Ketika pertama kalinya aku sampai ke Jatinangor -setelah satu bulan lamanya berada di Majalengka- entah mengapa aku merasakan semacam perasaan asing yang sulit aku jabarkan dengan kata-kata. Seperti Jatinangor adalah semacam wilayah yang asing dan tidak ku kenali lagi.

Aneh. Waktu selama satu bulan bisa membuatku merasakan hal seperti itu.

Aku merasa asing dengan suasana di Jatinangor. Rasanya Jatinangor sangat ramai, penuh, dan berdesak-desakkan. Mungkin aku hanya merasa sangat terbiasa dengan suasana di desa Pinangraja (Majalengka) yang masih sepi oleh kendaraan, dan rumah penduduknya yang tidak berdesak-desakkan seperti di Jatinangor. Sama sekali tidak terasa sesak.

Aku juga merasa aneh melihat orang-orang berpakaian modis di Jatinangor. Melihat tas-tas mengkilap dan bermerek, sepatu-sepatu cantik, dan pakaian yang banyak gayanya -rasanya melihat semua itu terasa aneh di mataku. Mungkin selama satu bulan berada di desa Pinangraja, mata ini begitu terbiasa melihat masyarakat yang berpakaian sederhana. Terutama remaja dan anak-anak desa, yang kadang malah berpakaian penuh lumpur atau kotor karena terciprat air. Mereka pasti akan berkata : “Habis main, Teh,” sambil tersenyum bahagia. Begitu polos dan bersemangat sekali mereka…

Dan pada saat aku tiba di Jatinangor selepas KKNM pada tanggal empat Februari, entah kenapa aku berharap untuk bisa berada di desa Pinangraja sedikit lebih lama lagi. Sejenak, aku ingin merasakan tenangnya suasana di Pinangraja… Tiada suara bising kendaraan… Udara yang masih sejuk walaupun lembap karena panas… Warna hijau pepohonan dan sawah di mana-mana… Mushola-mushola yang dalam hari-hari tertentu menyenandungkan shalawatan… Suara tawa anak-anak… Hanya hal-hal sederhana seperti itu, namun bagiku itu adalah hal yang sangat berharga.

Namun, yang paling aku rindukan adalah kedamaian yang rasanya melingkupi desa Pinangraja. Tidak bising, tidak ramai, tidak sesak, tidak sumpek, dan aku sangat menyukai berada di sana. Aku sangat merindukan desa Pinangraja rupanya.

Berada di desa Pinangraja seperti mimpi saja untukku. Kadang kala, aku mempertanyakan apakah satu bulan yang kulalui kemarin itu adalah hal yang benar-benar nyata atau tidak. Rasanya begitu jauh dari apa yang kubayangkan. Terlalu sempurna, dan bahagia, dan menyenangkan… Sampai-sampai -yah- rasanya seperti mimpi bagiku. Terlalu indah.

Aku merindukan kedamaian di sebuah desa kecil. Sesuatu yang tidak kutemui lagi di Jatinangor. Walaupun pada dasarnya tempatku menimba ilmu saat ini adalah sebuah desa juga, tapi rasanya berbeda dengan desa Pinangraja. Desa ku sudah terlalu ramai, dan bising.

Dan… Mungkin juga aku merindukan suasana alam seperti yang ada di desa Pinangraja di mana kamu bisa melihat hamparan sawah yang begitu luas… hijau… dan indah….

Aku rindu desa Pinangraja. Sangat rindu.

Kali ini, aku kembali lagi ke Jatinangor… Tempatku menimba ilmu. Sebuah wilayah yang konon katanya dulunya adalah sebuah hutan pinus, dan sekarang sudah berubah menjadi wilayah yang… Sesak.

Aku penasaran… Seperti apa Jatinangor yang dulu? Apakah indah? Hijau? Kubayangkan Jatinangor adalah kawasan hutan yang sangat cantik dulunya… Dan melihat Jatinangor yang sekarang, rasanya aku merasa sedih.

Tetap, aku merasa asing dengan Jatinangor setelah berada satu bulan lamanya di desa Pinangraja. Mungkin butuh waktu untuk membiasakan diri lagi dengan keadaan Jatinangor yang sekarang, setelah aku pernah tinggal di desa yang menawarkan pemandangan sawah hijau sepanjang mata memandang. []

Advertisements