Knowing My Self.

Hai. Selamat pagi. Semoga keberkahan dari Tuhan senantiasa mengiringi kalian semua dimanapun kalian berada :) Aamiin.

Rasa rasanya, aku mulai menguak kepribadian diriku sendiri. Aku mulai memahami dan mengetahui seperti apa ‘aku’ ini.

Well, walaupun hanya sedikit, tapi itu perubahan kan? Bahwa sedikit demi sedikit, aku mulai mengenali seorang ‘Nur Rachminawati’.

Dulu, saat aku belajar mata kuliah ‘Komunikasi Interpersonal’, disana di pelajari tentang konsep diri. Konsep diri itu… Ya seperti ini. Kamu mengenal dirimu sendiri sejauh mana? Seperti itulah. Mengenali diri sendiri itu penting, karena nantinya akan berpengaruh kepada keefektifan saat kita sedang berkomunikasi.

Seorang ‘aku’ ini…. Seorang Nur Rachminawati ini….

Tidak suka berbicara di hadapan banyak orang. Tidak suka di perhatikan oleh banyak orang. Ketika harus berbicara di depan umum, lebih baik menghindarinya sejauh mungkin *jika memang bisa*, dan jika tidak bisa menghindar, maka ‘aku’ hanya akan berbicara seperlunya saja. Seperti itu.

Namun, lain hal nya. Aku menemukan bahwa seorang ‘aku’ ini sangat nyaman jika hanya berbicara berdua saja, baik dengan orang yang sudah di kenal, ataupun yang baru di kenal. Rasanya aku bisa mencurahkan perhatianku pada mereka, dan mereka pun mendengarkan dengan baik apa yang aku katakan. Seperti komunikasi interpersonal, bukan? Yang memungkinkan aku bisa menangkap feedback mereka secara langsung :) Entahlah, aku merasa seperti itu. Kalau aku berbicara dengan satu orang atau lebih, dan mereka baru saja aku kenal, aku tidak merasa gugup. Aku bisa merasa nyaman, menunjukkan diriku sendiri. Namun, jika harus di hadapkan dengan banyak orang *banyaaaaak orang, wkwkwkwk* aku merasa ciut. Dan lebih baik, aku merasa di sembunyikan saja.

Hmmm… Seperti itulah.

Aku menyadari hal ini, ketika aku sedang membeli sebuah paket makanan di restoran jepang, di sebuah mall dekat kampusku. Dengan seorang pelayan perempuan yang ramah, aku merasa tidak segan untuk bertanya apapun. Aku juga berani menanyakan harga buku diary yang di pajang di dekat kasir. Dengan situasi -yang- hanya ada aku dan pelayan itu, aku merasa tidak gugup sama sekali. Karena aku tidak di perhatikan banyak orang. Dan aku nyaman.

Lucu ya, bahwa aku baru menyadarinya di tempat seperti itu? Butuh waktu berapa lama agar aku bisa memahami ‘aku’ yang seperti ini? :) Cukup lama.

Dengan mengetahui hal ini, aku tidak bisa menghindari begitu saja ketika aku di haruskan berkomunikasi dengan banyak orang. Hanya karena aku tidak suka, bukan berarti aku bisa menghindar. Mungkin sudah saatnya aku membiasakan diri. Berlatih, agar aku tidak gugup lagi di depan banyak orang. Bisa membuka diri, sehingga mereka bisa tahu siapa diriku. Berkomunikasi dengan banyak orang adalah sesuatu yang sudah seharusnya aku biasakan, karena… Ada banyak tugas kelompok yang mengharuskan tugasnya untuk di presentasikan di depan banyak orang, berorganisasi = berbicara di hadapan banyak orang, dan lain lain.

Bisakah?

Bisa. Asalkan aku mempunyai kemauan yang kuat.

Namun, aku *saat ini* masih setengah hati untuk melakukannya. Well, doakan saja semoga aku bisa mengubah ‘sisi kurang baik’ ini kedepannya. Aamiin.

Teman teman juga harus seperti itu ya, Ketika teman-teman mengetahui kekurangan diri kalian sendiri, jangan di biarkan begitu saja. Cari solusi nya, dan teman-teman harus punya niatan yang kuat untuk mengubah kekurangan itu, menjadi sesuatu yang positif untuk diri kalian sendiri ^O^

Salam hangat,

@uruuchan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s