[Jurnal KKN] Prolog : Kekacauan

Aku sudah menyiapkan apa yang ku inginkan, ku butuhkan, dan ku perlukan untuk esok hari. Ah… Besok ya… Pergi jauh dari rumah selama satu bulan penuh untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Ya Tuhan, aku tidak tahu harus berkata apa.

Tarik napas, keluarkan. Tarik napas, keluarkan… Tarik napas… Keluarkan…

Aku cemas. Gugup. Takut.

Ini pertama kalinya aku pergi jauh dari rumahku dan keluargaku selama satu bulan lamanya. Sebelumnya, tidak pernah. Ini benar-benar pertama kalinya untukku. Aku akan meninggalkan rumahku selama satu bulan untuk pertama kalinya sepanjang sembilan belas tahun hidupku. Ya Tuhan… Tarik napas… Keluarkan…. Tarik napas… Keluarkan…

Sejujurnya, aku merasa sedikit takut.

Dan, aku tidak tahu harus bercerita kepada siapa, selain kepada Tuhan, dan layar di notebook yang sedang aku hadapi ini. Kalau aku bercerita kepada seseorang, mungkin mereka akan menjudge diriku tidak santai, overthinking, gitu-aja-kok-repot, dan lain sebagainya. Tidak. Tidak. TIDAK! Aku tidak membutuhkan hal itu. Sungguh, saat ini yang kubutuhkan bukan pandangan mereka mengenai sikapku, tapi…. Seseorang yang mau mendengarkan.

Mereka tidak akan mengerti perasaanku. Dan, kalau aku menjelaskan kepada mereka… Akankah mereka menghargainya? Aku lelah. Dan yang ku inginkan adalah… Seseorang untuk mendengarkan hatiku.

Selama sembilan belas tahun hidupku, sampai detik ini, aku dibesarkan menjadi seorang anak rumahan. Dan, aku tidak pernah pergi jauh dari rumah. Kalaupun pergi jauh, biasanya aku pasti ditemani oleh Ibu, atau paling banter bersama keluarga (untuk liburan). Dan…. Maka dari itu, KKN ini…. Momen KKN ini, ini pertama kalinya aku pergi jauh dari rumah -sendirian- ke tempat yang cukup jauh dari rumah, selama satu bulan lamanya.

Aku takut.

Saat ini benakku dipenuhi oleh banyak pertanyaan yang tidak bisa aku jawab, karena aku tak tahu jawabannya. Aku ingin meredam benakku -kumohon diamlah, karena aku sudah tak tahan lagi! Tapi tidak bisa. Benakku terus berpikir berpikir dan berpikir. Maka dari itu, aku segera saja meraih notebook milikku, dan mencurahkan-menumpahkan semua pikiran yang sedang melintas dalam benakku saat ini.

Sejujurnya, aku hampir menangis. Maaf.

Dan, hal ini membuatku agak tegang. Hampir beberapa hari ini, adikku menjadi sasaran komentar-komentar pedas, dan beberapa pukulan kesal dariku. Aku…. harus segera minta maaf kepada adikku. Ibu ku juga bertanya-tanya, kenapa aku cemberut melulu, dan Ayahku keheranan melihat sikapku yang seperti orang kebingungan tak tahu arah kemarin-kemarin. Kacau. Merekalah yang melihat diriku saat aku sedang “jelek”, dan aku berterima kasih sekali kepada mereka karena mereka tidak memaksa aku untuk menjelaskan “ada apa” dibalik semua ini. Mereka menunggu. Dan itulah yang kubutuhkan. Aku sayang sekali kepada mereka, keluargaku.

Tuhan….

Aku hanya berharap mudah-mudahan, KKN ini menjadi sebuah kesempatan di mana aku bisa belajar banyak hal. Aku tidak mau menjadi sempurna dalam banyak hal. Tapi, satu yang benar-benar aku inginkan adalah…. Orang-orang yang mau menerima dan memahami, dan mendukung proses belajarku. Dan kumohon, ya Tuhan… Pertemukan lah aku dengan orang-orang seperti itu nanti di tempat yang akan aku tinggali selama sebulan itu.

Dan, satu hal lainnya. Mudah-mudahan, aku bisa menciptakan dan membuat banyak kenangan indah bersama teman-teman baruku di sana. Mudah-mudahan, aku menikmati setiap detik yang ku lalui di tempat baru itu, dan… Mudah-mudahan, satu bulan yang aku lalui nanti, akan menjadi sebuah kenangan yang berharga yang pantas untuk aku ingat sampai kapanpun.

Hanya itu. Tuhan, tolong kabulkan permintaanku.

Dan…

Tolong jaga kedua orang tuaku, adikku, juga nenekku selama aku pergi. Sehatkan mereka, orang yang sangat berharga dalam hidupku. Kelak, ketika kami dipertemukan lagi setelah satu bulan lamanya, mudah-mudahan kami semua dalam kondisi sehat dengan hati yang bahagia. Aamiin.

Aku sangat menyayangi Ibu, Bapak, Ata, dan Ene ya Tuhan… Orang-orang berharga milikMu yang sangat aku sayangi.

Aku tidak peduli jika ada yang mengatakan kalau aku terlalu berlebihan menanggapi hal ini. Toh cuma satu bulan.

Aku takkan peduli!

Karena untukku, itu bukan cuma satu bulan. Walaupun terlihat sebentar, tapi… Buatku, itu bukan cuma hari-hari yang berlalu selama satu bulan lamanya. Ada perasaan rindu, cemas, takut, risau, dan.. Masih banyak lagi. Jauh dari Ibu dan Bapak, juga adik. Merasa tidak mampu, dan lain sebagainya. Ini bukan sekedar satu bulan untukku, tapi sebuah perjalanan panjang yang akan membawa “diriku” entah kemana. Akan jadi seperti apakah diriku setelah melalui KKN selama satu bulan lamanya? Aku tidak tahu.


Ada banyak kemungkinan yang terjadi… Kemungkinan baik, dan kemungkinan buruk. Tapi aku tidak akan pernah tahu apa yang akan menantiku di depan mata, karena tidak ada yang memberi tahu aku sebelumnya.

Tapi mungkin… Jika dipikir-pikir lagi, justru itulah bagian yang paling menyenangkannya bukan? Karena aku tidak tahu apa yang menunggu di depan mata. Aku hanya bisa berharap, semoga yang menunggu di sana adalah segala hal-hal yang baik dan menyenangkan.

Tidak ada yang buruk, selama yang aku pikirkan adalah “kemungkinan baik”.

Ya. Itu benar.

Tenang…. Tarik napas…. Keluarkan. Tarik napas… Keluarkan… Tarik napas…. Keluarkan.

Aku bisa.

Aku ditemani oleh doa dari kedua orang tuaku, juga mereka yang memahami aku dan menemani aku disaat-saat penting, dan aku tidak merasa terlalu takut lagi.

Berharaplah segala hal yang baik. Kemungkinan baik. Cerita yang baik. Kenangan yang baik. Impian yang baik. Imajinasi yang baik.

Hati yang baik. []

2 thoughts on “[Jurnal KKN] Prolog : Kekacauan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s