Judul : Regret.

Jika saja aku bisa kembali pada masa lalu.. Batinku lirih.

Aku duduk sendirian sembari memperhatikan diam diam seseorang yang tak jauh dari hadapanku. Aku melihat sahabat SMP ku yang kini satu SMA lagi denganku. Entah ini namanya kebetulan, atau apa –aku tidak tahu. Namun, satu hal itu amat aku syukuri, aku masih bisa melihat wajah sahabatku itu.

Hatiku terluka. Ya, aku terluka melihat sahabat ku yang sedang duduk dekat bersama seorang perempuan. Aku mengenali perempuan itu, dia teman satu kelasku di SMA. Mereka terlihat sedang tertawa. Mereka bahagia. Dan aku di sini –sendirian- merasa cemburu.. Ya, aku tidak suka melihat mereka berdua bersama.. Aku tidak suka.. Itu membuat mataku memanas, mataku menjadi perih.

Mungkin, mereka sudah menjalin sebuah hubungan. Andai saja, dulu aku yang mendapatkannya duluan.. Mungkin aku tidak akan merasa semenyesal ini.. Mungkin, aku yang berada di posisi temanku saat ini. Mungkin, aku yang berada di samping sahabatku untuk membuat dia tertawa dan bahagia.

Mataku terpejam. Aku tak sanggup melihat kebahagiaan mereka berdua. Aku tidak bisa berbahagia untuk mereka, terlalu pedih bagiku. Bukannya aku egois, namun aku ingin membuat diriku sendiri bahagia, apa itu tidak boleh? Saat aku sadari, air mata telah menuruni pipiku. Biarkan saja.. Air mata ini akan membawa keluar kesakitan dan kepedihan yang aku rasakan. Semoga saja.. Pikirku, masih dengan mata terpejam.

Ketika aku merasa sedikit lebih baik, aku membuka mataku perlahan dan berharap mereka berdua sudah pindah ke suatu tempat –asalkan bukan di hadapanku lagi. Namun, bukannya aku mendapati pemandangan halaman SMA tempatku bersekolah tadi, tetapi aku sedang duduk menghadap ke sebuah kelas yang sangat aku kenal dulu. Sebuah kelas yang aku tempati selama 3 tahun. Kelasku saat SMP.

Mataku terbelalak. Jantungku berpacu dengan cepat. Benakku bertanya tanya, ‘mengapa aku berada di sini?’. Belum pulih kekagetanku, tiba tiba mataku menangkap seseorang yang keluar dari kelas itu, seseorang yang sangat aku kenali. Seseorang yang kuharapkan untuk menerima perasaanku. Seseorang yang aku sukai hingga aku duduk di bangku SMA. “Ari…” Gumamku lirih sekaligus tidak percaya. Ari masih mengenakan celana pendek biru, ketika aku sadari ternyata aku juga mengenakan rok pendek biru. “Apakah aku berada di masa SMP? Apakah ini artinya aku mundur ke masa lalu?”

Ari menyadari kehadiranku. Dia menghampiriku sembari tersenyum lembut. “Hei Nana. Kenapa kamu masih di sini? Yang lain udah pada pulang.”

Aku terkejut! Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku yang gemetaran. Ini nyata! Ari di hadapanku ini nyata! Dia tersenyum dan menyapaku –itu juga nyata! Semua yang kulihat dengan mataku saat ini nyata. Aku tidak bisa menahan lebih lama lagi air mata yang tertahan di pelupuk mataku, jadi kubiarkan saja mereka membasahi pipiku. Ari terlihat khawatir dengan keadaanku, dia memegang pundakku dan menanyakan rentetan pertanyaan kekhawatiran yang belum bisa aku jawab sekarang.

Aku jadi berpikir. Kenapa aku berada di sini? Kenapa aku terlempar ke masa lalu? Dan kenapa aku harus bertemu dengan Ari? Aku sudah berpikir dengan keras. Pasti ada alasannya. Namun tidak lama kemudian, aku segera tersadar! Ini mungkin sebuah kesempatan! Ya, kesempatan yang di berikan Tuhan padaku; untuk memberi tahukan perasaan yang belum tersampaikan kepada Ari. Perasaan milikku. Tuhan mengijinkan aku kembali ke masa lalu, untuk memberitahukan perasaanku kepada Ari agar aku tidak menyesal di kemudian hari. Agar aku tidak melewati hidup dengan penyesalan.

“Kamu kenapa Nana?” Tanya Ari dengan penuh kekhawatiran.

Aku memandang langsung kedalam mata Ari –untuk mencari kekuatan bagi diriku, untuk meyakinkan diriku bahwa kesempatan hanya datang satu kali.

Aku berkata dengan suara gemetaran di sela isak tangisku. “Aku menyukaimu Ri. Aku sudah menyukaimu sejak lama.” Aku berhenti sejenak untuk mengumpulkan lagi keberanianku. Kulihat Ari sangat terkejut, namun dia terlihat bisa mengontrol emosinya sendiri. Aku melanjutkan, “Aku menyukaimu Ari. Tapi aku terlalu takut untuk mengungkapkannya padamu. Sekarang aku tidak ingin menyesal, dan aku ingin memberitahu perasaanku hari ini juga kepadamu.”

Bukannya membalas perkataanku, Ari malah menarik lenganku menuju pelukannya. Di sana dia memelukku dengan erat dan mengelus rambutku dengan lembut. Aku merasa bahagia sekali. Kali ini, aku tidak akan merasa menyesal lagi. Aku tidak akan meminta jawaban atas perasaanku, karena apa yang kudapat saat ini lebih dari cukup. Aku hanya berharap Tuhan berbaik hati membiarkan aku sedikit lebih lama berada dalam pelukan Ari, hingga saatnya nanti; ketika aku kembali ke masa depanku lagi.

THE END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s