Dengan Berbagi Kebahagiaan Pada Orang Lain, Sebenarnya Kamu Sudah Memberi Kebahagiaan Pada Diri Sendiri | Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati

Jurnal bulan Ramadhan Nur Rachminawati
Juni – Juli 2014

MINGGU PERTAMA

Tanggal 05 Juli 2014, Sabtu

Beberapa hari yang lalu, aku sudah menetapkan satu hari dari seminggu yang aku punya untuk mengantar ibu menemani nenekku pergi ke suatu tempat. Aku pikir-pikir, sudah lama sekali aku tidak pergi ke suatu tempat bersama nenekku. Jadi, aku pikir, tidak ada salahnya untuk sesekali pergi keluar rumah. (Sebelumnya aku sudah bilang kalau aku terkadang suka malas kalau di ajak keluar rumah, kan?)

Tapi inginnya aku yang egois ini adalah hanya ada aku, nenek, dan ibu. Dan itu sangat mustahil untuk terjadi. Kenapa? Karena sepupu kecilku ingin ikut.

Aku masih menanyakan kepada diriku sendiri, sebenarnya aku suka anak-anak atau tidak? Dan sampai saat ini, aku belum menemukan jawabannya. Aku suka anak-anak, tapi mereka terkadang menyebalkan. Dan aku tidak tahan dengan hal itu. Aku gampang marah sih sebenarnya. Jadi, sebenarnya, aku tidak bisa menentukan sikap aku sendiri.

Pada awalnya, aku mendengar kabar dari nenekku bahwa sepupu kecilku sepertinya tidak akan ikut (akhir-akhir ini dia sangat dekaaaaaaaaat sekali dengan nenekku. Kemana-mana nenekku pergi, dia pasti ikut) Saat itu aku (entah kenapa) merasa lega sekaligus sedikit bahagia. Tapi setelah  kudengar alasan kenapa sepupu kecilku tidak bisa ikut karena demam, mendadak aku merasa seperti orang jahat. Aku merasa bersalah karena telah berpikir seperti itu. Tapi tidak bisa aku sangkal kalau aku senang bahwa hari ini akan aku habiskan HANYA bertiga saja.

Tapi kemudian, beberapa saat kemudian, nenekku menelepon lagi, katanya sepupu kecil menangis, dan ngotot ingin pergi ikut dengan nenekku. Ya Tuhan, kalau sakit kenapa tidak diam dan istirahat di rumah saja? Itu pikirku saat itu. Tapi, anak kecil tidak akan mengerti tentang hal itu kan? Percuma. Terus terang, saat itu aku merasa kesal, dan kecewa. Dan aku berpikir, sepertinya aku tidak bisa menikmati hari ini seperti yang aku inginkan sebelumnya. Namun, saat ini, setelah aku pikir-pikir lagi, aku tidak ada bedanya dengan sepupu kecilku. Aku masih anak kecil ternyata.

Dan berangkatlah kita; aku, sepupu kecil, ibu, dan nenek ke tempat yang sudah disepakati hari itu. Jadi intinya, aku dan ibuku menemani nenekku untuk pergi kemanapun nenekku mau (asal tidak terlalu jauh juga sih). Nenekku memutuskan untuk pergi ke Grand Griya yang terletak di Cinunuk. Kita pergi kesana dengan menggunakan angkutan kota a.k.a angkot. Awalnya aku merasa sedikit tidak nyaman dengan kehadiran sepupu kecilku. Setiap melihatnya, rasanya senyumku lenyap. Belum lagi saat di angkot, dia seperti hendak menangis. Kata nenekku, sepupu kecilku sedang sakit giginya, salah satu giginya hendak tanggal. “Kenapa ngga diem dirumah aja, bocah?” Itu pikirku saat itu. Inginnya aku tidak peduli. Tapi setelah aku lihat sepupu kecilku itu, sepertinya aku terlalu kejam kepadanya, dan… Jahat. Sepupu kecilku sedang sakit. Jadi aku harus menerima dia, dan…. Memahami dia. Ohya, ngomong-ngomong sepupu kecilku ini perempuan.

Lagipula, tingkahku saat itu kekanakan sekali. Jelas aku masih anak-anak. Walaupun aku sudah menjadi mahasiswi, berusia 18 tahun, tetap saja aku masih egois dan mengikuti kehendak ku semauku sendiri. Apalagi kalau tidak disebut ‘kekanakan’? Untuk satu hari itu saja, aku ingin menjadi orang yang baik. Dan… Aku menyesal karena sudah bersikap seperti itu kepada sepupu kecilku. Jadi… Aku… Menyesali apa yang sudah aku pikirkan sebelum-sebelumnya tentang sikapku yang payah itu.

Dan… Aku pun mengubah diriku. Membuka diriku.

Aku mencoba menghibur dan menenangkan sepupu kecilku. Aku bagikan perasaan nyaman dan bahagia yang aku rasakan kepada sepupu kecilku itu sepanjang perjalanan dan saat tiba di tempat juga. Aku mengajaknya bermain (apapun permainan yang kuingat) saat ibu dan nenekku sibuk melihat-lihat baju-baju yang harganya… Glegh.

Dan, apa yang aku rasakan saat itu adalah… Aku juga merasa bahagia.

Lalu saat itu tiba-tiba aku teringat sesuatu…. Bahwa jika kita berbagi kebahagiaan kepada orang lain, hakikatnya sama dengan memberi kebahagiaan kepada diri sendiri juga. Eh, apakah kata-katanya seperti itukah? Aku lupa.

Tapi satu hal yang aku yakini dengan aku memutuskan untuk membuat sepupuku merasa bahagia dan nyaman, tanpa aku sadari sebelumnya, hal itu membuatku merasa senang dan bahagia juga. Ya Allah… Terima kasih sudah mengajarkan hal ini kepadaku melalui sepupu kecilku. Ah, sebenarnya bukan mengajarkan juga sih, karena aku sudah tahu tentang ini, namun aku melupakannya.

Pokoknya hari itu berjalan dengan cukup lancar dan menyenangkan. Semuanya bahagia. Tapi, ada saat-saat dimana sepupu kecilku terlihat menyebalkan dimataku, dan aku berusaha memakluminya. Dia masih anak kecil. Dia mana tahu kosakata “menyebalkan”, dia tidak akan mengerti. Kupikir hari ini akan berakhir dengan buruk, ternyata tidak. Aku sudah membuat pilihan yang bagus hari itu.

Lalu, semua pulang ke rumah masing-masing. Nenekku mendapatkan beberapa potong baju baru yang bagus, tas yang bagus juga. Sepupu kecilku mendapatkan baju untuk lebaran miliknya. Semua bahagia. Semua senang. Aku dan Ibuku juga senang karena melihat nenekku dan sepupu kecilku senang. Ohya, sudahkah aku menuliskan bahwa rumah nenekku dan rumah ibuku berjarak tidak cukup jauh?

Oke, sejujurnya, perjalanan ini cukup membuatku lelah. Tapi itu tidak apa-apa. Semuanya setara dengan apa yang aku dapatkan hari ini. Sama sekali tidak ada penyesalan dalam hatiku.

Ada satu hal yang harus aku catat lagi. Hari itu, aku menamatkan buku The Hunter yang di tulis oleh Asa Nonami. Aku tidak tahu harus berkata apa terhadap buku ini, tapi buku ini memuaskanku. Sepertinya akhir-akhir ini aku cenderung membaca buku yang ‘agak berat’, salah satunya tentang detektif, misteri, dan suspense. Buku The Hunter itu adalah salah satunya. Menurutku, gaya penulis Asa Nonami ini mudah untuk dibaca, dan dimengerti, bahkan untuk orang awam seperti aku yang tidak tahu menahu sama sekali hal hal seperti penyelidikan dan sebagainya. Aku senang membaca buku ini. Aku menikmatinya.

Dan berakhirlah satu hari lain di bulan Ramadhan ini. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s