Aku memikirkan apa yang bisa dilakukan oleh seseorang dengan hati yang sedang terluka. Di dalam pikiran ku, hanya ada dua kemungkinan:

  1. Melukai orang lain
  2. Melukai diri sendiri

Melukai orang lain? Aku rasa aku pernah melakukannya. Melukai diri sendiri? Ya. Itu yang tengah aku lakukan beberapa hari terakhir ini. Karena aku tidak bisa melukai orang kesayanganku -yang saat ini berada di sisiku- maka aku melukai diriku sendiri sebagai gantinya.

Aku tidak terlalu bodoh untuk melukai diriku sendiri secara fisik, jika itu yang ada di dalam pikiran kalian. Tidak, aku tidak melakukan itu. Aku hanya melukai diriku sendiri secara psikologis. Aku menyiksa diriku secara mental.

Aku menyiksa diriku sendiri dengan rasa bersalah, dan perasaan lemah karena ketidakberdayaan.  Ketidakberdayaan ku untuk melukai orang yang ku sayangi, membuat ku terluka jauh lebih dalam, dan ‘sakit’. Ketidakberdayaan ku untuk mengungkapkan keinginan murni dari dalam diriku kepada orang yang ku sayangi, rasanya sudah cukup menyiksa ku lebih dari yang kubayangkan.

Aku frustasi. Aku tidak bisa apa-apa. Aku tidak bisa marah, berteriak, mencaci, memaki, membanting, memukul. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa melakukannya kepada orang yang aku sayangi. Dia terlalu berharga, dan terlalu istimewa untukku. Hanya sekedar untuk membuatnya marah saja, aku tidak bisa. Aku tidak ingin dia marah padaku. Aku tidak ingin dia kecewa.

Karena aku tidak bisa berbuat apa-apa, pada akhirnya aku berakhir dengan menyakiti diriku sendiri. Aku berpikir tak apa. Ya, aku tidak apa-apa. Selama dia baik-baik saja, dan dia bahagia, aku tidak apa-apa.

Pada akhirnya, aku rela membiarkan diriku terluka, hanya agar dia tidak terluka oleh aku yang hatinya tengah terluka. []


Terkadang… Kita malah berakhir terluka oleh diri kita sendiri, karena kita yang terlalu peduli dan berperasaan. Aku tidak tahu ini baik atau buruk, tapi inilah kenyataannya. Inilah yang penting.

#Wripur @twitter by @uruuchan : Luka

One thought on “Hati yang Terluka

  1. Mi, kau kenapa? Sebegitu sedihkah perasaanmu saat ini? Bisakah aku menjadi penyembuh untuk rasa sakitmu?

    Apa yang harus kulakukan agar kau bisa berhenti melukai dirimu sendiri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s