[Cerita Pendek] Kemarin Aku Sudah Melihatnya.

Apa kamu tahu perbedaaan bertemu dengan melihat? Ah… Pasti kamu sudah tahu. Jelas sekali bukan, perbedaannya? “Kemarin, aku melihat dirinya.”

Aku bertemu dengannya. Bertemu itu artinya kamu bertatap muka dengan orang yang kamu maksud. Kau melihat dan melakukan kontak atau interaksi dengan orang tersebut. Beda dengan melihat. Aku melihat dia dua hari yang lalu. Itu artinya kamu memang sebatas ‘melihat’ dia tanpa melakukan kontak langsung dengan dirinya.

“Kemarin aku melihat dirinya.”

Begitulah. Aku melihat dirinya. Dia tidak banyak berubah selama… Selama apa? Selama dua bulan terakhir, itu maksudku. Maaf aku selalu gugup kalau membicarakan seseorang yang… Spesial. Dia masih sama seperti yang kulihat terakhir kali. Itu penampilan luarnya saja yang tidak berubah. Aku tidak menjamin bagian dalamnya masih sama. Kupikir setiap orang yang kukenal selama dua bulan terakhir ‘berubah.’ Ah… Aku mengatakan hal itu karena tiba-tiba saja aku teringat akan mata kuliah teori komunikasi yang kuambil pada semester dua yang lalu. Bahwa pada kenyataannya tidak ada yang sama, seseorang bukan seseorang pada satu detik yang lalu. Seseorang itu membawa perubahan dalam dirinya. Apapun itu. Seperti itulah, aku tidak terlalu ingat.

Aku memikirkan… Apa aku harus menyapanya? Atau tidak? Apa aku harus tersenyum kepadanya? Atau tidak? Apa aku harus berkata ‘hai’ kepadanya? Atau tidak? Rasanya tidak ada yang perlu aku lakukan. Cukup melihatnya saja dari sini. Itu sudah cukup. Jangan berlebihan.

Bagaimana kabarnya selama dua bulan terakhir? Apa yang dia lakukan selama dua bulan kemarin? Aku ingin tahu. Tapi, aku tidak mampu menanyakan hal itu. Aku hanya mampu untuk menanyakannya kepada diriku sendiri, dan tentu saja aku tidak punya jawabannya. Aku tidak tahu harus merasa bagaimana; kesal? Karena bahkan tidak mampu untuk menanyakan hal seperti itu… Atau merasa biasa saja, karena itu bukan hal yang sangat penting?

Dia kelihatan baik-baik saja di mataku (mungkin selama dua bulan ini dia bersenang-senang, entahlah) Dia masih tinggi, tegap, sehat, dan tersenyum. Aku melihatnya tersenyum saat itu, sepertinya dia habis menertawakan sesuatu yang tidak kuketahui sebabnya. Dan senyum itu… Ah… Ya. Senyum itu masih belum berubah. Senyum yang hanya dimiliki olehnya dan dilakukan olehnya.

Ngomong-ngomong tentang senyum… Aku jadi teringat sesuatu. Dulu aku pernah menganggap dia adalah orang yang pendiam, jarang tersenyum, dan penyendiri. Tapi, sekarang aku tidak seperti itu. Pandanganku tentang dirinya berubah. Dua tahun berada ditempat yang sama dengan dirinya membuatku mengubah pendapatku. Dia baik, dia suka tersenyum, dan dia bukan penyendiri. Dia punya banyak teman yang membuatnya sering tertawa dan tersenyum.

Kemarin, aku melihat dia tertawa dan duduk dengan santai dengan teman-temannya. Dia duduk bersandar di tembok. Aku bertanya-tanya, bagaimana caranya tertawa dengan santai seperti itu? Sementara pada saat yang sama, yang ingin aku lakukan adalah menyembunyikan diriku sendiri dan ingin kabur pada saat itu juga. Aku ingin tahu. Tapi, seperti biasa, aku tidak punya keberanian untuk menanyakan hal itu kepada dirinya.

Jadi… Apa yang bisa aku lakukan?

Apa yang kau harapkan dariku? Jangan berekspektasi terlalu tinggi kepadaku. Aku tidak suka dengan beban; jenis beban seperti apapun, aku tidak suka.

Sama saja.

Yang bisa aku lakukan adalah melihatnya. Tetap seperti itu. Memerhatikan dirinya dari jarak yang cukup, tidak sampai dia menyadarinya. Seperti ini saja sudah cukup.

Kemarin aku sudah melihatnya. []

19082015, 10pm,
dengan dia yang (tiba-tiba) terlintas dalam pikiranku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s