Alasan Kemarahan

Aku tidak berharap semua orang akan mengerti dengan alasan mengapa aku mudah marah atau kesal terhadap hal-hal yang mungkin menurut kalian ‘tidak penting’ atau ‘tidak berguna’. Tapi buatku penting. Itu perasaanku. Itulah yang kurasakan. Penting, karena aku yang merasakannya sendiri.

Seperti ketika pagi hari datang, dan aku terbangun dengan badan yang ngilu. Sakit dan pegal di bagian pundak, leher, betis, dan kaki. Seketika itu juga, aku merasa kepalaku berdenyut-denyut menyakitkan, dan aku merasa frustasi.

Coba saja atap rumahku tidak bocor, aku kan tidak perlu tidur dengan posisi yang tidak mengenakkan seperti itu.  Dasar atap rumah sialan. Aku hanya bisa melempar selimut dengan kesal sejauh mungkin, dan terbangun dengan wajah masam yang tidak enak dipandang oleh siapapun -bahkan oleh Ayah, Ibu dan adikku di rumah saat itu. Dan aku akan bersikap dingin kepada semua orang yang berhadapan denganku sepanjang hari yang mengesalkan itu.

Atau mungkin pada saat deadline tugas dari dosen yang harus dikumpulkan pada pagi hari pukul delapan, sedangkan aku hendak mengerjakan tugas tersebut malam harinya. Aku berencana untuk menyeduh kopi favoritku, kemudian begadang semalaman untuk mengerjakan tugas tersebut sambil ditemani musik dari Avenged Sevenfold yang akan menghentak telingaku. Mudah saja. Seperti yang biasa aku lakukan. Aku pasti bisa menyelesaikan tugas itu.

Tapi semua berjalan tidak sesuai dengan keinginanku.

Aku tidak sempat membuat kopi, ataupun menyetel musik Avenged Sevenfold, karena aku ketiduran. Itu menyebabkan suasana hectic pada subuh hari di rumah keluargaku -sebenarnya hanya aku saja sih; Ayah, Ibu, serta adikku santai-santai saja. Tapi akibatnya, aku menjadi sangat sensitif, dan mudah kesal. Aku membenci suara televisi yang menyiarkan berita olahraga pagi yang dinyalakan oleh Ayahku, aku membenci musik Jepang yang disetel adikku sebelum berangkat ke sekolah, aku benci celotehan Ibuku tentang apapun yang rasanya tidak akan berakhir sampai kapanpun. Aku benci semua itu. Kenapa dunia tidak sunyi sejenak dan membiarkan aku untuk menyelesaikan tugas sialan ini? Kenapa kebisingan ini begitu menyakitkan? Dan aku akan marah-marah dengan bersikap menyebalkan kepada orang-orang di rumah; tidak menjawab saat ditanya, berjalan dengan langkah cepat, tidak mendengarkan perkataan siapapun, dan berwajah kusut dengan dahi berkerut.

Atau ketika aku tidak bisa berpakaian seperti yang ada di dalam benakku. Kupikir itu akan cocok, ternyata setelah dipakai rasanya tidak enak untuk dipandang. Tidak nyambung. Tidak cocok. Aneh.

Atau menunggu. Spesifiknya : menunggu kabar dari dosen tentang kepastian jadwal mata kuliahnya. Aku paling benci dengan ketidakpastian. Masalahnya rumahku jauh dari kampus, dan aku tidak bisa berangkat mendadak begitu saja. Bisa-bisa aku sia-sia datang ke kampus, karena dosen tidak mengizinkan aku masuk kelas. Intinya, aku perlu cukup waktu untuk bersiap-siap.

Atau ketika aku sangat menginginkan sesuatu, dan kuharap Ibuku setuju dengan apa yang kuinginkan. Aku sangat menghargai persetujuan darinya. Tapi nyatanya, Ibu menolak. Aku sakit hati. Aku mengacuhkan Ibuku sepanjang hari.

Dan semua itu akan berakhir dengan tangisan diam-diam di depan Tuhan seusai shalat.

Aku frutasi, kesal, dan marah terhadap diriku sendiri. Karena aku merasa tidak punya kendali bahkan untuk perasaan yang sedang kurasakan, sehingga aku (mungkin) menyakiti perasaan orang-orang yang ku sayangi. Aku menyadari bahwa sikapku akan menyakiti mereka, meskipun begitu, aku tetap melakukannya. Aku begitu menyesal, dan rasanya ingin menangis karena begitu bodohnya aku dengan sikapku yang tidak masuk akal itu -menumpahkan perasaanku kepada seseorang yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalahku.

Pada kenyataannya, aku masih bocah kekanakkan. Hanya seorang mahasiswa semester tiga di sebuah perguruan tinggi negeri yang tinggal bersama keluarganya; gadis yang belum dewasa secara mental.

***

“Mah, maapin teteh ya. Hari ini….” Aku terlalu malu untuk mengakui kesalahanku sendiri, “Yaa… teteh udah ‘gitu’ ke Mamah.”

“Gitu teh kenapa? Kok Mamah ngga ngerti ya?”

Aku tahu dari lubuk hatiku yang paling dalam, bahwa Mamah jauh lebih paham akan perasaanku dibandingkan aku sendiri. Mamah memaksaku untuk mengatakannya. Mengakui kesalahanku, dan mengucapkannya; membuatku menyadari kesalahan seperti apa jelasnya yang sudah aku perbuat.

“Teteh udah marah-marah sama Mamah. Nyuekin Mamah, pundung ke Mamah, teriak-teriak ke Bapak sama Dakka. Teteh jelek banget hari ini sama Mamah, sama Bapak, sama Dakka.” Aku mengatakannya tanpa menatap kedua mata Mamah. Aku sungguh malu. Mengatakannya saja sudah cukup sulit, apalagi sambil menatap mata Mamah. Tapi kuharap Mamah akan mengerti; aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh.

Dan begitu saja terjadi. Mamah merangkulku, dan memelukku.

Begitu saja.

Dan aku tahu, aku sudah dimaafkan. []


 

“Karena kejujuran sesederhana itu. Dan kau akan mendapatkan kedamaian yang kau butuhkan dengan bersikap jujur. Cobalah untuk jujur setidaknya kepada dirimu sendiri.”

 

4 thoughts on “Alasan Kemarahan

    1. Wkwkwkwkwk. Saya pengennya sih ini fiksi ya :”) Tapi nyatanya pas nulis jadi baper gitu, jadi kayaknya ini masih ada sebagian ‘saya’ nya di sini; sebagian cerita asli dari saya-nya gitu :”D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s