Kelingking Yang Berwarna Ungu | Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati

Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati
Juni – Juli 2014

MINGGU KEDUA

Tanggal 09 Juli 2014, Rabu

Hari itu, aku sudah mulai membaca buku ke tiga buku Percy Jackson. Sepertinya aku sudah menamatkan buku Middle School yang aku baca itu. Dan teringat, aku memposting beberapa foto yang aku ambil dari buku middle school itu ke akun instagram milikku. Well, keseluruhan buku itu menyenangkan dan menghibur untuk di baca.

Ada sebuah event besar hari itu yang dirayakan oleh bangsa ku. Hmm… Terkesan sangat ‘alay’? Hahaha tidak apa. Hari itu adalah hari dimana bangsaku memilih pemimpin yang akan memimpin bangsaku untuk lima tahun kedepan. Semua orang menyebutnya “pemilihan umum presiden”

Ada dua calon untuk tahun ini. Calon pertama adalah Pak Prabowo dengan Pak Hatta. Calon kedua adalah Pak Jokowi dengan Pak Jusuf Kalla.

Dan kemudian, medsos penuh dengan orang-orang yang memamerkan salah satu jarinya yang sudah dicelupkan kedalam tinta berwarna ungu, tanda bahwa mereka menunaikan hak pilihnya. Walaupun terkesan alay, tapi kalau dilihat lihat lagi, sepertinya menyenangkan. Ibuku dan Ayahku juga pamer jari mereka, eh sebenarnya hanya Ibuku saja sih. Hehe. Tak segan-segan, mereka mencelupkan dua jari mereka. Bukan hanya satu jari. Katanya mereka mencelupkan dua jari, karena mereka memilih nomor dua. Lucu sekali melihat kedua orang  tuaku berpose dan memamerkan dua jari yang sudah di celupkan itu.

Akhirnya kampanye berakhir juga. Sejak masa kampanye, medsos dan semua media yang mengandung informasi berlangsung kampanye yang tidak sehat. Mereka saling menjelek-jelekkan satu sama lain, memfitnah berdasarkan alasan yang tidak rasional. Dan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan, semuanya terjadi begitu saja. Dan aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku. Ada banyak orang yang berpendapat, menurut mereka pendapat mereka adalah pendapat yang paling benar. Dan mereka tidak menerima pendapat orang lain yang menurut mereka tidak benar. Sekali lagi, aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku.

Aku sebenarnya gatal ingin berkomentar juga. Tapi aku menahan diri. Tidak seharusnya berkomentar di medsos yang bisa dibaca oleh semua orang. Aku hanya berharap semua orang bisa lebih menghargai satu sama lain, dan mengetahui mana yang benar untuk dilakukan.

Aku teringat akan sebuah kalimat yang bagus, yang aku lihat dari sebuah anime yang berjudul “persona 4 the animation”. Kalimat itu berbunyi, “Kalian hanya melihat apa yang ingin dilihat, dan mempercayai apa yang ingin dipercayai.” Sepertinya kata-kata itu sangat benar menurutku.

Sudah cukup komentarku mengenai pemilihan umum presiden ini. Bukan berarti aku tidak menunjukkan komentarku di medsos mengenai hal ini, lantas itu menjadikan aku tidak peduli terhadap nasib bangsaku saat ini. Aku hanya seseorang yang mengamati saja. Diam adalah emas masih menjadi salah satu prinsip hidupku. Aku berdoa, semoga Allah memberikan seorang pemimpin yang baik untuk bangsaku. Yang bisa membawa bangsaku ke jalan yang benar, dan menjadikan bangsaku bangsa yang kuat, dan beriman. Seperti itu.

Lupakan sejenak soal pemilihan presiden itu. Hari itu juga, aku bersama adikku pergi keluar rumah pada sore hari. Aku hanya mengantar adikku pergi ke toko perlengkapan alat tulis yang bernama “dappas”, kata adikku dia ingin membeli refill skecth book miliknya yang hampir habis. Biasanya aku malas sekali pergi keluar rumah, namun saat itu berbeda. Moodku sedang baik untuk pergi keluar. Aku berpikir, seperti apa keadaan di luar sana menjelang sore hari pada saat bulan Ramadhan seperti ini? Aku ingin tahu. Dan aku mengetahuinya juga.

Ohya, tanpa direncanakan sebelumnya, di toko perlengkapan alat tulis itu, ternyata menjual novel-novel juga. Otomatis aku melirik-lirik novel itu, yang ternyata sebagian besarnya sudah aku miliki di perpustakaan dirumah. Tapi, aku menemukan sebuah novel yang menarik hatiku. Judulnya “made of stars” yang ditulis oleh hana krisviana, dan diterbitkan oleh gagasmedia. Aku membeli buku itu. Dan lama aku berpikir, rasanya sudah lama sekali aku tidak membaca novel lokal. Akhir-akhir ini aku banyak membaca novel terjemahan. Sepertinya aku mengalami pergeseran minat baca. Pffftt. Yasudahlah, aku membeli buku itu. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s