coffee-1246080_960_720
Image credit : http://www.pixabay.com

Aku selalu mencoba untuk membayangkan jalanan yang dilalui Bapak setiap harinya.

Setiap hari, Bapak selalu pergi bekerja. Normalnya Senin sampai Jumat, tapi terkadang pada hari-hari libur Bapak mendapat panggilan dari Atasan untuk datang ke kantor. Dan, tentu saja Bapak tidak bisa menolak hal itu. Terkadang, Bapak bisa seperti orang yang sangat berdedikasi terhadap pekerjaannya, tapi di sisi lain, Bapak bisa menjadi seseorang yang merajuk tidak mau masuk ke kantor dan ingin bolos selama sehari pada hari-hari tertentu. Yah, aku sering melihat sisi lain Bapak yang ‘itu’ –yang merajuk ingin bolos ke kantor dan rasanya lucu melihat Bapak seperti itu.

Bapak selalu pergi ke kantor dengan motor Vario putihnya. Aku ingat, dulu Bapak menginginkan ‘motor besar’ untuk dinaiki, tapi dana yang tersedia tidak memungkinkan Bapakku membeli motor besar itu. Alhasil, untuk saat ini Bapak merasa sangat cukup dengan motor Vario-nya. Bersama motor itu, Bapak sudah pergi kemana-mana, misalnya : Parung Kuda di Sukabumi, Surade, Bandung Kota, dan lain-lain. Yang pasti, motor Vario selalu mengantar Bapakku pergi ke tempat kerjanya setiap hari.

Jarak kantor Bapak dari rumah jika ditempuh dengan motor bisa sampai setengah jam lebih. Tapi, Bapak pernah bilang kalau jalannya sedang lancar dan tidak macet, dua puluh menit juga bisa sampai ke kantor. Bukan tanpa alasan, tapi rute yang dilalui oleh Bapak ke kantor adalah rute jalan yang selalu macet dan sibuk setiap harinya, bahkan setiap paginya. Itu satu-satunya rute menuju kantor, jadi Bapak tidak punya pilihan lain selain melewati rute itu dengan penuh kesabaran.

Saat Bapak pulang dari kantor juga seperti itu. Rute tersebut selalu macet, bahkan lebih parah dibandingkan pagi hari. Pada jam-jam pulang kerja, semua orang berebutan jalan agar bisa sampai di rumah secepat mungkin. Bukan main banyaknya kendaraan yang melewati rute ini pada saat-saat seperti itu. Rute itu begitu padat dengan motor yang bisa selap-selip sesuka hati, dan angkot yang suka berhenti seenaknya di manapun. Sungguh sebuah rute yang sangat menguji kesabaran. Dan Bapakku harus melewati rute itu setiap hari; pagi dan sore hari.

Jika kalian masih belum punya bayangan rute yang kumaksud seperti apa, biar kuberikan sedikit pencerahan. Bayangkan rute yang ditempuh motor dari Rancaekek menuju Cibiru sampai ke Jalan Soekarno Hatta, seperti itulah rutenya kira-kira. Dan kita semua tahu, bahwa rute tersebut selalu sibuk dan macet dan ramai. Selalu seperti itu.

Dan sekali lagi, Bapak harus melalui rute semacam itu setiap hari.

***

“Haloooo! Selamat datang di rumah, Pak!” Aku membuka pintu rumah sambil tersenyum lebar kemudian menyalimi Bapak,  dan mempersilahkan Bapak masuk. Selalu seperti itu. Maksudku, ucapan “selamat datang di rumah.” Itu adalah perkataan yang selalu aku ucapkan kepada Bapak atau Ibu ketika datang di rumah. Dengan mengatakan hal seperti itu, aku berharap Bapak atau Ibu bisa merasa nyaman karena ‘disambut’ di rumah mereka sendiri.

“Hai Nak,” jawab Bapak dengan agak lesu. Diam-diam aku melihat wajahnya yang kentara sekali menunjukkan rasa lelah. Rasanya sedih jika melihat Bapak seperti itu.

“Capek Pak? Di jalan macet yah?”

“Haaaaah….” Bapak mendesah dengan keras, “Bukan macet lagi, Nak. Macet banget. Udah mah selalu macet di sana teh, eh malah ada perbaikan jalan juga. Tambah macet-lah di sana.”

Setibanya di dapur, Bapak menggantungkan jaketnya, kemudian mengeluarkan barang-barang yang ada di saku seragamnya dan celananya. Setelah itu, Bapak duduk di depan TV di ruang keluarga yang terletak di dekat dapur, menyalakan TV dan mencari channel yang menarik menurut Bapak. Dan lagi-lagi selalu seperti itu. Itulah cara Bapak beristirahat setelah pulang dari kantor; seakan-akan dengan melakukan hal itu, rasa lelahnya bisa menghilang dalam sekejap, dan hari-hari panjang yang melelahkan di kantor sudah selesai (setidaknya untuk hari ini).

Aku tengah memandang sosok Bapak yang sudah bekerja keras hari itu untuk menghidupi Ibu, aku, dan adikku. Bapak yang selalu bekerja keras –yang terlihat sangat kuat, tapi sesekali juga bisa merasa lelah dan butuh istirahat, yang terkadang bisa mengeluh karena capek. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena keesokkan harinya Bapak pasti akan bekerja keras lagi.

Aku hanya bisa berkata dalam hati, “Terima kasih sudah bekerja keras hari ini, Pak.”

***

Aku pernah melewati rute yang selalu diambil Bapak setiap kali pergi ke kantor. Waktu itu, aku akan pergi ke sebuah tempat yang letaknya lebih jauh dari kantor Bapak, bersama dengan seorang temanku naik sepeda motor lewat rute yang langganan macet itu.

Dalam perjalanan, aku berusaha melihat sebanyak mungkin apa yang bisa dilihat oleh mataku. Aku melihat toko-toko, para pedagang, pasar tumpah, jembatan, bank, toserba besar, sungai, polisi, pertigaan jalan, warung-warung, bangunan-bangunan besar, angkot, orang-orang, jalan besar, sawah, kedai es kelapa, kedai tutut, dan masih banyak lagi. Lalu entah kenapa sebuah kesadaran merayapi pikiranku : aku tengah melihat apa yang dilihat oleh Bapak.

Aku sedang melihat apa yang dilihat oleh Bapak setiap harinya.

“Bapak pasti sangat familiar dengan tempat ini,” begitu pikirku. Tentu saja familiar, Bapak kan lewat rute ini setiap hari. Setengah dari hidup Bapak dihabiskan dengan pergi bekerja, dan tentu saja Bapak pasti sangat mengenali rute ini, dan apa-apa yang dilewati oleh Bapak selama perjalanan menuju ke kantornya.

Tapi soal rute ini benar-benar bukan main macetnya. Aku melihatnya dengan mata kepala sendiri. Sangat macet. Begitu banyak kendaraan yang melewati rute ini mulai dari motor, sedan kecil, mobil keluarga macam Avanza dan APV, mobil pick-up, elf, bus tiga per empat, bus besar, truk-truk, dan angkot tentu saja. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan kemacetan di rute ini setiap harinya; maksudku… Apa selalu ada ‘sesuatu’ yang mengakibatkan macet setiap hari? Pohon tumbang? Kecelakaan? Mana mungkin itu terjadi setiap hari, kan? Sepertinya penyebabnya adalah jalannya yang tidak cukup luas untuk menampung semua kendaraan-kendaraan ini yang lewat setiap harinya. Rute ini tidak bisa menampung jumlah kendaraan yang ada saat ini. Sudah terlalu banyak.

Begitu berdesak-desakannya kendaraan, aku sampai merasa kepalaku pening dan berdenyut-denyut. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku tidak terbiasa berada di kondisi macet saat naik motor, atau mungkin karena cuaca panas yang menyengat pada saat itu. Tapi aku selalu merasa seperti ini. Ini bukan pertama kalinya aku merasa sakit kepala gara-gara melihat macet dengan aku yang berada di tengah-tengah kemacetan itu sendiri. Rasanya tidak tahan.

“Ya Tuhan… Aku ingin pulang saja. Aku tidak suka macet. Dan aku tidak suka dengan semua kendaraan-kendaraan yang berdesak-desakan ini. Kepalaku sakit sekali…..” Aku berkeluh kesah dalam hatiku. Aku tidak mengatakannya kepada temanku, aku merasa tidak enak kalau mengatakannya.

Dan sekali lagi, sebuah kesadaran menghampiri pikiranku. Kesadaran itu datangnya tiba-tiba sekali. Kali ini aku merasa sangat tidak enak. Aku bahkan menahan napasku sesaat, karena kesadaran ini begitu membuatku merasa bersalah.

Ya Tuhan… Maafkan aku…

Aku menyadari bahwa mungkin saja aku tengah mengalami apa yang dirasakan oleh Bapak setiap harinya. Setiap hari.

Macet ini… Kendaraan-kendaraan yang begitu banyak ini… Dan sakit kepala yang terus berdenyut-denyut ini… Mungkin Bapak juga pernah mengalaminya. Atau bahkan Bapak merasakannya setiap hari.

Bapak harus melewati rute ini setiap hari, dan mengalami semua kemacetan ini, dan perasaan lelah dan sakit kepala ini, dan mungkin masih banyak lagi.

Setiap harinya. Lima hari dalam satu minggu.

Bapak… Bapakku

Aku merasa ingin memeluk Bapak pada saat itu juga.

***

“Haloooooo Bapak!!” Aku menyambut Bapak dengan antusias. Aku meraih tangan Bapak untuk disalimi.

Bapak tersenyum melihatku membukakan pintu dan menyambutnya dengan suara kekanakanku yang khas. Wajahnya terlihat letih, agak kuyu. Itu pasti gara-gara macet di perjalanan. Sesudah bekerja keras di kantor, pulangnya Bapak harus berjuang juga melewati kemacetan di rute itu setiap sorenya bersama dengan Vario putih kesayangannya. Sudah pasti Bapak pulang dengan wajah kuyu dan merasa sangat lelah.

“Mamah belum pulang?” Tanya Bapak sambil berjalan ke arah dapur. Bapak mulai mengeluarkan barang-barang dari seragamnya seperti biasa.

Aku mengecek dispenser di dapur untuk melihat bahwa indikator lampu untuk air panas berwarna merah sudah menyala. Sip. “Belum, Pak. Katanya Mamah ada les bahasa Inggris dulu di kantor,” jelasku. Kemudian aku melihat jam dinding di atas TV di ruang keluarga dan berkata kepada Bapak, “Tapi kayaknya sebentar lagi juga pulang, deh.”

Bapak mengangguk mengerti sambil menyalakan TV. Oke, sekarang aku sudah siap melakukan ini. Aku berjalan menghampiri Bapak, kemudian berdiri di sampingnya.

“Ehm!” Aku berdeham untuk menarik perhatian Bapak, sekarang Bapak melihatku, “Do you want a cup of coffee, Sir?” Tanyaku kepada Bapak dengan sikap seperti seorang pelayan di café (yang mudah-mudahan sih terlihat seperti itu)

Bapakku agak terperangah sebentar melihatku bersikap seperti itu. Tentu saja Bapak kaget, aku jarang sekali bercakap-cakap dengan Bapak menggunakan bahasa Inggris. Dan ini sangat memalukan sekali untukku melakukannya di depan Bapak. Pasti kelihatan aneh. Pasti. Tapi, apapun akan aku lakukan agar Bapak tersenyum. Agar Bapak tidak merasa capek lagi sehabis pulang dari kantor.

“Oh! Yes! Yes yes yes!” Balas Bapak kelewat senang. Bapak menganggukkan kepalanya tiga kali secara berlebihan. Dan aku tertawa melihat Bapak seperti itu.

Tunggu?

Kenapa malah aku yang tertawa karena Bapak? Harusnya kan Bapak yang merasa terhibur dengan sikapku? Kenapa jadi terbalik? Tapi tidak apalah. Aku dan Bapak saling menghibur satu sama lain, dan tidak ada yang lebih baik dari pada itu.

Aku tersenyum kepada Bapakku, “Okay, Sir. Please wait for five minutes.”

***

Sejak saat itu, aku selalu membuatkan segelas kopi untuk Bapak ketika Bapak tiba di rumah.

Aku berpikir, apa yang bisa kulakukan untuk Bapak? Apa yang bisa kulakukan agar Bapak bisa melepaskan lelah di rumah, dan bisa beristirahat dengan baik? Apa yang bisa aku lakukan agar Bapak tidak perlu lagi memikirkan jalanan yang macet saat tiba di rumah?

Dengan kapasitasku yang seperti ini, aku tidak bisa menghilangkan rasa letih Bapak setelah bekerja. Aku hanya siswa SMA kelas 3 yang tengah bersiap-siap menghadapi UN dan berjuang agar bisa masuk ke Perguruan Tinggi Negeri, belum punya pekerjaan, dan belum punya penghasilan sendiri. Masih bergantung sepenuhnya kepada Bapak dan Ibu.

Tapi, aku sadar bahwa aku bisa melakukan sesuatu. Hal-hal kecil yang bisa kulakukan untuk Bapak, agar Bapak tidak merasa capek sehabis pulang bekerja di rumah. Hal-hal sederhana yang kutahu bisa membuat Bapak bahagia dan tersenyum. Aku tahu aku bisa melakukan sesuatu untuk Bapak.

Salah satunya adalah dengan membuat secangkir kopi untuk Bapak.

Sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehku untuk membuat secangkir kopi untuk Bapak. Selama ini, Bapak selalu membuat kopinya sendiri (aku merasa sangat bersalah sekali karena hal itu. Kemana saja aku ini? Membiarkan Bapak membuat kopinya sendiri) setiap harinya; setiap pagi dan setiap sore. Maka dari itu, ketika Bapak mendapati aku menawarkan sendiri membuat kopi untuk Bapak, aku melihat rasa senang melebihi apapun di mata Bapak. Seperti Bapak mendapatkan kejutan yang sangat tidak di sangka-sangka. Saat melihat itu di mata Bapak, aku jadi ingin menangis.

“Ternyata kebahagiaan itu sangat sederhana di mata Bapak; sesederhana anak gadisnya membuatkan secangkir kopi untuknya sepulang kerja.” Itu yang baru-baru ini aku sadari. Menyadari hal itu membuat hatiku ‘sakit’ dalam artian yang baik. Membuatku ingin lebih banyak berbuat hal-hal baik untuk Bapak. Untuk membuat Bapak bahagia.

Aku membuatkannya kopi hitam instan favoritnya. Setelah menyeduh kopi itu dengan air panas, terkadang aku ingin menjahili Bapak. Misalnya dengan mengangkat cangkir kopi itu tinggi-tinggi dan meniupkan uap kopi itu agar aroma kopi menyebar ke seluruh ruangan; ke tempat Bapak menonton TV.

Dan aku mendengar Ayah berkata, “Duh!! Kopi-na meni seungit pisan, euy! (Kopinya wangi sekali)” Aku tahu Bapak mengatakan itu pasti sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dan aku tahu, aku sudah membuat Bapak tersenyum pada hari itu. []

20150911 12:07 PM
Mengingat Bapak.

8 thoughts on “[Cerita Pendek] Kopi Untuk Sebuah Senyuman

  1. Ceritanya sederhana, sesederhana kebahagian Bapak. Salam buat bapak nunui. Bilangin, sebentar lagi anaknya jadi penulis hebat.

    1. Astaga… Mbazii~ Sukses terharu deh baca komentarnya :”) Makasih udah baca mbazii :’) Zizi juga, kapan berkarya lagi? Ingin kolaborasi lagi macem 12:49 :D

  2. bapakku mah gak cocok sama saya, tapi cerita mba buat perasaan sedikit lebih bai sama bapak. thanks yaa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s