Pada zaman dahulu kala…

Ah… Itu adalah sebuah pengantar cerita klasik; cerita-cerita fantasi dari luar negeri. Menurutku itu permulaan yang sangat baik untuk memulai cerita. Tapi, aku bukannya hendak menceritakan sebuah cerita, apalagi cerita klasik. Bukan sebuah cerita fantasi atau pun cerita dari negeri dongeng. Hanya sebuah kisah yang mungkin pernah kamu rasakan atau mungkin pernah kamu alami. Hanya sebuah kisah tentang seorang gadis yang merasakan rasanya dibonceng berdua di sepeda motor dengan orang yang (sudah lama) disukainya.

Dan gadis itu adalah Aku.

Entah kenapa, tiba-tiba pikiranku terhempas pada satu memori yang ‘harusnya’ biasa-biasa saja, tapi ternyata memori itu jauh lebih berkesan dibandingkan seharusnya. Semua ini terjadi hanya gara-gara aku sedang mencuci piring dirumah, kemudian tanpa ku kehendaki pikiranku berkelana kemudian membayangkan sebuah kata. Tepatnya Empat buah huruf.

“Dulu,” itulah kata yang terlintas di benakku secara random.

Aneh sekali rasanya kalau dipikir-pikir lagi. Aku tidak bisa memahami hal ini. Dan lebih anehnya lagi, kata tersebut mengantarkanku kepada sebuah ingatan di suatu periode “dulu” yang pernah kulalui. Ingatan itu masih jelas; seperti aku baru saja melakukannya. Seperti baru kemarin aku menjalaninya. Ingatan itu bisa kusimpulkan dalam beberapa kata : Aku, motor, jalanan, dia. Mengingat hal itu membuatku mau tidak mau tersenyum. Sebuah ingatan yang menyenangkan.

Aku tahu, mungkin bagi sebagian orang dibonceng berdua itu hal yang sangat biasa. Maksudku, apa sih yang spesial dari hal itu? Cuma numpang duduk di motor seseorang. Apa lagi? Tidak ada. Rasanya sangat berlebihan jika hal itu dibilang spesial. Apanya yang spesial? Yang spesial itu ‘momen nyata’ dengan seseorang yang membalas perasaanmu. Itu baru spesial, menurutku. Tapi, biar aku beri tahu mengapa momen ini menjadi momen yang spesial. Yang membuatnya spesial adalah… Dengan siapa kamu duduk di motor tersebut. Nah, sekarang itu menimbulkan perbedaan bukan?

Berkesan? Ya.
Berbeda? Ya.
Spesial. Ya. Ya.
YA.

Selama 19 tahun hidupku, dibonceng naik sepeda motor bersama teman laki-laki itu adalah momen yang sangat langka. Mungkin jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Kalian tidak percaya? Kalian harus percaya kalau begitu, karena aku mengatakan yang sebenarnya. Makanya, saat dibonceng berdua oleh seorang teman laki-laki aku selalu merasa gugup dan tak karuan. Karena aku tidak terbiasa. Aku sangat tidak terbiasa. Sampai sekarang pun mungkin aku masih belum terbiasa. Semua ini bukan tanpa alasan, karena aku bisa dibilang jarang keluar rumah. Hmm… Aku tipikal gadis rumahan; yang betah diam di rumah, dan menghabiskan akhir pekan dengan berada di rumah. Jadi, kalian bisa membayangkan perasaanku sekarang : dibonceng dengan teman laki-laki saja sudah membuatku gugup apalagi jika dibonceng dengan seseorang yang… Yang apa? Yang spesial? Yang disukai? Seperti itulah. Tolonglah diriku, aku kesulitan menjelaskan perasaanku sendiri.

Seorang teman pernah berkata kepadaku, “Kamu aneh, Na. Maksudnya, bukan dalam artian negatif, sih. Tapi seriusan, kamu aneh. Kebanyakan orang menganggap dibonceng berdua dengan laki-laki itu hal yang biasa. Asli itu biasa banget! Sama orang yang disukai juga biasa aja sih sebenernya. Tapi buatmu itu sesuatu yang… Apa ya? Luar biasa?”

Mendengar perkataan dari sahabatku itu, aku mencoba untuk tidak tersinggung. Dia hanya mengucapkan apa yang dia pikirkan tentang aku. Sama sekali tidak ada niat buruk. Tapi rasanya lucu saja mendengar pendapatnya.

“Mungkin mereka biasa, karena memang mereka udah biasa boncengan sama laki-laki. Nah, aku kan sama sekali jauh dari kata ‘biasa.'” Begitulah respon yang kuberikan setelah mendengar komentar dari sahabatku.

“Bisa jadi. Tapi itu tidak mengubah pendapatku tentang kamu, Nina, yang aneh. Hehehe.”

Begitu katanya.

Tentang perasaanku sendiri… Hmmmm…. Terus terang aku tidak tahu perasaanku terhadap dia itu seperti apa. Aku bahkan masih ragu bahwa aku menyukai dirinya. Tapi yang jelas, dia berbeda. Itu saja. Reaksi yang kuberikan padanya berbeda dengan reaksi yang kuberikan pada teman laki-laki yang lain. Kupikir itu menjelaskan kenapa aku menganggapnya berbeda. Mungkin spesial adalah kata yang tepat untuk saat ini, untuk menjelaskan perasaanku kepada dirinya.

Pada saat itu… Ah, aku masih mengingatnya dengan sangat jelas. Sejelas melihat diriku sendiri di depan cermin. Sejelas aku mengingat siapa kedua orangtuaku. Begitu berkesannya momen itu untuk diriku, sampai-sampai aku mengingatnya sejelas ini. Sebagian diriku ingin menyimpan momen ini sebagai momen berharga milikku. Hanya milikku saja. Tapi sebagian diriku yang lain, ingin mengenang momen ini bersama seseorang (yang pasti bukan ‘dia’, karena dia tidak akan pernah tahu tentang ini. Aku tidak berniat memberitahunya secara langsung) Mungkin aku akan menghilangkan detail-detailnya saja.

Siang atau malam… Aku tidak akan menjawabnya.
Kenapa aku bisa sampai dibonceng olehnya? Itu… Rahasia.
Hendak kemana aku dan dirinya pergi? Itu juga rahasia.

Kalian pasti berteriak protes, kenapa begitu banyak hal yang dirahasiakan?! Sudah kubilang, aku ingin mengenang momen itu untuk diriku sendiri. Momen berharga milikku sendiri. Kuharap, suatu hari nanti dia juga mengenang momen ini dengan perasaan yang sama dengan apa yang aku rasakan saat ini. Semoga.

Saat aku berada diatas motor bersama dengan dirinya, aku merasa seluruh jalanan di sekitarku memudar. Aku tidak bisa fokus pada jalanan, pada toko-toko yang ada di sebelah kiri-kanan ku, pada kendaraan lain yang melaju melewati kami. Aku tidak bisa. Aku berusaha, tapi aku tidak bisa. Seperti aku tidak menginginkannya. Pada saat itu, seluruh perhatianku terpusat pada sebuah kesadaran sangat penting dalam benakku; aku sedang bersama dengan dirinya. Jarak kami sedekat ini. Dia ada di depanku. Aku naik motor bersama dirinya!! Bisakah kau membayangkan perasaanku saat itu? Rasanya sangat menakjubkan!! Sangat. Menakjubkan.

Dia berada sedekat ini, rasanya hatiku ingin meledak saja. Aku tidak pernah sedekat ini sebelumnya dengan dia. Ini adalah jarak terdekatku dengan seorang laki-laki yang… Yang… Yang sudah lama kuanggap spesial. Selama ini, aku hanya memperhatikannya saja dari jauh. Tidak pernah aku meminta yang lebih. Selama aku bisa melihat dia dalam jangkauan mataku, itu sudah sangat cukup. Dan, pada saat itu… Berada sedekat itu dengannya… Yah, aku tidak menginginkan yang lain, kecuali untuk memperpanjang waktu yang ada. Atau kuharap jalan yang kami tempuh bertambah 100 km. Rasanya konyol sekali bukan? Kau tidak bisa mencegah dirimu berbuat atau berpikiran konyol saat berada di dekat orang yang kamu sukai (atau dalam ceritaku, adalah seseorang yang dianggap spesial) Akui saja hal itu. Terima saja.

Pernah menonton atau membaca adegan di mana si perempuan dengan malu-malu memegang pakaian laki-laki, supaya mereka tidak terjatuh? Aku tidak akan mengatakan bahwa itulah yang kulakukan pada saat itu. Karena pada kenyataannya aku tidak melakukannya. Meskipun harus aku akui bahwa aku setengah mati ingin melakukannya, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa melakukannya. Aku bukan bagian dari prediksi kalian, maafkan aku. Aku memang ingin melakukannya, tapi rasanya tidak sopan. Itulah pendapatku. Rasanya hal itu diperuntukkan untuk pemain level 104, hahahaha. Aku ini pemain level 40. Dan itu jauh diluar kemampuanku. Maka dari itu, aku tidak bisa melakukannya.

Tapi, duduk di belakangnya seperti ini, dan melihat punggungnya, apa lagi yang kuharapkan? Aku tidak bisa meminta yang lebih lagi. Semua ini melebihi harapanku. Berada sedekat ini dengannya, menjalani salah satu momen hidupku bersama dengan dirinya, semua ini sangat menakjubkan. Bahkan selama perjalanan berlangsung, aku masih terus bertanya-tanya : apakah ini nyata atau tidak? Apakah ini mimpi atau memang kenyataan? Yang bisa kulakukan pada saat itu hanyalah tersenyum seperti orang bodoh. Terus menerus menyunggingkan senyum tiada hentinya. Kalau kuingat-ingat lagi, aku benar-benar terlihat seperti orang konyol pada saat itu. Tapi, siapa yang peduli? Aku sedang bersama dengan seseorang yang kuanggap spesial!! Dunia, apakah kau mendengar itu? Aku sedang bersama dirinya!!

Kupikir selama perjalanan berlangsung, tidak akan ada percakapan sama sekali. Kupikir diriku terlalu pemalu untuk memulai percakapan dengannya. Kupikir diriku terlalu meresapi momen ini sampai-sampai tidak menginginkan sebuah percakapan terjadi. Kupikir dia tidak tertarik berbicara kepadaku. Kupikir dia hanya fokus kepada jalanan di depan saja. Kupikir dia tidak tertarik kepadaku.

Rupanya aku terlalu banyak menduga-duga.

Ternyata diriku tidak sepemalu yang kubayangkan. Sosok diriku yang lain, ternyata mampu memulai percakapan dengannya. Sosok yang muncul di saat-saat tertentu saja, seperti pada saat itu. Aku tidak pernah menduga bahwa aku punya sosok itu, aku tidak tahu. Mungkin itu karena aku tidak suka menghabiskan perjalanan dalam sunyi yang canggung. Mungkin itu juga karena aku tidak suka suasana hening yang tidak jelas. Aku sangat tidak suka. Dan sosok diriku yang tidak terduga pun muncul, inisiatif untuk mencoba membuat sebuah percakapan dengan dirinya. Nina, aku bangga padamu. Terima kasih sudah mencoba.

Dan… Kami memang mengobrol. Dia berkata, aku menimpali. Aku bertanya, dia menjawab. Dia tertawa, aku juga tertawa. Dia bertanya, aku menjawabnya dengan senang hati. Aku tidak bisa lebih bahagia lagi dari ini. Aku sungguh sangat bahagia. (Siapa yang peduli dengan pemborosan kata? Aku tidak peduli! Jangan halangi perasaan bahagia ini) Kupikir momen itu; berada di atas motor bersamanya, menjadi sebuah kesempatan untukku untuk mengenalnya lebih jauh. Dan kupikir, aku memanfaatkannya dengan sangat baik. Sekali lagi Nina, kau sudah berusaha. Terima kasih banyak.

Sesekali, dia menoleh sekilas kepadaku yang duduk dibelakang. Mengeraskan volume suaranya (suaranya yang aku sukai) agar aku bisa mendengar apa yang diucapkan olehnya, karena pada saat itu angin berhembus dengan cukup kencang. Aku suka itu. Aku suka pada saat dia menoleh kearahku. Aku suka. Aku sangat suka. Sekali lagi, aku tidak akan meminta lebih dari ini. Semua ini terasa ajaib. Bahkan ketika aku mengingatnya saat ini, rasanya aku masih kesulitan untuk mempercayainya. Aku pernah sedekat itu dengan dirinya.

Saat perjalanan berlangsung, aku berpikir… Akankah aku mengalami momen yang sama lagi dengan dirinya? Maksudku… Akankah sebuah kesempatan datang di lain waktu, di mana aku bisa duduk bersama dengan dirinya di atas motor lagi menuju suatu tempat? Kuharap kesempatan itu ada… Tak peduli butuh seberapa lama kesempatan itu datang ke dalam hidupku, kupikir aku akan menunggunyadan berharap itu terjadi.

Jadi… Sembari mengobrol dengan dirinya, aku juga terus menerus mengucapkan harapan di dalam hati yang kupanjatkan kepada Tuhan yang berada di atas sana. Kuyakin Dia mendengarnya, jadi aku berharap semoga momen seperti ini bisa kutemui lagi; berboncengan dengan dia yang spesial buatku di atas sepeda motor. Aku ingin sekali lagi duduk bersama dengannya di motor ini, kali ini menuju suatu tempat yang jauh, yang membutuhkan waktu perjalanan yang lama, sehingga kami bisa mengobrol tentang apapun lebih banyak lagi (dan itu artinya adalah kesempatan untuk mengenalinya lebih baik)

Itu adalah salah satu momen paling menakjubkan dalam kehidupan seorang aku; Nina. Walaupun hanya sebentar, tapi momen itu sangat berkesan sekali untukku. Semua perasaan yang kurasakan pada saat itu adalah perasaan berharga milikku sendiri yang ingin terus kuingat sampai kapanpun. Karena pada saat itu, perasaan yang kurasakan adalah ‘bahagia.’ Maka ketika aku mengingatnya, menimbulkan perasaan ‘bahagia’ juga! Walaupun momen itu sudah terjadi cukup lama, ketika aku mengingatnya, selalu timbul perasaan menyenangkan, yang kemudian membuatku merasa bahagia. Ajaib sekali.

Ah… Dia…
Dia yang spesial…

Kuharap akan datang lebih banyak momen lagi antara aku dan dirinya, sehingga aku bisa mengenal dia dan lebih dekat lagi. Kuharap dia juga menganggap momen pada saat itu sebagai salah satu momen berkesan dalam hidupnya. Kuharap dia mengingatku dengan cara yang baik, sama seperti aku yang mengingatnya dengan cara yang menyenangkan dalam memori yang sangat berkesan di hatiku.

Aku tidak akan pernah melupakan rasanya duduk bersama denganmu di atas motor.

Itu adalah salah satu momen paling menakjubkan dalam hidupku.

Terima kasih karena sudah mengizinkanku duduk di atas motormu, dan membuatku merasakan semua perasaan menyenangkan ini. Sungguh. Terima kasih banyak. :)

***

Sungguh ajaib. Satu kata yang membawa kita kepada satu memori dalam kehidupan yang kita jalani. Ketika aku memikirkan “dulu”, maka yang kuingat adalah ketika aku duduk di atas motor bersama denganmu. []

24082015, 9:41 pm,
tidak ada yang bisa menggangguku saat ini.

7 thoughts on “[Cerita Pendek] Waktu Aku Duduk Berdua Denganmu Di Atas Motor

  1. Ceritamu sungguh persis yang kualami mbak. Aku juga anak rumahan yg jarang keluar. Pernah dua tahun silam dibonceng someone yg emang sungguh sesuatu banget, hehehe. Aku juga masih ingat bagaimana dia meminta tanganku untuk digenggamnya. Sumpah, rasa dingin tiba2 menyeruak gitu aja ke seluruh tubuhku. Sayangnya, itu semua hanya masa lalu dan dalam dua tahun ini aku belum pernah merasakan ada orang yg seperti dia lagi.

  2. ceritamu hampir sama mbak. aku juga anak rumahan. dua tahun silam aku juga dibonceng orang yg sangat2 spesial. emang indah mbak. sayangnya, ceritaku tinggal masa lalu dan sampai sekarang aku masih belum bisa merasakan lagi bagaimana rasanya diminta tangannya untuk di genggam yg membuat beku sekujur tubuh. haha, lebay banget ya aku.

    1. Iya. Hehehehe. Makasih yaa~ ^^
      Soalnya, yah siapapun juga pasti ngerasa ‘sesuatu’ deh kalau dibonceng sama seseorang yang disukai, hihihi. Dan, aku pengen munculin perasaan itu di cerpen ini :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s