Aku Cuma Ingin Bernapas

Kuliah teh gini-gini amat ya. Itulah yang muncul dalam pikiranku selama beberapa minggu terakhir.

Aku jadi teringat sama perkataan dosenku, “Yah kalo gamau banyak tugas, jangan kuliah! Suruh siapa ingin jadi Mahasiswa.” Terkesan bercanda, tapi aku memaknainya dengan sungguh-sungguh.

Jadi, permasalahannya adalah ada pada tugas kuliah itu sendiri. Aku mengingatkan diri sendiri untuk tidak mengeluh. Jangan mengeluh. Jangan banyak komentar. Kerjakan saja. Dan hal-hal sejenis lainnya. Tapi tetap saja pikiranku akan bermuara lagi pada, “Kuliah teh gini-gini amat ya….”

Yah… Kalau tidak ingin kuliah. Mau jadi apa? Aku hidup di tengah lingkungan dan keluarga yang berpikir bahwa gelar itu menjadikan kamu “seseorang.” Gelar itu bagus. Kalo kamu tidak punya gelar, akan sulit dapat pekerjaan.

Aku tidak berpikir keuntungan dari mendapatkan gelar itu apa. Kalau memang memiliki gelar akan mempermudah mendapatkan pekerjaan, ya itu bagus. Baguslah, seperti itu.

Well, setidaknya aku harus berterima kasih kepada kedua orangtuaku untuk menguliahkanku di salah satu perguruan tinggi cukup terkenal di Indonesia.

Yang kudapatkan dari prosesku selama berada di sini, aku merasa menjadi lebih sedikit berpengetahuan daripada aku yang sebelumnya setelah masuk kuliah. Hanya itu yang penting untukku, dan bermakna bagiku. Gelar? Tidak terlalu. Tapi aku merasa belum menjadi “seseorang” setelah masuk kuliah. Belum. Mungkin nanti saatnya. Semoga.

Hanya saja… Aku merasa tidak adil…

Kenapa orang-orang begitu menuntut? Kenapa tidak saling menghargai saja?

Harus pintar berhitung.
Harus pintar berbicara.
Harus pintar,
Harus pintar,
Harus pintar!!!

Kenapa kita tidak saling memahami, mendengarkan, mengerti, dan menghargai kelebihan masing-masing? Untuk tidak saling menuntut. Tapi lebih kepada mendengarkan, memahami, dan menghargai.

Tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik. Tak ada ruang untuk kesalahan. Kesalahan terjadi, dan selamanya akan menjadi buruk. Tak ada upaya untuk mendengarkan. Mereka hanya ingin kau bisa ini, kau bisa itu. Dan, kamu tidak diberikan kesempatan untuk mengatakan bahwa “aku kurang mengerti” dan “aku belum terlalu paham”. Tidak ada waktu itu hal-hal semacam itu.

Aku hidup di tengah lingkungan yang seperti itu. Dan aku tidak tahu harus berbuat apa.

Aku bukan mengemukakan omong kosong! Aku hanya ingin saling menghargai sifat dan karakteristik seseorang. Individual yang unik. Berkembang. Saling menghargai.

Tugas-tugas yang diberikan sejauh ini, tidak menghargai karakteristik seseorang. Pengelompokkan. Kesamaan. Sama rata. Tidak ada ruang untuk sedikit keluhan dari diri sendiri. Kesempurnaan yang seperti pedang bermata dua.

Ah entahlah. Aku ini berbicara apa. Mungkin sedikit cerita dibawah tekanan tugas kuliah yang bertubi-tubi, menyebabkan aku berbicara lain dari biasanya. Atau mungkin ini memang ini realita yang kurasakan? Aku tidak tahu.

Aku cuma ingin bernapas. Itu saja. []

4 thoughts on “Aku Cuma Ingin Bernapas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s