[Fiksi] Ketakutannya

large2
source : weheartit

“Dia sudah sangat sering melarikan diri. Melarikan diri dari apa? Dia tidak menjawabnya. Sikap diamnya menandakan bahwa dia tidak mau menjawabnya. Senyuman samar, hanya itu yang dia berikan kepadaku.

Aku pikir, dia tahu jawabannya. Selama ini dia selalu tahu jawabannya. Jauh dari dalam hatinya, dia dengan pasti mengetahui ‘sesuatu’ yang membuatnya selalu melarikan diri. Tebakan ku, dia sudah mengetahuinya sejak dulu. Hanya saja, dia tidak punya keberanian untuk mengakui jawaban itu, bahkan kepada dirinya sendiri.

Dia mengubur jawaban itu sedalam-dalam nya di tempat asing dalam hatinya. Lalu, kemudian dia akan menjalani hidup seperti biasanya. Melupakan hal itu, seolah-olah dia tidak pernah mengalaminya.

Pada awalnya, dia sama sekali tidak menyadari bahwa dia tengah melarikan diri. Dia hanya melakukannya begitu saja. Namun, kejadian ini selalu terulang dan terulang kembali sehingga perlahan-lahan dia menyadari bahwa dia ‘tengah’ melarikan diri. Dan ketika dia menyadarinya… Dia semakin sering melarikan diri.

Dia berusaha menyangkal bahwa dia tengah melarikan diri. Jalani hidup seperti biasa, dan jangan pernah memikirkan hal itu. Tapi semakin dia mengatakan kepada dirinya untuk tidak memikirkan hal itu, ternyata itu berbalik menjadi mimpi buruk baginya. Dia tidak bisa lagi hidup dengan tenang. Dia merasa berdosa.

Aku merasa dia tersiksa oleh pikiran-pikiran yang dibuat oleh dirinya sendiri. Dia menanggung semuanya sendirian, dan menyalahkan semuanya kepada diri sendiri. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena sudah terlalu sering melarikan diri.

Ada saat-saat di mana dia kelihatan sangat baik-baik saja; tak ada tanda-tanda bahwa dia merasa bersalah, cemas, dan risau. Dia bisa terlihat seperti seseorang yang tak menyimpan masalah dalam hidupnya -bukan jenis orang yang sering melarikan diri. Namun, ada juga saat-saat di mana dia tidak terlihat di mana pun. Hilang begitu saja.

Pada saat itulah aku berpikir, ‘Ah… Mungkin dia tengah melarikan diri lagi.’

Seandainya saja dia mau bercerita… Bercerita kepada seseorang, mungkin akan lebih baik untuk dirinya. Seandainya dia mau bercerita kepadaku, mungkin saja dia bisa berbagi kesulitannya denganku… Seandainya dia mau mempercayaiku sedikit saja… Mungkin akan jauh lebih baik.

Tapi, menurutnya aku bukan orang yang dia percayai. Dia bahkan tidak memberitahukan jawabannya kepadaku. Dia hanya memberiku sebuah senyuman samar yang sama sekali tidak kuketahui artinya. Dinding sudah dibangun tanpa aku sadari, dan dia sudah membatasi dirinya dengan dunia luar; aku salah satunya.

Dan… Mungkin saja, setelah dinding itu hadir, dia akan semakin menyalahkan dirinya sendiri terus-menerus, karena sudah melarikan diri.

Aku hanya bisa berdoa, semoga segala kebaikan datang menghampiri dirinya. Kebaikan untuk berbuat jujur -kepada diri sendiri- dan keberanian untuk menghadapi ‘apapun’ yang membuatnya melarikan diri. Juga, keberanian untuk ‘mengungkapkan jawaban’, tidak peduli sepahir apapun itu. Tidak seharusnya dia seperti ini; terus menyembunyikan jawabannya, dan hidup dalam penyesalan dan rasa bersalah.

Dia harus menyayangi dirinya sendiri.

Melarikan diri, bukanlah jawabannya.” []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s