[Cerita Pendek] Satu Kelompok Sama Kamu

Harapan. Siapapun boleh berharap, karena berharap itu gratis. Selain gratis, jika kita memang benar-benar percaya bahwa harapan kita akan terwujud, harapan itu sendiri akan mengeluarkan keajaibannya untuk membuat itu terjadi.

Gadis berambut pendek itu berharap, suatu hari nanti dia bisa berada satu kelompok dengan laki-laki yang mempunyai senyum manis di wajahnya.

***

Aku selalu gugup jika berhadapan dengan perubahan. Seperti apapun itu jenis perubahannya, aku selalu merasa bahwa aku tidak akan bisa menyesuaikan diri dengan hal itu. Aku takut. Pikiranku kosong. Hatiku juga kosong. Maka dari itu, sebisa mungkin aku selalu mempersiapkan segalanya dengan baik agar aku bisa berhadapan dengan perubahan itu. Kupikir aku bisa sedikit meminimalisir efek dari perubahan yang akan kuhadapi nanti.

Salah satu perubahan yang datang menghampiriku saat itu adalah perubahan statusku dari siswa SMA menjadi mahasiswa. Tapi perubahan itu sepertinya punya dua wajah : yang satu datang dengan wajah penuh impian, harapan, cita-cita, semua hal yang menyenangkan, dan yang satunya lagi datang dengan wajah cemas, gugup, takut, hampa, mimpi buruk.

Ospek, yang datang bersamaan dengan perubahan tadi aku sebutkan juga menakutkan. Aku takut. Aku tidak suka dengan ospek. Ospek penuh dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Dan apapun itu yang tidak menyenangkan, aku tidak suka. Senioritas, bully, marah-marah, hukuman, aku tidak suka.

Teman-teman baru, kelas baru, guru baru, tempat baru, semuanya baru. Dan itulah namanya perubahan. Dan seperti yang pernah aku bilang sebelumnya : aku tidak suka dengan perubahan. Perubahan membuat perutku mulas.

Tapi entah kenapa, anehnya aku berhasil melalui semua itu. Nyatanya aku berada di sini sekarang. Baik-baik saja. Walaupun sekilas memang menakutkan, tapi aku berhasil menghadapinya. Aku heran dengan diriku. Seriusan.

Ospek? Yah… Tiga hari mencoba bersabar dengan semua celotehan senior membuatku bisa melatih kesabaran untuk mendengarkan orang lain berbicara. Itu hal yang bagus!! Tempat baru, sepertinya tidak terlalu buruk, walaupun tempatku untuk menimba ilmu selama empat tahun kedepan ini agak gersang karena begitu sedikit tumbuhan hijau yang ada. Guru baru, ah maksudku dosen baru. Well, aku agak tidak terlalu mencemaskan tentang dosen sih, sebenarnya. Lalu ada teman-teman baru dan kelas yang baru, nah ini yang menarik.

Ternyata teman-teman baruku tidak seburuk yang aku pikirkan. Ada sekitar 36 orang di kelas baruku yang dicampur antara laki-laki dengan perempuannya, dan mereka semua menyenangkan! Mereka semua baik, dan ya… Menyenangkan. Aku hampir bisa berbaur dengan sebagian besar dari mereka, dan maksud ‘sebagian besar dari mereka’ itu adalah teman-teman perempuan di kelasku. Entah kenapa aku selalu agak gugup kalau berteman dengan laki-laki, dan itu menjelaskan kenapa kebanyakan temanku adalah teman-teman perempuan. Meskipun dari dalam hati yang paling dalam, aku mengakui bahwa aku juga ingin berteman dengan laki-laki, tapi entah kenapa aku selalu saja takut jika berhadapan dengan mereka. Ah… Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dan… Ya, itulah teman-teman baru di kelasku.

Dan apa yang identik dengan kata mahasiswa? Jawabannya adalah tugas.

Dosen-dosen begitu bersemangat untuk memberikan tugas kepada mahasiswa-mahasiswa ‘tersayang’ nya. Apa aku punya pilihan untuk menolak? Tidak. Dan begitulah tugas mengalir begitu deras kepadaku. Ada tugas individual dan juga tugas kelompok. Secara pribadi, aku lebih menyukai tugas individu daripada tugas kelompok. Alasannya? Karena aku lebih cocok dengan tugas individu. Itu saja. Tapi, aku tidak akan menolak tugas kelompok yang diberikan oleh dosen jika itu artinya aku punya kesempatan untuk satu kelompok dengan ‘dia’.

Apa aku sudah menyebutkan ‘dia’?
Oh sepertinya sudah. :)

Hal yang menyenangkan dari mempunyai teman-teman baru adalah kamu selalu bisa menemukan orang baru untuk disukai. Maksudku ‘suka’ di sini tidak terbatas pada laki-laki saja, tapi perempuan juga. Misalnya, aku menyukai teman perempuanku yang bernama UTA, karena dia konyol, dan lucu. Dia selalu berhasil membuatku tertawa, dan karena itulah aku menyukai UTA. Begitulah yang terjadi kepada ‘dia’ yang kumaksud. ‘Dia’ adalah teman baru yang kusukai. Aku bertanya-tanya, apakah teman-teman sekelasku yang lain juga merasakan hal yang sama seperti aku? Perasaan ‘tertarik’ ini? Perasaan ‘suka’ ini?

Aku mulai memperhatikan ‘dia’ sejak… Sejak kapan? Mungkin aku harus menjawab : begitu saja. Begitu saja terjadi. Aku suka ‘dia’ dan aku tertarik padanya. Tapi rasanya itu bohong. Kentara sekali tidak masuk akal. Pasti ada satu titik yang mengawali perasaan ini, PASTI. Dan aku mengira-ngira titik apakah yang mengawali perasaan yang kurasakan ini?

Pasti…

Pasti…

Pasti…
Pasti karena sesuatu yang terjadi pada hari itu.
Hari itu, saat aku dan ‘dia’ untuk pertama kalinya mengobrol begitu banyak hal sambil menunggu hujan reda.
Aku yakin itulah titik yang membuatku merasakan perasaan ini.

Lucu ya, hanya karena sebuah percakapan, aku merasa sesuatu mulai ‘hidup’ di dalam sini; jauh di dalam dada ini. Dan itu mengirimkan sensasi ‘menyenangkan’ ke seluruh tubuhku. Dan itu juga mengirimkan perintah-perintah lucu yang tidak bisa kumengerti, juga tidak bisa kutolak. Misalnya tanpa bisa kusadari mataku selalu berusaha untuk melihat ke arah ‘dia’, dan juga melihat di mana ‘dia’ berada. Atau misalnya pada saat dia datang menghampiriku, tubuhku serasa kaku dan jantungku mulai berdetak lebih cepat daripada biasanya, dan telapak tanganku juga menjadi sedingin es. Perintah-perintah macam apa yang diberikan oleh hatiku kepada tubuhku? Aku tidak mengerti, tapi aku menyukainya. Aku suka itu. Aku suka merasakan diriku yang ‘merasa’ sesuatu yang menyenangkan.

Selaras dengan apa yang kurasakan, maka datang juga keinginan untuk bisa lebih dekat lagi dengan ‘dia’. Itu pasti wajar kan? Pasti. Maksudku, siapa yang tidak ingin menjadi lebih dekat dengan seseorang yang disukai? Jadi menurutku itu wajar untuk menginginkan sesuatu yang lebih; menjadi lebih dekat lagi. Untuk mengenal ‘dia’ lebih dekat.

Dan salah satu faktor yang bisa membuat keinginan itu bisa terwujud adalah : tugas kelompok.

Mari teriakkan ‘YAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAY’

Waktu itu, aku sangat berharap banyak pada tugas kelompok. Anggota per kelompok ditentukan dengan mengocok nama. Itu artinya, aku punya peluang untuk berada satu kelompok dengan ‘dia’. Tapi jika anggota per kelompok ditentukan sesuai dengan urutan absen, aku tidak punya peluang sama sekali. Maksudku, coba lihat… Namaku berawalan dari huruf E. E untuk Enara, sedangkan nama ‘dia’ dimulai dengan huruf… Huruf yang jauh dari huruf E! (Aku tidak bisa menyebutkan namanya, karena kupikir kamu akan mengetahuinya! Dan aku akan merasa tidak aman) Karena itulah, jika aku mendapatkan tugas kelompok dengan anggota kelompok yang ditentukan dengan urutan absen, aku akan merasa tidak bergairah lagi untuk mengerjakan tugas itu. Maksudku, rasa kecewa ini sudah mengambil semangatku. Rasanya menyedihkan.

Pernah juga terpikirkan olehku untuk bertukar kelompok dengan seseorang yang berada satu kelompok dengan ‘dia’, tapi apa yang akan aku lakukan jika seseorang itu bertanya, “kenapa pengen tuker kelompok?”

Alternatif jawaban pertama :
“Bosen deh sekelompok sama mereka.” (Ini tidak mungkin aku mengucapkannya. Aku tidak bisa. Aku. Tidak. Bisa)

Alternatif jawaban kedua :
“Mmm…. Pengen aja?” (Tidak. Ini tidak jelas)

Alternatif jawaban ketiga :
Aku berbisik kepadanya, “Ini rahasia ya, ada seseorang yang ngga aku suka di kelompok itu. Aku bener-bener ngga bisa sekelompok sama orang itu.” (Sebenci-bencinya aku dengan orang, sepertinya aku tidak akan melakukan hal ini…)

Alternatif jawaban keempat :
(Lagi) aku berbisik kepadanya, “Ada orang yang aku suka di kelompok kamu.” (AKU TIDAK MUNGKIN BISA MENGATAKAN HAL INI!!)

Jadi jawabannya adalah : aku tidak akan bisa bertukar kelompok.

Tapi pada akhirnya aku menyimpukan sesuatu. Ternyata perubahan yang kutakutkan itu tidak terlalu buruk. Meskipun aku membayangkan beberapa hal buruk yang bisa terjadi kepadaku, tetap saja ada hal-hal menyenangkan yang bisa kubayangkan. Salah satunya adalah membayangkan aku bisa berada satu kelompok dengan ‘dia’. Sejujurnya, itu memberikanku sedikit kekuatan untuk menjalani hari-hariku di kampus. (Aku agak sedikit malu untuk mengakui hal ini) Lagipula, kalau kupikir-pikir lagi, perubahan ini juga yang mengantarkanku kepada perasaan yang saat ini kurasakan, bukan? Jadi, untuk saat ini, perubahan rasanya tidak buruk-buruk amat.

Semenjak aku mengetahui bahwa diriku ini ‘tertarik’ kepada ‘dia’, sepertinya aku mulai berharap agar bisa lebih dekat lagi. Aku ingin mengobrol lebih banyak lagi, aku ingin tertawa lebih banyak lagi, aku ingin melihat dan mengetahui lebih banyak sisi lain dari ‘dia’. Dan semua itu tidak akan pernah cukup. Mungkin memang sudah sewajarnya tuk menginginginkan lebih. (Ini memang naluri manusia bukan? Bukan cuma aku saja yang menginginkan ‘lebih’, kan?)

Dan… Setiap orang bebas untuk berharap, bukan? Lagipula berharap itu gratis. Siapa sih yang tidak suka hal-hal gratis? Aku suka hal-hal gratis. Jadi, aku suka berharap. Kadang aku berharap sesuatu yang sepele, kadang aku juga berharap sesuatu yang konyol, kadang aku berharap sesuatu yang memang serius, dan kadang… Kadang aku berharap dengan sungguh-sungguh; sesuatu yang sangat aku inginkan, dan itu adalah untuk berada satu kelompok dengannya, agar aku bisa satu langkah lebih dekat lagi dengan ‘dia’, untuk bisa mengenal ‘dia’ lebih baik.

Ternyata perubahan mengajariku untuk tidak pernah berhenti berharap.

***

2013

“Jadinya, kita mau pake lagu apa nih?” Dia bertanya kepadaku.

Dia menatapku.
Dia melihat ke mataku.

Butuh waktu lima detik untuk menjawab pertanyaannya, “Aku gatau, terlalu banyak pilihan lagu yang udah kita pilih.”

“Hmmm….”

Berada satu kelompok dengan ‘dia’ membuatku punya kesempatan untuk memandanginya diam-diam selama yang aku suka.

Aku terlalu bahagia sampai-sampai aku kehilangan kata-kata untuk menjelaskan apa yang aku rasakan sekarang.

Aku akan mengingat momen ini sampai kapanpun. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s