FIRST RAIN bisa di lihat di : FIRST RAIN : FIRST MEET

– – –

Dari pertemuan yang sangat tidak bisa diduga itu, aku mengetahui nama gadis yang berlari kearahku ditengah hujan. Namanya Rasi, mengingatkanku kepada rasi bintang yang selalu ada dilangit.

“Bentuknya bermacam macam bukan? Aku juga seperti itu, bisa berbeda dihadapan setiap orang.” Itu yang Rasi katakan setelah dia memberitahukan namanya.

Setiap kata kata yang keluar dari mulut rasi, selalu punya banyak makna. entahlah apa yang sedang dia lakukan, tapi terkadang beberapa diantaranya aku tidak bisa mengerti sama sekali.

Rasi, seorang gadis berusia 17 tahun. masih duduk di bangku SMA, dan hendak lulus dari SMA. Dia cukup manis, rambutnya dipotong pendek sebahu, dan dia memiliki poni yang menutupi dahinya dengan cantik. kulitnya lumayan putih terawat. satu hal yang menonjol dari rasi adalah matanya yang sayu, dan dia juga memiliki kantung mata dibawah matanya yang bulat. dimataku, hal itu membuat rasi semakin manis dan cantik.

setelah berlari tanpa tujuan ditengah hujan, dan aku mendengar tawanya yang keluar dengan bebas.. akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri perjalanan tanpa tujuan ini disebuah kafe kopi yang aku temukan di jalan. rasi sepertinya tidak menolak, jadi kenapa tidak? aku mentraktirnya cappucino, dan aku memilih white coffee.

satu hal yang aku suka dari kafe ini adalah suasananya yang melankolis. kafe ini didominasi oleh warna cokelat tua, lampu lampunya temaram, ada beberapa rak buku tua, dan musik klasik. satu hal yang tak kalah penting adalah dindingnya yang berupa kaca. aku dan rasi memilih untuk duduk di pojok kafe ini, melalui dinding kaca kafe ini, aku bisa melihat suasana diluar sana, yang semakin basah karena hujan.

rasi memegang cangkir cappucinonya dengan kedua tangannya, seolah olah dia sangat membutuhkan kehangatan dari cappucino panas yang ada didalamnya. wajahnya memandang kearah dinding kaca -melihat hujan- sepertinya rasi sedang memikirkan sesuatu.

“kamu adalah orang teraneh yang pernah saya temui.” kataku membuka percakapan.

rasi mengalihkan pandangannya kepadaku. menatapku dalam dalam. aku sama sekali tidak merasa risih, aku sudah terbiasa ditatap seperti itu oleh bawahan dikantorku. aku hanya perlu menunggu jawabannya.

“apakah anda seorang pekerja kantoran?” kata rasi dengan tatapan mata sepolos anak kecil. aku tersenyum dalam hati. apakah dia sengaja mengalihkan topik pembicaraan?

“kenapa tadi kamu meminta saya untuk membawamu berlari?”

“kenapa tadi anda berlari ditengah air mata peri?”

“kenapa kamu meminta saya untuk berlari?” kali ini aku menatap rasi dengan tajam dibalik cangkir kopi yang sedang aku minum, dan memberikan penekanan penuh di setiap kata katanya.

rasi terdiam. wajahnya terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu. dan aku hanya perlu menunggu. lagi.

“saya ingin membuat peri bahagia.” katanya, dengan raut wajah serius.

aku terdiam cukup lama. “kamu percaya kepada peri?”

“saya takut dengan kenyataan, dan itu sulit diterima oleh pikiran saya.” kedua tangan rasi memegang cangkir cappucino dengan lebih erat. setelah mengatakan hal itu, wajahnya menunduk.

suara hujan terdengar semakin jelas di telingaku. suasana di kafe, suasana hujan, entahlah mengapa semuanya terlihat menggambarkan rasi?

rasi mengangkat lagi wajahnya, kali ini menatap hujan yang turun diluar melalui jendela.

“hujan ini adalah air mata peri. peri dilangit sedang menangis. perasaanku dan peri itu selalu satu. sepertinya peri itu menangis untukku, menggantikan aku yang tidak mampu menangis. tadi, aku ingin menghibur peri itu, agar tidak perlu lagi menangis. aku menghiburnya dengan cara berlari ditengah hujan -bersama anda. tapi peri itu tidak mau berhenti menangis. sekarang aku bingung, bagaimana cara menghentikan air mata peri itu?”

aku meresapi setiap perkataan rasi. setiap kata katanya sepertinya mengandung berbagai makna yang terselubung, tapi aku tidak bisa menebak dengan pasti.

gadis yang ada dihadapanku ini, yang sudah berusia 17 tahun, masih mempercayai tentang apa yang disebut ‘peri’. secara realitas, tidak ada yang namanya peri didunia ini. peri itu hanya ada didalam kartun anak anak, seperti tinker bell bukan? ah, aku tidak tahu banyak tentang hal itu.
tidakkah rasi sedikit aneh dari perempuan lain seusia dirinya? rasi berbeda. harusnya, diusianya yang sudah menginjak 17 tahun, rasi menjadi gadis yang ceria, tertawa bersama teman teman perempuannya, pergi ke mall, bermain bersama pacar, dan lain lain. tapi rasi tidak melakukan itu. rasi memikirkan tentang peri, dan tentang kenyataan. dua hal itu bukan sesuatu yang biasanya dipikirkan oleh seorang gadis yang berusia 17 tahun. pasti ada sesuatu yang membuatnya seperti ini..

rasi meminum cappucinonya. cara dia meminumnya juga terlihat aneh dimataku, maksudku aku belum pernah melihat seorang perempuan meminum kopinya seperti yang dilakukan rasi saat ini. dia meminum cappucinonya dengan pelan sambil memejamkan matanya. sebelum dia meminumnya, dia menghirup aroma kopinya dengan pelan. perasaan ‘menikmati’ yang sangat luar biasa.

“ada apa? apakah ada yang aneh diwajah saya?” tanya rasi setelah membuka kembali matanya. aku tertangkap basah sedang menatapnya.

“tidak apa apa. saya hanya kagum dengan perasaan ‘menikmati’ yang barusan kamu lakukan.”

rasi sedikit tercengang mendengar perkataanku. hanya beberapa detik saja, dan setelah itu wajahnya kembali relax.

“saya mudah menikmati hal hal yang biasanya luput dari perhatian banyak orang.”

“contohnya?”

“seperti sekarang, air mata peri yang turun dari langit.. lalu langit yang cerah setelah air mata peri, langit kemerahan, kebaikan hati.. hmm.. dan masih banyak lagi. saya sangat menghargai hal hal kecil. tapi akhir akhir ini saya kehilangan hal itu.. dan beberapa saat yang lalu -tepatnya setelah saya bertemu dengan anda- saya bisa merasakan kembali hal itu. saya sangat berterimakasih kepada anda.” rasi membungkukkan sedikit tubuhnya, kemudian tersenyum simpul kepadaku. ini pertama kalinya aku melihat senyum rasi. senyumnya.. manis sekali.

aku membalas senyum rasi, kemudian aku menyesap kopiku. entah kenapa, aku sangat menikmati waktu bersama rasi, gadis yang baru saja aku temui beberapa jam yang lalu. Tuhan mempertemukan setiap makhluknya dengan cara yang sulit dimengerti, tapi kali ini aku sangat bersyukur atas pertemuan ini. terima kasih Tuhan.

“anda belum menjawab pertanyaan saya.” kata rasi.

“pertanyaan yang mana?”

“apakah anda sudah bekerja?”

aku tertawa kecil, pertanyaan yang sebenarnya tidak usah untuk ditanyakan. “apakah penampilan saya tidak menjawab pertanyaan kamu?”

“saya tidak bisa menilai seseorang hanya dari luarnya saja.” balas rasi dengan tegas.

aku tidak menyangka dari mulut gadis berusia 17 tahun bisa keluar perkataan semacam itu. benar benar gadis yang hebat. rasanya aku harus menjawab pertanyaan rasi.

“ya, saya sudah bekerja.”

“bekerja diperusahaan apa?”

“perusahaan milik ayah saya.”

aku mendengar ‘oooh’ keluar dari mulut rasi.

“kenapa tadi anda berlari dibawah air mata peri?”

akhirnya tiba juga pertanyaan yang sebenarnya sangat ingin aku hindari dari percakapanku dengan rasi saat ini. tapi rasi menanyakan kembali hal ini. aku harus memikirkan baik baik jawaban yang akan aku berikan kepada rasi. apa yang harus aku jawab?

“tidakkah kamu tahu, bahwa air mata peri itu sifatnya menyembuhkan?” balasku dengan memasang wajah seserius mungkin.

rasi sepertinya sangat tertarik dengan perkataanku tadi. seketika itu juga, wajahnya terlihat berbinar binar. apakah dia selalu seperti ini? aku menahan tawa dalam hatiku.

“apakah anda serius? saya sama sekali tidak tahu tentang hal itu! coba anda jelaskan kepada saya! saya mohon!!”

ya tuhan, gadis yang bernama rasi ini.. aku sulit mempercayai bahwa gadis ini berusia 17 tahun. kenyataannya saat ini dia kelihatan seperti seseorang yang berusia 6 tahun. terpaksa aku harus menjelaskannya.

“peri itu adalah sesuatu yang ajaib. maka air matanya juga mempunyai keajaiban, yaitu bersifat menyembuhkan.”

“jadi, ketika kita merasa sakit, jadi kita hanya perlu?”

“membasahi diri dengan air mata peri itu. maka sakitnya akan pergi dengan sendirinya.”

wajah rasi berbinar dengan penuh ketakjuban. aku merasa sedikit bersalah karena sudah berbohong kepada rasi, beberapa saat yang lalu aku berkata kepada diriku sendiri bahwa peri itu tidak ada. sekarang kenapa aku berbicara seolah olah peri itu sendiri ada?? aku merasa aneh terhadap diriku sendiri.

rasi mengangguk nganggukkan kepalanya. apakah dia paham akan sesuatu?

“ternyata anda percaya kepada peri juga ya? saya senang sekali. ternyata ada orang lain yang percaya juga. oh ya, itu artinya, anda sedang merasa sakit? jadi anda berlari dibawah air mata peri? seperti itukah?”

aku tidak tahu harus berkata apa. rasi terlanjur mempercayainya, jadi aku hanya mengangguk anggukkan kepalaku. lagipula, yang aku katakan tidak sepenuhnya bohong. aku berlari ditengah hujan untuk menghilangkan perasaan gundah milikku, dan sekarang gundahku hilang entah kemana.

“ya, seperti itulah..”

rasi kemudian menundukkan kepalanya. sekarang apa lagi? dia terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu.

akhirnya rasi berkata kepadaku. “saya punya permintaan kepada anda. maukah anda mengabulkannya? saya mohon.” rasi membungkukkan kepalanya -tanda untuk memohon dengan sangat.

“permohonan apa?” aku dibuat bingung oleh rasi.

ada jeda sejenak.. hanya terdengar suara hujan yang masih turun dengan cukup lebat, dan juga alunan musik klasik. sepertinya aku kenal dengan musik klasik itu, tapi aku tidak bisa mengingatnya dengan baik.

“saya mohon, sekali lagi bawa saja ke bawah air mata peri itu. saya ingin disembuhkan..”

aku bingung lagi dengan perkataannya rasi. “disembuhkan dari apa?”

“ketidakbahagiaan. saya sudah sejak lama merasa tidak bahagia dengan hidup saya.. bukankah tadi anda bilang, air mata peri bersifat menyembuhkan?” matanya menatapku dengan penuh kepolosan.

kali ini, tanpa pikir panjang. aku bangkit dari dudukku, kemudian memegang tangannya yang kecil -dan kelihatan rapuh- dengan erat. aku akan membawanya sekarang juga kepada apa yang rasi sebut ‘air mata hujan’. aku akan membawanya detik ini juga jika itu bisa menyembuhkan apa yang dia katakan tadi. ketidakbahagiaannya.

musik klasik mengalun dengan lembut dibelakangku.

– – –

bersambung ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s