#UruuchanBaca The Dead Returns by Akiyoshi Rikako [Oktober 2015 #2]

Sedang ketagihan membaca buku bergenre misteri, nih! Setelah menyelesaikan buku “The Girl on The Train” (yang ngomong-ngomong bergenre thriller-psikologis) beberapa waktu yang lalu, aku kebingungan untuk menentukan buku selanjutnya yang ingin aku baca. Apakah aku harus membaca buku yang agak “manis” agar bisa menyegarkan pikiranku setelah membaca sesuatu yang “gelap” seperti itu? Atau aku masih sanggup bertahan ingin membaca buku-buku “gelap” lainnya? Hahahaha.

Pada akhirnya, aku memutuskan bahwa aku masih sanggup bertahan membaca buku-buku “gelap” untuk beberapa saat lagi. Dan aku sebenarnya sudah tidak sabar juga untuk membaca buku Akiyoshi Rikako yang terbaru ini; yang ngomong-ngomong sudah diterbitkan oleh Penerbit Haru :’) Aku ingat, aku sangat menikmati sekali buku “Girls in The Dark” yang sama-sama ditulis oleh Akiyoshi Rikako dan sudah diterbitkan juga oleh Penerbit Haru.

Dan, akhirnya aku memutuskan untuk membaca The Dead Returns!

Mari menyingkap tabir misteri! :)

***

nuii4u-TheDeadReturns
[photo credit to @uruuchan | DO NOT EDIT]
Judul : The Dead Returns
Penulis : Akiyoshi Rikako
Penerjemah : Andry setiawan
Penerbit : Haru
Tahun 2015
252 hlm.
— beli di Gramedia Merdeka, Bandung
— koleksi novel pribadi ke-469

Sejujurnya sudah sejak lama aku menginginkan novel ini, tapi apa daya keadaan uang sedang tidak memungkinkan aku untuk membeli novel apapun :( Aku jadi harus bersabar sedikit untuk bisa mendapatkan The Dead Returns :’) Kemudian, saat yang tepat itu akhirnya datang juga, aku berhasil membeli buku ini satu minggu yang lalu ^^

#1 Kenapa uruuchan beli buku ini?

Karena aku sudah menyukai penulisnya! Hahahahaha.

Otomatis, aku juga menginginkan karya yang lainnya dari penulis yang bersangkutan! Dan penulis ini adalah Akiyoshi Rikako. :) Seperti yang sebelumnya sudah aku katakan, aku sudah pernah membaca salah satu karya Rikako-sensei, judulnya “Girls in The Dark”.

Terus terang, Girls in The Dark adalah salah satu buku yang berkesan untukku. Pertama karena covernya. Aku tidak pernah merasa takut pada cover suatu buku sebelumnya, lalu aku pun melihat buku Girls in The Dark, dan untuk pertama kalinya aku merasakan takut gara-gara suatu cover buku. Rasanya merinding, dan aku tidak nyaman memandang cover buku itu :’) Ah… Bagaimana ya menjelaskannya? Ada sesuatu di tatapan mata si gadis yang menjadi cover buku itu. Bahkan, ketika aku membacanya, aku butuh untuk menutupi cover itu dengan sesuatu. Dan aku menutupinya dengan kertas post-it. Kedengarannya konyol, tapi aku serius mengatakannya.

Kedua. Karena saat membaca Girls in The Dark, aku mendapati sebuah cerita dengan plot-twist tidak terduga *setidaknya dari sudut pandangku* *dan kenapa aku jadi bahas buku lain, ya?*

Pokoknya, aku sudah jadi penggemarnya Rikako-sensei setelah membaca Girls in The Dark. Dan, saat penerbit Haru menerbitkan buku lainnya dari Rikako-sensei, aku SENANG bukan KEPALANG. Dan aku sangat tidak sabar untuk segera membacanya!>.<

Jadi kenapa aku beli The Dead Returns? Karena Rikako-sensei yang menulisnya! Sesederhana itu :)

#2 Kesan uruuchan ketika membaca buku ini?

“Suatu malam,
aku didorong jatuh dari tebing.
Untungnya aku selamat.

Namun, saat aku membuka mataku dan menatap cermin,
aku tidak lagi memandang diriku yang biasa-biasa saja.
Tubuhku berganti dengan sosok pemuda tampan yang tadinya hendak menolongku.

Dengan tubuh baruku,
aku bertekad mencari pembunuhku.

Tersangkanya, teman sekelas.
Total, 35 orang.
Salah satunya adalah pembunuhku.”

Seperti biasa, aku menyukai gaya penulisannya Rikako-sensei (dan aku harus berterima kasih kepada penerjemah karena aku bisa membaca buku ini dengan lancar dan mengalir apa adanya) dan buku ini menjadi salah satu buku lainnya yang berkesan di hatiku.

Bagaimana menjelaskannya ya? Ceritanya tidak berbelit-belit seperti cerita pembunuhan lainnya. Bisa kubilang begitu sederhana. Dikemas dengan ringkas dan tidak memusingkan, sehingga tidak sampai membuat kening berkerut ketika membacanya. Selain itu ceritanya dibahas sampai benar-benar tuntas, dan aku benar-benar puas sekali dengan akhir ceritanya.

Rikako-sensei sungguh hebat, karena bisa membuat suatu cerita pembunuhan yang tidak berbelit-belit, dan kalau diingat-ingat lagi tebal buku ini juga hanya 252 halaman. Dan, walaupun seperti itu, sama sekali tidak mengurangi rasa penasaran untuk mengetahui siapa pembunuh Nobuo -si “Aku” dalam sinopsis di atas.

Betul itu. Rasanya aku menikmati buku ini, karena ditulis dengan bahasa yang sederhana dan tidak begitu rumit. Settingnya di sekolah SMA yang hendak mengadakan festival kebudayaan. Dan, kita dibawa untuk menebak siapa pembunuh Nobuo, hanya itu :)

Tapi gara-gara pemikirannya si “Aku” ini, aku juga jadi ikut terhanyut begitu saja dengan dugaan-dugaannya tentang pembunuh Nobuo; aku mengira-ngira pembunuhnya adalah gurunya sendiri, atau mungkin Sasaki dan Arai, atau sahabat terdekatnya yaitu Tanaka, bahkan aku mengira si Mika bisa jadi tersangka juga. Begitulah yang menarik dari kisah misteri seperti ini; kau dibuat tidak sabar untuk mengetahui tersangka utamanya dan akhir ceritanya. Aku bahkan merasa takut bahwa cerita ini akan berakhir dengan bad ending :( Aku dibuat penasaran sampai akhir!

Aku membaca buku ini pada hari Minggu sore, dan sudah kuselesaikan keesokkan harinya di siang hari. Buku ini benar-benar membuatku tidak bisa berhenti untuk membacanya; membuatku ingin terus membalikkan halamannya. Dan secara tidak sadar, kamu sudah menyelesaikan buku ini. Haaaaah…. :’))

Tapi ngomong-ngomong soal endingnya, sebenarnya aku berharap ada alternative ending juga sih… Aku ingin si “itu” dan si “itu” punya kisah mereka sendiri yang memungkinkan mereka untuk berbahagia. (Kalau kalian sudah selesai membaca buku ini, kalian akan tahu maksudku hehehehe ^^)

Kalau ditanya, mana yang lebih aku sukai antara “Girls in The Dark” dan “The Dead Returns” ini… Sejujurnya aku suka dua-duanya. Tapi kalau harus memilih, aku akan lebih menyukai “Girls in The Dark” karena ceritanya yang membuatku lebih-lebih-lebih penasaran :) Tapi di The Dead Returns ini -yang tidak terduga adalah aku malah jatuh cinta pada salah satu karakternya >.< Hahahahaha. Si Takahashi Shinji. Uh… Aku suka dengan kepribadiannya… :’)

Kalau aku boleh berangan-angan, aku ingin punya pacar seperti Takahashi Shinji :”) Tapi menurutku, si Nobuo ini juga tak kalah menarik karena aku suka pada sikapnya yang hangat dan peduli :’)) *aghjsahjsak Rikako-sensei kenapa kau membuatku harus memilih kedua lelaki ini*

#3 Jadi, uruuchan suka baca buku ini?

YUPP.

Suka!

Kupikir, bagi kalian yang menyukai kisah misteri, tak ada salahnya untuk membaca buku ini, karena buku ini memberikan ‘rasa yang berbeda’. Bukan hanya tentang pembunuhan, tapi untuk tidak “menjudge” seseorang berdasarkan penampilan seperti itu.

Aku pribadi mendapatkan banyak hal setelah membaca buku ini, rasanya seperti aku mendapatkan “pencerahan” :’) Aku belajar banyak dari Nobuo, untuk sesekali “menyisir rambut depan kebelakang”. Dunia yang kau lihat di sana tidaklah begitu menakutkan :”) Keinginan untuk berubah juga… Ah… Rasanya aku ingin bisa berubah seperti Nobuo juga :’))

Jadi, secara keseluruhan.. Buku ini sangat berkesan untukku. Rasanya buku ini “sangat dekat” sekali dengan kehidupan ku sendiri. Apalagi sosok Nobuo, aku bisa merasakan apa yang dia rasakan karena aku pernah mengalaminya.

Kalian harus membacanya sendiri :”)

#4 Last! Tuliskan apapun di sini!

Ini ada sebuah bagian yang buatku sangat berkesan sekali dihatiku :

“Mungkin memang seperti ini ya, cara untuk menanggapi teman sekelas.

Kalau aku, mungkin aku juga tidak akan mengalirkan air mata seandainya Sasaki-kun meninggal. Mungkin anak-anak cewek yang suka dengannya, atau anggota klub sepak bola, atau Arai-kun, akan menangis. Tapi bagiku, dia adalah sosok yang jauh.

Aku disadarkan akan hal tersebut setelah mati dan bangkit lagi seperti ini. Dan rasanya ada bagian dari diriku yang terluka karena menyadarinya.

Bagi Ibuku, mungkin kematianku adalah hal yang sangat menyedihkan, sampai bumi bagai terbelah dan dia tertelan ke dalamnya. Namun bagi orang lain, kematianku hanyalah sebuah kejadian kecil.” -Shinji, hal. 32

Aku jadi berpikir… Kalau nanti aku meninggal… Apakah akan ada banyak orang yang mengingatku? Apakah akan ada banyak orang yang merasa “kehilangan” diriku?

Mungkin bagi orang yang tidak mengenalku nantinya, kematianku hanyalah sebuah titik kecil. Bukan sebuah “goncangan” yang mungkin dirasakan oleh keluargaku dan orang-orang dekatku.

Seperti itulah… Kematian. :”)

p.s : terima kasih untuk penerbit haru, karena sudah menerjemahkan dengan baik The Dead Returns dan menerbitkan novel dari Rikako-sensei. Aku akan menunggu novel-novel Rikako-sensei lainnya untuk diterjemahkan! :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s