[Cerita Pendek] Lelaki yang Kutemui di Trotoar

“Demi Tuhan, apa yang sedang aku lakukan?”

Barangkali, sudah lebih dari sepuluh kali aku mengajukan pertanyaan itu kepada diriku sendiri. Mungkin aku sedang tidak sadar. Tapi pada kenyataannya, aku sadar, dan sayangnya tidak sepenuhnya sadar. Kau sebut saja itu sebagai “di antara sadar dan tidak sadar.”

Di mana aku? Sedang apa aku? Kenapa aku di sini? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang kutanyakan dalam hati untuk diriku sendiri. Aku berusaha mengumpulkan kesadaranku, dan benar-benar mencoba untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku sedang berada di tengah-tengah rapat yang katanya sangat penting dari suatu organisasi yang ku ikuti. Aku sedang mendengarkan seseorang berbicara. Aku berada di sebuah ruangan yang dingin dan duduk di atas lantai ubin berwarna gelap yang tak kalah dinginnya, dan aku di sini karena aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti rapat ini.

Ya Tuhan… Aku ingin pulang.

Aku sangat ingin pulang. Aku mulai bosan berada di sini. Rapat ini sudah berlangsung sejak siang tadi, dan sampai langit berubah menjadi malam ternyata semua ini belum usai juga. Rasanya aku sudah tidak akan bisa mengikuti pembicaraan dalam rapat ini lebih lama lagi, karena apapun yang mereka katakan, tidak akan terdengar olehku. Mungkin sebenarnya aku sama sekali tidak mengerti dengan yang mereka ucapkan.

Aku begitu putus asa ingin meneriakkan “WOY RAPATNYA UDAHAN AJA KENAPA SIH” seperti itu, atau “KALIAN GA CAPEK GITU?” Dan, masih banyak lagi yang ingin aku teriakkan kepada orang-orang yang sedang berdiskusi itu. Tapi, hal itu cuma bisa terjadi dalam dunia imajinasiku saja  di mana diriku “yang lain” mungkin bisa melakukannya. Di sini, di dunia realita ini, mana berani aku meneriakkan hal itu. Dan sampai kapanpun, aku tidak akan mau melakukannya. Membayangkannya saja sudah membuat aku bergidik ketakutan.

Angin berhembus pelan-pelan, dan tubuhku merasakan dingin yang ternyata lebih parah dari dugaanku. Ditambah lagi lantainya juga semakin dingin. Aku kelaparan, aku kedinginan, aku sangat mengantuk sekali (dan aku heran, mengapa hanya aku saja yang merasa ngantuk?) aku ingin pulang ke rumah, aku ingin kasurku, aku ingin selimut kesayanganku. Aku heran, kenapa tidak ada orang yang menginginkan selimut di rumah seperti yang kurasakan saat ini?

Aku sudah lupa kami sedang mendiskusikan apa, tapi yang jelas kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Sebenarnya tidak banyak kelompok yang terbentuk, mungkin hanya tiga? Ya Tuhan, kelopak mataku perlahan menjadi berat, aku sangat mengantuk sekali. Dan, masih sempat kulihat dua kelompok lainnya sedang berdiskusi dengan serius. Kelompokku? Ah… Kami sudah menyelesaikan hasil diskusi kami. Apa tadi hasilnya? Demi apapun, aku sudah tidak mengingatnya lagi. Aku merasa sangat lelah… Dan ingin tidur… Dan sangat mengantuk.

Sembari menunggu hasil diskusi kelompok yang lain, aku memutuskan untuk merebahkan diriku di atas lantai yang dingin itu. Mungkin seharusnya aku mengeluhkan lantai yang dingin itu, tapi aku tidak melakukannya. Atau mungkin, aku terlalu lelah untuk menyadari bahwa lantainya begitu dingin? Karena tidak ada yang bisa kulakukan lagi, aku menatap langit-langit di atasku yang kosong dan suram. Sekali lagi, aku menghembuskan napas dengan berat. Ya Tuhan… Aku ingin pulang. Aku sangat lelah, dan sedihnya lagi aku tidak bisa mengatakan kepada mereka bahwa aku sangat lelah. Satu-satunya harapanku saat ini adalah waktu berjalan dengan sangat cepat, sehingga tahu-tahu waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Kau tahu? Ayahku akan menjemputku nanti jam sembilan malam.

Aku memutuskan untuk terlelap sebentar saja. Hanya sebentar saja… Sungguh. Rasanya aku ingin menutup mata sejenak, dan tidak berpikir tentang sesuatu apapun. Apa aku satu-satunya di sini yang terlelap di tengah rapat dengan posisi berbaring? Tapi tempat ini kan sangat luas sekali. Tidak apa-apa. Pasti tidak apa-apa. Tapi bolehkah aku tidur dengan posisi seperti ini ditengah rapat?

UH…… Demi apapun, masa bodoh-lah!

Dan aku pun perlahan menutup mataku dan tidak memikirkan apapun selain membayangkan rasanya kasur dan selimut yang ada di rumah.

***

Aku terbangun dengan sentakkan rasa kaget.

Dan hal yang muncul dalam pikiranku adalah : Jam berapa sekarang?

Benakku langsung bekerja dan mengumpulkan kesadaran. Aku terbaring di atas lantai (oke ini masih tempat yang sama dengan sebelumnya yang masih aku ingat), dan aku berbalik sehingga posisiku sekarang dalam keadaan terlungkup dan mengamati bahwa diskusi masih berlangsung. Dua kelompok itu masih berdiskusi ternyata. Demi Tuhan, mereka adalah orang-orang yang penuh dedikasi.

“Tadi itu kamu beneran tidur?” Seseorang di sebelah kiri bertanya kepadaku. Oh, ternyata itu Martha, dengan wajahnya yang kentara sekali menunjukkan rasa lelah. Kantung matanya terlihat dengan jelas, riasan di wajahnya pudar, dan ekspresinya benar-benar kusut. Kalau Martha saja seperti itu, bagaimana denganku? Oh… Aku tidak berani melihat wajahku saat ini.

“Aku… Aku gatau.” Jawabku dengan linglung.

“Kok gatau?” Martha keheranan dengan jawaban yang kuberikan.

Karena aku sendiri tidak tahu aku tertidur apa tidak. Maksudku, tadi kan aku bermaksud untuk menutup mata sejenak; sekedar untuk melepas lelah. Tapi… Tapi… Apa aku benar-benar tertidur? Serius? Rasanya memang aku sudah tertidur selama beberapa saat. Aku tidak percaya bahwa aku bisa tidur di tengah rapat seperti ini. Aku sungguh hebat, ya.

“Mereka masih rapat ya…..” Kataku, tidak kepada siapapun sambil melihat kelompok yang berisikan senior-senior dari organisasi ini. Mereka masih berunding dengan suara yang dipelankan. Sesekali mereka juga terlihat sedang menertawakan sesuatu. Sudah malam tapi mereka kelihatannya sangat bahagia sekali, mereka hebat. Aku mengagumi mereka, sungguh.

Tapi melihat mereka masih sibuk berdiskusi, aku tiba-tiba menyadari bahwa rapat ini belum usai dan kenyataan bahwa aku tidak tahu kapan rapat ini akan usai. Aku sudah tidak punya kekuatan untuk mengeluhkan semua ini. Bahkan berpikir pun sudah tidak bisa. Terserahlah. Aku tidak peduli. Aku akan bersikap tidak peduli saja. Beritahukan saja hasil akhirnya padaku, sisanya aku tidak peduli!

Aku menundukkan kepalaku di atas kedua tanganku yang terlipat, berpikir apakah sebaiknya aku melanjutkan kembali tidurku, atau… Atau apa? Mencari jajanan di luar? Sepertinya, aku merasa lapar. Belum lagi perutku kembung dan menunjukkan perih-perih di dalam lambung, dan itu artinya Maagh ku akan kambuh sebentar lagi. Tapi, ngomong-ngomong jam berapa sekarang? Tunggu–

ASTAGA! JAM BERAPA SEKARANG?

Aku terbangun dari posisi terlungkupku dan dengan ngeri mulai mencari di mana handphoneku. Demi Tuhan, di mana tadi aku menyimpan handphone itu? Sialan. Sialan. Sialan. Aku hampir putus asa dan benar-benar panik ketika akhirnya aku menemukan handphone itu dan segera saja aku membuka kuncinya untuk melihat handphoneku menunjukkan angka “9:30 PM” di layarnya.

Aku terkesiap. Aku tidak sadar bahwa aku menahan napasku.

JAM SETENGAH SEPULUH! SETENGAH SEPULUH MALAM.

Aku melihat delapan panggilan tidak terjawab dari Ayahku, dan enam pesan yang belum dibuka dari Ayahku juga. Astaga. Apa yang sudah aku lakukan? Apa yang sudah aku lakukan? Apa Ayahku masih menungguku? Atau Ayahku sudah pulang ke rumah dan meninggalkanku di sini? Ya Tuhan, Ya Tuhan… Ayahku… Ayah.

Aku segera saja menelepon Ayahku. Aku harus segera meneleponnya. Kasihan Ayah, itu yang ada dibenakku saat menunggu panggilanku dijawab oleh Ayah. Sembari menunggu, aku menggigit bibir bawahku secara tidak sadar; sebuah kebiasaan ketika aku dilanda panik, dan gugup, dan kalut. Dan kenapa pula Ayah lama sekali menjawab panggilan dariku?

Aku harus segera pergi dari sini. Aku benar-benar harus pergi. Aku tidak bisa membiarkan Ayahku menunggu lebih lama lagi. Tak peduli jika aku tidak ikut sisa rapat ini, yang penting adalah Ayahku. Ayahku yang paling utama.

Ya Tuhan…. Ayah….

Kumohon angkat teleponnya.

Maafkan aku.

***

Aku berjalan menyusuri jalan dengan sangat terburu-buru. Aku berusaha berjalan secepat mungkin sebisa yang kulakukan, tapi tidak sampai berlari (aku sudah kehabisan energi sampai-sampai tidak sanggup untuk berlari). Aku melangkah lebar-lebar, dan aku menyesali kenapa aku tidak mengenakan sepatuku yang biasanya, bukannya sendal karet sialan ini. Maafkan aku, jika ada keadaan yang di luar kendaliku, atau keadaan yang tidak kuharapkan, atau keadaan yang di luar dugaanku, secara tidak sadar aku selalu mengumpat. Dan jelas saja ini termasuk keadaan yang terjadi di luar dugaanku.

Aku tidak tahu harus merasa senang atau sedih ketika Ayah mengangkat telepon dariku, dan mengatakan bahwa dia masih menungguku di tempat yang biasanya. Saat mendengar hal itu, perasaan lega membanjiri hatiku, rasanya seperti disiram oleh air dingin. Aku merasa senang karena aku tidak ditinggalkan, dan aku selalu punya perasaan buruk jika berkaitan dengan ditinggalkan. Tapi di satu sisi, aku juga merasa sangat bersalah karena sudah membiarkan Ayahku menungguku selama itu. SETENGAH JAM LEBIH, bayangkan itu. Atau bahkan lebih?! Astaga aku tidak berani membayangkannya. Mungkin jika aku tidak tertidur tadi, Ayahku bisa beristirahat di rumah sambil menonton acara sepak bola kesukaannya. Ah… Aku semakin merasa bersalah saja…

Tidak. Tidak seperti itu.

Kalau saja rapatnya tidak sampai malam hari ini seperti ini… Kalau saja rapatnya bisa selesai lebih awal… Ayahku tidak perlu menjemputku seperti ini. Betul. Seperti itu yang benar. Atau… Kalau saja aku tidak ikut rapatnya, mungkin aku tidak perlu merasakan semua ini, dan Ayahku tidak perlu menungguku selama SETENGAH JAM lebih.

Tapi yang lalu biarlah berlalu. Sudah terjadi. Tidak ada yang bisa aku perbuat lagi tentang hal ini.

Ngomong-ngomong, aku langsung meminta maaf kepada Ayahku lewat telepon. Sebagai balasannya, Ayahku malah berkata, “Sudahlah, ngga apa Teh. Teteh ke sininya hati-hati, ya. Bapak tungguin di tempat yang biasanya.” Begitu katanya. Ya Tuhan… Ayahku. Itu Ayahku. Ayahku yang begitu baik. Sangat baik sampai-sampai rasanya ingin menangis saja aku pada saat itu.

Tapi selain itu, ada perasaan lain yang membebaniku. Perasaan bersalah lainnya. Dan ini berkaitan dengan rapat yang ku ikuti tadi, atau sekarang berubah menjadi rapat yang kutinggalkan. Walaupun sebelumnya aku terlihat sama sekali tidak peduli dengan rapat itu, sebenarnya aku peduli. Aku bersungguh-sungguh ingin mengikuti rapat itu dari awal sampai akhir, walaupun aku agak tidak memperdulikan detailnya, tapi aku sangat ingin melihat keputusan akhir yang terpilih. Aku ingin melihat hasilnya dengan mata kepalaku sendiri. Dan sekarang, aku hanya bisa mendengar keputusannya lewat orang lain (lagi). Mungkin karena itulah, aku merasa sedih dan tidak karuan, dan aku pikir aku bisa menangis kapan saja karena perasaanku begitu buruk hari ini. Aku juga jadi merasa bersalah, karena hanya berpartisipasi sebagian saja dari rapat itu. Seharusnya… Seharusnya… Tidak seperti ini.

Seharusnya hari ini tidak berakhir seperti ini. Aku benar-benar merasa buruk sekali.

Pelan-pelan aku mengangkat kepalaku yang sedari tadi menunduk, dan melihat sekelilingku. Aku tidak melihat semuanya dengan jelas; aku tidak mengenakan kacamataku, lupa kubawa. Malam ini, walaupun sudah pukul setengah sepuluh malam jalanan masih terlihat ramai. Masih banyak kendaraan berlalu lalang, dan orang-orang yang bercengkrama di kedai atau café, juga orang yang berlalu-lalang di depanku. Aku jadi teringat, bahwa sebentar lagi bulan puasa. Beberapa hari lagi, aku akan bertemu lagi dengan bulan Ramadhan, dan sebentar saja hatiku terasa menghangat ketika mengingat hal itu. Aku memandang sekelilingku lagi, namun kali ini lebih pelan dan meresapi. Hanya saja di mataku saat ini, semuanya kelihatan melebur. Cahaya-cahaya dari lampu kendaraan, cahaya-cahaya dari toko-toko; semuanya melebur dan menyatu. Tidak kelihatan pemilik masing-masing cahaya itu, tapi semuanya terasa melebur begitu saja. Kelihatan indah. Dan entah kenapa, melihat cahaya-cahaya itu aku merasa sedih, dan sendu. Aku tidak tahu kenapa.

Aku mempercepat langkahku.

***

Sebentar lagi sampai. Ayolah, percepat langkahmu! Sebentar lagi sampai. Jangan sampai kamu membiarkan Ayah menunggu lebih lama lagi. Terus melangkah, dan melangkah. Jangan pikirkan apapun. Jangan berpikir tentang apapun.

Dan, aku hampir tiba. Lalu, aku melihat Ayahku.

Ayahku masih disana. Aku melihat punggungnya. Dia sedang duduk di atas motor matic nya seperti biasa. Ayah mengenakan jaket Adidas favoritnya yang dibeli di pasar lokal, dan memakai celana pendek selutut yang biasa dikenakan oleh Ayah saat berada di rumah. Dan, dari yang kulihat sepertinya Ayah sedang mengobrol dengan seseorang, karena Ayah terlihat sesekali mengangguk dan mengatakan sesuatu. Aku bisa melihat itu dari sisi wajahnya. Dengan siapa Ayahku berbicara, aku tidak bisa melihatnya dari jarakku saat ini. Jadi aku memutuskan untuk berlari agar bisa dengan segera menghampiri Ayahku.

“Halo!” Aku menepuk pundak Ayahku sembari mengulas sebuah senyum yang kuharap terlihat seperti sebuah senyum betulan. Kuharap Ayah tidak menyadari raut wajahku yang beberapa menit yang lalu terlihat seperti ingin menangis. Saat itu, pandangan mataku menangkap seorang laki-laki paruh baya yang sedang duduk di trotoar dekat Ayahku sambil dikelilingi oleh dua plastik besar yang berisi kerupuk-kerupuk yang siap dimakan. Mungkin, tukang kerupuk ini yang tadi mengobrol bersama Ayah, batinku.

“Eh, Teteh,” Kata Ayahku, aku langsung menyalimi Ayah, “Jalan kaki? Kenapa ngga naik angkot aja ke sininya?” Tanya Ayah, dengan nada yang sarat kekhawatiran. Sama sekali tidak ada nada marah di dalam suaranya.

Apa aku kelihatan seperti orang yang habis berjalan kaki, ya? Ah, sudahlah. Yang penting Ayah tidak mengkhawatirkan sesuatu yang kukhawatirkan. Baguslah.

“Ngga, Pak. Masih rame ini di jalan, jadi aja jalan kaki.”

Ayahku mengangguk mengerti. Setelah itu, Ayah mulai menyiapkan motornya, dan menyerahkanku sebuah helm untuk aku pakai.

Sekali lagi aku melirik tukang kerupuk yang sedang sibuk memasukkan kerupuk-kerupuk dari salah satu kantong besar itu kedalam bungkus plastik yang panjang lalu diikat untuk kemudian dimasukkan kedalam kantong besar lainnya. Wajahnya tidak terlalu tua, tapi tidak bisa dibilang masih muda juga. Tukang kerupuk itu memakai topi untuk mancing berwarna hitam (yang -ngomong-ngomong- merupakan topi kesukaanku). Pakaiannya agak lusuh, dan ada lap untuk menyeka keringat yang disampirkan di pundaknya.  Dan, dari wajahnya kelihatan sekali bahwa dia lelah, tapi menurutku sepertinya dia tidak mau mengakuinya. Lelah yang ingin dia sangkal.

“Yuk!” Suara Ayahku membuyarkan semua pikiranku tentang si Tukang Kerupuk itu. Aku segera saja naik ke atas motor Ayah. Sebelum pergi, Ayah pamit dulu ke Tukang Kerupuk, “Yuk ah, Mang. Semoga saja dagangan Mang laris dan barokah. Mudah-mudahan Allah memberikan rezeki barokah yang banyak juga ke Mang.”

“Aamiin. Nuhun nya, (terima kasih ya) Pak.” Balas Tukang Kerupuk sambil tersenyum dengan sendu.

“Mari Mang,” Ayahku pamit untuk terakhir kalinya kepada Tukang Kerupuk itu.

Kali ini aku juga ikut pamit kepada si Tukang Kerupuk itu. Aku menganggukkan kepalaku kepada si Tukang Kerupuk itu sambil tersenyum kecil. Dari dalam hati, aku mengucapkan terima kasih kepada Mang Tukang Kerupuk, karena dia sudah menemani Ayahku mengobrol sehingga Ayahku tidak merasa bosan dan kesepian saat menungguku. Sungguh Mang, terima kasih banyak.

Di perjalanan, aku menikmati angin malam di permukaan kulitku. Entah kenapa rasanya sedikit menenangkan. Aku juga berusaha meredakan perasaan bersalahku dengan cara menarik napas pelan-pelan dan menghembuskannya. Aku ingin menikmati perjalanan pulang sambil melupakan segala sesuatu yang terjadi hari ini.

“Kasihan si Mang Tukang Kerupuk itu,” kata Ayahku tiba-tiba. Aku segera mencondongkan tubuh lebih dekat lagi, supaya aku bisa mendengar perkataan Ayah.

“Emangnya kenapa gitu?” Tanyaku keheranan. Tukang Kerupuk itu memang terlihat lelah, tapi ya hanya itu.

“Iya, tadi pas ngobrol, kata si Mang itu teh, dagangannya belum laku dari pagi.”

Hatiku mencelos mendengar hal itu. Aku masih ingat dua kantong plastik besar yang masih penuh dengan kerupuk-kerupuk itu. Ternyata, kerupuk itu… Kerupuk itu belum terjual sama sekali. Tidak ada yang membelinya. Tidak ada orang yang membelinya, sedangkan jumlah kerupuk itu tadi banyak sekali, dan belum ada yang membelinya sejak pagi hari.

Ya Tuhan…

“Si Mang Kerupuk cerita ke Bapak, katanya belum dapet uang hari ini. Si Mang itu asalnya dari Tasik. Rencananya munggahan (beberapa hari menjelang bulan Ramadhan) kali ini, si Mang ingin pulang ke Tasik. Tapi, hari ini si Mang belum dapet uang sama sekali. Jadi si Mang ngga bisa pulang ke kampung halamannya,” lanjut Ayah.

Oh Ya Tuhan…

Hatiku semakin –apa? Rasanya ada yang sakit di dalam sini. Sepertinya aku merasakan sesuatu, tapi apa? Kurasakan bibirku mulai bergetar, dan mataku terasa panas. Aku ini, kenapa? Tanpa kusadari, aku menggigit bibir bagian bawahku dan berusaha untuk menahan gejolak perasaan yang tiba-tiba kurasakan ini.

“Tapi, da Allah mah Maha Tahu, ya? Tadi sebelum Teteh dateng, ada Ibu-Ibu beli kerupuk ke si Mang itu. Belinya dua puluh ribu-eun. Coba sok, Teteh bayangin… Udah malem gini, masih ada yang beli kerupuk. Datengnya juga tiba-tiba pisan. Si Mang kerupuk teh kelihatan bahagia pisan (banget) pas tadi Bapak lihat.”

Aku masih mendengarkan cerita Bapak dengan seksama. Dan aku menggigit bibir bawahku semakin keras tanpa kusadari.

“Sebelum Ibu tadi dateng, sambil ngobrol sama si Mang itu, Bapak teh berdoa di dalam hati; memanjatkan doa kepada Allah buat si Mang. Mudah-mudahan Allah memberikan rezeki yang barokah kepada si Mang itu, mudah-mudahan Allah menjaganya selalu, mudah-mudahan Allah memberikan dia kemudahan dan rezeki yang tidak disangka-sangka, mudah-mudahan Allah menjauhkannya dari segala kesulitan, mudah-mudahan Mang itu selalu berada dalam lindungan Allah… Eh, ngga lama setelah itu, ada Ibu-Ibu beli kerupuk ke si Mang itu. Belinya banyak pula. Subhanallah….”

Tanpa kusadari, aku sudah terisak saja.

Kupejamkan mataku, dan beberapa butir air mata jatuh melewati pipiku.

Semakin aku memikirkan hal ini, semakin aku ingin menangis.

Demi Tuhan… Astaga. Apa yang sudah aku lakukan?

Apa yang sudah aku lakukan?

Seharian ini, aku terus mengeluh dan mengeluh. Mengeluhkan rapat hari ini, mengeluhkan betapa lamanya rapat hari ini, mengeluhkan betapa kedinginannya aku dan betapa laparnya aku sampai-sampai aku memikirkan ingin memakan nasi goreng yang di jual di dekat rumahku setelah aku sampai di rumah, mengeluhkan betapa panasnya hari ini, mengeluhkan sandal karet yang kupakai, mengeluhkan betapa aku sangat ingin pulang dan ingin segera berbaring di kasur dan selimutku yang nyaman, mengeluhkan…. Ya Tuhan…

AKU MERASA MALU SEKALI. Aku merasa malu, dan sangat bodoh, dan kekanakan, dan sangat tidak dewasa.

Karena apa yang kurasakan itu… Semua yang kurasakan itu… SEMUA ITU TIDAK ADA APA-APANYA. Semua itu tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang dirasakan oleh Tukang Kerupuk yang tadi aku temui.

Di saat aku mengeluhkan rapat dan ingin segera pulang ke rumah untuk bertemu dengan kasur dan selimutku yang nyaman, Tukang kerupuk itu masih berjuang sampai saat ini untuk menjual kerupuk-kerupuknya agar dia bisa pulang ke Tasik dan menjalani bulan Ramadhan di sana.

Di saat aku mengeluhkan perutku yang kelaparan, si Tukang Kerupuk itu mengkhawatirkan dagangannya yang tidak habis, dan memikirkan bagaimana supaya dagangannya bisa habis. Dan mungkin saja, dia juga kelaparan.

Di saat aku mengeluhkan betapa panas hari ini, dan membayangkan es krim potong yang ingin kubeli nanti sebelum rapat dimulai, Tukang Kerupuk itu berjalan juga dibawah terik matahari yang sama denganku, sambil memanggul kerupuk-kerupuk itu untuk di jual. Dia mungkin tidak memikirkan es krim sama sekali. Pikirannya mungkin mengkhawatirkan apakah dia akan mendapatkan uang hari ini untuk pulang ke Tasik bertemu dengan keluarganya.

Aku merasa begitu remeh; aku mengeluhkan dan mengkhawatirkan hal-hal remeh yang tidak berguna. Sedangkan Tukang Kerupuk itu berjuang dan berusaha untuk tidak mengeluh. Aku merasa… Aku merasa… Ya Tuhan… Maafkan aku

Maafkan aku

Sekali lagi aku terisak sambil berusaha menahan diri agar aku tidak menangis lebih keras. Aku masih menggigit bibir bawahku, dan kuharap aku bisa menghentikan air mata yang beberapa kali sudah jatuh ini. Aku merasa… Aku tidak bisa menghentikan apa yang kurasakan ini. Aku merasa tidak bisa.

Mungkin ini disebabkan oleh perasaanku yang memang sudah tidak karuan sejak aku berjalan kaki menuju tempat bertemu dengan Ayahku. Aku merasa sedih, sendu, dan tidak karuan. Dan, aku juga sangat lelah secara emosional, sehingga aku sangat rentan dengan hal-hal seperti ini. Ditambah lagi, sebelumnya juga aku merasa buruk dan bersalah karena aku merasa hari ini tidak berjalan seperti yang kuinginkan. Sepertinya memang begitu. Aku tidak tahu lagi.

Tapi… Aku memang merasa malu. Aku merasa sangat tidak dewasa. Hari ini aku banyak mengeluh dan sama sekali tidak ingat bahwa di luar kehidupanku, orang-orang berjuang dengan cara mereka sendiri untuk sesuatu. Semua orang berjuang. Semua orang berusaha. Sedangkan aku… Sedangkan aku… Aku sibuk berkeluh kesah untuk sesuatu yang tidak penting.

Dengan helm yang terpasang, aku menyadarkan kepalaku ke punggung Ayah. Aku masih terisak tapi sepertinya air mataku sudah berhenti. Aku menghela napas pelan-pelan… Pelan-pelan…

Aku sudah menyadari kesalahanku hari ini.

Ya Tuhan… Tolong maafkan aku.

***

“Mang kerupuk, mudah-mudahan Mang sehat selalu ya. Semoga Allah memberikan Mang Kerupuk kesehatan, umur panjang yang barokah, dan rezeki berlimpah yang barokah. Semoga, Mang juga selalu diberikan dan didekatkan dengan kemudahan-Nya, dan dijauhkan dari segala kesulitan. Aku juga ingin mengucapkan : “Terima kasih banyak Mang.” Berkat Mang Kerupuk, sepertinya aku menyadari kesalahanku. Aku jadi banyak-banyak bersyukur dan berusaha, karena Mang Kerupuk mengingatkan aku untuk seperti itu. Sepertinya Allah sedang memberikanku pelajaran melalui Mang Kerupuk yang ditemui oleh Ayah waktu itu. Sekali lagi terima kasih, Mang. Mudah-mudahan, nanti kita semua bisa bertemu lagi dalam keadaan yang jauh lebih baik. Aamiin. Sekali lagi, terima kasih Mang.” []

20150905, 9:50pm
Hari Ulang Tahun Ibu,
dan teringat si Mang Kerupuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s