Ada Sebuah Kekhilafan

Ada suaru keegoisan tersendiri setelah menikmati libur yang sangat panjang dari kampus setelah UAS semester 1 berakhir.
Terlalu terlena.
Terlalu terbuai.
Terlalu santai.
Sampai pada akhirnya, liburan panjang itu berakhir.
Dan rasanya…
Sangat malas untuk pergi ke kampus
Untuk bertemu dg banyak orang.
Untuk menyimak pelajaran.
Untuk.. Tugas-tugas dan presentasi dari dosen.
Dan masih banyak lagi alasan yang bermula dari kata ‘untuk’
Aku gampang lelah akhir2 ini.
Aku tidak suka berada dalam situasi rumit, apapun itu.
Dan aku tidak suka berada di bawah tekanan.

Tapi kemudian aku menyadari bahwa aku sudah khilaf.
Aku benar2 bodoh karena sudah berpikir seperti itu.

Dibalik kegundahanku yang seperti itu, sebuah pemikiran terlintas di kepalaku. Pemikiran yang benar2 sudah menyadarkan ku…

Jauh disana, masih banyak orang2 yang menginginkan untuk berkuliah, untuk berada di tempatku saat ini. Untuk bisa belajar, bertemu dg dosen, bertemu dengan banyak orang baru, dan masih banyak lagi.

Namun…
Aku disini…
Malah berkata : malas.

Sungguh memalukan diri ini.

Setidaknya aku sudah mengecewakan harapan mereka yang sangat ingin pergi kuliah, namun tidak mendapat kesempatan. Aku benar2 buruk.

Dan aku juga sepertinya sudah melupakan tujuan awalku. Tujuan yang pudar perlahan lahan seiring dengan berjalannya waktu liburanku yang sangat panjang.

Aku benar2 sudah tersesat ya..
Aku hampir saja tidak menyadari itu.
Namun aku bersyukur, Tuhan masih mengingatkanku.
Aku jadi berpikir ulang tentang perasaanku ini.

Harus berpikir ulang lagi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s