Halo. Kalian sedang bersama Malice yang hari ini tengah berbohong kepada dirinya sendiri. Dan mungkin kepada beberapa orang yang terdekat dengannya.

Mungkin dia tengah mengusir jauh orang-orang yang mempercayai dirinya. Padahal orang yang mempercayai dia itu hanya sedikit lho, kalau kalian ingin tahu. Dia sedang menggali lubang kuburannya sendiri.

Ini adalah kebohongan kesekian kalinya yang sudah dia lakukan. Percayalah. Semakin kamu sering berbohong, kamu akan lebih mudah untuk melakukan kebohongan lainnya. Dan lahirlah kebohongan-kebohongan berikutnya, dan orang-orang yang mempercayainya mulai mempertanyakan apakah yang dia katakan itu benar atau tidak. Setidaknya, mereka masih tidak tahu bahwa dia tengah berbohong. Mereka mempercayai kebohongannya.

Malice berbohong kepada orang-orang yang percaya kepadanya. Malice juga berbohong kepada orang yang paling dia kasihi, karena dia tidak mau orang itu kecewa terhadap dirinya. Maka, untuk menutupi kebohongan yang sudah dia lakukan, dia menutupnya dengan kebohongan lainnya.

Malice tahu ini tidak benar. Yang dia lakukan sama sekali tidak benar. Tapi Malice tidak kuasa untuk menghentikannya. Atau dia memang tidak mau menghentikannya.

Malice kecewa. Malice marah. Malice benci. Malice jijik terhadap dirinya sendiri.

Dia tahu, apa yang dia lakukan saat ini akan membuatnya sendirian. Akan semakin sedikit orang yang mempercayai dirinya. Akan semakin sedikit orang yang akan bersimpati terhadap dirinya. Akan semakin sedikit orang yang akan peduli terhadapnya. Dia tahu resiko dari kebohongan yang tengah dia lakukan.

Selama semua itu belum terjadi, dia tidak peduli. Selama mereka tidak tahu akan kebohongan yang dia lakukan, atau saat mereka akhirnya memahami dan mengerti alasan mengapa ia melakukan kebohongan-kebohongan ini (yang kemungkinan tidak akan terjadi dalam hidupnya) ia akan tetap bertahan. Meskipun ia harus berbohong lagi dan lagi.

Asalkan saat ini dia merasa aman.

Ini semua tentang dirinya sendiri. Yang dia pedulikan adalah keamanan dan kenyamanan yang dia rasakan untuk dirinya sendiri, tak peduli bahwa itu akan kembali menyakitinya suatu hari nanti, yang penting adalah bahwa “saat ini” dia merasa aman.

Apakah saat ini Malice merasa aman?

Ya. Saat ini Malice merasa aman. Dia berada di dalam ruangan kecilnya yang nyaman, dan hangat. Untuk saat ini, dia aman.

Tapi, mungkin Malice akan bertanya-tanya… Sampai kapankah rasa aman ini akan berlangsung? Berapa lama kenyamanan ini akan bertahan? Sepertinya dia harus mempersiapkan kebohongan-kebohongan lainnya. Dan ditengah perasaan aman itu, pikiran Malice berusaha keras untuk memikirkan kebohongan apa lagi yang harus dia lakukan untuk menutupi kebohongan yang dia lakukan jika suatu hari nanti kebohongan itu akan terungkap.

Malice lelah terus menerus berbohong. Berbohong itu sangat melelahkan, dan menguras pikiran. Tapi Malice tidak bisa berhenti. Dia tidak bisa berhenti berbohong. Karena, apa jadinya ia, jika ia tidak berbohong? Dia harus melakukannya. Untuk dirinya sendiri.

Kebohongan itu juga, dia lakukan agar dia tidak menyakiti hati orang-orang yang dia kasihi. Dia berbohong untuk dirinya sendiri, kemudian dia berbohong kepada orang yang dia kasihi agar orang itu tidak kecewa terhadap dirinya.

Malice berpikir, sudah berapa banyak kebohongan yang dia lakukan?

Bukan hanya terhadap orang lain, tapi terhadap dirinya sendiri? Sudah berapa banyak, dan sudah berapa lama?

Tidakkah Malice merasa lelah, dan ingin berhenti?

Malice… Malice ingin kembali ke kehidupannya yang dulu. Di mana mengatakan kejujuran adalah hal termudah yang dapat ia lakukan. Sekarang mengatakan kejujuran adalah hal tersulit yang dia lakukan. Di mana Malice yang dulu?

Dengan melakukan hal ini… Malice tahu, tidak akan ada lagi orang yang akan mempercayai dirinya. Tidak satu orang pun kecuali dirinya sendiri. Itu bukan salah siapapun. Malice harus mengingat ini baik-baik untuk dirinya sendiri, bahwa jika suatu hari nanti orang-orang tidak lagi mempercayai dirinya, itu bukan salah siapapun. Itu adalah salah dia sendiri. Dia yang menanggung akibatnya. Dia yang melakukannya. Itu karena kebohongan-kebohongan yang dia ciptakan untuk dirinya sendiri, untuk memberinya rasa aman yang sementara.

Dia harus mengingat hal ini baik-baik, agar jika hari itu datang, dia tidak akan merasa terlalu kecewa dan merasa sedih. Dia tidak akan terlalu terluka. Dia pasti bisa mengatasinya.

Malice juga berpikir, jika dia mengutarakan kejujuran yang selama ini dia pendam dalam-dalam, maukah mereka mengerti? Maukah mereka memahami, tanpa bermaksud menghakimi apa yang telah dia lakukan?

Pikiran bahwa mereka tidak bisa dan tidak akan bisa menerima, begitu menakutkan untuk Malice. Bayangan itu seperti mimpi buruk, dan Malice tidak mau mengalaminya. Maka, memang berbohonglah yang terbaik untuk saat ini.

Sekali lagi, dia akan merasa aman untuk saat ini.

Tak perlu memikirkan masa depan akan seperti apa, dan bagaimana. Malice pasti bisa menghadapinya. Apapun yang akan terjadi, resiko yang akan muncul dari kebohongan yang sudah dia lakukan, dia pasti bisa menanggungnya. Karena ini bukan pilihan orang lain, ini adalah pilihan yang dia ambil untuk dirinya sendiri.

Maka, kebohongan seperti apa yang akan Malice lakukan selanjutnya? []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s