi.

    Yang pada akhirnya ngebedain segalanya adalah niat.

    1. Setelah dibaca berkali-kali, kupikir apa yang kamu katakan itu bener. Sering aku denger dari orang-orang, kalau yang ngebedain segala sesuatu adalah niat.

      Mungkin, ini udah jadi bagian dari cara hidup yang susah buat diubah. Kalau pun diubah, rasanya takut… Takut tidak bisa menghandle apapun yang akan datang. Katakanlah pengecut, atau mungkin terlalu nyaman dalam kotak yang sudah dibuat di sekeliling. Atau… Memang karena takut.

      Susah jika sesuatu datang mendadak, dan kalau sudah begitu, rasanya seperti aku akan melakukan suatu kesalahan yang kelak akan aku sesali nanti.

      Ngomong-ngomong, terima kasih karena sudah berkunjung dan berkomentar :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s