Aku Bertemu Dengan Kuroko (Lagi), Pak Jokowi, dan Shinigami | Jurnal Bulan Ramadhan Nur Rachminawati

Jurnal bulan Ramadhan Nur Rachminawati
Juni – Juli 2014

MINGGU PERTAMA

Tanggal 02 Juli 2014, Rabu

Ah… Sudah lama tidak menulis lagi. Aku akan melanjutkan kembali menulis jurnal ini. Rasanya sudah lama terabaikan.

Hari itu, seperti yang sudah aku niatkan sebelumnya, aku harus menamatkan anime kuroko no basuke season 2. Ternyata, setelah pertandingan melawan aomine dan kawan kawan, kuroko beserta teman-teman nya harus melawan yosen, dimana ada salah satu generasi kiseki no sedai yang bernama Murasakibara, dan temannya Kagami yang bernama… Emmm… Lupa.

Ya Tuhan, suasana awal pertandingan penuh dengan tekanan sekali. Seakan akan kita dibuat untuk percaya bahwa rasanya seirin akan kalah kali ini. Tapi kalau di pikir-pikir lagi, kalau tokoh utama kalah, namanya bukan tokoh utama dong? Yah, biasanya harus seperti itu. Tapi unsur kekalahan itu penting juga, untuk pengembangan karakter si tokoh utama. Naruto, Luffy, Ichigo, siapa lagi? Natsu Dragneel, dan bahkan kuroko, pernah mengalami kekalahan, namun setelah itu mereka berkembang, dan menjadi karakter baru dengan kekalahannya itu.

Jadi, aku pikir, aku harus mempercayai Kuroko dan kawan-kawannya! Mereka pasti membawakan kemenangan! Tapi itu sulit. Pertahanannya yosen kuat sekali. Yah, selain Murasakibara yang tingginya tidak normal, ada dua orang lainnya lagi dalam Yosen yang punya tinggi tidak normal. Ketika Kuroko dan teman-temannya melakukan penyerangan, itu tidak mudah. Serangan itu selalu digagalkan. Wah, kayaknya ini susah banget. Seperti itu pikirku. Terus, tentang Murasakibara, ngomong-ngomong aku lumayan kesal, karena dia benar-benar bisa menghancurkan mental seseorang; menghancurkannya sampai tidak bersisa, sampai orang itu tidak sanggup berdiri. Kata-katanya tajam. Yang menjadi sasaran adalah senpai-nya Kuroko, Kiyoshi Teppei. Sebenarnya dia juga menyerang orang lain sih, tapi kepada Teppei, dia benar-benar tidak sungkan. Kepada Kuroko juga, tapi Kuroko bisa membalikkan kata-katanya, membalasnya, dan membuat Murasakibara kesal, dan marah. Oho! Kuroko hebat!

Awalnya Seirin sama sekali tidak bisa mencetak angka. Semua serangan selalu di halau dan di gagalkan, sampai pada suatu waktu dimana jika mereka tidak mencetak angka saat itu, maka Seirin dipastikan akan kalah. Dan tahukah kalian apa yang terjadi? HAHAHAHAHAHAHA.

Keajaiban datang!!!!!!!!!!

Kuroko menghancurkan benteng Yosen dengan… SHOOT NYA! Ya, aku tidak salah menulis. Kuroko bisa melakukan shoot (berkat latihannya dengan Aomine). Ya Tuhan, saat Kuroko melakukan itu, keren sekali!! Dan ekspresi kaget orang-orang, bahkan teman-teman Kuroko itu sendiri, menakjubkan.

Aku pikir, ungkapan itu benar. Ada sebuah ungkapan yang berbunyi “Tidak ada yang lebih baik disaat orang lain menganggap kamu tidak bisa, namun kamu mematahkan anggapan itu dengan kekuatanmu sendiri.” Eh, seperti itu kah? Aku lupa!! Pokoknya, intinya seperti itu. Dan itulah yang dilakukan Kuroko. Selama ini, Murasakibara hanya mengetahui Kuroko tidak bisa melakukan shoot. Tapi, dalam pertandingan ini, Kuroko untuk pertama kalinya melakukan shoot. Bisa dibayangkan ekpresi Murasakibara? Fufufu.

Dan selanjutnya, pertandingan berlangsung dengan sengit. Pertandingan yang melibatkan banyak perasaan; perasaan para pemain, dan penonton (termasuk aku) Kuroko dan yang lainnya memang hebat!!!!

Dengan penuh segala usaha dan kerja keras, dan kepercayaan kepada rekan tim satu sama lain, akhirnya seirin membawa kemenangan mereka. Wajah-wajah bahagia mereka… Benar-benar terpancar… Bahkan aku pun turut bersorak sorai untuk kemenangan mereka. Seakan-akan aku sendiri menonton pertandingannya secara langsung.

Dan tetang taraweh (sudah cukup fangirling-an bersama kuroko-nya)

Well, ini tentang taraweh hari itu, aku tidak melakukannya di mesjid seperti biasa. Yah, bisa dibilang hari itu cukup spesial. Ibuku mengajakku (sebenarnya sih memohon) untuk menemaninya taraweh di tempat Ibuku bekerja. Karena acara taraweh bersama itu bisa dibilang sangat spesial, katanya taraweh ini dilakukan bersama dengan calon presiden nomor urut dua, yaitu Jo-Ko-Wi.

Tapi, saat itu aku berpikir tentang satu hal. Anak macam apa aku ini, yang membiarkan ibuku sendiri memohon kepadaku meminta sesuatu. Aku benar-bennar buruk. Aku tidak tega, jadi aku mengiyakan ajakan ibu. Sebenarnya kalau tidak begitu, aku tidak akan datang. Aku cukup sulit untuk diajak pergi keluar rumah saat liburan. Demi Ibuku!!

Aku datang ke tempat Ibuku bekerja (bersama dengan Ibu juga) pada jam setengah enam sore kalau tidak salah. Saat itu sudah banyak orang datang, dan disana sangat ramai sekali. Wow, aku cukup dibuat kaget juga, aku tidak menyangka akan ada banyak orang yang menghadiri taraweh bersama ini (yah wajar sih, tamunya juga spesial. Jokowi)

Lalu, acara taraweh yang aku tunggu-tunggu, dimulai juga pada jam setengah delapan malam. Dan pada saat itu, Pak Jokowi belum juga datang. Jadi, taraweh dilakukan tanpa Pak Jokowi. Sampai kapan? Sampai rakaat ke dua puluh tiga berakhir. Katanya sih macet di jalan, tapi entahlah, aku tidak terlalu peduli. Aku hanya menikmati jalannya taraweh saat itu, rasanya menyenangkan taraweh di outdoor. Lokasi taraweh waktu itu di bawah dome tempat ibuku bekerja. Ohya, anehnya aku sama sekali tidak mengantuk saat melakukan taraweh, kata adikku sih wajar saja, karena kita melakukan taraweh di luar ruangan, dihempas oleh semilir angin. Ohya, aku lupa, dan yang semakin larut malam, semakin banyak orang yang berdatangan ke dome. Ada lebih banyak orang yang aku lihat, lebih banyak daripada saat pertama kali aku datang kesana. Banyak!! ‘Hebat sekali’ pikirku.

Dan tepat setelah taraweh berakhir, Pak Jokowi tiba di tempat. Langsung saja, orang-orang menyerbu Pak Jokowi (dengan begitu ganasnya) Ibuku juga sama seperti orang-orang itu, berlari menghampiri Pak Jokowi dengan semangat, ingin bersalaman, katanya. Tapi Pak Jokowi dikawal dengan sangat sangat sangat ketat oleh Pak Polisi, aku bahkan sampai tidak bisa melihat Pak Jokowi nya sendiri. Aku (yang tidak terlibat apa-apa) dan juga Ibuku, terdorong-dorong dan terhimpit oleh massa yang begitu banyak. Luar biasa mengerikan saat itu. Rasanya kepalaku mau pecah. Aku tidak suka berdesak-desakan seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi? Akhirnya aku keluar dari massa yang ganas itu, bersama dengan ibuku juga. Ibuku sempat-sempatnya mengeluh tidak bisa berjabat tangan dengan Pak Jokowi. Hahaha. Ya ampun…

Lalu setelah itu Pak Jokowi tiba di panggung, masih dikelilingi orang-orang yang ingin mengambil poto Pak Jokowi. Aku pikir, baguslah Pak Jokowi datang di akhir, aku tidak bisa membayangkan kalau Pak Jokowi datang saat tengah tengah taraweh sedang berlangsung.

Dan, setelah itu, diberikan sambutan dari Ketua Yayasan tempat ibuku bekerja terlebih dahulu, semacam bos-nya Ibuku. Nama bos itu adalah Pak Nanang Masoem. Pak Nanang dengan sangat semangat, mengucapkan salam, lalu berkata “Salam Dua Jari!!!”, dan lalu selama beberapa saat berusaha menenangkan massa yang semakin ganas mendorong-dorong, dan berdesak-desakan untuk melihat Pak Jokowi lebih dekat (sulit untuk menenangkan banyak orang ya…) lalu, setelah itu yang kuketahui Pak Nanang pingsan.

Massa bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi saat itu. Aku hanya mengetahui bahwa Pak Nanang pingsan. Pak Nanang segera digotong, keluar dari panggung.

Setelah itu, dilanjutkan oleh sambutan dari Pak Jokowi nya sendiri. Sambutan Jokowi disambut dengan antusias dan penuh semangat. Seakan-akan kejadian Pak Nanang pingsan tadi, hanya hal sepintas bagi mereka. Mereka melupakan sesaat kejadian itu. Mereka  begitu bahagia bisa melihat Pak Jokowi ada di depan mata mereka dengan nyata. Sosok yang selama ini hanya bisa dilihat oleh mereka di televisi, ada didepan mata mereka saat itu. Akupun seperti itu. Aku hanya… Merasa bahwa saat itu tidak nyata. Aku bisa melihat Pak Jokowi. Pak Jokowi, yang sangat terkenal itu, yang mencalonkan diri untuk menjadi Presiden Negara Indonesia, saat itu ada didepan mataku dan mata orang lain. Dia nyata.

Pak Jokowi memberikan sambutannya kurang lebih sepuluh menit. Tidak terlalu lama. Kata Pak Jokowi juga, beliau merasa tidak enak dengan Pak Nanang yang terbaring sakit disana.

Dan, setelah Pak Jokowi selesai memberikan sambutannya. Aku dan Ibuku (dan Ayah, dan adikku; ternyata mereka juga ikut taraweh disini) pulang kerumah pada jam setengah sepuluh malam. Masing-masing dari kita semua, memikirkan pikiran-pikiran misterius dalam benak masing-masing. Meninggalkan banyak kesan, dan persepsi.

Tapi tahukah kalian, bahwa aku tidak akan menyangka bahwa saat itu akan menjadi saat terakhir bagiku melihat sosok Pak Nanang?

Beberapa menit kemudian, setelah aku dan keluargaku tiba dirumah, Ibuku menerima kabar bahwa Pak Nanang telah wafat dalam perjalanannya menuju rumah sakit.

Innalillahi Wainnaillaihirojiun…. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s