Featured

[Cerita Pendek] Kopi Untuk Sebuah Senyuman

Aku selalu mencoba untuk membayangkan jalanan yang dilalui Bapak setiap harinya.

Setiap hari, Bapak selalu pergi bekerja. Normalnya Senin sampai Jumat, tapi terkadang pada hari-hari libur Bapak mendapat panggilan dari Atasan untuk datang ke kantor. Dan, tentu saja Bapak tidak bisa menolak hal itu. Terkadang, Bapak bisa seperti orang yang sangat berdedikasi terhadap pekerjaannya, tapi di sisi lain, Bapak bisa menjadi seseorang yang merajuk tidak mau masuk ke kantor dan ingin bolos selama sehari pada hari-hari tertentu. Yah, aku sering melihat sisi lain Bapak yang ‘itu’ –yang merajuk ingin bolos ke kantor dan rasanya lucu melihat Bapak seperti itu.

Continue reading “[Cerita Pendek] Kopi Untuk Sebuah Senyuman”

Ngomongin Orang Aneh | Teh Sore Uruuchan

Cangkir Ke-15

 

Teh yang menemani buku yang kubaca sore hari tadi sudah habis. Buku yang kubaca adalah Orang Aneh (The Stranger) yang ditulis oleh Albert Camus.

Buku Orang Aneh (The Stranger) oleh Albert Camus.

Ada banyak hal yang terpikirkan dalam benakku setelah aku menutup buku itu. Banyak sekali. Sensasi seperti ini … sensasi seperti ini kurang lebih sama seperti saat aku telah menyelesaikan cerita pendeknya Ursula K. Le Guin yang berjudul The Ones Who Walk Away from Omelas. Aku memikirkan sesuatu yang lebih besar daripada diriku sendiri, dan “kehidupan” ini. Bukan kehidupan milikku atau milikmu, tapi lebih ke … keseluruhan kehidupan ini, yang sudah ada sejak dulu, sebelum aku dan kamu ada.

Ini sensasi yang aneh, aku bahkan kebingungan untuk menjelaskannya. Kurasa “wow” saja tidak akan cukup untuk menggambarkan perasaan ini. Rasanya berantakan tapi dalam kesan yang baik, dan aku tidak tahu harus mulai darimana.

Kurasa sebelum aku mulai lebih jauh, aku ingin mengatakan terlebih dahulu bahwa ini bukan review buku Orang Aneh-nya Albert Camus. Tulisan ini akan lebih berisi kesan-kesan yang dapat kutangkap dan kubahasakan setelah aku menyelesaikan buku ini. Mungkin saja di tengah-tengah tulisan ini akan ada spoiler (aku sudah memperingatkan di sini lebih awal ya), dan tulisan ini tidak runut dari awal, mungkin akan lebih ke berantakan. Seingatnya aku saja dalam menuliskan ini sambil mengingat kembali apa yang sudah aku baca tadi.

Ya, ini masih segar dalam ingatan, dan aku ingin menuliskannya sesegera mungkin.

Judulnya memang “Orang Aneh” yang kemungkinan merujuk pada tokoh utamanya, tapi di bab-bab terakhir buku ini, aku jadi memikirkan sebenarnya yang aneh itu siapa? Continue reading “Ngomongin Orang Aneh | Teh Sore Uruuchan”

Pira Nu Jiga Kitu Wae | Teh Sore Uruuchan

Teh Sore Uruuchan : Cangkir Ke-14

Apa kalian tahu artinya “pira nu jiga kitu wae”? Itu adalah kalimat dari bahasa Sunda yang kalau diterjemahkan artinya “masa cuma yang kaya gitu aja”, kurang lebih seperti itu. Apa kalian sering mendengarnya? Atau bahkan … apa kalian sering mendapatkannya?

Aku sering mendapatkan ucapan seperti itu beberapa tahun yang lalu (terkadang masih kudengar dan kudapati sampai hari ini), baik dalam bahasa Sunda ataupun bahasa Indonesia, diucapkan oleh temanku sendiri sampai kedua orangtuaku. Dulu, dengan alasan yang belum bisa aku pahami dengan baik, aku selalu merasa tidak nyaman saat mendapati ucapan tersebut dilontarkan.

Bagaimana menjelaskannya ya?

“Masa cuma yang kayak gitu aja kamu nangis”

“Masa cuma yang kayak gitu aja kamu bahagia”

“Masa cuma yang kayak gitu aja kamu marah”

“Masa cuma yang kayak gitu aja kamu (…)”

“Cuma yang kayak gitu aja kamu ga bisa?”

“Itu kan cuma bekas luka kecil”

“Mungkin itu cuma khayalan kamu aja”

“Itu cuma jerawat”

“Masa cuma soal yang kaya gitu aja kamu ga bisa?”

Dan masih banyak lagi. Kalian boleh menambahkannya sendiri.

Dulu sekali, ketika aku mendapati ucapan itu diberikan kepadaku, aku merasa tidak nyaman. Tapi, aku tidak terlalu mengerti apa arti ucapan itu bagiku dan mengapa hal itu membuatku tidak nyaman? Namun, sesudahnya … aku selalu merasa sedikit sedih. Tidak, tidak. Mungkin cukup sedih, sampai-sampai seharian aku memikirkan si cuma-cuma-cuma itu. Lalu, aku menghiraukan perasaan itu dan melanjutkan kehidupanku. Seharusnya aku diam cukup lama bersama perasaan itu … supaya aku bisa memahami apa artinya itu bagiku.

Aku yang sekarang, aku yang hari ini ada, sekarang kurang lebih sudah sedikit mengerti.

Ucapan cuma-cuma-cuma yang kudengar itu, yang mungkin saja diucapkan sambil lalu, atau diucapkan tanpa bermaksud apa-apa oleh mereka, membuatku merasa kecil.

Seseorang dilahirkan “penuh”. Namun, beberapa orang terkikis hingga menjadi (atau merasa) “kecil”.

Itu perasaan yang buruk untuk dirasakan –merasa kecil.

Tidak berarti.

Perasaanmu … “dikecilkan” oleh sebuah kata “cuma”.

Aku jadi teringat video yang sempat viral di youtube, tentang seorang laki-laki yang nge-prank pacarnya dengan cara menghancurkan koleksi make-up milik si pacar (coba cari kata kunci ini di google : prank kosmetik).

Bagi si laki-laki, itu cuma koleksi make-up –bedak, foundation, lipstik, dan lain-lain. Tapi bagi si perempuan, itu bukan “cuma” make-up. Itu “jerih payah”, itu “barang kesayangan”. Si perempuan menabung sedikit demi sedikit untuk membeli make-up itu. Dan, si laki-laki menganggapnya “cuma” make-up saja.

Entah sejak kapan, aku mulai menyadari bahwa dalam kehidupan ini, ada banyak sekali nilai-nilai yang tersemat. Dan, dua orang yang berbeda dapat menyematkan nilai yang berbeda pada suatu hal yang sama. Pikiran itu terus diam dalam benakku dalam waktu yang cukup lama.

Aku jadi teringat pada hal-hal yang membuatku merasa penuh, lalu dikatakan “cuma” oleh seseorang yang sangat berharga bagiku.

Rasanya sakit sekali.

Lalu, aku berpikir, “Apa yang kurasakan ini adalah sebuah kesalahan?”, “Kenapa perasaan ini sekedar ‘cuma’?” Aku merasa kecil sekali dengan perasaan yang ada di dalam diriku. Aku tidak percaya diri dengan perasaan yang kurasakan. Karena perasaan-perasaan itu sekedar “cuma”. Kata “cuma” yang mengerdilkan perasaan-perasaan itu. Ya cuma segitu.

Namun … kembali lagi ke awal, bahwa nilai-nilai bagi setiap orang berbeda. Mungkin memang begitulah adanya bagi sebagian orang-orang, bahwa sesuatu hal itu memang “cuma” bagi mereka. Nilainya seperti itu bagi mereka.

Jadi setelah kupikirkan lagi, mungkin mereka yang mengatakan “cuma” tidak sepenuhnya salah.

Kenapa waktu itu aku merasa tidak nyaman saat orang-orang mengatakan cuma-cuma-cuma itu?

Katakanlah, waktu itu aku belum terlalu mengenal diriku dengan baik –tidak mengerti perasaan-perasaan yang hadir di sini. Bukan berarti aku yang sekarang juga sudah mengenal dengan baik “aku”, karena masih ada banyak sisi-sisi lainnya “aku” yang bahkan baru kuketahui hari ini. Kukira, kita semua sedang belajar, bukan?

Kukira … berkat kata “cuma” itu, aku jadi menyadari seberapa besar nilai (atau makna) sesuatu hal itu bagi diriku. Memang butuh waktu yang lama bagiku, tapi akhirnya aku sampai juga pada kesimpulan bahwa di dunia ini ada begitu banyak … nilai-nilai.

Kalau saja aku yang waktu itu sudah menyadari hal ini, mungkin aku tidak akan merasa sesedih itu. Mungkin aku tidak akan merasa tidak nyaman saat seseorang mengatakan “cuma”. Mungkin aku tidak akan mempertanyakan nilai perasaanku di balik standar-standar yang tersemat pada kata “cuma”. Mungkin aku tidak akan kehilangan rasa percaya diriku sebanyak ini.

Namun, sekarang yang terpenting adalah … aku sudah mengetahui “nilai” diriku sendiri –nilai perasaan-perasaanku yang kumiliki. Jadi, saat seseorang mengatakan “cuma”, mungkin memang begitulah adanya bagi mereka. Dan bagiku, tidak demikian. Kalau aku berkenan, aku juga ingin menjelaskan atau menambahkan pada orang itu, bahwa hal itu tidak seperti itu bagiku. Aku ingin orang itu tahu, bahwa di dunia ini ada banyak nilai-nilai yang berbeda bagi setiap orang.

Jangan mengecilkan dirimu sendiri.

Tidak ada yang terlalu besar, maupun terlalu kecil di dunia ini –perasaan-perasaanmu juga.

Milikilah sedikit rasa percaya diri pada dirimu –pada perasaan yang ada di dalam dirimu. Pesan ini ingin aku tujukan untuk diriku sendiri juga. :”)

Terima kasih sudah menemaniku sore hari ini. Sampai jumpa di sesi Teh Sore Uruuchan berikutnya.

Salam hangat,
uruuchan.

Sudah Sepuluh Tahun

Hari ini (29 Maret), wordpress memberiku sebuah notifikasi.
“Selamat Merayakan bersama WordPress!”
Isinya adalah … bahwa aku sudah mendaftar blog ini sepuluh tahun yang lalu.
Sepuluh tahun yang lalu …
29 Maret 2009.

Happy Anniversary!!!

Ah, aku kehilangan kata-kata.
Apa memang sudah selama itu?
Iya, memang sudah selama itu.

Kalau memang sudah selama itu, seharusnya blog ini sudah berkembang sangat pesat.
Namun, nyatanya tidak demikian.
Mungkin karena aku menghendakinya seperti itu. :)
Aku masih diantara siap dan tidak siap untuk “diekspos”.
Jadi, kurasa aku merasa cukup nyaman dengan keadaan blogku yang seperti ini.
Karena memang sejak awal, aku menjadikan blog ini sebagai diary elektronik.
Aku hanya ingin menuliskan banyak hal; pengalamanku.
Dan, aku masih menuliskannya sampai hari ini (walaupun tidak seintens dulu)

How’s your life?
Sejujurnya aku masih terombang-ambing, tapi tidak separah dulu.
Secara keseluruhan, aku baik-baik saja.
Hanya ingin menceritakan saja, belakangan aku menyibukkan diri dengan menulis.

Jadi, aku sedang menggarap sebuah naskah kumpulan cerpen.
Aku ingin mencoba mengirimkannya ke penerbit :”)
Progressnya tinggal sedikit lagi. Revisi sekali lagi, lebih tepatnya.
Aku tidak tahu ….
Terkadang, aku merasa hatiku berdebar-debar oleh perasaan yang baik.
Terkadang, ada di beberapa saat aku merasa tidak percaya diri.

Bisakah?

Ada perasaan takut dan sedikit cemas. Kurasa tidak terlalu menakutkan.
Kalau belum masuk, aku masih bisa mencobanya lagi.
Mencoba untuk mengirimkannya lagi ke penerbit yang lain.

Naskah ini akan siap untuk dikirimkan, diperkirakan pada awal April.
Teman-teman yang membaca postingan ini, mohon doanya ya. :”)
Perkembangan selanjutnya soal naskah kumcer itu, insha Allah akan selalu aku kabarkan di sini.

Selamat malam!!

Sesuatu yang Harus Dikatakan (Sebelum Berakhir)

Sebelum tahun 2018 berakhir…. aku harus mengatakan sesuatu yang harus dikatakan.

“Terima kasih”

Aku bangga pada dirimu.

Kita tidak tahu apa yang dibawa oleh tahun 2019, tapi mudah-mudahan kamu bisa melewatinya dengan baik. Sama seperti tahun lalu, 2018.

Jangan menyerah.

Tetaplah berjalan.

Hiduplah demi mereka yang mencintaimu, yang dalam pikiran mereka memikirkanmu dan mendoakanmu supaya kamu sampai di tempat mana pun yang kamu inginkan dengan selamat.

.

.

.

Dan, Tuhan…

Di mana pun aku berada, kemana pun kaki melangkah, apapun yang Engkau beri padaku di tahun 2019 –baik suka maupun duka– semoga hati ini senantiasa mengingatMu.

Aamin.

Gift

You don’t know it yet but your ability to feel and to notice things that are beyond the reach of most people, is your gift. Sure, it will cause you lots of hardship and make you question whether you are meant to be here, it will undoubtedly make you question your worth and possibly lead you to decide countless times that the world would be a better place without you, but it is not so. The world has always had a surplus of talkers, but there has been a lack of people who feel; who plumb the depths of the soul and tell how much beauty there is in the world. You matter. It will hurt, and it will be frustrating, but believe in the notion that you do matter, because you do, and make sure that you let your unique insights and visions be heard, because the world needs them more than a thousand sports stars or socialites. You matter.

– Tom Harvey, 2013

Hidup Adalah Ini

Setengah mati dirinya menginginkan untuk merasa hidup. Ingin hidup. Ingin hidup. Ingin hidup. Ingin hidup. Ingin hidup. Namun, dirinya tak mau merasakan sakit. Menakutkan. Menakutkan. Menakutkan. Menyakitkan.

Tapi, bukankah rasa sakit adalah bagian dari hidup?

Dengan rasa sakit itu, kamu merasa hidup.

Kamu hidup.
Kamu merasa takut. Kamu merasa sedih. Kamu merasa sakit.
Dengan semua perasaan itu, kamu hidup.

Kamu hanya perlu keberanian untuk merangkulnya.

HIDUP HIDUP HIDUP HIDUP HIDUP

Nanti kehilangan maknanya; sekedar huruf h, i, d, u, p.

Jika tidak mau merasakan sakit, lebih baik kamu […]
Itu sama artinya dengan tidak merasakan apapun; sakit juga.

Setengah mati dirinya menginginkan untuk hidup. Hidup. Hidup. Hidup. Hidup. Memangnya seperti apa hidup yang benar itu?
Bahkan, setiap perasaan yang menggelayuti hatinya adalah bukti bahwa ia hidup.

Hidup adalah ini.

Hidup adalah perasaan di dalam aku.

Hidup adalah aku.

Hidup adalah aku.

Selebaran yang Mengubah Hidupku (?) | Teh Sore Uruuchan

Teh Sore Uruuchan : Cangkir Ke-13

 

 

 

Hei, selamat sore! Sudahkah kalian menyeduh teh?

Aku tidak pernah menyangka bahwa belanja di minimarket bisa semenyenangkan ini, hahaha. Itu yang ingin kubicarakan!!

Dulu, saat aku belanja ke minimarket, Continue reading “Selebaran yang Mengubah Hidupku (?) | Teh Sore Uruuchan”

HUGO | Teh Sore Uruuchan

Teh Sore Uruuchan : Cangkir Ke-12

 

 

 

Selamat sore!

Hari ini secara kebetulan aku menemukan sebuah film di channel HBO Family yang entah kenapa terasa begitu familiar. Padahal aku belum pernah menonton film itu, tapi aku merasakan bahwa adegan-adegannya pernah aku “lihat”; seorang anak laki-laki yang berlari di stasiun kereta api yang padat menghindari kejaran semacam petugas stasiun kereta api jaman dulu (edit : ternyata tahun 1930 di Paris). Belum lagi aku bisa membaca judul filmnya di pojok kanan atas, judulnya “HUGO”.

Mungkinkah?

Mungkinkah ini film HUGO yang diangkat dari novel yang dulu pernah aku baca?

Dan saat anak laki-laki itu memperkenalkan dirinya kepada penonton bahwa ia adalah Hugo Cabret, Continue reading “HUGO | Teh Sore Uruuchan”