[Cerita Pendek] Sepotong Kenangan Untukmu

Ketika bulan September datang, satu-satunya kata yang teringat olehku tentang September adalah kamu.

Bulan September selalu mengingatkanku tentang kamu. Dan ketika mengingat dirimu, kenangan-kenangan “dengan kamu di dalamnya” muncul ke atas permukaan; untuk dikenang kembali, untuk mengingatkan diriku bahwa aku punya kenangan bersama kamu. Kenangan pahit-manis tentang kamu.

Ini hanya potongan-potongan kisah yang pernah aku lewati bersama kamu. Walaupun sudah lama berlalu, beberapa kenangan-kenangan itu masih teringat jelas olehku. Meskipun sebenarnya aku tidak ingin mengingatnya, karena terkadang timbul penyesalan, tapi tetap saja hati ini selalu kembali teringat –mau atau tidak mau. Mungkin karena tidak semua kenangan tentang kamu adalah kenangan yang buruk. Mungkin bisa kukatakan, semua kenangan tentang kamu adalah kenangan paling menyenangkan yang bisa kurasakan.

Ini semua tentang kamu; seorang laki-laki yang pernah mengisi hari-hariku dengan tawa, seorang laki-laki dengan senyum paling manis yang pernah kulihat, seorang laki-laki yang pernah menyanyikan sebuah lagu hanya untukku, seorang laki-laki yang gemar mencubit pipiku.

Seorang laki-laki yang teramat sangat kusukai.


1.
Aku masih ingat, dulu kita saling menelepon.

Entah aku yang menelepon, atau kamu. Dan siapapun yang sudah kehabisan pulsa, harus gantian menelepon. Setiap malam selalu menjadi waktu yang kutunggu-tunggu. Aku selalu menantikan handphoneku berdering, kemudian melihat siapa yang menelepon, dan kulihat namamu… Aku pun tersenyum senang.

Padahal di sekolah, kita sudah saling berjumpa. Padahal di sekolah kita sudah saling melihat. Padahal di sekolah kita sudah saling tersenyum.

Tapi, semua itu tidak cukup. Aku ingin bersama kamu lebih lama. Aku ingin mendengar suara kamu lebih lama lagi… Aku juga ingin mendengar tawa mu lebih lama lagi. Dan masih “lebih banyak” lainnya yang tidak bisa kusebutkan jika itu berkaitan tentang kamu.

Percakapan kita biasanya berlangsung selama satu sampai dua jam. Mungkin lebih. Aku sudah lupa dengan apa yang kita bicarakan. Memangnya apa yang kita bicarakan pada saat itu sampai-sampai menghabiskan dua jam? Tapi dengan kamu, aku bisa membicarakan banyak hal. Apapun. Dan itu yang kusukai dari kamu. Aku sangat bersyukur memiliki kamu pada saat itu, kamu segalanya yang kubutuhkan.

Biasanya kamu meneleponku setelah kamu selesai dengan semua urusanmu, begitu pula denganku (setelah aku selesai belajar) Aku selalu diam-diam mengangkat telepon darimu, aku tidak ingin kedua orangtuaku tahu. Apalagi adikku. Bukannya apa, tapi biasanya mereka suka meledekku. Dan aku tidak suka kalau diledek. Jadi, biasanya aku selalu menunggu mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing, barulah aku bisa menelepon kamu. Atau aku diam-diam masuk ke kamar, dan menutup pintu kamarku, lalu mengangkat telepon darimu.

Kadang-kadang, saat mengobrol denganmu lewat telepon waktu sungguh tidak terasa. Waktu selalu berjalan lebih cepat dari biasanya. Tahu-tahu sudah jam sebelas malam (dan aku pernah ditegur oleh Ibuku karena aku sudah ‘keterlaluan’), tahu-tahu rumahku sudah sunyi, sedangkan aku dan kamu masih sibuk menertawakan sesuatu.

Dan rasanya sulit ketika harus menutup telepon… Aku sungguh suka mendengar suara kamu. Aku tidak ingin mengakhirinya. Padahal aku tahu, besok juga aku masih bisa bertemu kamu… Tapi rasanya tetap saja aku tidak mau berpisah dengan kamu.

Setiap hari, pada malam hari, kamu selalu meneleponku. Kita saling menertawakan satu sama lain, dan bercerita tentang banyak hal. Selalu kamu. Aku menceritakan apa yang kulihat, apa yang kudengar, apa yang kurasakan pada hari itu kepada kamu. Aku tidak tahu apa lagi yang membuatku lebih bahagia dibandingkan dengan saat-saat mengobrol bersama kamu. Sungguh.

Tapi… Sekarang aku kehilangan percakapan malam hari itu denganmu.

Aku kehilangan suara yang sangat kusukai itu.

2.
Menurutku, cokelat adalah salah satu hal wajib yang harus diberikan sedikitnya satu kali oleh laki-laki kepada pasangannya.

Siapapun yang sedang berpacaran, menurutku harus merasakan rasanya mendapat cokelat dari pasangannya. Itu harus. Aku tidak tahu mengapa aku beranggapan seperti itu, tapi entah kenapa rasanya memang harus begitu. Mungkin karena aku terlalu banyak membaca shoujo manga (komik perempuan) pada saat itu, di mana biasanya dalam shoujo manga bertaburan adegan-adegan romantis, salah satunya adalah si laki-laki memberikan cokelat kepada perempuan. Pasti awalnya dari sana.

Dan, jujur saja, lah! Memangnya siapa yang tidak mau mendapatkan cokelat dari pasangannya?

Mungkin selama ini, kita pernah menerima cokelat; dari Ibu, dari Ayah, teman, senior, sahabat, rekan kerja, guru, Adik, Nenek, Kakek, Paman, Bibi. Tapi percayalah, ketika kamu mendapatkan cokelat dari pasanganmu –orang yang kamu sukai, rasanya akan sangat berbeda! Aku serius.

Aku pernah mendapatkan cokelat dari Ibu, dari Ayah, dari adik, dari teman satu organisasi, tapi cokelat yang diberikan oleh kamu… Rasanya spesial. Bukan berarti cokelat dari mereka tidak spesial, bukan begitu. Tapi, cokelat yang kuterima dari kamu rasanya lebih spesial. Spesial yang berbeda. Ah… Begitulah. Aku tidak terlalu pandai menjelaskan. Rasanya memang ada sesuatu yang berbeda saja.

Aku banyak menerima cokelat dari kamu. Kamu selalu memberikan aku cokelat chunkybar. Tidak dibungkus, dan tidak diberi hiasan. Tidak juga disembunyikan di dalam tas milikku. Kamu memberikan cokelat itu langsung kepadaku. Selalu seperti itu. “Buat kamu,” itu katamu. Dan kamu tahu, aku akan tersenyum bahagia ketika menerima cokelat itu, rasanya begitu spesial dan perasaanku suka ini terus meluap untukmu.

Cokelat yang kamu berikan tidak selalu harus menunggu setiap kali Hari Valentine tiba. Aku dan kamu sepakat untuk tidak merayakan Hari Valentine, begitulah. Setiap kali kamu ingin memberikanku cokelat, maka pada saat itu juga kamu memberikannya padaku.

Aku tak pernah merasa begitu disukai sebelumnya. Aku begitu menyukai dirimu.
Aku jarang menerima cokelat dari laki-laki. Dan, harus kubilang, meskipun Ayahku laki-laki, tapi Ayahku tidak masuk hitungan. Jadi… Bisa dibilang jarang, atau mungkin pada kenyataannya tidak pernah sama sekali. Kau bisa membayangkan perasaanku sekarang, ketika aku menerima cokelat untuk pertama kalinya dari seorang laki-laki, dan “seorang laki-laki” itu adalah kamu!! Kau bisa membayangkannya? Aku sangat senang sekali. Perasaan saat menerima cokelat dari seseorang yang kamu sukai… Sangat menyenangkan.

Ya. Kamu selalu memberikanku cokelat. Meskipun aku pernah berpura-pura kesal dan mengatakan, “Kamu pengen aku tambah chubby, ya?” Tapi kamu dengan santainya berkata, “Biarin. Yang penting kamu ga kurusan, jadi aku masih bisa pegang pipi kamu,” dan mengakhirinya dengan senyuman jahil khas kamu.

Sepertinya kamu memang laki-laki pertama yang kusukai; yang memberikanku cokelat. Sepertinya memang begitu.

Dan aku sangat bersyukur bahwa itu adalah kamu, bukan yang lain.

3.
Aku takkan pernah melupakan yang satu ini.

Aku masih mengingatnya, pada saat kamu secara tiba-tiba memutuskan ingin memanggil satu sama lain dengan nama kesayangan.

Waktu itu, aku kebingungan. Aku harus memanggilmu dengan sebutan apa? Karena aku sudah sangat nyaman memanggil kamu dengan nama kecilmu, dan bagiku sendiri itu adalah nama kesayanganku untukmu. Ketika kamu menginginkan nama kesayangan yang lain, jelas-jelas aku tidak mempersiapkannya dan sebelumnya tidak pernah memikirkan sama sekali tentang hal itu.

“Memangnya kamu pengen manggil aku apa?” Tanyaku lewat telepon.

Kupikir kamu juga sama seperti aku; harus memikirkan terlebih dahulu nama kesayangan itu. Kupikir kamu tidak menyiapkan sama sekali seperti yang kulakukan. Ternyata, kamu sudah mengetahuinya.

“Gula.” Jawabmu dengan begitu yakinnya, dan tidak ragu sama sekali.

“Gula?”

“Iya, Soalnya kamu manis, mirip gula.”

Dan itu berhasil membuatku tersipu dan tersenyum seperti orang gila selama berminggu-minggu. Tapi, aku tidak mau mengakui kepada kamu bahwa aku senang sekali kamu memanggilku seperti itu; Gula. Jadi, pada saat kamu mengatakan hal itu, aku malah memarahi kamu karena kamu tidak tulus, dan menggombal, seperti itulah. Ya, aku tahu. Aku memang merasa senang sekali, tapi aku tidak mau mengakuinya.

Tapi, kamu berkata dengan nada paling serius yang pernah kudengar dari kamu, bahwa kamu sungguhan ketika mengatakan hal itu.

Setelah itu, aku tidak tahu harus berkata apa. Kamu berhasil membuatku tertegun.

Kamu selalu begitu; penuh kejutan. Tidak terduga.

Dan kemudian, aku memutuskan untuk memanggil kamu “Semut” dalam percakapan lewat SMS. (Aku tidak punya keberanian sebesar kamu untuk memanggil satu sama lain dengan nama kesayangan di luar telepon, dan SMS kita pada waktu itu. Kamu selalu hebat.)

Kupikir “Semut” sangat sepadan sekali dengan “Gula”, karena aku teringat kepada sebuah pepatah : Di mana ada gula, di situ ada semut.

Aku menyukai kedua nama itu, terutama nama kesayangan yang kamu berikan untukku; Gula.

Aku suka sekali.

4.
Aku sudah bilang bahwa kamu selalu penuh kejutan, bukan?

Kali ini, kamu membuktikan bahwa kamu memang selalu penuh dengan kejutan.

Waktu itu, aku iseng menulis status di akun facebook milikku. Memang sepenuhnya iseng kok. Serius. Karena aku memang menuliskan sesuatu yang saat itu memang sedang terpikirkan olehku.

“Kayaknya punya sweater yang ada kupluknya enak, ya… Nanti mau nyari ah…”

Aku tidak mengharapkan like atau komentar dari orang lain. Lagipula soal like, memangnya siapa yang mau nge-like status macam itu? Tapi kalau komentar… Hmmm…. Boleh-boleh saja, sih. Pada saat itu, aku memang sedang ingin menuliskannya saja di facebook.

Kupikir tidak akan ada orang yang mengomentari statusku (statusku tidak menarik-menarik amat. Serius deh) Tapi, kalaupun ada orang yang mengomentari itu, aku sama sekali tidak menduga bahwa kamu-lah orang yang akan memberi komentar di statusku!

Dari sekian banyak orang teman yang aku punya di facebook, aku tidak menduga bahwa kamu-lah yang akan memberikan komentar. Sungguh sangat tidak terduga. Bahkan, komentar yang kamu tulis juga sanggup membuatku tercengang.

“Jangan nyari nunuii. Aku punya satu di rumah. Nanti aku kasih ke kamu.”

Begitu yang kamu tulis.

Aku bahkan harus membaca ulang komentar yang kamu tulis, takut aku salah baca. Tapi ternyata kamu memang betul menulis seperti itu. Dan kupikir-pikir, apa kamu serius atau cuma bercanda?

Beberapa hari kemudian, pada saat kelas sudah bubar kamu datang menghampiriku, dan kemudian mengeluarkan sesuatu dari tasmu, dan kamu memberikan sebuah sweater berkupluk berwarna putih gading.

Seperti apa perasaanku saat itu? Sangat. Bahagia. Sekali.

Saking bahagianya, aku hanya mengucapkan terima kasih saja kepada kamu. Padahal aku ingin mengucapkan lebih dari itu. Jika kamu ingin tahu yang sebenarnya, di dalam hati ini aku merasa sangat histeris. Aku ingin menjerit. Dan aku sangat ingin memeluk kamu pada saat itu. Tapi aku bukan orang yang seperti itu, aku tidak sanggup melakukannya. Mungkin sebenarnya aku terlalu malu untuk melakukannya. Sebagai gantinya, aku benar-benar mengucapkan terima kasih untukmu dari dalam hatiku.

Kamu selalu banyak memberi untukku. Dan aku terlalu banyak menerima.

Momen ini membuatku semakin menyukai kamu. Sangat menyukai kamu. Bahkan aku merasa ‘lebih’ kepadamu. Aku sayang kamu. Aku sangat sayang sekali. Aku begitu beruntung menyukai kamu, mengenal kamu, memiliki kamu, bertemu denganmu, dan disukai oleh kamu. Aku merasa sangat beruntung dan aku bersyukur sekali kepada Tuhan.

Sweater yang kamu berikan padaku pada hari itu, masih tersimpan dengan baik di lemari pakaianku. Sesekali, jika aku sedang ingin memakainya, aku akan memakainya. Tapi memakai sweater berkupluk itu selalu mengingatkan aku tentang kamu, dan terkadang rasanya menyakitkan. Maka dari itu, aku jarang memakai sweater tersebut.

Tapi sampai kapanpun, aku akan menyimpan sweater pemberian dari kamu. Itu adalah salah satu barang berharga yang kumiliki, yang kuterima dari kamu.

Sweater berkupluk itu membuatku semakin menyayangimu, dan semakin sulit melupakanmu.

5.
Sejak aku masih SD sampai sekarang, aku terbiasa untuk menulis diary. Mungkin itu sebabnya, aku jadi suka menulis. Aku masih menyimpan buku diary pertamaku yang diberikan oleh Ibu pada saat aku masih SD. Kuisi buku diary pertamaku itu dengan biodata teman-temanku, stiker-stiker yang kubeli, curhatanku, dan gambar-gambar random. Saat kulihat lagi buku diary itu, di usiaku yang ke-19 tahun rasanya begitu konyol dan lucu. Ya Tuhan… Itu aku; aku yang dulu. Bagaimana mungkin aku menulis hal-hal seperti itu… Diriku yang dulu itu penuh kejutan, dan rasanya menyenangkan saja melihat diriku yang dulu seperti apa (dengan tulisan seperti ceker ayam milikku, hahahaha)

Seiring berjalannya waktu, buku-buku diary ku bertambah jumlahnya. Sampai saat ini, aku memiliki enam buah buku diary. Dan tentunya semakin bertambah usiaku, apa yang kutulis juga berubah dan berkembang, bukan? Aku tidak lagi menulis tentang biodata teman-temanku.

Di dalam buku diary, aku mencurahkan segalanya. Aku benar-benar serius ketika menuliskan segalanya. Tentang apa yang kurasakan terhadap seseorang atau sesuatu, tentang rahasia-rahasia yang tidak bisa aku beri tahu kepada siapapun (termasuk kepada kedua orangtuaku), tentang impian harapan cita-cita yang terpendam. Segalanya. Se-ga-la-nya.

Kau bisa menganggap bahwa buku-buku diary milikku adalah sepenggal jiwaku. Aku benar-benar menyimpan banyak hal di sana; aku menuangkan jiwaku kesana. Inti jiwaku, kau bisa menyebutnya seperti itu. Karena itulah, buku diary milikku adalah sesuatu yang sangat sangat sangat berharga sekali untukku. Harta karunku.

Dan, aku mengizinkan kamu untuk membaca salah satu buku diary milikku; buku diary yang ditulis pada tahun 2010-2011.

Bisakah kalian membayangkan hal itu?

Buku diary yang bahkan kedua orangtuaku saja tidak kuizinkan untuk membacanya… Dan aku MENGIZINKAN kamu untuk menyimpannya pada saat liburan, dan boleh membacanya, bahkan aku menginginkan kamu untuk menulis sesuatu dalam diary itu…

Bisakah kalian membayangkannya?

Tidak. Aku masih waras. Pada saat itu aku waras. Dan aku tidak mabuk. Aku berpikiran jernih. Pada saat itu, aku memang dengan sepenuh hati, dan benar-benar dalam keadaan sadar untuk mengizinkan kamu menyimpan diaryku. Aku memang INGIN kamu membacanya.

Seperti itulah kamu dimataku. Seberharga itulah sosok kamu untukku. Sedalam itulah perasaan yang kumiliki untuk kamu.

Kupercayakan diriku dan kuizinkan dirimu untuk membaca sepenggal jiwaku.

6.
Dan masih banyak lagi tentang kamu yang bisa kuingat.

Aku masih ingat, kamu berusaha mengenalkanku pada musik metal yang sangat kamu sukai itu, meskipun sampai pada hari ini, aku masih belum bisa menyukai musik metal. Kamu juga berusaha mengenalkan aku kepada band yang bernama “Alesana”, bahkan kamu memberikan aku albumnya. Selain Alesana, kamu suka memberikan album Efek Rumah Kaca kepadaku.

Lalu… Berkat kamu aku semakin menyukai Avenged Sevenfold. Aku memang sudah mengetahui beberapa lagu dari A7X sebelum aku mengenal kamu, tapi sesudah mengenalmu aku jadi semakin tahu banyak lagu-lagu dari A7X dan menyukai A7X. Itu berkat kamu. Terima kasih… Untuk yang satu ini, selera kita sama. Sampai hari ini, aku masih menikmati lagu-lagu dari A7X.

Dan, aku juga masih mengingat saat kita begadang bersama!!

Tidak. Ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Aku berada di rumahku, dan dia berada di rumahnya. Seperti itulah. Dan dia meneleponku, atau terkadang aku meneleponnya. Bukannya setiap hari dan setiap malam kami selalu menelepon sampai tengah malam? Itu juga begadang, bukan? Begadang ini beda lagi. Kami menonton film yang sama, di dua tempat yang berbeda.

Begitulah! :)

Aku masih ingat… Dulu aku ingin sekali menonton film Final Destination, tapi aku takut sekali menontonnya. Dan kamu bilang, kamu akan menemani aku menonton film itu lewat telepon. Dan kamu memang benar-benar menemaniku.

Lalu, kami juga pernah sama-sama menonton film Transformer. Aku masih ingat bahwa aku mengatakan kepada kamu bahwa aku ingin menjadi Bumbleebee, dan kamu tertawa mendengar hal itu. Menurut kamu, Ironhide adalah robet yang paling keren yang ada di Transformer, dan Ironhide memang keren! (Aku mengakuinya, hehehe)

Mungkin kebiasaanku begadang saat ini berawal dari aku yang sering begadang bersama kamu. Aku tidak menyesalinya, sungguh. Itu sangat sangat sangat menyenangkan!

Aku tidak bisa menuliskan semua kenangan kulalui bersama kamu. Terlalu banyak. Mungkin, aku ingin menyimpan sebagian untuk diriku saja, karena itu terlalu pribadi dan berharga untukku. Apapun itu, semua yang kulalui bersama kamu adalah hal-hal paling menyenangkan yang pernah kurasakan.

Aku sangat bersyukur bisa mengenal kamu, dan membuatku merasakan semua perasaan ini.

Terima kasih…

Terima kasih Semut.


Mungkin setelah membaca ini, kalian pasti bisa menyimpulkan sesuatu, atau menduga sesuatu, apapun itu. Dan aku akan menjawab : Ya, untuk semuanya.

Ya.

Aku kehilangan kamu.

Ya.

Aku kehilangan kamu.

Karena keputusanku yang bodoh, tidak jelas, naïf, terburu-buru, dan berpikiran pendek, aku telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku. Karena kesalahanku sendiri, aku sudah menghilangkan sesuatu dengan mulutku sendiri.

Aku kehilangan suaranya yang sangat aku sukai, sikapnya yang begitu hangat, suara tawanya, sapaannya saat aku bangun dari tidur, telepon-telepon pada malam hari, saat-saat begadang bersama, sikapnya yang tidak terduga, humornya… Dan lebih dari itu… Aku kehilangan perasaannya dan kepercayaannya.

Ada masa-masa di mana aku sangat menyesali perbuatanku. Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku begitu egois? Kenapa? Kenapa? Kenapa?

Tapi sebesar apapun rasa penyesalanku, penyesalan yang kurasakan tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Semua yang sudah terjadi tidak bisa di reka ulang lagi. “Begitulah” yang sudah terjadi. Dan aku tidak bisa berbuat apapun lagi.

Jadi… Yang bisa kulakukan adalah merelakan. Sepotong kenangan ini sudah menjadi bagian dari diriku; yang menjadikanku diriku yang sekarang. Aku tidak bisa menyesalinya, karena semua kenangan ini membentuk diriku saat ini. Jadi, aku bersyukur… Aku sangat bersyukur karena sudah diberikan kesempatan untuk merasakan banyak hal yang menyenangkan bersama orang yang hebat dan keren yaitu KAMU. Aku sangat bersyukur orangnya adalah kamu. Kamu yang membuat semuanya menjadi lebih berarti dan mengesankan!

Meskipun, ada hari-hari di mana aku mengingatmu… Terkadang dengan perasaan manis, terkadang dengan perasaan pahit dan kecewa, satu-satunya yang bisa kulakukan adalah merelakannya. Merelakan bahwa itu sudah terjadi… Dan hal itu menjadi bagian dari masa laluku.

Satu-satunya yang belum bisa kulakukan dengan benar adalah… Meminta maaf kepada kamu.

Apa yang kulakukan pada saat itu adalah tindakan teregois yang pernah aku lakukan. Jelas, itu sudah menyakiti hati kamu, bukan? Aku sudah berbuat jahat, setelah semua yang sudah kamu beri dan lakukan kepadaku. Lalu, yang bisa kulakukan hanyalah menyakiti hatimu. Mungkin, aku bukan yang terbaik untukmu. Mungkin memang “harus begini” jalannya untuk kamu dan aku.

Tapi tetap saja, aku… Aku benar-benar ingin meminta maaf, atas kesalahanku waktu itu… Maaf karena aku begitu bodoh, dan … Jahat. Sungguh. Aku tidak tahu harus berkata apalagi, tapi aku benar-benar meminta maaf kepada kamu.

Dan kesalahan lainnya yang sudah kulakukan adalah aku tidak mengakhiri semua ini dengan baik. Pada kenyataannya, aku mengakhiri semua ini dengan sangat buruk. Dan butuh waktu lama untukku menyadari bahwa aku berbuat keliru.

Aku tidak ingin kamu mengingat hal buruk saja (karena kebodohan yang sudah kulakukan) setelah semua kenangan baik yang pernah kita lalui. Karena, ada banyak hal yang menyenangkan untuk diingat, yang pernah terjadi antara kamu dan aku. Aku ingin kamu tidak melupakan hal-hal menyenangkan yang pernah terjadi diantara kita. Aku ingin kamu mengingatnya dengan perasaan baik… Sama seperti aku yang mengingat kamu dengan perasaan sendu yang menyenangkan.

Dan, kuharap kamu tidak menyesali apa yang sudah terjadi di antara kita.

Dan… Terima kasih untuk segalanya.

Untuk tahun-tahun yang menyenangkan, untuk perasaan yang pernah meluap-luap ini, untuk kesempatan merasakan rasanya menyukai seseorang dan sangat menyayangi seseorang, untuk kenangan-kenangan indah, untuk perasaan menyesal ini, untuk perasaan sakit ini, untuk perasaan rindu yang pernah ada, untuk malam-malam yang dilalui lewat telepon, untuk obrolan yang tiada habisnya, untuk semangat yang pernah diberikan, untuk doa-doa yang sudah dipanjatkan, untuk saat-saat penuh tawa, untuk perasaan cemburu, untuk perasaan marah, untuk perasaan cinta; terima kasih banyak.

Terima kasih untuk segalanya, Semut. :)

.

.

.

“Nunui, kalo aku putus sama kamu! *naudzubilahimindalik, aku punya lagu buat kamu :
Alone at Last – Dear Love
Dear Love,
Now I’m stuck, I can’t fool my self, I’m in love with you, like it or not, you have to deal with it, thanks to you I can sleep since yesterday and forward, thanks to you I can breath when I’m thinking about you, but, thanks to you I have the worst broken heart! Twice! Since that day I’m in love with you, but that’s okay, I’ll do it again, and again, and again, to love you when I get a chance!”
– Semut dalam Diary Nunuii (2011)

Dan ini untuk kamu.

Aku kembalikan lagu ini kepada kamu, Semut :

“Alone at Last – Dear Love
Dear Love,
Now I’m stuck, I can’t fool my self, I’m in love with you, like it or not, you have to deal with it, thanks to you I can sleep since yesterday and forward, thanks to you I can breath when I’m thinking about you, but, thanks to you I have the worst broken heart! Twice! Since that day I’m in love with you, but that’s okay, I’ll do it again, and again, and again, to love you when I get a chance!”
– Gula (2015)

Again… Thanks for everything! :) []


Catatan :
Selamat Ulang Tahun!
Cerita Pendek ini kuhadiahkan untuk kamu :)
Sebelumnya, aku belum pernah menghadiahkan seseorang sebuah cerita pendek buatanku sendiri, tapi… Yah… Begitulah. Kamu orang pertama yang kuberi cerita pendek buatan aku. (Seharusnya kamu bangga! :P Hehehehe)
Selamat Ulang Tahun!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s