FIRST RAIN : FIRST MEET
SECOND RAIN : INSIDE THE WINDOW

“saya mohon, sekali lagi bawa saya ke bawah air mata peri itu. saya ingin disembuhkan..”

– – –

tanganku ditarik oleh laki laki itu, aku dibawa keluar kafe dan terus berjalan di bawah guyuran air mata peri yang kupercayai sekarang bisa menyembuhkan rasa sakit seseorang.

laki laki ini sama sekali tidak menoleh kearahku, dia terfokus kedepan. air mata peri ini telah membasahi sekujur tubuhku, aku merasa kedinginan. tapi jika ini untuk kesembuhan yang sekarang menjadi sebuah harapan yang kuat untukku, aku tidak akan peduli lagi.

aku hanya bisa memandangi tangannya yang sekarang sedang menggenggam tanganku dengan erat. tangannya begitu besar, dan.. hangat. hangatnya merambat keseluruh tubuhku. aku merasa begitu nyaman dengan kehangatan dari tangannya. apakah dia keturunan peri juga? dia mengetahui keajaiban peri yang tidak aku ketahui..

Rana -nama laki laki yang sekarang sedang menggenggam tanganku ini- ternyata membawaku kesuatu tempat yang kukenali seperti sebuah taman kota. entahlah, aku tidak terlalu mengenal tempat ini. namun taman ini begitu indah. dihadapanku ada air mancur yang sangat besar. permukaan airnya tidak tenang, air mata peri berjatuhan kedalam air mancur ini. apakah itu artinya air dalam air mancur ini menjadi suci karena telah bercampur dengan air mata peri?

Rana tidak melepaskan genggaman tangannya padaku. Dia sedang melihat kearahku, mengamati wajahku baik baik. mencari cari sesuatu dalam diriku. kenapa dia bisa berbuat begitu kepadaku? padahal aku baru bertemu dengan dia beberapa jam yang lalu setelah aku pulang dari sekolahku. rasanya seperti aku telah mengenal dia sejak lama. perasaan apa ini?

“apa kamu benar benar mempercayai perkataanku?” tanya Rana.

aku tidak mengerti dengan apa yang ditanyakan olehnya. jadi aku hanya terdiam.

“jawab saya, rasi.” kata rana lagi. dan aku masih tidak mengerti. aku tidak menjawab perkataannya.

Rana menghela napas, dia mengalihkan tatapannya kearah air mancur. “Kalau kamu tidak mempercayai keajaiban air mata peri, maka kamu tidak akan bisa disembuhkan. kamu harus mempercayai keajaiban itu sendiri.”

jadi, itu maksudnya ya.. tentu saja aku sangat mempercayai hal itu. terlebih lagi itu keluar dari mulut Rana. entah kenapa, aku begitu mudah mempercayai kata kata dari Rana; seseorang yang baru saja kukenal. aku ingin mempercayai kata katanya, jadi aku percaya pada apa yang dikatakan olehnya.

aku melepaskan tangannku dari tangan Rana, entah kenapa tiba tiba didalam dadaku ada sesuatu yang terasa sakit. aku tidak mengerti hal itu, dan aku mengabaikannya, ada sesuatu yang lebih penting yang harus aku lakukan.

aku berjalan beberapa langkah, menjauhi Rana. kemudian aku merentangkan kedua tangan disisi tubuhku, dan aku menutup mataku dan menengadahkan kepalaku menatap langit. sekarang aku bisa merasakan tetesan tetesan air mata peri diatas wajahku. rasanya begitu sejuk dan dingin.

kubiarkan wajahku terbasuh oleh air mata peri. kubiarkan semua ketidakbahagiaan yang kurasakan dalam hatiku luntur bersamaan dengan air mata peri yang telah membasahi sekujur tubuhku. rasanya sangat mententramkan, apalagi dengan suasana sunyi disekitarku. aku hanya bisa mendengar suaara air mata peri yang jatuh menyentuh tanah.

tiba tiba, semua kenangan dari ketidakbahagiaan yang kurasakan kembali hinggap dalam pikiranku. semuanya -kenangan kenangan itu- terasa begitu cepat, dan menyakitkan. aku merasa sesak. perasaan perasaan seperti iri, cemburu, dendam, amarah, pedih, rapuh, ketidakmampuan, lemah, sendirian, kesepian; semuanya mengantam hatiku dengan sekali pukul. sakit.. sakit sekali..

diluar kehendakku, air mata jatuh menuruni pipiku, bersatu dengan air mata peri. awalnya hanya isakan, namun tak lama kemudian isakan itu berubah menjadi tangisan. tangisan karena rasa sakit yang tak tertahankan. tangan yang kurentangkan, kini berdiam dikedua sisi tubuhku. kedua tanganku terkepal dengan erat. aku menundukkan kepalaku, dan terus menangis. aku tak tahu harus melakukan apa lagi, kenapa semuanya jadi terasa berat? kenapa aku tidak merasakan keajaiban dari air mata peri itu?

aku merasakan seseorang memegang pundakku, lalu membalikkan tubuhku, dan menarikku kedalam pelukannya. itu Rana. Itu rana yang melakukannya. rana memelukku dengan erat, seolah olah dia sedang menjagaku agar aku tidak hancur berkeping keping. Rana memelukku. dia melakukannya.

Sekujur tubuh Rana basah karena air mata peri -seperti aku juga- namun anehnya aku bisa merasakan kehangatan dari dirinya. kehangatannya menjalar ke tubuhku, rasanya hangat sekali. aku merasa tenang dalam kehangatan rana. kenapa rana bisa melakukan hal ini? kenapa dia bisa membuatku merasa tenang dan aman? saat itu aku masih menangis.

Rana mengusap rambutku yang basah dengan pelan. sebelah tangannya memegang pundakku, memastikan aku masih berada dalam pelukkannya. kemudian aku bisa merasakan hembusan napas rana didekat telingaku, dia berkata “kamu tidak boleh menahan perasaan itu, kamu harus melepaskannya. kalau kamu menahannya lebih lama lagi, itu akan membuatmu semakin sakit.”

perkataan rana membuatku menangis semakin keras. apa yang dia katakan tadi memang benar. aku harus melepaskan perasaan ini, agar aku bisa bahagia. aku harus melepaskan semuanya; perasaan perasaan yang membuatku tidak bahagia. ternyata melepaskan sesuatu yang telah lama bercokol dalam hati itu sangat sulit, sekalipun itu adalah suatu perasaan negatif, tetap saja terasa sulit.

aku tidak ingat sudah berapa lama aku menangis, dan sekarang aku sudah tidak sanggup untuk menangis lagi. air mataku sudah habis untuk saat ini. menangis membuat tubuhku merasa lelah, aku tidak bisa berbuat apa apa. rasanya untuk bicara saja sulit. tapi aku menyadari dua hal; pertama, hatiku terasa lebih ringan dibandingkan sebelumnya, mungkin karena aku telah menumpahkan semuanya dalam tangisan tadi, dan yang kedua adalah rana selalu disini, dia tidak pergi kemanapun. dia menjagaku. dia menjadi sandaran untukku saat ini. dia menopang tubuhku yang lemah. dia tetap memelukku, membiarkanku merasa nyaman dalam pelukannya.

“apa kamu baik baik saja?” bisiknya didekat telingaku, aku membalasnya dengan sebuah anggukan kecil.

“kamu merasakan keajaiban air mata peri itu?”

aku mengangguk lagi.

“rasanya menyenangkan?”

aku mengangguk untuk yang ketiga kalinya.

“bagus.”

cukup lama aku berada dalam pelukan rana, dan aku menyadari bahwa air mata peri sudah tidak turun lagi. perlahan lahan aku melepaskan diri dari pelukan rana, kemudian melihat kearah langit. langit setelah hujan, langit harapan, sangat indah. langitnya bersih, cerah meskipun masih tersisa sedikit awan mendung. namun langit itu terlihat sangat indah dimataku saat ini.

“indah sekali..” gumamku.

“hmm..” balas rana.

suara rana membuatku tersadar, bahwa ada rana di sampingku, lalu aku berbaik menghadapnya. aku memikirkan banyak hal untuk dikatakan kepada laki laki ini, namun pada akhirnya aku hanya bisa mengucapkan :
“terima kasih banyak.”

“harusnya saya yang berterima kasih kepadamu.” kata rana dengan tenang sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.

apa yang baru saja dia katakan? aku tidak mengerti. “saya tidak melakukan apa apa pada anda. kenapa anda berterima kasih kepada saya?”

“hal itu, kamu tidak perlu mengetahuinya.” rana tersenyum kepadaku. senyumnya hangat.

aku pun membalas senyumnya. aku dan rana menatap satu sama lain. pertemuan kami memang sangat aneh, dan dalam waktu yang sangat singkat, rasanya kami telah memahami satu sama lain, dan banyak hal terjadi. bagiku, ini adalah sebuah keajaiban. keajaiban yang diberikan peri dilangit kepadaku.

“awalnya terasa sangat sakit, mungkin karena aku tidak siap melepaskan perasaan perasaan yang membuatku tidak bahagia itu, perasaan perasaan itu sudah terlalu lama berdiam didalam hatiku, sehingga aku merasa tidak siap melepaskannya. bagaimanapun juga perasaan itu pernah menjadi tamengku dalam menghadapi realita.

tapi setelah aku melepaskannya, rasanya sangat ringan. hatiku dipenuhi oleh perasaan sukacita. rasanya aku ingin melakukan sesuatu hari ini juga, aku merasa aku mampu untuk berlari sejauh mungkin, atau mungkin berenang di langit. rasanya sungguh- ah sulit untuk aku jelaskan..”

“saya paham..” balas Rana dengan singkat.

“saya sangat berterima kasih kepada anda, karena anda saya bisa seperti ini. dan juga, saya sangat bersyukur bertemu dengan anda, saya berlari bersama anda, berbincang dengan anda di kafe, dan saya bersandar kepada anda. anda sudah melakukan banyak hal, saya tidak tahu harus membalas dengan apa semua kebaikan anda, tapi yang bisa saya lakukan saat ini adalah berterima kasih dengan tulus kepada anda. terima kasih banyak..”

“kamu tidak perlu melakukan apa apa untuk saya. saya merasa saya tidak melakukan apa apa kepadamu. saya senang bisa membantu kamu. kamu memang harus bahagia diusiamu yang ke-17 ini.”

aku tertawa mendengar kalimat terakhir yang rana ucapkan. “apa yang anda katakan memang benar. sudah terlalu lama saya tidak merasakan apa yang dinamakan ‘kebahagiaan’ yang sesungguhnya. tapi bersama dengan anda disini; menatap langit setelah turunnya air mata peri, adalah kebahagiaan pertama saya. anda adalah keajaiban bagi saya. saya sangat senang.”

rana mengangkat kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman yang sangat menawan. sosoknya kembali terlihat mencolok didepan mataku, entah kenapa rana terlihat bersinar.

“saya senang, saya menjadi kebahagiaan pertamamu.” katanya sambil memiringkan sedikit kepalanya.

aku mengangguk dan tersenyum dengan riang. tiba tiba rana mendekat kearahku dan memegang sebelah pundakku; mengunciku dengan sebelah tangan kedalam lengannya yang ternyata kokoh itu. aku merasakan wajahku bersemu, dan panas. rana terlalu dekat denganku, jarak diantara kami sempit. rana membungkukkan sedikit tubuhnya, dan berbisik didekat telingaku.

“lalu, apa yang akan kamu lakukan setelah ini?”

ya tuhan, jantungku berdegup dengan keras. aku tidak pernah berada sedekat ini dengan laki laki manapun. dan sekarang rana ‘sangat dekat’ sekali denganku. aku tidak tahu harus berbuat apa. lagipula, cengkraman tangannya dipundakku yang kurasa cukup erat, tidak memungkinkan bagiku untuk kabur darinya.

“a…a..aku mm..m..mau mm..m..mmenemuk..k.kan ke..ke..kebahagiaanku.” balasku dengan sangat terbata bata. ya tuhan, kenapa aku menjadi seperti ini? kenapa jantungku berdetak dengan sangat cepat?

rana melepaskan tangannya dari pundakku -dia tidak mengunciku lagi- tapi dia memegang kedua pundakku, membuatku -dan memaksaku- bertatapan lagi dengannya. kuharap dia tidak bisa mendengarkan detak jantungku.

sebelah tangannya terangkat, apa yang akan dia lakukan kepadaku? aku segera menutup mataku, aku takut.

tiba tiba kurasakan sentuhan yang sangat lembut dari pipiku. tangan itu membelai pipiku. apakah itu.. mungkinkah itu dari tangan rana? perlahan aku membuka mataku, dan ketika aku membuka mataku, aku mendapatkan sebuah tatapan yang sangat dalam dari mata rana. pandangan rana seolah olah telah menembus hatiku dengan sangat dalam. tangan rana itu, mengusap pipiku perlahan lahan.

rana berkata, “jadikan saya ‘kebahagiaan’mu. saya tidak bisa berjanji, tapi saya akan berusaha membuatmu bahagia.”

mataku terbelalak. itu adalah sebuah pernyataan cinta. aku tidak terlalu paham dengan cinta, tapi aku bisa merasakan bahwa itu adalah sebuah pernyataan. jantungku berdetak lebih cepat, dan wajahku bersemu merah. sudah lama aku tidak menerima pernyataan cinta dari seorang laki laki, terakhir kali aku menerima hal seperti ini adalah ketika aku duduk dibangku smp kelas delapan.

aku tidak perlu menanyakan lagi kepada hatiku, bagaimana perasaanku kepada laki laki ini. karena aku sudah merasakan perasaan itu sejak pertama kali aku melihatnya sedang berjalan dihadapanku ketika aku berada dihalte. sosoknya saat itu sudah mencuri hatiku.

“saya mau hidup saya diisi oleh kebahagiaan yang anda berikan kepada saya. bagaimanapun juga, anda-lah kebahagiaan pertama saya, anda juga yang membuat saya bahagia seperti sekarang ini.” ungkapku sambil menyelami tatapan mata rana yang dalam itu. wajahku bersemu merah setelah mengatakan hal itu.

aku melihat rana tersenyum puas. lalu, setelah ini apa?

aku mendapatkan kecupan ringan di sebelah pipiku dari rana.

kemudian rana memelukku lagi. dan aku membalas pelukannya. ya, ini adalah awal kebahagiaanku, bersama dengan seseorang yang telah membantuku merasakan kembali perasaan yang bernama ‘bahagia’, seseorang yang kutemui dibawah air mata peri..

seorang yang akan membuatku bahagia.

dan matahari telah muncul, menyinari taman ini dengan sinarnya. sinarnya juga telah membasuh wajahku. hangat.

sehangat pelukan dari rana.

Tuhan, aku bahagia.

THE END——

hujan itu telah mempertemukan rana dengan rasi. bagaimanapun, hujan saat itu membawa keajaiban bagi rana dan rasi. rana menemukan seseorang untuk hatinya, seseorang yang membuatnya merasa bahagia. dan rasi bisa merasakan kebahagiaannya kembali, dan seseorang yang membuatnya bahagia juga.

hujan telah mendatangkan kebahagiaan bagi mereka berdua. mereka bahagia.

pertemuan mereka yang aneh karena hujan, itu juga keajaiban.

hujan telah menghubungkan keduanya.

– – –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s