Teruntuk semutku. Surat dari gula pasir.

Sekarang baru ku sadari, mungkin aku yang salah. Aku tak mengerti dirimu, aku tak mengenal dirimu. Aku memaksakan kehendakku sendiri, tanpa memikirkan perasaanmu. Maaf.. Maaf karena salahku, karena ucapanku, membuatmu tersinggung dan marah. Aku tak sedikitpun punya niatan untuk membuatmu kesal seperti itu. Tak ada! Aku pun, mengucapkan hal itu karena kesal. Kamu sudah bertingkah di luar batas. Tapi, mungkin ini menjadi salahku, karena aku. Karena aku, kamu kehilangan sebagian kebebasanmu. Maaf.. Tapi aku pikir, aku tak salah. Karena kau berbuat hal yang salah, aku hanya memberi tahu kesalahanmu. Tapi kamu takmau menerimanya. Dan kamu pun marah padaku. Aku tak mengerti, dan aku bertanya tanya, kenapa harus seperti ini? Tapi akhirnya, puncak kekesalanmu telah tiba. Kau curahkan segala kekesalanmu padaku.. Tetapi, itu sangat menyakitkan untukku. Sangat sakit. Hatiku teriris iris, bagaikan di sayat. Mengertikah kau perasaan ini? Perkataanmu sungguh kejam! Tak bisakah kamu memikirkan sedikit perasaanku?

Sempat aku membencimu. Benci setengah mati. Ingin melupakanmu, ingin membencimu, ingin membuatmu merasakan apa yang aku rasa!

Tetapi, ketulusan hatimu dapat aku rasakan. Kau berusaha mendapatkan maaf dariku. Kau terus menerus berusaha mendapatkan maaf. Hati yang sekeras batu pun, luluh karena ketulusan mu.. Aku bisa merasakan perasaan mu.. Aku bisa memaafkan mu. Dan aku menyadari, semua ini salahku. Dan aku sangat menyesal.. Apa kau merasakan apa yang aku rasa?

Kamu yang pertama. Kamu orang pertama, yang membuatku menangis karena cinta.

Maafkan aku, maafkan semua kesalahanku, maafkan segala kekuranganku. Aku menyesal..

Sejujurnya, tanpamu mungkin aku tak bisa jalani hidup. Aku merasa ada yang kosong dalam hidupku jika tanpamu. Ada yang hilang dalam hidupku. Tanpamu, hidupku hanyalah warna hitam dan putih.

Aku, membutuhkanmu. Dalam setiap detik yang ku jalani, dalam setiap nafas yang kuhembuskan, dalam setiap detik nyawa yang kuhabiskan.

Aku merasa kehadiranmu semakin terasa dalam hidupku. Aku tak mau, jika karena sebuah hal seperti ini, kita saling membenci dan melupakan..

Tak apa untukku, jika kau menganggapku sebagai sahabat, atau HANYA sebagai orang yang kau sukai. Tapi yang terpenting untukku sekarang, aku ingin kita seperti dulu. Aku ingin kita saling memaafkan.. Seperti dulu, dimana kita saling bercanda, dan tertawa..
Kau tahu, aku telah memaafkanmu! Tinggal menghilangkan serpihan2 kekesalan ini.. Aku minta maaf sekali lagi padamu. Dan aku juga memaafkanmu.

Aku selalu menyukaimu.
Aku akan selalu menyukaimu.
Dan..

Aku sangat menyayangi mu disetiap keadaan.

Juga..
Aku selalu mengingatmu setiap saat..

Semutku, aku menyayangimu selalu..

30.10.2010, sabtu
malam penuh penyesalan, dan kesedihan.
Aku menyayangimu semutku. Satu2nya semut yang sangat aku sukai..

09.10 p.m.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s