Pikiran-Pikiran Terdalam | Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati

Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati
Juni – Juli 2016

MINGGU PERTAMA
(6 – 7 Juni 2016)

Dua tahun yang lalu, aku mulai menulis jurnal bulan Ramadhan ini. Tiap-tiap hari yang kulalui di bulan Ramadhan, aku menuliskannya di sini; tentang apa yang aku lakukan, buku yang kubaca, perasaanku, dan masih banyak lagi. Sekarang, aku bisa melihat kembali ke dua tahun yang lalu, saat bulan Ramadhan. Kuputuskan aku juga akan menuliskannya kembali tahun ini, memulai kembali jurnal bulan Ramadhan ^^

Kalau dua tahun yang lalu, bulan Ramadhan kegiatan di kampus sudah benar-benar diliburkan, tahun ini kegiatan di kampus masih berlangsung. Bahkan pada dua minggu pertama, kegiatan di kampus masih berjalan. Di minggu kedua, aku akan menjalani Ujian Akhir Semester.

Rasanya agak aneh juga sih, berkegiatan di kampus saat bulan Ramadhan. Tapi justru menyenangkan juga, bisa melihat kampus ‘edisi Ramadhan’, terutama pada saat menjelang magrib. Wah, sekitaran kampus jadi tempat ngabuburit! Banyak pedagang-pedagang menjajakan segala macam makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Pokoknya, ramai!!

Kadang aku memikirkan apa yang dirasakan oleh anak rantau. Bulan Ramadhan buatku adalah saat dimana aku dan keluarga bisa berkumpul bersama di meja makan. Anak rantau… bagaimana perasaan mereka saat tidak bisa berkumpul bersama keluarga pada bulan puasa seperti ini, ya? Pasti rasanya sepi… Kalau aku ada di posisi mereka, sanggupkah aku? Selama 20 tahun hidupku, aku tidak pernah pergi jauh dari rumah dan kedua orangtuaku. Paling-paling saat KKN tiba, itu pun hanya satu bulan saja… Tetapi, waktu itu aku merasa bahwa hidup jauh dari kedua orangtua tidak terlalu buruk juga. Tidak seburuk yang aku pikirkan. Mungkin itu karena ada banyak teman-teman yang menemani sewaktu aku KKN, sehingga aku bisa melupakan perasaan sepi dan jauh dari orangtua itu. Teman-teman dari desa setempat khususnya (desa Pinangraja, Jatiwangi, Majalengka) Itu salah satu kenangan terindah dalam hidupku :)

Sejujurnya, pada bulan Ramadhan tahun ini, aku merenungkan banyak hal. Dan, aku tidak pernah membicarakannya pada orang lain, tidak bahkan pada kedua orangtuaku. Aku menyimpan sendiri pikiran-pikiran terdalamku dan renungan-renungan itu. Aku sangat ingin menceritakannya pada orang lain, tapi aku benar-benar mencari ‘orang yang tepat‘ untuk ku beri tahu mengenai isi pikiranku. Aku belum menemukan orang tersebut.

Suasana Ramadhan tahun ini, buatku, agak terasa sendu. Mungkin karena aku berpikir tentang banyak hal. Segalanya. Di bulan Ramadhan ini, entah kenapa aku benar-benar ingin terhubung kembali dengan Allah. Rasanya seperti sudah sangaaaaaaat lama sekali aku ‘sedikit’ melupakan Allah dalam hidupku, dan karena hal itu, hidupku jadi hampa, kosong, dan berantakan. Aku ingin kembali dekat dengan-Nya. Aku ingin bercerita kepadanya mengenai apa yang aku rasakan tentang beberapa bulan terakhir. Mungkin, aku hanya ingin mengeluh kepada-Nya untuk meringankan perasaan berat di dada yang sudah ada sejak lama ini. Tidak banyak orang yang bisa kuajak untuk mendengarkan ceritaku, tapi aku yakin Allah selama ini menungguku untuk bercerita kepada-Nya. Allah menungguku untuk mengingat-Nya. Maka dari itu, bulan Ramadhan tahun ini, aku ingin memperbaiki banyak hal. Dan aku sedang berusaha.

Ada banyak kesalahan yang aku lakukan dalam hidup. Banyak sekali. Dan aku menyesal. Tapi, entah kenapa aku mengulanginya lagi. Kemudian menyesal lagi. Terkadang aku tidak mengerti dengan diriku sendiri; apa yang sebenarnya aku inginkan? Apa yang tengah aku cari?

Mungkin, aku sedang mencari cara untuk memaafkan diriku sendiri. Untuk semua kesalahan yang pernah aku lakukan, untuk menerima segala kekurangan yang ada pada diri sendiri. Untuk mencintai diri ini. Selama ini… Selama ini, aku sering sekali menyakiti diriku sendiri. Terkadang, aku menyiksa diriku sendiri dengan hukuman yang aku buat sendiri. Rasa bersalah misalnya. Itu… Itu sangat menyiksa.

Ada saat-saat di mana aku membenci pikiranku sendiri. Aku benci dengan diriku yang terlalu dalam memikirkan sesuatu. Aku jatuh dan tenggelam dalam pikiranku sendiri, dan aku tidak tahu bagaimana caranya kembali ke permukaan. Rasanya menyesakkan dan menyiksa. Aku menyakiti diriku sendiri dengan pikiran-pikiran yang ku buat, dan rasanya… Tak ada yang lebih sakit daripada hal itu. Mungkin.

Mungkin yang kubutuhkan sesederhana pelampiasan. Atau semacam pendengar. Untuk membiarkan perasaanku tumpah ruah sampai pada inti diriku, sehingga aku bisa kembali menjadi diriku sendiri, tanpa ada penyesalan yang tersisa di dalamnya. Sesederhana itu. Pelampiasan dan pengakuan. Aku butuh dimaafkan. Dan memaafkan. Nyatanya itu tidak sesederhana yang dituliskan.

Tapi, itulah yang sedang aku usahakan di bulan Ramadhan tahun ini. Seperti yang sudah aku tuliskan sebelumnya, aku ingin memperbaiki banyak hal. Prioritasku saat ini adalah mendekatkan diri kepada-Nya.

Ternyata, “memeluk diri sendiri” itu sulit ya… Untuk menerima diri sendiri apa adanya; memaafkan dan menerima itu sulit. Karena ada saja penyesalan penyesalan yang mungkin menurut kita, sulit untuk dimaafkan. Kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan, yang menurut kita tidak pantas untuk dimaafkan. Pasti sulit.

Tapi, itu kan yang menjadi intinya? Memaafkan.

nuii4u-forgive
Source : weheartit


Semoga, pada bulan Ramadhan tahun ini, aku bisa memaafkan diriku sendiri, dan menerima diriku seutuhnya. Aamiin. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s