Aku Ingin Menulis

Aku merasa kehilangan sesuatu akhir-akhir ini dalam hidupku; sesuatu yang aku tidak tahu bentuknya atau rupanya seperti apa.
Mungkin salah satunya adalah menulis.

Pada apa yang dulu membuatku sangat bersemangat, sampai lupa waktu… kini aku kehilangan pesonanya.

Aku seperti dikuasai oleh sesuatu.
Mungkin aku merasa tidak sebebas sebelumnya.

Setiap kali menulis, aku merasa harus menulis sesuatu yang bagus; yang sangat bagus. Sesuatu yang membuat orang lain kagum dan terkesima. Sesuatu yang bagus, sehingga bisa menghasilkan uang bagi diriku yang khawatir tidak bisa mendapatkan pekerjaan di masa depanku. Sesuatu yang cukup menakjubkan, sehingga bisa menghasilkan uang bagi diriku yang merasa tidak cocok bekerja di perusahaan. Pikiran yang kubuat sendiri itu, secara tidak langsung menjadi beban tak kasat mata yang membayangi jemariku untuk menuliskan atau mengetik sebuah cerita. Sebuah pikiran yang sangat tidak tulus bagi diriku yang dulunya murni ingin menulis untuk kesenangan diri sendiri. Aku juga terus menerus memikirkan apa yang aku tulis ini sudah benar? Apa tidak ada salah? Apa penggunaan tanda bacanya sudah benar? Sudah benarkah? Sudah benarkah?

Aku masih ingat waktu aku duduk di bangku SD. Sehabis pulang sekolah, aku menghabiskan waktuku sampai sore hari di rumah nenek. Aku ingat hari itu, di mana aku terlungkup di karpet yang ada di kamar nenekku dan menuliskan cerita tentang bunga yang bisa berbicara dan melakukan karate di kertas binder. Rasanya hari itu, aku merasa begitu bebas dan tidak terkekang oleh sesuatu. Aku punya segalanya untuk aku tuliskan, dan aku sama sekali tidak mengkhawatirkan hal-hal macam apakah ceritaku sudah cukup bagus untuk dibaca oleh orang lain atau tidak, atau mengenai penggunaan tanda baca, dan hal-hal lain. Aku hanya ingin menulis waktu itu; mengeluarkan apapun yang terpikirkan dalam benakku. Terus dan terus menulis sampai lupa waktu dan begitu terhanyut dengan bunga yang aku tulis. Dengan sebuah pensil di tanganku dan kertas di hadapanku, aku merasa tidak perlu hal yang lain lagi. Aku punya segalanya di dunia ini yang aku butuhkan. Waktu itu, aku merasa sangat bahagia.

Dulu, sebegitu besarnya kesukaanku terhadap menulis.

Kini, menulis tidak sama lagi seperti dulu. Aku merasa separuh dari diriku hilang. Aku kehilangan kemampuan diriku untuk merasakan dunia dan menuliskankannya lewat kata. Setiap kali menuliskan kata demi kata, aku menghapusnya kembali, menghapusnya lagi, menghapusnya, menghapusnya, menghapusnya, menghapusnya sampai layar kembali menjadi kosong, karena yang aku tuliskan belum cukup baik. Tidak bermakna apa-apa. Tidak akan menjual. Aku putus asa. Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang penting dalam hidupku, dan aku benar-benar merasa kosong sesudahnya. Menulis tidak lagi membawa kebahagiaan yang murni dalam hidupku.

Aku ingin menulis lagi.
Aku ingin menulis sesuatu yang aku suka.
Aku ingin membuat diriku bahagia dengan menulis.
Aku rindu menulis.
Aku rindu terhanyut dalam duniaku sendiri.
Aku ingin menulis lagi seperti dulu, Ya Tuhan…

Pada waktu yang dulu berjalan tanpa kusadari, kebahagiaan kurasakan dalam hidupku melalui sebuah bunga yang dapat berbicara dan bisa karate, yang aku tuliskan di atas selembar kertas binder kosong dengan pensil. Sesederhana itu.

 

– Minggu, 24 September 2017.

Advertisements

Back to School!! | Teh Sore Uruuchan

Teh Sore Uruuchan : Cangkir Ke-6

 

 

 

Selamat sore!! Mari menyiapkan teh sore sambil mengobrol. :)

Kudengar bahwa satu hari lagi liburan akan usai. Temen-temen yang masih sekolah memulai kembali aktivitas pergi ke sekolah setiap hari Senin sampai Jumat (beberapa sampai hari Sabtu). Belajar sesuatu bersama guru, membeli sesuatu di kantin saat waktu istirahat tiba, mendengarkan pelajaran dari guru, piket harian mulai berjalan lagi, dan pulang dari sekolah bisa nongkrong dulu sama teman-teman, dan masih banyak lagi. Yah, intinya kembali ke sekolah lagi. Hehehe.

Apa sih yang paling kalian ingat saat kembali lagi ke sekolah? Ingatan pertama yang muncul saat mendengar hari pertama ke sekolah?

Kalau aku… yang paling aku ingat -selalu- saat menghadapi hari pertama ke sekolah adalah Continue reading “Back to School!! | Teh Sore Uruuchan”

Review Film “Dareka no Manazashi” (Someone’s Gaze)

PROLOGUE

Jangan coba-coba menonton short film ini saat kamu sedang hidup jauh dari Ayah dan Ibu kamu, dan saat sedang rindu-rindunya kamu pada mereka. Jangan! Aku sudah mewanti-wanti kan kepada kamu ya… Jangan salah kan aku, kalau kamu akan terbawa perasaan saat menonton short movie yang durasinya hanya enam menit ini.

Alasan Nonton Film Ini

Karena Makoto Shinkai? Continue reading “Review Film “Dareka no Manazashi” (Someone’s Gaze)”

Bernostalgia Dengan Film-Film India | Teh Sore Uruuchan

Teh Sore Uruuchan : Cangkir Ke-5

 

 

Hai, selamat sore! Ini cangkir kelima yang kusajikan. Dan, sore ini aku ingin mengobrol soal film-film India, alias Bollywood.

Jadi, belakangan aku menonton film-film india di TV. Ini gara-gara salah satu stasiun TV lokal hampir setiap hari, di jam yang sama, menayangkan film India. Ingat tidak hari lebaran tahun ini yang jatuh pada hari Jumat? Nah!!! Hari Jumat itu, stasiun TV yang satu itu mulai menayangkan film India yang judulnya Kuch Kuch Hota Hai. Aku ingat betul, karena sehabis silaturahmi ke tetangga dan keluarga dekat, aku dan keluarga menikmati siang hari itu dengan membuat rujak sambil menonton Kuch Kuch Hota Hai (aku menonton siaran ulangnya, soalnya film itu ditayangkan jam tujuh pagi, itu adalah saat-saat kami hendak berangkat untuk silaturahmi). Itu momen yang rasanya akan selalu kuingat :”)

Dan hari-hari berikutnya, aku disuguhi film-film India yang beberapa lagu-lagunya sering kali aku dengar saat aku masih kecil. Aku merasa bernostalgia :”)

Jadi, selama beberapa minggu terakhir aku menonton film-film India ini :

  1. Kuch Kuch Hota hai (1998)
  2. Kabhi Kushi Kabhi Gham (2001)
  3. Dilwale Dulhania Le Jayenge (1995)
  4. Kaho Na Pyar Hai (2000)
  5. Devdasan (2002)

Yang membuatku sangat bersyukur adalah nyanyian dalam film-film itu diberikan subtitle bahasa (terima kasih ANTV) sehingga aku lebih bisa memaknai lirik lagunya. Beberapa sanggup membuat mataku berkaca-kaca, karena lirik lagunya dalam sekali. Dan, sedih.

Dari lima judul film India yang kusebutkan barusan, aku dapat menarik kesimpulan bahwa tema besar film India yang aku tonton beberapa minggu belakangan adalah tentang cinta. Cinta dalam keluarga, cinta pada sahabat sendiri, cinta yang berkembang karena situasi yang tidak terduga, cinta yang tidak bersambut, dan masih banyak lagi. Dan, menonton film-film itu membuatku merasakan banyak hal, juga tentunya memikirkan banyak hal.

(Sebelum kalian melanjutkan membaca, aku memberikan peringatan bahwa mungkin saja di bawah ini akan tersebar banyak spoiler dari film-film India yang sudah aku sebutkan di atas. Kalau kalian tidak suka spoiler, silahkan lanjutkan sampai batas yang sudah kuberikan)

*

*

*

Film Kuch Kuch Hota Hai membuatku memikirkan Continue reading “Bernostalgia Dengan Film-Film India | Teh Sore Uruuchan”

Tentang Sebuah Perasaan yang Tak Bernama | Teh Sore Uruuchan

Teh Sore Uruuchan : Cangkir Ke-4

 

 

Hai, selamat sore! Ini cangkir keempatku. Hehehehe.

Aku masih ingat saat aku merasakan perasaan asing tak bernama yang mengguncang kesadaranku begitu dalam. Aku ingat betapa menakutkannya hal itu bagi diriku saat merasakan perasaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya seumur hidupku. Aku berbicara soal perasaan yang rasanya seperti tengah menyerang ku. Continue reading “Tentang Sebuah Perasaan yang Tak Bernama | Teh Sore Uruuchan”

Tentang Kartu Pos dan Perasaan yang Menyertainya | Teh Sore Uruuchan

Teh Sore Uruuchan : Cangkir ke-3

 

Hai, selamat sore! Ini cangkir ketigaku!

Hari ini, sama seperti minggu-minggu yang lalu hujan turun dengan cukup deras di sore hari. Sambil menantikan kepulangan kedua orangtuaku, aku berdoa semoga mereka diberikan keselamatan selama di perjalanan. Ngomong-ngomong aku tidak menyeduh teh hijauku sore hari ini, tapi aku sudah memiliki Teh Sosro Less Sugar yang akan menemaniku, hehehe.

Aku ingin membicarakan soal surat menyurat. Continue reading “Tentang Kartu Pos dan Perasaan yang Menyertainya | Teh Sore Uruuchan”

Dua Sisi dan Sebuah Usaha Untuk Saling Memahami | Teh Sore Uruuchan

Teh Sore Uruuchan : Cangkir ke-2

 

 

Hai, selamat sore! Ini cangkir keduaku!

Seperti yang sudah aku katakan lewat postingan di akun Instagram milikku, aku ingin membicarakan soal ekspektasi. Namun, setelah kupikir lebih lama lagi… dan setelah menulis sepanjang ini, rasanya apa yang ingin aku bicarakan saat ini lebih mengarah pada persepsi. Hehehehe.

Begini, kita manusia tidak sempurna. Kita terbatas. Contohnya saja kita sama sekali tidak tahu apa yang tengah terjadi di dalam rumah tetangga. Kita juga sama sekali tidak tahu apa saja yang ada di dalam pikiran tetangga di depan rumah kita. Yah, kecuali kalau kamu menyimpan alat mata-mata di rumah mereka, itu beda cerita. Kalau kita tidak bertanya secara langsung, kita cenderung berpikir tentang apa yang bisa kita lihat-tangkap-rasakan dari hal-hal yang berada di luar kita berbekal dengan diri kita yang sudah memiliki pengetahuan diiringi dengan latar belakang yang begitu kompleks. Hasilnya adalah Continue reading “Dua Sisi dan Sebuah Usaha Untuk Saling Memahami | Teh Sore Uruuchan”

Tentang Hujan dan Impian Masa Kecil | Teh Sore Uruuchan

Teh Sore Uruuchan : Cangkir ke-1

 

Hai, selamat sore! :) Ini cangkir pertamaku!

Satu minggu belakangan, hujan hampir selalu turun setiap harinya. Bukan hujan gerimis yang biasa, melainkan hujan yang besar dan deras. Seperti hari Sabtu pagi ini, di mana hariku disambut oleh gemuruh guntur dan tak lama kemudian diiringi hujan deras yang begitu saja menimbulkan sebuah pertanyaan dalam benakku, “Ada apa dengan hujan dan kenangan dari masa lalu?”

Aku sering kali menemukan lewat akun kumpulan quotes, cerita-cerita dalam novel, bahwa hujan membuat sebagian orang menjadi Continue reading “Tentang Hujan dan Impian Masa Kecil | Teh Sore Uruuchan”

Peluncuran “Teh Sore Uruuchan”

Halo! Selamat datang di peluncuran kategori terbaru pada blog Nuii4u :D Hahaha. Terkesan berlebihan, ya? Aku memang ingin merayakannya secara personal, jadi… selamat datang!

Kategori baru yang dimaksudkan adalah : Teh Sore Uruuchan

Kategori ini akan berisi postingan-postingan dengan tema besar yang sama, yaitu #UruuchanNgomongin .

Belakangan aku menyadari Continue reading “Peluncuran “Teh Sore Uruuchan””