Pada Usia 20 Tahun, Aku Ingin Menjadi…

nuii4u-i wanna be
Source  : galaxysoul3@tumblr via mryehet_ohorat@weheartit

 

Aku selalu merasa kalau diriku ini masih bocah; kekanakkan dan masih belum tahu “dunia” yang sebenarnya itu seperti apa. Begitu banyak yang belum aku ketahui tentang segala sesuatu. Aku mengakui “ketidaktahuanku.”

Aku juga masih berusaha untuk mencari “siapa sebenarnya diriku” dan mendefinisikan diriku sendiri. Karena pada kenyataannya sampai saat ini, aku masih belum terlalu mengenal diriku sendiri. Aku ingin mengenal diriku lebih baik, mungkin bisa dari sudut pandang orang lain, tapi untuk saat ini aku ingin memahami diriku dengan proses yang aku lakukan sendiri.

Aku ingin menjadi orang yang seperti apa?

Apakah aku ingin menjadi seseorang yang dikatakan oleh “orang-orang”?
Apakah aku ingin menjadi seseorang yang dibentuk oleh “seseorang”?
Apakah aku ingin menjadi “kebanyakan”?

Aku ingin menjadi orang yang seperti apa?

.

.

.

Pada tahun-tahun yang saat ini dan akan aku jalani, aku ingin menjadi orang yang bisa memenuhi harapan “seseorang” akan diriku. Karena terkadang, aku kerap kali mengabaikan harapan-harapan mereka, dan kerap kali mengecewakan mereka. Setidaknya, aku ingin membalas kebaikan mereka, dengan cara memenuhi harapan mereka akan diriku. Aku ingin memenuhi keinginan mereka.

Dan aku ingin menjadi orang yang… Apa adanya. Bukan topeng kepalsuan yang selama ini aku pakai. Bukan juga seseorang yang selalu mengenakan tameng untuk melindungi diri dari ketakutan-ketakutannya. Aku ingin menjadi seseorang yang apa adanya; yang berani mengakui kelemahan diri sendiri, dan ketakutannya. Seseorang yang berdiri di atas kakinya sendiri, dan bangga akan dirinya sendiri.

Pada tahun-tahun yang akan datang, aku ingin menjadi seseorang yang mampu mengungkapkan dengan baik apa yang ada di dalam pikiranku. Berani untuk menyatakan pikirannya, pendapatnya, gagasannya, idenya, harapan-harapannya, kisah-kisahnya. Karena, selama ini -selama 19 tahun hidupku- aku telah membelenggu pikiranku sendiri. Aku yang mengurung dan memenjarakan mereka. Kali ini, aku akan membebaskannya. Aku mencoba.

Aku ingin menjadi orang yang lebih menghargai orang lain. Karena, selama ini aku sadar bahwa aku terlalu peduli kepada diriku sendiri. Aku ingin memberi apresiasi kepada orang yang memang layak untuk aku hargai. Selama ini, aku terlalu memperdulikan perasaanku sendiri; kebahagiaanku, kenyamananku, keamananku. Dan, terkadang aku buta akan perasaan orang lain kepadaku. Perasaan mereka yang kadang terlupakan, karena aku terlalu fokus untuk mengurusi perasaanku sendiri.

Aku juga ingin menjadi seseorang yang pemaaf dan berani meminta maaf untuk mengakui kesalahan. Terkadang, sulit sekali untuk meminta maaf kepada seseorang saat aku menyadari bahwa memang aku yang salah. Ego dan gengsi terkadang menjadi hambatan terbesar untuk menyatakan maaf, dan aku sadar bahwa ego-ku terlalu besar.

Aku ingin punya hati yang luas untuk menyayangi dan mengasihi orang-orang disekelilingku. Aku ingin punya hati yang bisa menghargai hal-hal kecil dan sederhana dalam hidup. Aku ingin punya hati yang cantik.

Aku hanya ingin menjadi manusia yang baik; baik untuk diriku sendiri, keluargaku, teman-temanku, orang-orang disekitarku. Dan aku masih berproses untuk menjadi manusia yang baik.

***

Sebentar lagi, aku akan menginjak usia dua puluh tahun.

Dan aku merasa ketakutan. Cemas. Dan, risau.

.

.

.

.

.

Pada usiaku yang kedua puluh nanti, apakah aku akan bisa memenuhi harapan dan keinginan orang-orang disekelilingku untuk menjadi “orang dewasa yang baik”?

Aku selalu berpikir bahwa usia dua puluh adalah saat dimana kamu sudah mendapatkan sebutan “dewasa” oleh orang-orang disekelilingmu. Dan aku merasa bahwa aku belum siap untuk menjadi dewasa; saat di mana kamu memutuskan untuk dirimu sendiri, mana yang baik dan mana yang buruk. Dan aku belum siap.

Aku selalu berpikir bahwa aku masih seorang bocah. Seseorang yang berjiwa kekanakkan, terperangkap dalam tubuh yang terus tumbuh dewasa. Aku masih belum siap memilih yang baik untuk diriku sendiri, di saat aku masih membutuhkan seseorang yang selalu membantuku dalam memilih. Aku belum siap menjadi dewasa.

Sebenarnya, menjadi orang dewasa itu seperti apa? Bagaimana caranya?

Tapi, jika aku masih belum siap, kapan-kah aku akan siap? Tahun depan? Tahun depannya? Tiga tahun kemudian? Empat tahun kemudian? Lima tahun kemudian?

Mungkin…

.

.

.

Mungkin pada momentum usiaku yang akan menginjak dua puluh tahun ini, aku bisa mulai belajar untuk menjadi orang dewasa secara perlahan-lahan. Tidak usah terburu-buru, tapi jalani dan resapi saja setiap prosesnya.

Temukan makna “menjadi orang dewasa” berdasarkan proses, pengalaman dan perasaan yang aku alami.

Rayakan dengan hati yang bersukacita, atas usiamu yang akan menginjak dua puluh tahun!

Jangan takut, dan nikmatilah momen, perasaan, pengalaman, kenangan, kebahagiaan, kesedihan, kecemasan, kegalauan, yang kamu alami pada usiamu yang kedua puluh tahun nanti. Itu hanya terjadi satu kali!

Nikmati-lah!!

.

.

.

.

.

Dan, jangan lupa untuk tetap bersenang-senang di usiamu yang kedua puluh tahun! Untuk merayakan kehidupan baru milikmu! :)

nuii4u-20yearsold
Source : poemsporn@twitter
nuii4u-20yearsold(2)
Source : poemsporn@twitter

Selamat berusia dua puluh tahun pada tanggal dua April 2016 nanti, Nui! :D []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s