Aku harus segera menulis postingan ini sebelum aku melupakan apa yang aku rasakan setelah menyelesaikan buku The Girl on The Train tepat pada pukul 10 malam. Mumpung masih segar dalam ingatan, dan perasaan yang kurasakan saat membacanya masih SANGAT membekas di sini *segera nunjuk hati*

Akhirnya, aku berkesempatan membaca TGOTT :’) Aku terharu. Sungguh. Aku masih ingat pada masa-masa Pre-Order buku ini, dan aku sudah panik sendiri ingin segera memesannya. Hanya saja pada waktu itu, uangku pas-pasan :”( Akhirnya, aku tidak jadi ikut PO. Dan aku cuma bisa menunggu datangnya waktu yang tepat untuk mendapatkan buku ini.

Ternyata tidak lama! :D

Akhirnya, buku ini berada di tanganku. dan siap untuk dibaca.

***

nuii4u-TGOTT2
[photo credit to @uruuchan | DO NOT EDIT]

Judul : The Girl on The Train 
Penulis : Paula Hawkins
Penerjemah : Inggrid Nimpueno
Penerbit : Noura Books
Tahun 2015
428 hlm.
— beli di Pameran Buku Jabar 2015 di Landmark Braga, Bandung
— koleksi novel pribadi ke-462

Apa yang harus aku katakan tentang buku ini?

Bahwa sebelum buku ini diterjemahkan oleh Noura Books, aku sudah terobsesi ingin membaca dan memiliki buku TGOTT. Kupikir, buku ini tidak akan bisa kubaca karena kemungkinan untuk diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia kecil sekali. (Kenapa waktu itu aku berpikiran seperti itu, ya?) Dan sungguh sebuah kejutan BESAR saat aku menemukan di twitter bahwa buku ini sudah diterjemahkan dan siap untuk diterbitkan oleh Noura Books. Sungguh seperti mendapat sebuah kado yang menyenangkan! Rasanya harapanku terkabul oleh Tuhan :’))

#1 Kenapa uruuchan beli buku ini?

Sejujurnya, aku sudah mengetahui buku ini jauh sebelum Noura Books menerbitkannya. Hanya tahu saja, bahwa ada buku berjudul “The Girl on The Train” di luar sana; di luar negeri.

Aku lumayan banyak memfollow akun-akun para pecinta buku di luar sana melalui instagram, hanya untuk melihat buku-buku yang di foto dengan begitu cantiknya. Dan cover-cover buku di luar negeri yang selalu kelihatan “lebih” keren di mataku… Aku memfollow banyak sekali, dan menemukan ada banyak orang yang terobsesi dengan buku; sama seperti aku. Bahkan kecintaan mereka terhadap buku sepertinya lebih besar daripada aku :) *ehem follow @uruuchan ya, di instagram hehehe*

Dan aku menemukan satu buku yang menarik perhatianku. Ya, itulah pertama kalinya aku melihat buku The Girl on The Train ini. Aku melihatnya di salah satu akun yang aku follow di Instagram (sayangnya aku lupa siapa pemilik akun tersebut, karena rasanya sudah lama juga)

Tidak ada alasan lain. Aku hanya tertarik begitu saja pada buku TGOTT. Ada sesuatu mengenai buku ini dilihat dari judulnya sendiri dan covernya. Dari cover aslinya, sepertinya buku ini menyimpan “misteri”, dan itulah yang kurasakan saat melihat TGOTT. Aku sendiri masih belum tahu genre buku ini apa, dan aku hanya menebak bahwa buku ini bukan buku bergenre “romance” atau semacam dystopia. Covernya menyiratkan sebuah “misteri”. Selain itu, orang-orang di Instagram itu juga sepertinya banyak membicarakan tentang buku ini.

Bukan bermaksud untuk melebih-lebihkan, tapi sejak pertama kali melihatnya, aku langsung merasakan suatu hubungan yang sudah terjalin antara aku dan buku ini. Rasanya aku tidak bisa menjelaskan dengan baik tentang “hubungan” ini, hanya saja aku tahu bahwa sekali aku melihat buku ini di instagram, aku merasa bahwa aku akan bertemu dengan buku ini secara “langsung” -cepat atau lambat.

Dan firasat itu terbukti :)

Karena aku sudah lama menginginkan buku ini -memilikinya dan membacanya- maka aku tidak berpikir dua kali untuk tidak membeli TGOTT. Aku hanya menunggu waktu yang tepat (baca : ketika uang sudah siap dikantong) untuk memiliki buku ini. Dan, VOILA!! Akhirnya aku berkesempatan membeli buku ini di pameran buku JABAR di Landmark Braga :D

— P.S : teman-teman juga bisa membeli buku ini melalui website bukupedia lho : http://www.bukupedia.com/id/book/id-98710/the-girl-on-the-train.html :D

#2 Kesan uruuchan terhadap buku ini?

Kutuliskan sinopsis buku ini terlebih dahulu ya :

“Rachel menaiki kereta komuter yang sama setiap pagi. Di pinggiran London, keretanya akan berhenti di sebuah sinyal perlintasan, tepat di depan rumah nomor lima belas. Tempat sepasang suami istri menjalani kehidupan yang tampak bahagia, bahkan nyaris sempurna. Pemandangan ini mengingatkan Rachel pada kehidupannya sendiri yang sebelumnya sempurna.

Pada suatu pagi, Rachel menyaksikan sesuatu yang mengejutkan. Hanya semenit sebelum kereta mulai bergerak, tapi itu pun sudah cukup. Kini pandangannya terhadap pasangan itu pun berubah.”

Hanya satu hal yang terlintas di benakku setelah aku menyelesaikan buku ini. Bahwa memang sudah tepat sekali Islam melarang umatnya untuk meminum alkohol (Aku beragama Islam, hehe) Bahkan Islam mengharamkan alkohol. Bukannya mengandung bahan-bahan yang aneh atau semacamnya, tetapi efek yang ditimbulkan setelah meminum alkohol -itulah yang berbahaya.

Dan karakter Rachel di dalam buku ini adalah contoh paling baik yang bisa kita lihat jika seseorang sudah kecanduan minum alkohol. Lihat saja tingkah laku Rachel… :’) Aku bahkan merasa kasihan kepada dirinya. Merasa sangat kasihan kepada hidupnya yang berantakkan, kesepian, dan hampa. Kosong.

Selain itu, setelah membaca buku ini juga, aku merasa bahwa terkadang kita sebagai manusia hanya ingin melihat apa yang ingin kita lihat. Buku ini seperti menjelaskan tentang hal itu kepadaku -memperjelasnya. Terus terang, pandangan Rachel terhadap dua orang yang dia lihat di rumah nomor dua puluh tiga adalah pasangan suami istri yang bahagia, tapi ketika Rachel menemukannya tidak seperti itu? Apa yang akan terjadi?

Itu hanya persepsi milik kita sendiri yang kita ‘tempelkan’ kepada orang yang bersangkutan, sehingga pada saat kita menemukan bahwa ternyata persepsi kita salah, rasanya kita akan sangat kecewa, bukan? Itu juga yang dialami oleh Rachel. Perasaan kita mungkin akan mengatakan, “Ada yang keliru, dan ada yang salah”. Padahal, itu kan bukan kenyataan yang sebenarnya. Kita sama sekali tidak tahu apa-apa, dan hanya mempersepsikannya sesuai dengan apa yang kita lihat saja. Berawal dari sini, aku mulai khawatir apa yang akan dilakukan oleh Rachel terhadap pasangan suami-istri di rumah nomor dua puluh tiga itu, mengingat dia “tidak stabil” karena kecanduannya pada alkohol.

Awalnya aku agak sedikit kebingungan dengan perubahan sudut pandang dalam buku ini. Tapi, setelah aku membaca beberapa bab, aku mulai terbiasa. Cerita dalam TGOTT dituturkan lewat tiga sudut pandang : Rachel, Megan. Anna. Aku harus sedikit lebih berkonsentrasi dalam membaca buku ini, karena urutan waktunya yang benar-benar harus aku perhatikan (kupikir aku akan menemukan sesuatu kalau melihat urutan waktunya)

Ada seorang karakter di dalam buku TGOTT yang mati *kusebut X saja ya* Aku kebingungan apakah aku harus menceritakannya di sini atau tidak. Aku takut malah memberikan spoiler kepada kalian :”) Sepertinya aku harus menahannya :”) *demi kalian*

Dan, sepanjang membaca buku TGOTT ini, perasaanku di bawa naik dan turun, karena menduga-duga siapa yang membunuh X. Karena semakin dalam kamu membaca buku ini, kamu akan berpikir bahwa sepertinya semua orang yang ada di dalam cerita adalah “tersangka”. Seriusan. Pada awalnya, aku benar-benar sangat yakin sekali bahwa Rachel adalah orang yang membunuh X ini; mengingat tingkahnya yang benar-benar ‘menyebalkan’ dan (sangat) suka meminum alkohol sehingga dia bisa berbuat sesuatu yang takkan pernah bisa kamu bayangkan sebelumnya.

Kalian harus membaca sendiri buku ini untuk menemukan siapa orang yang membunuh X (dan kenyataan yang ada dibaliknya). Aku benar-benar tidak menyangka bahwa “dia” lah yang membunuhnya. “Dia” bukan orang yang masuk daftar tersangka milikku :( Barulah setelah aku membaca hampir tiga per empatnya, aku merasa kaget bahwa “dia” BISA SAJA menjadi tersangka setelah aku melihat sudut pandang seseorang. :’)

Ah… Pokoknya aku berdebar-debar sekali membaca buku ini. Dan aku sangat tidak menyesal membeli dan memiliki buku TGOTT. Memang akhir-akhir ini, aku sedang suka-sukanya sama buku bergenre thriller-psikologis. Rasanya sangat menarik saja mengenal karakter-karakter yang ‘sakit’ atau ‘tidak stabil’ dan sebagainya; mengetahui pikiran terdalam mereka, alasan dibalik tingkah laku mereka, dan apa yang mereka rasakan. Rasanya sungguh berbeda dengan perasaan ketika kamu membaca buku romance, wkwkwkwk. Tentu saja berbeda. Kenapa aku membandingkannya, coba? Aku bodoh sekali. Hahahaha. Tapi sepertinya aku memang agak sedikit jenuh dengan buku-buku bergenre romance, makanya aku mencari buku-buku dengan genre yang “lebih menantang”.

Ngomong-ngomong, dalam beberapa hal… Aku merasa ada suatu kemiripan dengan tokoh Rachel di sini, dan menuliskan ini membuatku bergidik ngeri. Dengan jelas aku mengatakan aku bukan pecandu alkohol, oke?! Tapi, aku merasakan kemiripan dengan pola pikir Rachel. Aku merasakan kemiripan ini bahkan sejak aku membaca halaman pertama buku TGOTT. Dan, apakah kemiripan yang kurasakan itu?

“Dulu, Ibuku sering mengatakan bahwa imajinasiku terlalu aktif; Tom juga berkata begitu. Aku tak bisa menghentikkan kebiasaan ini. Ketika melihat onggokan benda yang dicampakkan, kaus kotor atau sepatu sebelah, mau tak mau yang terpikirkan olehku pasangan sepatu itu, dan kaki yang pas dengannya.” -hlm. 1

Aku sangat sering berimajinasi mengenai segala sesuatu. Pikiranku selalu disibukkan oleh bayang-bayang yang tak pernah berhenti berpikir. Kupikir, aku sama dengan Rachel. Tapi biar kukatakan satu hal terakhir; kecanduan Rachel terhadap alkohol, membuat Rachel tidak bisa membedakan yang mana realitas dan yang mana khayalannya sendiri. Alkohol sudah mengacaukan pikiran Rachel.

p.s : Aku suka dengan cover versi Indonesia ini. Kesan misterius-nya masih terasa, dan kalian akan tahu bahwa buku ini menawarkan sesuatu yang “berbeda” saat pertama kali kalian memandang buku ini. :) Suka!

#3 Jadi, uruuchan suka baca buku ini?

Bukan suka lagi…. Tapi bersyukur karena sudah membaca buku ini. :”))

Rasanya setelah membaca TGOTT ini, membuka pandanganku tentang perilaku seorang pecandu alkohol; bagaimana alkohol bisa mengacaukan hidup seseorang, dan orang disekitarnya. Mengakibatkan seseorang berperilaku seperti yang bukan ‘dirinya sendiri’ dan mengacaukan ingatan. Mengerikan juga sih sebenarnya. Walaupun seseorang meminum alkohol untuk bisa mendapatkan ‘kebahagiaan’, bukankah kebahagiaannya itu sendiri bukan kebahagiaan yang nyata? Itu hanya kebahagiaan sementara yang bersifat semu. Dan, pada akhirnya kita harus kembali menghadapi realitas di depan mata yang sudah menunggu kita.

Aku beruntung bisa membaca buku ini.

Keren sekali… Dan mendebarkan. :)

Kau tidak akan menduga siapa pelaku sebenarnya :’)

#4 Last! Tuliskan apapun di sini!

Aku sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca!

Aku merekomendasikan buku ini kepada mereka yang mencari buku bergenre misteri, pembunuhan, thriller, thriller-psikologis. Ah… Pokoknya buku ini sangat layak dibaca!

Dan… Kuucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada penerbit Noura Books, karena sudah menerjemahkan dan menerbitkan buku ini :’)) sehingga buku ini bisa kubaca dengan bahasa yang ‘kupahami’. Terima kasih sudah menghadirkan buku yang sudah sejak lama kuinginkan ini :”)

Terima kasih banyak Noura Books! Sungguh aku sangat berterima kasih :”)

Aku akan menantikan buku-buku terjemahan lainnya yang keren seperti ini dari Noura Books! :D

Terima kasih!

Salam hangat,
@uruuchan

P.S.S : Teman-teman yang berminat untuk membaca (dan memiliki) buku ini, bisa membelinya secara online melalui website bukupedia : http://www.bukupedia.com/id/book/id-98710/the-girl-on-the-train.html . Selamat membaca! :)

One thought on “#UruuchanBaca The Girl on The Train by Paula Hawkins

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s