#UruuchanBaca Forgiven by Morra Quatro [Oktober 2015 #3]

Berkenaan dengan buku ini, ingatanku melayang ke masa-masa SMA. Kalau aku lihat buku ini, aku jadi teringat ke teman sekelasku yang bernama Khaerunisa Zahra Avianti alias Ijah. Kita sama-sama suka baca buku, dan buku ini adalah salah satu buku favoritnya! Aku jadi ingat, dia pernah sangat mengidolakan William Hakim (salah satu karakter yang ada di dalam buku ini; btw Jah, masih ngefans sama William Hakim sekarang? :’) Hehehehe) Bener-bener jadi kangen sama Ijah deh… :”))

Dan ya, akhirnya datang satu waktu di mana akhirnya aku berkesempatan untuk membaca buku favoritnya Ijah ini; soalnya aku penasaran, dan sejujurnya aku juga ingin berkenalan dengan William Hakim :’)) Ngomong-ngomong, aku beli buku ini di bazaar buku dekat rumahku -dengan harga yang murah tentunya :D

Mari bertemu dengan William Hakim!

***

nuii4u-forgiven1
credit : uruuchan | do not edit

Judul : Forgiven
Penulis : Morra Quatro
Penerbit : GagasMedia
Tahun 2010
266 hlm.
— beli di bazaar buku murah di RTC (Rancaekek Trade Center)
— koleksi novel pribadi ke-461

 

Ini adalah buku pertama yang aku baca dari Morra Quatro. Aku sudah tahu bahwa Morra Quatro juga sudah menerbitkan buku-buku lainnya selain buku ini (dan yang terbaru adalah WHAT IF) Dan aku memilih untuk membaca karya perdana dari Morra Quatro yang ini; Forgiven :D

#1 Kenapa uruuchan beli buku ini?

Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, melihat buku ini aku langsung teringat sama Ijah. Terus terang, aku langsung penasaran ingin baca dan ingin tahu siapa William Hakim itu :) Soalnya dulu Ijah ngefans banget sama William Hakim :”) Hahahaha. Aku jadi inget zaman-zaman SMA gara-gara buku ini, dan gara-gara Ijah juga :”)

Dan… seperti yang aku sebutkan sebelumnya, karena aku penasaran sama William Hakim!

Beberapa waktu yang lalu, aku iseng stalking blognya kak Peri Hutan (www.kubikelromance.com) *jadi silent reader, pssssst* dan di sana secara tidak langsung aku menemukan seseorang menyebutkan “william hakim” dan tiba-tiba saja aku teringat Ijah, SMA, dan buku ini; Forgiven dari Morra Quatro. Aku juga ingat bahwa aku sudah memiliki buku ini di rumah, hanya saja belum berencana untuk membacanya dalam waktu dekat (karena aku sedang ingin membaca buku-buku yang bergenre psikologis, atau thriller, atau konspirasi hahaha. Aku menyebutnya “buku gelap”)

Tapi gara-gara aku membaca “William Hakim” itu secara tidak sengaja, keinginan itu tumbuh. Aku jadi ingin membaca Forgiven sesegera mungkin. (Ini semua karena rasa penasaran ini!) Untungnya aku sudah punya bukunya di rumah :”) Jadi, setelah menyelesaikan buku The Dead Returns dari Akiyoshi Rikako, aku segera mengambil buku ini untuk kubaca selanjutnya. ^^

Ah… Alasan aku beli buku ini? Karena aku teringat Ijah. Hehehehe. Dan aku penasaran sekali dengan buku yang dibaca Ijah ini, dan William Hakim tentunya. :)

#2 Kesan uruuchan tentang buku ini?

WOW.

.

.

WOW.

Dan, wow.

Sejujurnya, hanya kata itulah yang kupikirkan untuk menggambarkan keseluruhan kesan yang kurasakan setelah membaca buku ini. Seriusan.

Penulis (Morra Quatro) sudah memberikan “kejutan besar” sejak awal; rasanya seperti sudah dijatuhkan ke dalam jurang tanpa persiapan sebelumnya atau apalah. Yah, seperti itulah perasaan terkejut yang kurasakan saat pertama kali membaca halaman-halaman awal. Dan terus terang, itu berhasil membuatku penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini. Seriusan… WHAAAAAAAT?!!

Kira-kira seperti ini yang terjadi di dalam benakku :

“Wait… Wait… WAIT!! Ini rasanya… Tidak benar. Lah, kok suasananya kayak di penjara gitu, deh… TUNGGU! Ternyata ini beneran di penjara yah?!! Dan… HAAAAH? Bukannya ini William? William dengan tangannya yang diborgol? HAAAAAAHHH??? Dan kenapa pula ini? Will dan Karla… Kenapa mereka mengobrol seakan-akan mereka bukan pasangan kekasih?!! Dan… APA MAKSUDNYA ISTRInya WILL? Jelas-jelas di sana Karla menyebutkan “… istrinya Will” Oh Tuhan… Seharusnya tokoh utama laki-laki akan berakhir dengan tokoh utama perempuan, jadi SEHARUSNYA Karla yang menjadi istrinya. Tapi… BUKAN? Dan obrolan mereka terkesan sendu… Oh Tuhan, apa sih yang sedang terjadi di sini?! APA YANG SEDANG TERJADI DI SINI?!!”

LOL. Maaf kalau lebay, tapi aku sungguh-sungguh menulis apa yang ada di pikiranku saat aku membaca halaman-halaman awal Forgiven. :’))

Dan sesungguhnya, Penulis sudah memberitahu secara tidak langsung kepada pembaca bahwa kisah ini… William dan Karla… Mungkin tidak akan berakhir seperti keinginan pembaca; seperti yang kupikirkan pada awalnya… Dan dari pembicaraan yang dilakukan oleh Karla dan Will, rasanya aku punya feeling tidak enak tentang akhir cerita ini. Entahlah seperti penulis menggantungkan ceritanya… Atau mungkin… Yah, kau tahulah maksudku.

Dan, aku sungguh-sungguh penasaran dengan apa yang sudah terjadi. Kenapa William bisa berakhir di penjara di awal-awal cerita?

Begitulah.

Forgiven ditulis dengan cara “mengenang”, kurasa? Seperti mengingat kembali suatu kenangan yang sudah lama terjadi. Dan cerita ini ditulis dari sudut pandang Karla :’) Oh Karla… :”)

Kita akan dibawa ke masa lalu, untuk melihat masa-masa SMA Will dan Karla. Ah… Membaca bagian ini membuatku merasa iri untuk sesaat. Kupikir memang benar bahwa masa-masa SMA Will dan Karla begitu berkesan dan ‘tak terlupakan’ :’) Karla sungguh beruntung punya sahabat-sahabat yang begitu baik dan peduli kepadanya : Will, Wahyu, Robby, dan Laut. (Alfan tidak termasuk, sori ya) Terutama Will. Karla sungguh beruntung. (Terlepas dari tindakan-tindakan ‘nakal’ dari sahabat-sahabatnya itu… Uh… Aku merasa dilema) Lalu, kita juga akan dibawa ke masa-masa saat kuliah (btw, Karla kuliah di luar negeri) dan kemudian saat ‘ini’ -ketika Will di penjara.

Sejujurnya, dipertengahan cerita aku merasa agak bosan. Ini karena aku tidak sabar untuk mengetahui apa yang terjadi, dan di beberapa bagian aku merasa ‘tidak terhubung’ lagi dengan ceritanya karena aku tidak begitu mengerti dan aku kehilangan “hubungan” di beberapa tempat. Aku rasa, sepertinya alur ceritanya berjalan begitu cepat, dan aku merasa kekurangan detail tempat dan perasaan Karla. Entah kenapa.

Lalu, setelah terus membaca lagi… Aku tiba pada sebuah pemahaman bahwa sepertinya aku akan menebak endingnya “persis”nya seperti apa. Rasanya sudah begitu jelas saja. Dan pada akhirnya, apa yang aku tebak itu terjadi juga… Endingnya persis seperti yang kupikirkan…. Dan… Dengan begitu, kisah Karla dan Will berakhir.

Mungkin bagi sebagian orang, mereka tidak akan menyangka bahwa endingnya akan berakhir seperti itu. Aku juga sempat berharap ada sebuah keajaiban untuk mereka berdua; William dan Karla. Setelah itu, aku tidak mau berharap lebih. :’)

Tapi tetap saja buku ini meninggalkan kesan yang begitu dalam padaku. Bukan karena endingnya, tetapi pada cara penulis yang sudah membuatku tercengang pada halaman awal buku Forgiven ini. Ah… Aku masih belum melupakan perasaan itu ketika menulis ini.

Seperti itulah… :”)

#3 Jadi uruuchan suka sama buku ini?

YEPP.

Aku lumayan suka dengan buku ini. Terutama saat aku membaca bagian “Prolog” nya yang sangat-sangat-sangat berkesan sekali untukku. Wow, sungguh pengalaman membaca yang menyenangkan.

Jadi, sekarang aku tahu Forgiven itu menceritakan apa… Dan kupikir-pikir, ini juga buku yang waktu itu dibaca oleh Ijah. Kira-kira, apa yang dirasakan oleh Ijah saat membaca buku ini ya? :’)

Oh ya! Tidak ada karakter favoritku di buku ini. Bahkan untuk William Hakim-pun, aku mengatakan tidak untuknya. Tapi, ada satu karakter yang membuatku tertarik. Hahahaha. Kalian pasti kaget. Ingin tahu? Hahahaha. Rasanya aku tertarik kepada Laut; salah satu sahabatnya Karla dan Will saat di SMA. :”) Untuk Will sendiri, rasanya aku tidak mengerti dengan apa yang ada di dalam pikirannya (mungkin ini yang dirasakan oleh Karla ya… Hmmm)

Ah, kalian harus membaca sendiri Forgiven; untuk mengenal William Hakim dan Karla, dan kisah di antara mereka berdua. Sepasang orang yang saling menyayangi; sepertinya itulah deskripsiku untuk William dan Karla :)

#4 Last! Tuliskan apapun di sini!

“It is, K. It’s fair. Kamu tau, Tuhan ngga menentukan nasib. Tuhan cuma memberi orang beberapa karakteristik, seperti elektron dan proton dan neutron dalam atom. Sisanya berjalan seperti hukum alam. Semua orang punya pilihan untuk menarik garis hidup mereka masing-masing.” -William Hakim, h.248

“Kita cuma dapat beberapa kesempatan seumur hidup -hanya beberapa kesempatan saja- yang bisa mengubah seluruh hidup kita. Sometimes we make bad choices.” -William Hakim, h.248

“Everyone makes mistakes. But only a few could forgive. Padahal ada banyak kesalahan yang hanya perlu dimaafkan, bukan dihukum. An eye for an eye will make us blind.” -Elisa (Ibunya Karla), hlm.238

Teruntuk Will, Champagne Supernova-nya Karla (dan Troy) ^^

p.s : Aku penasaran dengan karya terbarunya penulis, yang berjudul WHAT IF :”) Tapi aku khawatir dengan endingnya setelah membaca salah satu review di sebuah blog-buku. Aku suka sekali kalau kisahnya berakhir bahagia, dan kurang suka kalau kisahnya berakhir dengan sedih :(( Kita lihat, apakah aku berkesempatan untuk membaca WHAT IF atau tidak. :) []

Salam hangat,

uruuchan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s