[Cerita Pendek] Gadisku Kehilangan

Aku ingin memperkenalkan kepada kalian pacarku yang sangat menarik. Kalian pasti menduga aku akan mengatakan “pacarku yang sangat cantik,” bukan? Jika menurut kalian “cantik” adalah berbadan langsing, tinggi semampai, berambut panjang, dengan tangan lentik yang kuku-kuku nya diwarnai, itu berarti pacarku tidak “cantik.” Apakah itu artinya aku menjelek-jelekkan pacarku sendiri? Tidak. Aku hanya mengatakan sesuatu yang sesuai dengan perspektif kalian.

Cantik itu bisa berbeda untuk setiap orang. Dan pacarku ‘cantik’ karena dia ‘menarik’ di mataku. Dia cantik karena tidak pernah menggunakan make-up bahkan pada kesehariannya pergi ke kampus, dia terlihat cantik walaupun selalu mengenakan gaya yang sama setiap kali pergi ke kampus; jeans panjang dipadu sweater berwarna merah tua dengan sepatu converse merah kesayangannya, dia cantik saat dia terlihat malu-malu hanya dengan berjalan di sampingku, dia cantik ketika dia tersenyum dengan sendu. Dia terlihat cantik karena di matanya aku menemukan kesenduan dan hati yang rapuh. Ya, dia cantik dengan cara seperti itu. Dari semua gadis yang pernah kukencani, sepertinya dia yang paling berbeda dari semuanya. Itulah yang membuatku semakin menyukai dirinya.

Kenapa aku bisa menyukainya? Aku tidak bisa menemukan alasan yang tepat untuk menjelaskannya. Aku hanya tahu pada saat itu bahwa aku tertarik kepadanya. Mungkin… Mungkin karena matanya. Matanya yang melihat dunia dengan begitu berbeda, indah, dan sendu. Mata yang berbeda dari kebanyakan orang. Dan dia membiarkan semua orang mengetahui apa yang dia lihat melalui matanya, dengan menuangkannya ke dalam kata-kata. Dan begitu saja, aku terpikat padanya.

Tepat tiga bulan yang lalu, kami diharuskan untuk membacakan tugas kami di depan kelas. Tugasnya tentang mengamati kejadian-kejadian di sekeliling kita, dan apa pengaruhnya terhadap diri kita sendiri. Seingatku, itu kelas “Komunikasi Interpersonal” dan aku tidak begitu tertarik dengan ide ‘membacakan di depan kelas.’ Memangnya ini Sekolah Dasar? Seperti membacakan karangan liburan ‘pergi ke rumah Nenek’? Aku sudah menduga bahwa kelas ini akan sangat membosankan. Tapi, di sanalah aku bertemu seseorang yang berhasil menarik perhatianku; yang membuatku bersyukur bahwa aku menghadiri kelas “Komunikasi Interpersonal” ini.

Dia adalah orang kedua yang membacakan tugasnya, dilihat dari tempat duduknya di barisan kursi paling depan. Dia mencoba untuk tidak kelihatan gugup, tapi pada kenyataannya terlihat sangat jelas bahwa dia merasa takut dan gemetaran saat memegang kertasnya sendiri. Aku jadi penasaran, apa yang akan diceritakan olehnya? Sesuatu yang membosankan lagi, kah? Jika membosankan, aku akan memilih untuk tidur saja. Tepat pada saat aku memutuskan hal itu, dia membacakan karyanya dengan suara yang –yang seperti apa? Aku tidak bisa menjelaskannya. Dia mengatakannya dengan lembut, tapi ada ketegasan di dalamnya. Matanya yang memandang kertas terlihat sedih, dan sendu. Matanya menyembunyikan sesuatu. Dan entah kenapa aku melihat ‘kerapuhan’ di dalam matanya ketika dia membacakan tulisannya. Entah pada saat itu aku menyadarinya atau tidak, sepertinya aku menyimak setiap perkataannya semenjak dia menyebutkan judul tulisannya. Tepat ketika dia berkata dengan pelan, lembut, tapi tegas judul tulisannya, aku tahu aku akan tertarik kepadanya dan mendengarkan apapun yang dia katakan. Dia mengatakan, “Judul yang kuberikan untuk tugas ini adalah : Melupakan Kematian.”

Aku pikir, apa yang sudah dia lihat sehingga dia menuliskan sesuatu tentang ‘kematian’? Gadis seperti apa dia, sehingga dia menuliskan ‘kematian’ dengan matanya yang sendu? Dampak apa yang sudah ‘kematian’ berikan kepada gadis ini, sehingga dia membacakan tulisannya dengan sepenuh hati, dengan seluruh jiwanya sendiri? Aku terus bertanya-tanya dalam benakku mengenai gadis ini; gadis yang membuatku tertarik karena matanya yang memandang ‘kematian’ dengan sebegitu indahnya. Ya. Di dalam tulisannya, dia melihat ‘kematian’ dari sudut pandang yang berbeda dari orang kebanyakan, terutama yang seusia denganku. Dan dia menuliskannya dengan indah. Sedih dan sedikit kelam. Dan pada saat itulah aku melihat dia begitu cantik. Dia cantik seperti itu. Dan dari situlah aku tahu bahwa aku menyukai dirinya.

Butuh waktu cukup lama agar aku bisa berpacaran dengannya. Untuk menyakinkan dirinya agar menjalin hubungan denganku, itu yang sulit. Aku tidak tahu apa yang pernah terjadi di masa lalunya, tapi aku cukup yakin bahwa itu mengakibatkan dirinya sulit untuk mempercayai orang lain, dan takut untuk menjalani hubungan lebih dari ‘teman.’ Dia merasa takut, dan tidak yakin dengan dirinya sendiri. (Aku tidak pernah ditolak dengan cara seperti ini sebelumnya. Jelas dia adalah perempuan pertama yang menolakku dengan cara seperti ini; yang membuatku semakin menginginkan dirinya) Dia juga mengatakan banyak alasan untuk menjauhkan aku darinya. Dia merasa tidak pantas denganku-lah, dia sedang tidak ingin menjalin ‘hubungan spesial’-lah; banyak sekali alasannya. Aku tahu, seharusnya pada saat itu aku menyerah. Masih banyak perempuan-perempuan lain di luar sana yang menginginkanku. Tapi, entah kenapa ada sesuatu yang menahanku. Ada sesuatu yang membuatku ingin meyakinkannya bahwa luka hati, kesedihan, ketakutan; apapun itu yang dulu pernah dirasakan olehnya, bisa disembuhkan atau dilupakan hanya dengan menjalin hubungan baru –dengan orang yang tepat, tentunya. Dan aku cukup yakin bahwa akulah orangnya.

Dan tidak pernah sekalipun dalam hidupku, aku menginginkan seseorang seperti ini. Aku sangat ingin menjadi seseorang yang dekat dengannya; bukan sebagai teman atau sahabat, tetapi sebagai seorang pacar. Aku ingin menjadi seseorang yang mendengarkan ‘kata-kata’ yang dirangkai olehnya. Aku ingin menjadi seorang pendengar cerita-cerita yang muncul dari dalam pikirannya. Aku ingin menjadi seseorang yang dibutuhkan olehnya.

Dan begitulah, pada akhirnya aku berhasil meyakinkan dirinya untuk ‘mempercayai’ aku; untuk mempercayakan hatinya kepadaku (begitulah dia menyebutnya, aku hanya mengutipnya saja. Serius); untuk menjalin sebuah hubungan lebih-dekat-daripada-teman (begitulah cara dia menyebutkan ‘pacaran’) denganku.

Aku tidak pernah merasa sebahagia itu bisa mendapatkan dirinya untukku.

***

Hari ini aku mengajaknya lari pagi ke Paun. Paun itu semacam pasar mingguan yang letaknya tak jauh dari kampus Unpad, makanya disebut Paun karena merupakan singkatan dari pasar Unpad. Aku mengajaknya bukan tanpa alasan. Alasan pertama tentu saja karena aku ingin menghabiskan waktu bersamanya, dan alasan kedua adalah…

Karena hubungan kami berjalan dengan lambat.

Kami sudah tiga bulan menjalin hubungan lebih-dekat-dari-teman ini (aku memutuskan untuk menggunakan istilah yang dibuat olehnya, karena rasanya begitu lucu untuk diucapkan) tapi aku merasa tidak ada progress yang berarti antara aku dan dia. Sejauh ini, yang kami lakukan hanyalah lebih banyak mengobrol lewat pesan LINE atau telepon, dan… Oh, sial. Cuma itu. Ya, cuma itu.

Pada saat berada di kampus, dia lebih banyak bertemu dan berkumpul bersama dengan teman-temannya (yang kebanyakan perempuan, syukurlah) dan dia jarang menghabiskan waktu bersamaku di kampus. Sedangkan di waktu malam, dia mengatakan bahwa dia tidak suka main di malam hari karena itu ‘berbahaya.’ Oke, aku berusaha menghargai pendapatnya. Tapi di luar itu, misalkan untuk main saat akhir pekan juga bisa dibilang jarang. Kenapa? Karena dia selalu pulang ke rumah orangtuanya. Dan dia tidak mengizinkan diriku untuk mengantar dia pulang (pernah sih, beberapa kali –tapi tidak terlalu sering) Seperti itu. Dan hanya sebatas itu.

Aku jadi bertanya-tanya tentang perasaan dia kepadaku, apakah dia memiliki perasaan yang sama denganku? Atau hanya aku saja? Apa hanya aku yang berusaha dalam hubungan ini? Aku ingin mengetahuinya.

Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa hari ini dia bisa pergi denganku? Hari ini kebetulan berbeda, karena dia sedang tidak pulang ke rumah orangtuanya. Dan aku agak sedikit memaksanya untuk lari pagi bersama denganku. Karena, kalau tidak ‘sedikit dipaksa’ dia pasti akan memilih tidak. Entah kenapa, aku sudah mengetahui apa yang akan dilakukan olehnya untuk menghindari diriku. Apakah dia benar-benar tidak ingin menghabiskan waktu denganku atau bagaimana, aku tidak tahu.

Kami hanya berjalan santai saat pergi ke Paun. Kupikir setidaknya kami bisa bergandengan tangan, tapi dari sikap tubuhnya, dia mengatakan secara tidak langsung bahwa dia tidak ingin bergandengan tangan denganku. Jadi aku hanya bisa memasukkan kedua tanganku kedalam saku bagian depan jaketku. Dan, sisanya berjalan dengan cukup baik. Kami mengobrol banyak hal selama perjalanan : tentang dosen, mata kuliah yang saat ini disukai, tentang teman-teman, apa yang dia lakukan akhir-akhir ini, keinginannya untuk makan udon bulan ini (dia tidak menawariku makan bersamanya) keinginannya untuk pulang ke rumah orangtuanya tapi dilarang oleh orangtuanya sendiri (dia berkata, “Ibuku bilang aku sudah terlalu sering pulang kerumah. Apa dia tidak merindukanku sebagaimana aku merindukan dia? Aku merasa sedikit sedih”) dan keinginannya untuk menonton Naruto The Movie yang terbaru di bioskop (dia sama sekali tidak menyinggung apakah aku ingin menonton bersamanya atau tidak, dan dia tidak mengajakku sama sekali).

Aku suka bahwa dia tidak sepenuhnya mengabaikan aku, karena dia mengobrol sebagaimana kami mengobrol di pesan LINE atau telepon. Tapi, tetap saja rasanya ada yang kurang. Kalian tahu maksudku, kan?

Setibanya di Paun, kami memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Ketika kutanya dia ingin makan apa, dia menjawab, “Terserah kamu aja. Aku ikut kamu.” Sejujurnya aku paling tidak suka dengan jawaban semacam itu. Sangat tidak suka. Benci. Jadi, kutegur dia dan membujuknya untuk mengatakan apa yang dia inginkan. Dia jadi merasa tidak enak setelah itu, dan langsung meminta maaf. Aku merasa bersalah karena sudah ‘sedikit keras’ kepadanya, tapi dia memang harus diingatkan. Barulah dia berkata kalau dia ingin makan batagor. Aku mengacak-ngacak rambutnya sambil berkata, “Terima kasih sudah bilang sesuatu selain terserah.”

Kami memakan batagor dan mengobrol lagi. Dia punya banyak hal untuk diceritakan, dan aku dengan senang hati mendengarnya. Apapun dia ceritakan, hanya saja bukan tentang hubungan kami berdua. Dia sama sekali tidak menyinggung tentang hal itu sedikitpun. Apakah dia merasa nyaman-nyaman saja dengan hubungan kami yang seperti ini? Atau dia memang tidak ingin mengobrolkan sesuatu tentang itu? Adakah yang dia sembunyikan?

Aku tahu, aku tidak bisa memaksakan apa yang kumau terhadap dirinya. Sebisa mungkin, aku ingin kami saling menghargai satu sama lain. Aku menyayanginya. Dan aku tidak ingin melukai hatinya. Tidak semua orang bisa merasa langsung nyaman dengan hubungan berpacaran (tapi semua mantan pacarku dengan sangat cepat beradaptasi dengan perubahan status mereka) jadi mungkin dia butuh adaptasi.

Aku jadi ingat sesuatu yang pernah dia katakan kepadaku melalui telepon :

“Aku sudah lama sekali tidak… Mmm… Berpacaran. Kalau boleh aku bilang, aku tidak tahu harus bagaimana saat berpacaran. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Jadi, mungkin aku akan sedikit kikuk kalau bersama kamu…”

Lalu dia melanjutkan, “Apa kamu marah jika aku seperti itu?”

Haaah…. Kalau kuingat-ingat lagi, pada saat itu yang ingin aku lakukan hanyalah memeluknya erat-erat. Kenapa dia bisa mengatakan sesuatu yang membuat hatiku langsung berdebar-debar? Kenapa dia bisa mengatakan hal-hal yang begitu manis? Kejujurannya itulah yang membuatku semakin hari semakin menyukainya.

Jadi… Aku memaklumi selama ini dia tidak terlalu banyak menghabiskan waktu denganku. Tapi, ini sudah tiga bulan dan dia masih saja merasa nyaman dengan hubungan kami yang seperti ini. Tidakkah dia ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan pacarnya sendiri? Rasanya baru pertama kali ini aku begitu perhatian dengan hubungan ‘pacaran’ yang kumiliki. Mungkin karena semua ini tentang dia.

Terkadang ada saat-saat dimana dia begitu mudah dibaca, karena semua yang dia rasakan tergambar begitu saja di wajahnya. Tapi ada juga saat-saat di mana aku sama sekali tidak tahu apa yang dia pikirkan, dan apa yang dia rasakan. Seolah-olah dia masih menyimpan beberapa rahasia yang tidak kuketahui, atau tidak ingin aku mengetahuinya. Seperti saat ini, di mana dia tidak bisa kubaca, dan aku tidak tahu apakah dia tengah menyembunyikan sesuatu dariku atau tidak.

Setelah selesai makan batagor, kami mulai menjelajahi Paun. Apapun yang dibutuhkan, sepertinya semua ada di sini –lengkap dengan harga terjangkau. Paun juga menjadi tempat favorit mahasiswa untuk membeli kebutuhan kosan atau sehari-hari dengan uang pas-pasan. Dan seperti minggu-minggu sebelumnya, Paun selalu ramai oleh pengunjung dari segala usia mulai dari anak SD, remaja, orang tua, dan lansia.

Kuperhatikan wajahnya sejenak, sepertinya dia terlihat menikmati suasana di Paun. Beberapa saat yang lalu, dia berkata bahwa dia sudah lama tidak datang ke sini, jadi rasanya kangen untuk melihat kembali Paun yang masih sama seperti yang terakhir kali dia ingat. Matanya terkadang melihat kesana kemari, melihat apapun yang bisa dia lihat. Terkadang dia mengomentari apapun yang terlihat oleh matanya. Terkadang dia tersenyum, dan terkadang dia seperti teringat sesuatu yang membuatnya sendu.

Pada saat itu, entah apa yang terbersit dibenakku, aku ingin melihat dia sendirian. Ditinggalkan.

Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan, tapi aku berhenti berjalan di sisinya, dan membiarkan dia berjalan terus dan terus dan terus, meninggalkan aku sendirian di belakang. Sepertinya dia masih ‘sibuk’ dengan apapun itu yang ada di dalam pikirannya, dan tidak menyadari bahwa aku sudah tidak berada di sampingnya lagi. Dan sekarang dia sudah jauh dari hadapanku, kemudian menghilang ditelan keramaian orang-orang yang datang ke Paun.

Aku tidak tahu kenapa aku melakukan ini. Semakin kupikirkan, aku akan semakin kebingungan, jadi aku memutuskan untuk tidak memikirkannya sama sekali.

Kebetulan di dekatku ada Bapak-Bapak penjual susu murni yang sudah dikemas. Aku memutuskan membeli dua buah; satu rasa cokelat dan satu rasa strawberry. Kemudian setelah mendapatkan susu itu, aku memutuskan untuk berdiri di pinggir jalan dekat dengan tembok batu. Tempat itu cukup teduh karena ada pepohonan lebat yang menaunginya. Aku menjauh dari keramaian Paun dan memutuskan untuk menjadi penonton dari keramaian ini.

Aku menunggu.

***

Tak lama kemudian, aku melihat dia.

Dia ditengah keramaian orang-orang yang berdesak-desakkan.

Dia dengan wajahnya yang terlihat sangat putus asa, kebingungan, dan hampir terlihat ingin menangis. Bibir bawahnya dia gigit dengan cukup keras. Matanya berkaca-kaca, berusaha keras untuk tidak menangis. Kepalanya mencari kesana kemari tidak dengan terburu-buru, tapi terlihat cukup jelas bahwa dia tengah mencari seseorang. Tepatnya lagi, dia kehilangan seseorang. Sesekali dia juga menabrak para pengunjung Paun, dan dia meminta maaf dengan menundukkan kepalanya. Kemudian dia melanjutkan pencariannya lagi.

Sampai kedua mata kami bertemu.

Aku tersenyum kepadanya, dan menangkat pundakku sambil memperlihatkan kantong plastik yang ada di sebelah tanganku. Menunjukkan padanya secara tidak langsung bahwa aku habis membeli sesuatu.

Dia berjalan dengan cepat ke arahku. Melangkahkan kakinya. Terus… Dan terus… Dan mendekat… Lebih dekat lagi… Dia mempercepat langkahnya lagi, dan kemudian dia berlari. Berlari kearahku. Sedikit lagi… Sedikit lagi… Sampai pada akhirnya dia berdiri di hadapanku.

Aku tersenyum kepadanya.

Keringat bercucuran di keningnya. Napasnya terengah-tengah; efek panik yang belum hilang, dan lari yang barusan dilakukan olehnya. Matanya yang bulat menatapku dengan terbelalak. Dia masih berusaha menenangkan napasnya dan perasaannya. Dia tengah mencari suaranya untuk mengatakan sesuatu kepadaku, dan aku dengan sabar menunggunya.

Kecewa karena tidak menemukan suaranya dengan cepat, dia memegang lengan jaketku. Dia memegangnya dengan begitu erat, sampai-sampai kurasakan bahwa tangannya sedikit gemetar. Kemudian dia menundukkan kepalanya dihadapanku. Dia tidak lagi menatap wajahku.

Kemudian sesuatu terjadi dengan begitu cepat.

Dia memelukku.

Dia memelukku dengan begitu erat; melingkarkan kedua tangannya di belakang punggungku. Dia menyembunyikan wajahnya di dadaku. Kedua tanganku terbebas di udara, sama seperti seseorang yang mengangkat tangannya ketika di todong senjata oleh polisi. Bedanya, aku bukan di todong oleh senjata, tapi menemukan bahwa pacarku sendiri untuk pertama kalinya memelukku dengan begitu erat, dan pelukan pertama itu terjadi di tepi keramaian seperti ini.

Aku juga mendengar sesuatu. Semacam isakan. Seseorang terisak dan itu adalah dia yang tengah menangis sambil memeluk diriku dengan begitu kuat, seakan-akan tidak ingin melepaskannya apapun yang terjadi. Seolah-olah sudah menemukan sesuatu yang berabad-abad menghilang, dan akhirnya menemukannya.

Aku tidak menyangka bahwa apa yang aku lakukan beberapa saat yang lalu, tanpa alasan apapun, ternyata memiliki dampak seperti ini terhadap dirinya. Kini dia menangis, dan bahunya bergetar hebat menahan diri agar tidak menangis lebih keras. Yang bisa kulihat hanyalah puncak kepalanya, yang entah kenapa membuat hatiku terasa teriris pedih. Dia terlihat sangat rapuh.

Aku menjatuhkan kantong plastik yang kubawa, kemudian balas memeluknya. Kulingkarkan lenganku di kepalanya dan pinggangnya. Ya Tuhan… Dia… Pacarku… Gadisku… Aku mencoba menenangkannya dengan mengusap-ngusap rambutnya, menepuk-nepuk punggungnya, dan mencoba memeluknya dengan erat agar aku bisa menghilangkan rasa paniknya. Aku mencoba merekatkan hatinya yang hampir pecah dengan balas memeluknya kembali.

Aku jahat. Aku tahu. Membiarkannya kebingungan dan panik seperti ini tanpa mengetahui bahwa aku melakukannya dengan sengaja. Aku jahat. Laki-laki yang sangat jahat. Tapi, jika aku melakukan hal seperti ini untuk mendapati dirinya yang berlari kearahku kemudian memelukku untuk pertama kalinya dengan sangat erat… Rasanya setimpal. Sangat setimpal.

Hanya saja, (sepertinya) aku telah mengingatkannya kepada ketakutan terbesarnya.

Sebenarnya aku sudah menduganya sejak awal, namun aku tidak pernah yakin dengan hal itu. Namun, kali ini aku sangat yakin bahwa aku mengetahui ketakutan terbesarnya. Hal yang tidak ingin dia rasakan, dia ingat, atau bahkan dia bayangkan.

Pikiranku tiba-tiba melayang pada saat dia membacakan judul tulisan untuk tugasnya waktu itu, “Judul yang kuberikan untuk tugas ini adalah : Melupakan Kematian

Apa yang kulakukan tadi, sudah mengingatkannya kembali akan ketakutan terbesarnya. Dan ketakutan terbesarnya adalah……

“Apa tadi kamu kehilangan aku?”

Dia mengangguk pelan.

Dia pun semakin mempererat pelukannya padaku. []

10/4/2015 9:34:36 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s