Dulu, aku menemukan sebuah rumah untuk diriku sendiri. Rumah yang pernah menjadi segalanya untukku, di mana aku bisa menjadi diriku sendiri dan merasa “hidup” di dalamnya. Namun, aku meninggalkan rumah itu.

Aku. Meninggalkan. Rumah. Itu.

.

.

.

Di dalam rumah itu, aku menemukan tawa dan kehangatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku tidak merasa sendiri dan kesepian lagi, karena rumah itu begitu nyaman untuk ku tinggali. Rasanya sangat nyaman sekali sampai-sampai aku berharap untuk tetap tinggal di rumah ini untuk selamanya. Aku ingin terus merasakan tawa, kehangatan, dan kenyamanan yang ada di dalam rumah ini; aku ingin merasa “hidup”.

Sampai di mana aku merasakan sesuatu yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku menyayangi rumah itu. Sangat menyayangi rumah itu sampai-sampai aku tidak bisa menahan perasaan ini; sampai-sampai rasanya sakit sekali di dalam hati. Aku tidak bisa membendung perasaan ini lagi, dan perasaan ku tumpah ruah. Ku berikan perasaan yang meluap-luap itu kepada rumah yang telah mengisi celah-celah kosong dalam hatiku -rumah yang membuatku hidup.

Aku berdoa kepada Tuhan… Aku berterima kasih kepada Tuhan… Karena Tuhan sudah begitu baiknya mengenalkan ku kepada rumah itu. Membuatku merasa “hidup” lagi, dan merasakan banyak perasaan yang sudah lama ku lupakan dalam hidup. Aku berharap kepada Tuhan, semoga aku bisa terus bersama rumah ini untuk selamanya. Pada saat itulah, tanpa ku sadari, aku menangis.

Aku keheranan, kenapa aku menangis? Kenapa ada air mata yang jatuh dari mataku?

Ah… Begitu rupanya.

Aku menyadari, aku sudah terikat dengan rumah ini. Terikat dengan amat sangat kuat sampai-sampai rasanya aku tidak bisa membayangkan diriku pergi dari rumah ini. Perasaan yang ku punya untuk rumah ini, terlalu kuat bahkan untuk diriku sendiri. Oleh karena itulah, aku menangis. Aku menangis karena aku tidak sanggup menahan perasaan yang aku miliki untuk rumah yang membuatku kembali hidup; untuk mengisi hidupku yang sebelumnya kosong dan hampa. Dan aku menangis, karena aku bahagia. Bahagia karena menyadari apa yang bisa diperbuat oleh rumah itu terhadap diriku, yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Berada di dalam rumah itu seperti sebuah dunia baru bagiku. Tempatku untuk menemukan diriku sendiri yang sudah lama hilang. Tempat aku bisa merasa tertawa, tersenyum, bahagia, sedih, senang, sendu, melankolis dalam satu waktu yang bersamaan. Tidak pernah sebelumnya aku merasakan hal seperti itu. Sungguh. Maka dari itu, aku merasa begitu beruntung karena bertemu rumah ini.

Aku hidup.

Namun, pada suatu hari, terjadilah hal itu. Kejadian yang mengubah segalanya. Kejadian yang mengubah dunia ku -hidupku.

Pada satu hari yang ku pikir akan sama seperti hari-hari biasanya, aku menikmati waktuku bersama rumah yang sangat aku sayangi itu. Namun, begitu saja terjadi. Aku merasakan sebuah perasaan asing dalam diriku. Dan itu, rasanya……. Menakutkan.

Dalam rumah yang menjadi ‘hidup’ ku itu, aku diliputi perasaan tidak aman yang menggelisahkan. Aku tidak tahu kenapa aku bisa merasakan hal itu. Tapi aku merasa pada detik itu juga bahwa : ini bukan rumah yang ku kenal.

Rasanya tidak enak. Tidak nyaman. Menggelisahkan. Mencekam.

Satu-satu nya yang ingin aku lakukan pada detik itu adalah kabur dari rumah ini. Pergi dari rumah ini, dan tidak pernah masuk ke dalam rumah ini lagi.

Aku tidak ingin merasakan perasaan itu lagi; merasa tidak aman dan gelisah di sebuah tempat yang sebelumnya adalah tempat kesayanganku. Itu… Rasanya terlalu menakutkan. Sangat menakutkan. Aku bersungguh-sungguh mengatakan bahwa aku tidak ingin lagi merasakan perasaan itu; membuatku merasa kerdil, dan tersesat. Terluka dan menyedihkan.

Dan aku memutuskan untuk meninggalkan rumah itu.

Entah sampai kapan.

.

.

.

Saat ini, aku tidak tahu perasaan ku terhadap rumah itu. Apakah aku ingin kembali bersama rumah itu? Merasakan kembali hangatnya suasana, dan kembali tertawa dan bahagia? Tapi aku masih takut… Aku takut bertemu kembali dengan perasaan asing itu. Aku terlalu takut untuk kembali dan merasakan perasaan itu dalam diriku.

Aku memutuskan untuk masih tetap menjauh dari rumah itu. Dan aku hanya berusaha sampai batas ini : melihatnya dari kejauhan. Melihat pendar-pendar cahaya yang lembut dari dalam rumah itu, hangat yang masih terasa di atas kulitku, tawa dan kebahagiaan yang melekat dalam ingatanku. Sebuah kehidupan yang ku tinggalkan.

Apakah aku menyesali keputusanku untuk meninggalkan rumah itu?

Ya.

Sedikit. []


Sumber gambar : weheartit.com

#Wripur @twitter by uruuchan : Rumah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s